[ppi] [ppiindia] Obituari KH Muntaha Al-Hafidz
- From: "Rizqon Khamami" <rizqonkham@xxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Fri, 31 Dec 2004 06:25:33 -0000
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Obituari KH Muntaha Al-Hafidz.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
Belum lagi kering duka atas musibah kemanusiaan gelombang Tsunami di
Aceh, India, Srilangka dan negara-negara tetangga lainnya, hari ini
duka tersebut bertambah: Mbah Mun telah wafat. Beliau adalah guru,
ulama panutan, dan orang yang sangat kami cintai.
Membaca berita duka ini, saya sempat beberapa saat terpaku. Berat
menahan kelopak mata untuk tidak menumpahkan air mata. Rasa
kehilangan dan kegersangan tiba-tiba menyergap ruang batin saya yang
paling dalam, hampa.
Wafatnya KH Muntaha Al-Hafidz, Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah,
telah meninggalkan ruang kosong dalam diri saya yang mungkin sulit
akan terisi untuk jangka waktu yang lama. Guru kami ini, KH Muntaha
Al-Hafidz, dengan rasa takzim dan kecintaan yang mendalam, kami
panggil dengan Mbah Mun. Ulama sepuh karismatik, dan termasuk jajaran
kyai yang dikhoskan oleh Abdurrahman "Gus Dur" Wahid.
Sosok Mbah Mun adalah sosok spesial di keluarga saya. Sejak masih di
bangku SMP yang saya habiskan di kampung sendiri, Abah saya selalu
berkata: "Selepas SMP kamu harus ke Kalibeber, ngaji sama Mbah Mun."
"Kenapa saya harus jauh-jauh mondok ke daerah lereng pegunungan Dieng
itu?", bantah saya.
Abah saya menasehati: "Kalau kita akan ngaji, carilah guru yang tua,
soleh, alim, dan wira'i." Waktu itu saya tidak tahu apa makna
kriteria-kriteria tersebut.
"Dan, Mbah Muntaha ini," lanjut Abah saya, "juga seorang penghafal Al
Qur'an, Hafidz, yang tidak saja mberkahi, tapi karena saya juga
berharap kamu akan menjadi seorang Hafidz kelak." Saya mengiyakan,
dan berangkat. Satu tahun berikutnya kakak saya menyusul. Saya masuk
SMA TAQ (Takhasus Al Qur'an), sedang kakak saya masuk IIQ (Institut
Ilmu Al Qur'an). Tahun-tahun berikutnya menyusul pula adik-adik saya.
Pada tahun awal kedatangan saya di Kalibeber, kebetulan, Mbah Muntaha
sedang mendirikan SMP dan SMA TAQ. Pada tahun-tahun sebelumnya, Mbah
Mun juga telah mendirikan IIQ Jawa Tengah. Menyambut itu semua,
respon masyarakat di daerah Wonosobo dan sekitarnya sangat luar
biasa. Untuk kelas pertama SMA TAQ saja, angkatan pertama terdaftar
sebanyak sembilan kelas, dengan setiap kelasnya tidak kurang dari 45-
an siswa. Saya termasuk angkatan pertama SMA TAQ tersebut. Pada tahun-
tahun berikutnya, antusiasme masyarakat semakin tinggi, SMP dan SMA
TAQ dijejali dengan siswa baru dari berbagai pelosok Tanah Air. Pada
masa itu tidak kurang 16 propinsi tercatat sebagai daerah asal
santri.
Setelah beberapa saat di Kalibeber, saya baru bisa memahami kriteria-
kriteria yang Abah saya ceritakan. Rupanya, kriteria-kriteria
tersebut tercantum di sebuah kitab tentang tata cara dan adab belajar
kalangan pesantren, Ta'limul Muta'alim fi Adab al Ta'allum, kriteria
yang menjadi patokan para Nahdliyin dalam mengirimkan putra-putrinya
ke sebuah pesantren. Dan saya baru tahu, semua kriteria-kriteria yang
Abah saya sebut betul-betul semuanya ada pada Mbah Mun. Selain itu,
sifat menonjol Guru kami ini adalah murah hati. Kesejahteraan warga
setempat menjadi perhatian khusus Mbah Muntaha.
Strategi ekonomi Mbah Muntaha dalam memberdayakan warga telah
berhasil. Dengan berduyun-duyunnya ribuan santri yang datang mondok
pelan-pelan membantu ekonomi warga daerah Kalibeber dan sekitarnya
menjadi makin baik. Arus uang masuk dari para wali santri ke
Kalibeber tidak kemana-mana, tapi ke brangkas para warga Kalibeber.
Mbah Mun melarang pihak pesantren membuat dapur umum. "Biarkan para
santri makan di warung-warung dan di rumah warga, atau memasak
sendiri.", ujar Mbah Mun suatu ketika. Ini sifat panutan Mbah Muntaha
yang sangat membekas kuat di benak saya: perilaku zuhud, ikhlas dan
khidmah untuk umat. Dengan makin bertambahnya jumlah penduduk
Kalibeber, strategi ini adalah salah satu strategi pemberdayaan
ekonomi masyarakat yang tepat. Sekarang ini, tenaga kerja di daerah
tersebut terserap di lembaga pendidikan baru tersebut. Dulu, ketika
penduduk Kalibeber belum banyak, Mbah Muntaha cukup dengan menyantuni
saja, dan Mbah Muntaha sendiri mencukupkan diri dengan pesantren
khusus penghafal Al Qur'annya yang sederhana, pesantren Al Asy'ariah.
Pesantren Al Asy'ariyah adalah sebuah pesantren tua. Mbah Muntaha
merupakan generasi ketiga pemegang pesantren tersebut. Pendiri
pesantren ini adalah KH Abdurrahman, ulama seperjuangan Pangeran
Diponegoro.
Pada saat Diponegoro ditangkap oleh Belanda, para pengikutnya dikejar-
kejar, Mbah Abdurrahman berhasil meloloskan diri, dan bersembunyi di
lereng pegunungan Dieng, da menjadi desa Kalibeber sekarang. Di desa
ini Mbah Abdurrahman menyebarkan dan mengajari warga setempat dengan
Islam "yang benar" --sebuah istilah yang saya pinjam dari Gus Dur .
Akhirnya, ketika para santri berdatangan, cikal bakal pesantren Al
Asy'ariyah berdiri.
Generasi kedua pesantren ini diasuh oleh sang putra, KH Asy'ari --
nama yang kelak diabadikan oleh Mbah Muntaha untuk nama pesantren
tersebut. Ternyata pemilihan nama tersebut, bukan tanpa sebab. Tetapi
karena kesan mendalam Mbah Muntaha atas perjuangan Mbah Asy'ari yang
gigih membela rakyat dan Islam, terutama dalam konfrontasinya dengan
pemerintah Belanda.
Pada masa kemerdekaan, karena kecintaan Mbah Asy'ari terhadap rakyat
dengan advokasi-advokasi kerasnya, dan kecintaannya terhadap
kemerdekaan dan Tanah Airnya, Belanda merasa gerah. Mbah Asy'ari
dikejar-kejar. Untuk menghindari penangkapan Belanda, Mbah Asy'ari
mengungsi ke daerah lereng terjal pegunungan Dieng yang sangat sulit
dijangkau orang. Belum sempat kembali lagi ke Kalibeber, Mbah Asy'ari
terserang sakit, dan wafat di tempat persembunyian tersebut. Setiap
menjelang Ramadhan, sudah menjadi tradisi, para santri Kalibeber
diwajibkan untuk napak tilas perjuangan berat Mbah Asy'ari ini, dan
sekaligus berziarah ke makam beliau. Bagi saya, tradisi napak tilas
ini adalah sebuah tradisi yang sangat bermakna. Pada saat-saat napak
tilas tersebut semangat patriotisme seakan-akan meledak. Luar biasa.
Sepeninggal Mbah Asy'ari, sebagai putra tertua, Mbah Muntaha
mengambil alih estafet kepemimpinan pesantren warisan Mbah
Abdurrahman tersebut, dan dirubah-namakan menjadi Al Asyari'ah.
Pesantren ini tetap melanjutkan tradisinya sebagai pesantren
penghafal Al Qur'an. Mbah Mun, selain mendapatkan ijazah hafidz dari
beberapa kyai ternama pada masanya, juga berguru ke beberapa ulama
besar pada masanya.
Bagi Mbah Mun, seperti yang sering diceritakan kepada kami, saat-saat
paling berkesan adalah saat mondok di Kendal. Tidak saja diajarkan
hidup sederhana, wara' dan zuhud, tapi juga karena berat perjalanan
yang harus di tempuh. Pada suatu masa, untuk bisa mencapai daerah
Kendal, dari Wonosobo Mbah Muntaha harus melewati daerah angker Alas
Roban, yang masa itu terkenal sebagai pusat perampok. Perjalanan ini
dilewati Mbah Mun dengan berjalan kaki. Pada masa lain, Mbah Muntaha
juga mencari jalan lain, menerobos pegunungan Dieng, dari lereng
sebelah selatan, hingga menembus ke lereng sebelah utara. Lagi-lagi,
dengan jalan kaki. Sebuah perjalanan yang sangat mengesankan, begitu
beliau menggambarkan. 14 tahun silam, kami para santri Kalibeber,
putra dan putri, diwajibkan untuk berangkat ke puncak pegunungan
Dieng, ribuan santri, berangkat dengan berkendaraan, dan pulang ke
Kalibeber dengan berjalan kaki, guna merasakan bagaimana masa-masa
sulit beliau dalam belajar. Sungguh perjalanan musafir belajar yang
melelahkan, dan --satu lagi-- mengasyikkan. Di samping itu,
pemandangan indah dan keajaiban-keajaiban alam, kawah Si Kidang
misalnya, dapat langsung kami saksikan selama napak tilas ini. Kami
terpesona dengan kebesaran Allah SWT. Subhanallah. Maha Suci Allah
dengan segala ciptaan-Nya.
Dari kacamata tahun 2004, 14 tahun kemudian, masa-masa tersebut betul-
betul indah. Sangat mengesankan. Tak terasa waktu 14 tahun bergerak
begitu cepat. Pengalaman-pengalaman kerohanian semacam itu rasa-
rasanya baru kemaren berlangsung.
Saya heran, rentang hidup yang sudah cukup lama ini, masa-masa yang
hanya berlangsung beberapa tahun di Kalibeber tersebut begitu sulit
untuk dilupakan. Mungkin ini berkat ketulusan dan keikhalasan Mbah
Muntaha dalam mendidik kami. Sifat wira'i dan zuhud Mbah Muntaha
begitu membekas di memori saya, sebuah tauladan kesalehan para ulama-
ulama sepuh. Bahkan kepenatan belajar dari pagi hingga malam yang
tidak ada hentinya, seakan tidak kami rasakan. Saya yakin, sekali
lagi, semua ini berkat keikhlasan, ketulusan dan rasa sayang beliau
ke kami.
Di bawah dingin udara gunung, kami dibangunkan jam 4 pagi. Berat,
tapi harus. Salat sunah, dan menunggu salat berjamaah di Masjid
pondok. Setiap salat Subuh, dapat dipastikan, imamnya adalah Mbah
Muntaha sendiri. Sedang, untuk salat rawatib lainnya adalah Mbah Mus,
adik Mbah Mun.
Satu hal yang bisa saya tandai dari Mbah Muntaha, setiap pagi salat
berjamaah Subuh, beliau akan jadi imam, bercelana training, berjubah
longgar, berpeci putih, dan sorban bermotif hitam-putih seperti milik
Yaser Arafat. Tanda khas lain Mbah Muntaha adalah, jika menjadi imam
salat beliau akan secepat kilat, tuma'ninah dalam salat tidak sampai
beberapa detik. Tetapi ketika salat sendirian, Mbah Mun akan berlama-
lama rukuk dan sujud. Suatu saat seorang tamu iseng bertanya: "Mbah
Mun, Panjenengan, kalau jadi imam, kok, begitu cepat. Kenapa?"
Sambil berseloroh, Mbah Muntaha menjawab: "Saya sengaja percepat,
biar sebelum setan sempat menggoda, saya sudah selesai salatnya."
Tanpa salat Subuh berjamaah dengan Mbah Mun, saya merasakan, seakan-
akan perputaran hari yang akan saya lewati terasa kurang.
Bagaimanapun dingin udara pagi pegunungan, dan serangan kantuk yang
sangat hebat, karena kami sering tidur larut malam, untuk salat Subuh
berjamaah di belakang Mbah Muntaha seakan menjadi pengobat semua itu.
Saya percaya, itu karena kecintaan kami kepada guru kami tersebut.
Karena kecintaan kami juga, setiap kali mencium tangan Mbah Muntaha,
lega rasanya. Seolah-olah ada energi spiritual yang terserap masuk.
Saya selalu bergetar setiap kali menjabat tangan itu, tangan dengan
arteri menonjol di sana-sini. Bahkan, di kalangan santri beliau, ada
semacam kebanggaan tersendiri jika seorang santri bisa menyucup lama
tangan beliau, apalagi bisa mencium bolak-balik, bagian atas dan
bagian dalam. Jika ada yang berhasil, maka si santri akan berbangga
diri setengah berteriak di tengah teman-temannya bahwa dirinya baru
saja mencium tangan Mbah Mun bolak-balik. Dan dalam setiap
kesempatan, jika ada, kami akan berebut mencium tangan beliau. Tapi,
itu jarang. Apalagi Mbah Mun juga akan segera menarik cepat-cepat
tangan beliau. Rasanya, kami ingin selalu mencium, meskipun orang-
orang yang berpandangan puritan mengejek itu sebagai kultus, dan
karenanya syirik, bid'ah, dan dosa. Tapi kami tidak perduli; kami
tidak mencium "tangan" sebenarnya, kami sedang memberikan
penghormatan mendalam kepada suatu "otoritas", dan kami juga sedang
menyatakan kecintaan kami kepada pemilik tangan tersebut. Mungkinkah
dunia ini tanpa otoritas dan tanpa cinta?
Setelah selesai menjadi imam salat Subuh, Mbah Mun akan segera
kembali ke ndalem yang berjarak beberapa meter dari masjid. Lalu,
kami mempersiapkan Al Qur'an untuk mengaji langsung dengan beliau.
Beliau akan datang lagi ke masjid tak lama kemudian, mengajar. Setiap
pagi para santri diajar bahasa Arab dan tafsir. Setengah jam
berikutnya, giliran para santri penghafal Al Qur'an menyetor hafalan.
Mbah Mun akan duduk di atas kulit bulu domba putih kering, dengan
menghadapi meja pendek dan cukup lebar, bersila. Di sekeliling meja
akan diputari para santri penghafal Qur'an, dengan jumlah sekali
waktu tidak kurang dari 10 orang. Jika salah seorang santri sudah
selesai, santri tersebut akan mundur, dan santri berikutnya segera
mengisi tempat kosong yang ada. Menariknya, meskipun dengan 10 orang
santri menyetor hafalan dalam satu waktu, Mbah Muntaha bisa saja tahu
siapa yang salah, dan bagian ayat mana yang tertukar-tukar. Dalam
banyak kesempatan, Mbah Mun menegur bacaan `mad' yang saya baca
kurang panjang. Saya malu. Itu pelajaran buat saya. Saya berjanji
untuk diri sendiri, jika besuk-besuk mau setor lagi, maka hafalan
harus sudah betul-betul `ngelothok'.
Selesai setoran hafalan santri putra, Mbah Mun segera beranjak menuju
ke pengajian santriwati, di dalam asrama putri. Model setoran hafalan
Al Qur'annya tidak jauh berbeda dengan para santri putra.
Sehabis pengajian Mbah Muntaha, para santri bergegas untuk mandi dan
bersiap-siap berangkat ke Kampus, bagi mahasiswa IIQ, ke sekolah bagi
siswa SMP dan SMA TAQ, dan bagi santri malas, dia akan kembali tidur
pulas. Pemandangan khas pada jam-jam ini, di jalanan Kalibeber menuju
kompleks kampus dan sekolah SMP & SMA tampak mengalir ribuan orang
dengan baju yang hampir seragam, putih-putih. Mentakjubkan. Indah.
Selain Al Qur'an, pengajaran intensif bahasa Arab sangat digalakkan.
Para siswa SMP & SMA, pada sore hari akan digembleng dengan pelajaran
ini. Tidak kurang dari seorang kandidat doktor dari Al Azhar, Fahmi
Al-Badr, warga Mesir, didatangkan untuk penggemblengan tersebut.
Beberapa tenaga pengajar alumni Timur Tengah juga memperkuat barisan
ini. Saya merasa amat beruntung pernah belajar langsung dari `native-
speaker' bahasa Arab, meskipun masih berada di tanah Jawa. Pengalaman
ini makin melengkapi tekad saya untuk meneruskan tradisi berkelanan
belajar Mbah Muntaha.
Menjelang Maghrib, semua kegiatan belajar istirahat. Bagi para santri
yang ingin olahraga disediakan sarananya: sepak takraw, bola voli,
sepak bola, dan seminggu dua kali pelajaran silat Perisai Diri.
Bahkan, untuk Perisai Diri, Mbah Mun setengah mengharuskan kepada
para santri untuk mengikuti. Silat, ujar Mbah Muntaha suatu ketika,
sangat baik untuk kesehatan badan dan rohani. Dan, bagi para santri
yang tidak suka berolahraga, inilah waktu untuk sejenak beristirahat.
Segelintir santri-santri yang baru beranjak puber bersantai-santai di
depan jendela kamar masing-masing, ganjen. Rupanya mereka sedang
berpacaran jarak jauh dengan beberapa santri putri di ujung sana,
puluhan meter, yang juga sedang ganjen di pintu kamar mereka. Anak-
anak puber ini, yang ketika paginya begitu lancar ngomong Arab dan
fasih membaca Qur'an, saya heran, mendadak menjadi bisu, menggerak-
gerakkan jari dan bahasa isyarat lainnya ke arah sosok-sosok ganjen
di ujung sana, santriwati: mengungkapkan cinta lewat bahasa Tarzan.
Pada umumnya, beberapa kelompok santri membentuk lingkaran
tersendiri, berbicara dari hal paling sepele, soal film dan novel,
hingga soal pelajaran dan perbincangan seputar politik dan isu
keislaman terbaru. Untuk soal pertama, kebanyakan didominasi anak-
anak SMP dan SMA, sedang untuk dua topik terakhir adalah topik
pembicaraan mahasiswa IIQ. Diam-diam, saya sering menyelinap diantara
kelompok terakhir ini, menjadi pendengar setia. Saya masih ingat,
suatu saat diskusi berkisar seputar ide hangat Atho Mudzar: apakah
Yerusalem sekarang tempat yang disebutkan dalam Al Qur'an surah Al-
Isra, atau bukan. Reaksi para santri beragam. Serentetan diskusi yang
sangat hangat.
Setelah menjalankan salat Maghrib berjamaah, para santri akan
membentuk lingkaran-lingkaran tersendiri, dengan bimbingan para
santri senior, belajar tartil Al Qur'an. Suasana riuh rendah suara
bacaan Al Qur'an bergema tidak ada henti-hentinya, saling sahut
meyahut. Di tengah malam dingin lereng gunung Dieng, suasana tersebut
membuat makin syahdu. Indah.
Salat Isya' berjamaah tidak bisa ditinggal, harus diikuti seluruh
santri. Selepas itu diteruskan dengan sekolah diniyah. Kelas-kelas
dibentuk mengikuti kelas-kelas mereka di waktu pagi hari. Tetapi
kelas ini bukan barang mati, bagi santri yang sudah merasa cukup
bisa, dia diperbolehkan mengambil kelas yang lebih tinggi. Di kelas
diniyah ini, berbagai macam kitab kuning diajarkan: Fiqh, Tafsir,
Nahwu, Shorof, Akidah, Tasawuf, dan lain-lain. Di kelas ini pula
kitab dasar tentang adab belajar para santri diajarkan, Ta'limul
Muta'allim. Salah satu isi yang sangat membekas dari kitab ini, kami
diajarkan untuk menghormati guru-guru kami seperti halnya kami
menghormati ibu-bapak kami. Kami juga diajarkan mencintai guru-guru
kami sebagaimana halnya kami mencintai orang tua kami. Sebuah
gambaran tradisi belajar & mengajar yang penuh dengan cinta dan kasih
sayang.
Selesai kelas diniyah ini, menyudahi keseluruhan program resmi Al
Asy'ariah sehari penuh. Perputaran jadwal yang ketat dan padat.
Melelahkan memang, tapi semua itu sirna karena, sekali lagi,
keikhlasan, ketulusan dan rasa sayang Mbah Muntaha. Waktu-waktu sisa
menjelang malam umumnya dipakai para santri untuk mengulang pelajaran-
pelajaran yang seharian tadi diperoleh.
Pelajaran tambahan dalam kategori jadwal permingguan adalah pelajaran
khitabah (pidato). Kelas khusus khitabah juga disediakan bagi mereka
yang betul-betul ingin menjadi macan podium. Waktu untuk kelas khusus
ini adalah seminggu tiga kali, diadakan selepas sekolah diniyah.
Karena bersifat tambahan, pesertanya sedikit. Hasil pengkaderan kelas
khitabah ini, saya lihat, terbukti beberapa teman seangkatan saya
sekarang telah menjadi macan podium. Menyesal saya dulu tidak ikut
kelas tambahan ini. Waktu itu saya kemana? Mendengkur. Umumnya, unjuk
kebolehan berhasa Arab dan berpidato dipertontonkan pada hari Jum'at,
di depan ribuan para santri putra dan putri yang berkumpul di aula
masjid. Acara ini diadakan selepas salat Isya'. Sesekali acara ini
dibuka oleh Mbah Muntaha. Di saat-saat inilah, kami bisa merasakan
kedekatan dan rasa sayang Mbah Mun kepada kami. Beliau banyak
bercerita tentang hidup dan kehidupan, menambah kuat semangat juang
hidup kami. Petuah-petuah beliau sangat menghujam ke lubuk hati
terdalam.
Tiga tahun bersama beliau, terasa sebagai masa hidup paling bahagia.
Kalau saja tidak ingat tugas-tugas belajar lebih lanjut, ingin
rasanya berlama-lama menyerap ilmu dan keteduhan, dan terus berada di
bawah bimbingan Mbah Muntaha. Karena memenuhi tugas belajar ke
Baghdad, Iraq, saya harus meninggalkan Kalibeber dan segala cerita
senang --tentu, dengan cerita sedih juga, misalnya, wesel sering
telat, karenanya saya sering ke warung pinggir pondok untuk "nyatet",
istilah santri untuk ngutang. Apalagi, hafalan Al Qur'an saya baru
beberapa juz saja. Berat.
Menjelang keberangkatan, Abah, kakak dan saya sendiri sowan Mbah
Muntaha. Beliau memberi petuah, "Ibarat seperti tembakau, orang yang
allamah, kalo tidak hafal Al Qur'an, rasanya kurang `ambeg'."
Meskipun Mbah Muntaha bukan perokok, tapi beliau tahu persis
bagaimana memakai bahasa saya, seorang pemadat rokok berat. "Ambeg"
adalah rasa tembakau yang kalo dihisap rasanya sangat mantap. Dan
kata "allamah" sendiri berasal dari kata "alim", berarti: pinter.
Kata "allamah", secara berseloroh, sering kami maknai dengan "mbah-
mbahe pinter". Bertahun-tahun petuah Mbah Mun ini sulit benar saya
wujudkan. Sampai detik ini Al Qur'an saya hancur-hancuran. Beruntung
betul kakak saya, dia dapat merampungkan Al Qur'annya di bawah
bimbingan Mbah Muntaha, dan menjadi seorang penghafal Al Qur'an, Al
Hafidz.
Tahun-tahun terus begulir. Kecintaan saya kepada Mbah Muntaha semakin
menguat. Setiap kali pulang kampung, saya pasti menyempatkan diri
datang ke Kalibeber: sowan dan minta doa restu. Sowan terakhir
terjadi setahun lalu. Dengan diantar salah satu pengurus pondok, saya
menghadap. Mbah Muntaha gembira melihat saya datang, dan tak lama
kemudian mendoakan. Doa yang panjang. Saya sulit menangkap isi
doanya, karena beliau ucapkan dengan suara lirih. Saya mengamini,
khusuk, dan terharu. Tak terasa lelehan air mata mengalir. Bahagia
mendapat doa khusus dari orang yang Ikhlas dan dekat dengan Tuhan
ini. Saya menggigil. Beberapa kali saya harus mengusap tetesan air
mata tersebut.
Selesia berdoa, Mbah Muntaha bertanya, "Sampeyan, sekarang di India?"
"Betul, Mbah." Jawab saya dengan penuh rasa hormat, menunduk.
"Waktu saya berkunjung ke Baghdad tiga tahun lalu, berziarah ke makam
Sayyidina Ali dan makam Imam Hussain, putranya, kita tidak jumpa.
Sampeyan sudah pergi ke India."
"Inggih, Mbah." Timpal saya sambil menyesali, seandainya saya masih
di Baghdad, saya akan berkhidmah kepada Mbah Muntaha selama di sana,
mengantar dan membantu beliau.
"Ini ada makanan. Yang ada cuma ini." Ujar beliau sambil menyodorkan
kue bolu warna merah kepada saya dan kepada teman pengantar saya,
seorang santri senior. Padahal, saya melirik, di ruang tersebut
tergeletak banyak toples dengan segala macam kue.
"Tolong ambilin gelas di bawah itu." Tunjuk Mbah Muntaha, meminta
kepada pengurus pondok tersebut untuk mengambilkan. Saya lihat ada
dua gelas kosong di bawah tempat air Aqua tidak jauh dari kursi
beliau.
"Isi gelas dengan Aqua itu, dan minumlah."
Kami berdua meminumnya. Lega rasanya. Tenaga kami seakan-akan
mendadak bertambah. Kedamian menyusup pori-pori tubuh. Bahagia.
Lalu, Mbah Mun bercerita lumayan panjang pengalaman perjalanan beliau
ke Iraq dan Cina. Beliau seakan-akan sedang mengajari kami untuk
banyak-banyak melihat kebesar-kebesaran ciptaan Allah di muka bumi.
Kami pamit, dan masih hangat ingatan di benak saya, untuk kesekian
kali saya meneteskan air mata saat memegangi tangan lembut junjungan
kami tersebut. Saya menyucupnya lama, lama sekali, dan kali ini Mbah
Muntaha tidak lekas cepat-cepat menarik tangan beliau. Beliau
membiarkan saya mengungkapkan rasa cinta saya dengan lama-lama
mencium tangan beliau.
Saat berpisah, rasanya berat kaki melangkah keluar dari ruang tamu
tersebut. Saya masih terbawa oleh perasaan saya sendiri, terdiam.
Tapi teman saya tadi menepuk dengan riang. Saya heran, kenapa dia
begitu gembira selepas kami pamitan dengan Mbah Muntaha.
"Tahukah, sampeyan, ini pengalaman pertama saya." Ujar teman saya
tersebut. "Saya diberi oleh Mbah Mun, `daharan' beliau sendiri. Dan
gelas yang tadi kita minum adalah gelas yang sering dipakai oleh Mbah
Mun pribadi."
"Pertanda apa ini?" Lanjutnya berbinar-binar.
Saya sendiri terdiam, belum bisa menangkap apa maksud ucapan dia,
karena saya masih terbawa oleh perasaan sendiri, berat berpisah jauh
dengan Mbah Muntaha. Apalagi, tidak lama lagi saya harus kembali ke
India, dan saya tidak tahu kapan akan bertemu lagi.
Berita tentang meninggalnya dunia Mbah Muntaha ini menggenapkan
ketakutan saya: Kapan saya bisa bertemu dan mencium lagi tangan penuh
sayang Mbah Mun? Saya sedih. Kini, kyai yang kami cintai itu telah
pergi meninggalkan kami semua. Rasa-rasanya momen-momen kehidupan
kami besama Mbah Mun tak akan tergantikan lagi, tak akan terulang
kembali. Tapi, ingatan itu akan tetap bersama kami. Mbah Mun telah
pergi, tapi Mbah Mun juga tetap tinggal dalam hati kami sebagai
kenangan yang tak terhapuskan.
Allahumman-syur nafahatir ridlwani `alaihi
Wa amiddana bil asraril lati auda'taha ladaihi.
***
http://www.suaramerdeka.com/harian/0412/30/nas15.htm
Saya meminta para pembaca untuk membacakan Fatihah untuk guru kami
tercinta tersebut. Al Fatihah.......
Terimakasih.
Salam,
Rizqon Khamami, New Delhi, India.
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Obituari KH Muntaha Al-Hafidz