[ppi] [ppiindia] [OOT] Fw: Krisis Darfur dan Kepentingan Amerika

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
 
fyi
lagi-lagi Amerika & minyak....
 
 
----- Original Message ----- 
Sent: Friday, August 20, 2004 7:07 AM
Subject: Krisis Darfur dan Kepentingan Amerika 

http://www.republika.co.id/ASP/kolom_detail.asp?id=169315 
<http://www.republika.co.id/ASP/kolom_detail.asp?id=169315&kat_id=16> &kat_id=16
 
Rabu, 11 Agustus 2004

Krisis Darfur dan Kepentingan Amerika 




Budi Rachmat Suryasaputra*
Pemerhati Masalah Internasional




Darfur, sebuah daerah di Sudan, tak akan dikenal oleh dunia apabila tidak ada 
krisis yang muncul di sana. Darfur menarik perhatian masyarakat dunia dalam 
satu minggu terakhir ini. Tak kurang dari Sekjen PBB, Kofi Annan, dan Menteri 
Luar Negeri AS, Colin Powell, menyempatkan diri untuk berkunjung ke Sudan untuk 
menunjukkan perhatian mereka terhadap krisis Darfur. 

Apa yang terjadi di Darfur ? Banyak media menyebutkan bahwa telah terjadi 
pembantaian, pemerkosaan dan pengungsian secara besar-besaran di Darfur akibat 
konflik antara milisi yang dikenal dengan nama Janjaweed dan etnis tertentu di 
Darfur. Masyarakat internasional menyebut krisis ini sebagai "the worst 
humanitarian crisis of our time", bahkan pada tanggal 22 Juli 2004, Kongres AS 
mengeluarkan sebuah resolusi yang mendesak Pemerintahan Bush untuk menyebut 
krisis ini sebagai genocide. 

Dalam sebuah poling di Amerika, "Americans on the Crisis in Sudan", 69% 
responden menyatakan bahwa PBB dan AS, bila perlu, harus mempergunakan kekuatan 
senjata untuk menghentikan krisis ini. Pada tanggal 2 Agustus 2004, National 
Association of Evangelicals, sebuah asosiasi kelompok Evangelis di Amerika 
mengirim surat untuk Presiden Bush dengan tujuan agar Bush melakukan "swift 
action" untuk menghentikan krisis di Darfur. 

Sebenarnya apa yang menjadikan Krisis Darfur begitu menarik perhatian 
Pemerintah AS dan kelompok-kelompok tertentu di AS? Apakah murni alasan 
kemanusiaan semata? Ataukah ada kepentingan tertentu AS di sana? Seperti minyak 
bumi? Tulisan ini mencoba untuk menguraikan hal tersebut. 

Konflik dan minyak di Sudan 
Sudan, secara geografis, merupakan negara terbesar di Afrika. Konflik telah 
berlangsung selama 4 dekade di Sudan. Diperkirakan dua juta manusia telah tewas 
satu dekade terakhir ini dan jutaan lain telah menjadi pengungsi di Sudan. 
Menurut PBB, 3 juta manusia membutuhkan bantuan makanan dan obat-obatan akibat 
konflik yang terjadi di Sudan. 

Konflik terbesar dan terlama di Sudan melibatkan pemerintah pusat di Khartoum 
dengan kelompok pemberontak di Sudan Selatan, Sudan People's Liberation Army 
(SPLA), di bawah pimpinan John Garang. Konflik ini disebut-sebut sebagai 
konflik antara pemerintah pusat yang didominasi oleh etnis Arab dan Muslim 
dengan kelompok etnis di Sudan Selatan yang beragama Kristen dan penganut 
animisme. 

Konflik pertama ini dianggap banyak pihak bersumber dari ketidakpuasan di Sudan 
Selatan akibat dominasi pemerintah pusat dalam bidang sosial, politik, dan 
ekonomi. Pada tanggal 20 Juli 2002, di Machakos, Kenya, tercapai kesepakatan 
antara pemerintah pusat dan pihak pemberontak di Sudan Selatan untuk 
menghentikan konflik yang telah berlangsung lama dan memakan banyak korban ini. 
Kesepakatan yang dimediasi oleh Inter Govermental Authority for Development 
(IGAD) mensyaratkan adanya masa transisi selama 6 tahun di Sudan Selatan dan 
kemudian akan diakhiri dengan penyelenggaraan referendum di daerah tersebut.

Kesepakatan ini dianggap sebagai terobosan besar oleh mediator dan pengamat 
dalam penyesaian masalah konflik di Sudan Selatan. Namun setelah konflik di 
Sudan Selatan dianggap mulai menemui titik terang penyelesaian masalah, muncul 
krisis baru di daerah barat Sudan Selatan, Darfur. Krisis Darfur mulai muncul 
di peta dunia ketika beberapa LSM international seperti International Crisis 
Group, Human Watch International, dan Amnesty International menyebutkan 
munculnya pembunuhan, pemerkosaan, dan pengusiran secara besar-besaran etnis 
Fur dan Massaleit di Darfur oleh milisi yang dikenal dengan nama, Janjaweed. 

Berbeda dengan konflik antara pemerintah Khartoum dan SPLA sebelumnya, Krisis 
Darfur dilihat oleh banyak pihak sebagai konflik antara etnis keturunan Arab 
dan Afrika yang sama-sama beragama Islam dan berawal dari masalah penguasaan 
tanah dan air. Milisi Janjaweed, oleh banyak pihak dianggap sebagai milisi yang 
dibentuk oleh pemerintah Khartoum untuk memerangi 2 kelompok milisi pemberontak 
di Darfur, SLA/JEM (Sudan Liberation Army/Justice and Equality Movement).

Berbagai konflik di Sudan ini diperumit dengan faktor baru yang muncul, yaitu 
minyak bumi. Sudan Selatan dan bagian selatan Darfur diketahui memiliki 
cadangan minyak bumi yang cukup besar. Pemerintah Sudan mendapatkan devisa 
senilai 500 juta dolar AS per tahun dari ekspor minyak bumi sejak tahun 1999. 
Minyak bumi pertama kali ditemukan di Sudan pada tahun 1970 dan mulai 
dieksploitasi oleh perusahaan minyak, Chevron, pada pertengahan 1970-an. 

Pada tahun 1990, Chevron menghentikan operasinya di Sudan. Dan dewasa ini 
konsorsium yang melakukan eksploitasi minyak bumi di Sudan adalah Greater Nile 
Petroleum Operating Company (GNPOC). Konsorsium ini terdiri atas 
perusahaan-perusahaan, Talisman Energy (Kanada), Petronas Carigali of Malaysia, 
PetroChina (anak perusahaan China National Petroleum Company), dan Sudapet atau 
Sudan Petroleum (perusahaan minyak pemerintah Sudan).

Saham mayoritas konsorsium ini berada di tangan PetroChina (40 persen), 
Petronas (30 persen), Talisman (25 persen), dan Sudapet (5 persen). Konsorsium 
ini mendapat sorotan tajam dari beberapa LSM internasional. Pada bulan Maret 
2001, Christian Aid, sebuah LSM yang berpusat di Inggris, mengeluarkan laporan 
bahwa terjadi pembunuhan, pemerkosaan, dan proses pengusiran massal penduduk di 
daerah eksploitasi minyak oleh pemerintah Sudan.

Tak pelak lagi munculnya faktor minyak bumi di Sudan memperumit konflik yang 
telah terjadi. Karena faktor ini membawa kepentingan negara-negara yang 
membutuhkan akses terhadap sumber minyak bumi di masa yang akan datang. Salah 
satu negara yang termasuk berkepentingan terhadap sumber minyak bumi ini adalah 
Amerika Serikat (AS).

Kepentingan Amerika Serikat di Sudan
Pada bulan Juli 2001, Center for Strategic and International Studies (CSIS) 
Amerika, mengeluarkan sebuah laporan berjudul "U S Policy to End Sudan's War" 
yang disusun oleh sebuah gugus tugas mengenai rekomendasi yang diberikan CSIS 
kepada pemerintah Bush mengenai peran AS dalam menyelesaikan konflik di Sudan. 
Salah satu faktor yang dijadikan pertimbangan dalam kebijakan AS di Sudan 
adalah fakta bahwa Sudan merupakan salah satu negara di Afrika yang memiliki 
sumber minyak bumi.

AS membutuhkan akses ke sebanyak mungkin sumber minyak bumi di Afrika, yang 
diperkirakan berjumlah 20 persen dari total cadangan minyak bumi di dunia. 
Kebutuhan AS untuk mencari akses ke sumber minyak bumi di Afrika didorong oleh 
kenyataan bahwa konsumsi minyak bumi di AS akan meningkat 33,3 persen dalam 20 
tahun ke depan, dan pada tahun 2020 2/3 dari kebutuhan minyak bumi AS akan 
diimpor.

Sementara itu sumber minyak bumi AS yang sekarang ada seperti di Amerika, 
Meksiko, dan Laut Utara terus menurun. Hal ini diperparah dengan semakin 
memburuknya situasi di Irak, dengan cadangan minyak bumi terbesar kedua di 
dunia, akibat petualangan AS. Situasi di Irak dikhawatirkan akan memperburuk 
kondisi keamanan di Timur Tengah, terutama di Irak dan Arab Saudi (2 negara 
penghasil minyak utama dunia).

AS sangat membutuhkan sumber minyak bumi lainnya karena akses AS ke sumber 
minyak bumi di Timur Tengah sangat berisiko dan Afrika, termasuk Sudan, 
dianggap sebagai daerah yang potensial untuk sumber alternatif minyak bumi AS. 
Dalam sebuah artikel berjudul "The Mask of Altruism Disguising a Colonial War" 
di harian The Guardian, Inggris, tanggal 2 Agustus 2004, menyebutkan bahwa 
apabila terjadi intervensi AS dan Inggris ke Darfur maka sesungguhnya yang 
menjadi faktor pendorong utama adalah minyak bumi. Dan tindakan ini hanyalah 
sebuah perang kolonial yang disembunyikan di belakang topeng kemanusiaan.

Penutup
Krisis yang terjadi di Darfur adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang 
membutuhkan penanganan yang cepat dari masyarakat internasional. Seyogyanya 
penanganan tragedi ini terlepas dari keserakahan negara-negara tertentu dan 
secara murni memang bertujuan untuk kemanusiaan. Kondisi di Irak telah 
memperlihatkan bagaimana keserakahan negara besar terhadap minyak bumi hanya 
akan membawa kehancuran semata.

 
 
 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts:

  • » [ppi] [ppiindia] [OOT] Fw: Krisis Darfur dan Kepentingan Amerika