[ppi] [ppiindia] [New York Time] Buyat Bay Report Heightens Pollution Dispute
- From: andre andreas <mataharikusatu@xxxxxxxxx>
- To: ekonomi-nasional@xxxxxxxxxxxxxxx, ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, apakabar@xxxxxxxxxxxxxxx, indonesia_damai@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Fri, 12 Nov 2004 01:27:36 -0800 (PST)
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Mohon maaf untuk yang satu ini....
Ini adalah terjemahan berita The New York Time tanggal
9 November yang ditulis oleh Jane Perlez tentang
Pencemaran oleh Newmont Minahasa Raya. Edisi aslinya
terlampir pula dibawah.
salam
andreas
9 November 2004,
Sebuah Laporan yang Membuat Perdebatan Tentang Ada
Atau Tidaknya Polusi di Teluk Buyat Kian Sengit
Oleh: JANE PERLEZ
JAKARTA, Indonesia, 8 November ? Diskusi panel
pemerintah Senin lalu digelar dalam rangka
mendengarkan presentasi yang mengetengahkan laporan
yang menjadi sumber perdebatan sekitar polusi di teluk
Buyat. Laporan tersebut menunjukkan bahwa sedimen di
teluk ekuatorial, di mana produsen emas terbesar,
Newmont Mining Corporation membuang limbah, tercemar
oleh konsentrasi arsen dan merkuri dalam tingkat
tinggi. Namun, para panelis menemukan bahwa kualitas
air di Buyat memenuhi standar yang berlaku di
Indonesia. Laporan yang ditulis lebih dari selusin
ahli teknik menyatakan bahwa ikan di teluk Buyat
tercemar oleh arsen sehingga berbahaya bila dikonsumsi
masyarakat terutama anak-anak. Laporan tersebut
merekomendasikan agar Kementrian Kesehatan meneliti
keracunan arsen yang diderita oleh masyarakat yang
mempunyai keluhan-keluhan seperti ruam-ruam dan
bengkak-bengkak di kulit, sesak napas dan
pusing-pusing. Menurut laporan itu, pemerintah
seharusnya merelokasi penduduk yang berada di area
yang disebut ?memiliki resiko tinggi bagi kehidupan
manusia?. Penemuan-penemuan itu merupakan hasil
penelitian terakhir dari beberapa studi kasus
sebelumnya di teluk Buyat, Sulawesi.
Warga menuntut ganti rugi sebesar $543 juta kepada
Newmont di bulan Agustus dengan alasan bahwa limbah
yang dikenal dengan tailing yang berasal dari tambang
emas perusahan tersebut telah menyebabkan
penyakit-penyakit serius, termasuk yang diderita oleh
ibu Andini (ibu bayi yang meninggal karena keracunan
limbah Newmont) dan menyebabkan hilangnya spesies ikan
? sumber penghasilan masyarakat setempat. Newmont,
yang bermarkas di Denver ini, dengan gencar menolak
fakta bahwa mereka telah mencemari teluk Buyat dan
menyebabkan penyakit-penyakit aneh serta nutrisi dan
sanitasi yang rendah. Perusahaan tersebut membantah
berbagai hasil penelitian yang terdapat di draft form
minggu lalu dan yang ada di dokumen yang
dipresentasikan Senin lalu di hadapan Menteri
lingkungan Hidup, Rachmar Witoelar, dan 12 anggota
komite. Laporan akhir yang diharapkan dapat
dipublikasikan pada hari Rabu ini sampai ke tangan The
New York Times berkat salah seorang anggota komite.
Ketika dimintai pendapatnya, Wakil Presiden Newmont
untuk urusan permasalahan lingkungan, David A Baker,
menyatakan opininya lewat seorang juru bicara.
?Keberadaan arsen di sedimen tailing telah disebut di
pernyataan mengenai dampak lingkungan yang dilaksanan
sebelum pertambangan dimulai dan terbukti tidak
membahayakan lingkungan.? ?Sistem yang diterapkan
telah bekerja seperti yang semestinya sesuai dengan
tiga laporan ilmiah sebelumnya dan pemantauan data
selama delapan tahun yang menunjukkan bahwa tidak
terdapat kontaminasi air maupun ikan di teluk Buyat.
Kami percaya data ilmiah pada laporan pemerintah juga
akan mengungkapkan fakta yang sama.? Perdebatan ini
telah mengakibatkan kemarahan publik di Indonesia,
berakibat pada pemenjaraan atas lima pegawai senior
Newmont yang kini telah dibebaskan.
Bagi Newmont, permasalahan yang dihadapi bukan hanya
faktor reputasi perusahan raksasa asal Amerika yang
kabarnya mempunyai kekuasaan global lebih besar
dibandingkan Inggris ini, tetapi juga terancamnya
kesempatan emas untuk melakukan aktivitas tambang emas
dan tembaga yang lebih berharga di pulau lain di
negara ini yaitu Sumbawa.
Point-point yang Diperdebatkan
Salah satu yang menjadi pemicu perdebatan antara
hasil-hasil temuan penelitian dan posisi Newmont
adalah fakta bahwa arsen dilaporkan telah masuk dalam
tubuh organisme sederhana yang hidup di dasar teluk
yang disebut dengan benthos ? penyedia makanan bagi
ikan. Laporan tersebut menyarankan agar asyarakat
mengurangi konsumsi ikan yang berasal dari teluk
Buyat, sumber makanan utama mereka. Dalam interview
via telepon dari Denver Sabtu lalu, Baker menyatakan
bahwa tingkat arsen yang dilaporkan sesungguhnya
mengada-ada karena arsen merupakan zat yang tak larut
dalam air sehingga tidak akan masuk dalam rantai
makanan. Newmont menyatakan bahwa mereka tidak setuju
dengan cara penghitungan tingkat arsen dan merkuri
pada ikan. Mereka percaya bahwa benthos tidak
tercemar. ?Ikan-ikan tersebut mempunyai kualitas yang
sama dengan kualitas ikan-ikan yang ada di mana pun di
dunia ini?, kata Baker. ?Kami paham benar dengan ilmu
pengetahuan dan memprediksi bahwa tailing akan stabil
di lingkungan sehingga tidak membahayakan kelangsungan
hidup manusia dan lingkungan?. Emil Salim, mantan
Menteri Lingkungan Hidup yang merupakan anggota
terkemuka di komite tersebut menyatakan
ketidaksetujuannya. ?Laporan ini menyebutkan ?ya?,
terdapat polusi di teluk Buyat karena tingginya
konsentrasi arsen di sedimen, benthos, ikan dan air
tanah?, kata Emil. Salah seorang anggota diskusi
panel, Hilmi Salim, Koordinator Pusat Sumber Daya Alam
Universitas Padjajaran, menyatakan bahwa Newmont
?menyembunyikan sisi-sisi gelap dan hanya
mempertontonkan sisi-sisi baiknya saja? dengan
menekankan data yang mensuport kedudukannya, khususnya
dalam faktor standar kualitas air. Namun, tidak
menghiraukan data yang membuktikan adanya polusi
misalnya yang terjadi pada sedimen.
Hidrologist independen asal Amerika, Robert E Moran
yang merupakan penasehat kelompok industri
pertambangan dan lingkungan mereview penemuan-penemuan
tersebut atas permintaan The New York Times. Ia
membantah pendapat Baker bahwa arsen ?secara biologis
tidak terdapat di rantai makanan?. Organisme dasar
laut semacam benthos mampu mengkonsumsi zat-zat
kontaminasi seperti arsen bahkan meski zat-zat
tersebut dalam bentuk partikel-partikel padat. Kata
Moran, ?Dengan tidak menghiraukan sedimen, perusahaan
itu memilih untuk menyangkal bukti bahwa konsentrasi
zat-zat kimia beracun dalam bentuk cair maupun
partikel berakumulasi di dasar teluk Buyat.? Juru
bicara Newmont, Kasan Mulyono, mencatat bahwa
Indonesia tidak punya aturan yang baku dalam hal
kandungan logam-logam berat pada sedimen sehingga
?fokus newmont dalam kasus itu tidak pada faktor
tersebut?. ?Newmont telah mengikuti
ketentuan-ketentuan dengan mengukur logam-logam dalam
air,? kata Mulyono. Emil Salim, salah seorang anggota
terkemuka dalam komite tersebut menyatakan bahwa para
ahli yang mempresentasikan laporan mereka di depan
komite menunjukkan foto-foto masyarakat Buyat Pante
dengan seluruh ruam-ruam dan bengkak-bengkak di kulit
mereka ? gejala yang menunjukkan adanya keracunan
arsen. Masyarakat menyebut bahwa seorang bayi di desa
tersebut meninggal di bulan Juli, enam bulan setelah
dilahirkan dengan menderita bengkak-bengkak dan
kerutan-kerutan di kulitnya. Sang ibu juga termasuk
salah satu dari tiga warga desa yang menuntut Newmont.
Mereka mendapat dukungan penuh dari kelompok bantuan
hukum setempat, Agency for the Health Law (Agen untuk
masalah Hukum Kesehatan). Penyebab kematian bayi itu
masih kabur. Bahkan proses otopsi pun tidak dilakukan.
Seorang dokter yang telah meneliti bayi tersebut
sebelum kematiannya, mendiagnosis adanya penyakit
kulit ringan dan malnutrisi. Agus Pasaribu, seorang
pengacara yang bersama kelompok bantuan hukum yang
membawa kasus Newmont ke pengadilan, menyatakan bahwa
dua sisi terdapat dalam proses perundingan pemberian
kompensasi. Sedangkan, pelayanan kesehatan bagi
masyarakat setempat sedang didiskusikan. Menurut juru
bicara newmont, kedua sisi memang sedang dalam
perundingan. Tetapi, masalah kompensasi tidak
didiskusikan.
Kekhawatiran Sejak Lama
Rachmar Witoelar, Menteri Lingkungan Hidup, mengakui
ia berada dalam posisi yang sulit. ?Saya tidak ingin
menjadi bagian dari mereka yang mendepak
investor-investor dari negeri ini, di lain pihak saya
juga harus melindungi warga korban pertambangan.? Ia
menambahkan bahwa hasil-hasil studi diskusi panel
pemerintah akan diserahkan ke kejaksaan di Menado,
ibukota propinsi dan rumah bagi kegiatan tambang
Newmont. Para jaksa di sana sedang memutuskan apakah
akan menuntut perusahaan ini atas tindak kriminal yang
telah dilakukannya. Pengacara HAM terkenal, Mulia
Lubis, menyebutkan dalam sebuah interview pada hari
Jumat, bahwa Newmont tetap mempekerjakannya sebagai
penasehat hukum. Ia telah meminta Richard Ness,
presiden Newmont di Indonesia untuk mempersiapkan
pertarungan hukum guna membersihkan nama perusahaan
tersebut. Bahkan sebelum tuntutan digelar, Kementrian
lingkungan Hidup sebenarnya telah mengkhawatirkan
tingkat arsen di teluk Buyat. Pada tahun 2000, empat
tahun setelah tambang Minahasa Raya dibuka, Kementrian
menulis dalam sebuah memorandum internal bahwa tingkat
arsen pada ikan-ikan di teluk Buyat ?sudah pada level
yang membahayakan?. Setelah melakukan diskusi dengan
perusahaan tersebut, Kementrian meminta dalam sebuah
surat pada tahun 2002 agar Newmont mengambil
langkah-langkah secepatnya untuk memperbaiki sistem
penanganan limbah. Beberapa dokumen termasuk
surat-surat dan permintaan Kementrian Lingkungan Hidup
terhadap Newmont agar perusahaan tersebut memenuhi
standar-standar ijin pembuangan limbah dilampirkan
bersama dengan laporan yang dipresentasikan Senin lalu
itu. Ahli-ahli lingkungan menunjuk bahwa kasus ini
merupakan contoh kelemahan negara dalam mengatur
perusahaan-perusahaan multinasional raksasa. Negara
malahan dengan seenaknya merekrut
perusahaan-perusahaan asing untuk mengekspolitasi
sumber-sumber alamnya yang melimpah. Laporan tersebut
merekomendasikan agar pemerintah memperketat proses
monitoring terhadap aktivitas-aktivitas tambang di
masa yang akan datang. ?Penemuan-penemuan tersebut
mengikuti pengumuman yang dikeluarkan oleh Newmont
pada hari jumat. Perusahaan itu menyebutkan akan
menyisihkan 12% laba triwulan ketiganya. Nilai
tersebut tidak akan digunakan untuk perluasan
aktivitas tambang emas di Peru karena adanya penolakan
warga. Di Indonesia, tambang yang berlokasi di atas
teluk Buyat telah berhenti berproduksi seperti yang
dijadwalkan yakni pada bulan Agustus lalu. Tetapi
tambang yang lebih kaya di Sumbawa yang dibuka sejak
tahun 1990-an silam diharapkan dapat beroperasi untuk
15 tahun ke depan sesuai dengan proyeksi perusahaan.
Dalam sebuah interview di majalah Forbes pada tahun
1997, Ronald C Cambre, yang kemudian menjadi Kepala
Badan Eksekutif Newmont, mengatakan bahwa tambang
tersebut mempunyai kemampuan untuk menghasilkan $90
juta setiap tahunnya dalam bentuk aliran dana tunai
selama 20 tahun berdasarkan harga emas sebesar $350
per ons-nya. Harga emas rata-rata adalah $403.78 di
triwulan ketiga. Menurut Newmont, sebelum tambang
Sumbawa dibuka perusahaan tersebut telah membuang
lebih banyak limbah ke laut yakni puluhan ribu ton
limbah tambang olahan tiap harinya dibandingkan dengan
jumlah limbah yang dipompa ke teluk Buyat. Apalagi,
limbah tersebut dibuang di area yang lebih jauh dari
garis pantai dan di kedalaman yang lebih besar. Kedua
tambang menerapkan sistem yang sama yang dikenal
dengan pembuangan tailing ke dasar laut (Submarine
Tailing Disposal). Menurut William Riley, direktur
regional Agen perlindungan lingkungan di Seattle
(Environmental Protection Agency), yang telah menulis
opini-opini tentang sistem itu, STD dilarang keras
dipakai di Amerika Serikat menurut Hukum Air Bersih
(The Clean Water Act). Newmont tetap bersikukuh bahwa
sistem tersebut aman dan dapat digunakan di Amerika
Serikat asal berada dalam kondisi yang tepat dan
dengan berdasarkan ijin hukum. Padahal, tidak satu
perusahaan pun yang memperoleh ijin untuk menggunakan
sistem itu. Laporan yang dipresentasikan Senin lalu
itu merekomendasikan agar pemerintah ?berhenti
menerbitkan lisensi untuk aktivitas-aktivitas
sejenis?. Juga dikemukakan bahwa Newmont telah
membuang tailing di perairan dengan tingkat kedalaman
dan suhu yang lebih rendah dari yang seharusnya
dipenuhi oleh perusahaan sesuai dengan janjinya dalam
evaluasi dampak lingkungan awal. Sebelum membuka
tambang, Newmont berkata bahwa limbah akan dibuang di
kedalaman 82 meter sehingga tidak akan berpindah atau
dikonsumsi organisme laut. Perusahaan tersebut juga
menyatakan bahwa limbah yang tertinggal berada di
posisi yang stabil. Dalam sebuah interview via
telepon, Baker dari Newmont, menyebut bahwa limbah
yang dibuang telah naik ke level 70 meter, sesuatu
yang ia sebut telah diprediksikan sebelumnya dalam
evaluasi pra pertambangan. Laporan terakhir ini
digunakan sebagai amunisi oleh kedua belah pihak,
sebagaimana terjadi pada studi-studi awal terhadap
kondisi teluk Buyat sebelumnya, termasuk studi yang
dibiayai Newmont yang dilaksanakan oleh Commonwealth
Scientific and Industrial Research Organization
(Organisasi Persemakmuran untuk Penelitian Ilmiah dan
Industri) asal Australia ? sebuah badan pemerintah
yang dikenal dengan Csiro. Namun, studi terakhir ini
yang justru dianggap paling komprehensif dan
independen. Penemuan-penemuannya berasal dari tes-tes
yang dilakukan terhadap kondisi air, sedimen di dasar
teluk, dan sampel-sampel dari berbagai jenis ikan dan
benthos ? organisme laut yang tinggal di dasar laut.
Sidang panel pemerintah yang juga dihadiri oleh
seorang wakil dari Newmont, kelompok ?kelompok peduli
lingkungan, ilmuwan-ilmuwan dari berbagai universitas
dan anggota-anggota Kementrian Lingkungan Hidup dan
Sumber Daya Mineral. Versi studi yang tidak lengkap
pernah diedarkan bulan lalu oleh mantan Menteri
Lingkungan Hidup, Nabiel Makarim. Newmont memuji studi
tersebut dengan mengatakan bahwa laporan itu
merepresentasikan ?pengungkapan kebenaran yang
lengkap? dan mengkonfirmasikan bahwa ?Newmont telah
berkata jujur?. Ketika menerbitkan laporan itu,
Makarim berkata bahwa ?jika tidak ada polusi, berarti
tidak ada yang menyebabkan polusi?. Masnellyarti
Hilman, Ketua Sidang Panel dan pejabat senior di KLH
yang telah menyaksikan sepak terjang Newmont sejak
1990-an berkata bahwa Makarim mengeluarkan laporan itu
tanpa seijin panelis.
Oleh karenanya, Newmont lebih berfokus pada
statement-nya mengenai air di teluk Buyat daripada
kontaminasi sedimen. Hasil laporan terakhir menyatakan
bahwa tingkat arsen di sedimen mencapai paling sedikit
2.3 hingga 666 parts per million. Rata-ratanya adalah
sebesar 338 parts per million. Laporan tersebut
membandingkan level itu dengan standar-standar untuk
negara-negara lain yang tergabung dalam ASEAN yang
membatasi polusi arsen hingga 50-300 parts per
million. Menurut laporann tadi, tes-tes di zona
pembuangan limbah juga menunjukkan polusi merkuri
berada di bawah standar ASEAN. Studi yang dibiayai
Newmont, yang dilakukan oleh Csiro, menemukan tingkat
konsentrasi arsen di sedimen pada dua area pembuangan
limbah yakni sebesar 466 dan 678 parts per million,
kata Moran, ahli dari Amerika Serikat setelah mereview
laporan tadi. Studi lain, yang dikatakan Newmont
?telah membebaskan dirinya? dilaksanakan di bawah
pengawasan WHO dengan mendatangkan ahli-ahli dari
Minimata Institute di Jepang.
Seorang penasehat teknis WHO, Jan Speets, mengatakan
bahwa studi tersebut dimaksudkan untuk melihat apakah
masyarakat setempat menderita penyakit Minimata yang
disebabkan oleh keracunan metilmerkuri akut. Hasilnya
negatif. Seorang toxicologist, John Paulus, dari
Universitas Sam Ratulangi di Sulawesi Utara, yang
merupakan anggota sidang panel pemerintah Senin lalu,
dalam sebuah interview, mengatakan bahwa ia tidak
sependapat dengan hasil temuan itu. Paulus, yang
diinterview atas permintaan Newmont, menjelaskan bahwa
ia percaya point penelitian tersebut adalah untuk
meneliti masalah penyakit minamata dan bahwa penyakit
tersebut telah terbukti tidak ada. ?Terdapat hasil
yang jelas dari studi WHO dan Minimata Institute bahwa
teluk Buyat tidak tercemar dan bahwa konsentrasi
logam-logam berat berada di bawah level yang
membahayakan?, ungkapnya. Dalam interview sebelumnya,
Dr. Speets menyebut survey itu sebagai ?studi yang
sangat dangkal? dan ?tidak menggunakan cara yang
ilmiah? untuk menentukan penyebab penyakit-penyakit di
desa Buyat Pante atau apakah teluk Buyat tercemar. Ia
menjelaskan bahwa studi yang lebih komprehensif sangat
dibutuhkan. Laporan terakhir pemerintah memperjelas
kebutuhan itu.
Newmont Mempertahankan Diri
Dalam mengantisipasi hasil studi, Newmont mengadakan
pernyataan publik untuk mempertahankan posisinya,
menunjukkan ketidakbersalahannya di iklan full page di
berbagai media nasional. Laporan itu merekomendasikan
agar pemerintah meminta Newmont untuk ?membersihkan
seluruh iklan-iklan yang menyesatkan baik di media
cetak ataupun elektronik mengenai kualitas lingkungan
di sekitar teluk Buyat. Minggu lalu, Newmont berkata
kepada aparat keamanan dan Exchange Commission (Komisi
Pengawas) bahwa bebagai penelitian ?menyatakan bahwa
PT NMR tidak mencemari teluk Buyat atau mengganggu
kesehatan warga setempat?. Newmont juga mengadakan
briefing untuk para wartawan nasional untuk menantang
hasil penelitian terakhir. Setelah itu, seorang staf
The New York Times di Indonesia menemukan amplop yang
di atasnya terdapat logo Newmont Minahasa berisi lima
lembar limapuluhan ribu rupiah ($30) yang diselipkan
dalam paket makalah briefing. Uang tersebut, jumlah
yang cukup besar di daerah perkotaan mengingat upah
bulanan minimum rata-rata adalah sebesar $75,
dikembalikan olehnya sehari kemudian. Ketika ditanya
apa maksud pemberian uang itu, Doug Hock, direktur
permasalahan publik Newmont di Denver, berkata bahwa,
?Kami menyediakan uang ganti transport bagi
wartawan-wartawan nasional seperti kebiasaan di
Indonesia. ?Dalam pesan e-mail di kemudian hari, ia
menambahkan, ?Kami akan berhenti memberikan uang
tersebut untuk menghindari kesalahpahaman di masa
depan.?
http://www.nytimes.com/2004/11/09/international/asia/09indonesia.html?pagewanted=4&oref=login
Jakarta report raises tension over mine
By Jane Perlez The New York Times
Wednesday, November 10, 2004
JAKARTA A government panel has presented a bitterly
fought-over
report showing that sediment in the equatorial bay
where the world's
biggest gold producer, Newmont Mining, deposited mine
waste is
polluted with significant levels of arsenic and
mercury. But the
panel found the water quality met Indonesian
standards.
The report, written by more than a dozen technical
specialists, found
that fish from the bay were laced with enough arsenic
to make them
dangerous for consumption, particularly for children.
It recommended that the Health Ministry "look into
arsenic poisoning"
by conducting more tests on villagers who have
complained of rashes,
lumps, breathing difficulties and dizziness. It also
said the
government should consider moving the villagers from
an area
it "categorized as possessing high risks for human
health."
The findings are the latest of several studies on
Buyat Bay, on
Sulawesi Island, where villagers filed a $543 million
lawsuit against
Newmont in August, contending that tailings from a
nearby gold mine
had caused serious illnesses and ruined their income
from fishing.
Newmont, based in Denver, vigorously denies having
polluted the bay
with such waste and attributes the villagers'
illnesses to poor
nutrition and sanitation. It disputed many of the
report's findings,
which were available in draft form last week and were
in the document
presented on Monday to the environment minister,
Rachmat Witoelar,
and a 12-member steering committee.
The final report, which is expected to be released to
the public on
Wednesday, was made available to The New York Times by
a member of
the steering committee.
Asked for comment on the findings, Newmont's vice
president for
environmental affairs, David Baker, issued a statement
through a
spokesman, John Towriss. "The presence of arsenic in
tailings
sediment was addressed in the premining environmental
impact
statement and shown to be of no harm to the
environment," it
said. "The system has worked as designed, as is
confirmed by three
previous scientific studies and eight years of
monitoring data
showing no contamination in the water or fish of Buyat
Bay. We
believe the scientific data in the government report
when released
will confirm those facts."
The dispute has created a public furor in Indonesia,
resulting in the
jailing of five senior Newmont employees, who have
since been
released. For Newmont, the stakes concern not only the
reputation of
a mammoth American company with global holdings
reported to be larger
than England, but also a potential challenge to its
operations at a
far more valuable gold and copper mine on another
Indonesian island,
Sumbawa.
Points of contention
Among the stark disagreements between the findings and
Newmont's
position was that the arsenic had entered the
bottom-feeding
organisms that provide food for fish. The report
advised that
villagers reduce their consumption of fish from the
bay, their
primary source of food.
In a telephone interview from Denver on Saturday,
Baker said that the
arsenic levels were basically irrelevant because the
arsenic was of a
kind that would not dissolve in water and enter the
food chain.
Newmont said that it disagreed with the way the
arsenic and mercury
levels in the fish had been calculated and that it
believed that
organisms along the bottom of the bay were not
polluted.
The fish were of a quality "you find any place in the
world," Baker
said. "We knew the science and predicted that the
tailings would be
stable in the environment and will not cause harm to
the environment
and will not cause harm to humans."
Emil Salim, a former minister of environment who is on
the steering
committee, disagreed. "This report says yes, there is
pollution
because there is abnormally high arsenic in the
sediment, in the
benthos, in the fish and in the groundwater," he said.
The benthos is
the group of organisms living along the bottom.
A member of the panel, Hilmi Salim, the coordinator of
the center for
natural resources at Padjadjaran University, said
Newmont was "hiding
the dark side and only showing the white side," by
emphasizing data
that supported its case, particularly on water quality
standards,
while ignoring data that showed pollution, like those
on the sediment.
An independent American hydrogeologist, Robert Moran,
who advises the
mining industry and environmental groups, reviewed the
findings at
the request of The New York Times. He disputed Baker's
contention
that the arsenic was "not biologically available in
the food chain."
Bottom-dwelling organisms were capable of consuming
contaminants like
arsenic, even as solid particles, Moran said.
"By neglecting the sediment, the company chooses to
disregard the
evidence that potentially toxic concentrations of
chemicals, both in
solution and as particles, are accumulating on the
bottom of Buyat
Bay," Moran said.
A spokesman for Newmont, Kasan Mulyono, noted that
Indonesia had no
guidelines for heavy metals in sediment, so "Newmont's
focus is not
on that subject."
"Newmont has followed the regulations by measuring
metals in water,"
Mulyono said.
Salim, the steering committee member, said the
specialists who
presented the report to the steering committee had
shown photographs
of people from the village, Buyat Pante, with heavy
rashes and lumps,
and described the symptoms as resembling those from
exposure to
arsenic.
Residents said an infant from the village died in
July, six months
after being born covered with lumps and wrinkled skin.
The mother was
among three villagers who sued Newmont, seeking
damages with the help
of a local legal aid group, Agency for Health Law. The
cause of the
baby's death remains uncertain, and no autopsy was
performed. A
doctor who had examined the baby before her death
diagnosed her
condition as a skin ailment and malnutrition.
Agus Pasaribu, a lawyer with the legal aid group that
brought the
case on behalf of the villagers, said the two sides
were in mediation
and discussing compensation and treatment for the
villagers. A
Newmont spokesman confirmed that the two sides were in
mediation but
he said compensation was not being discussed.
Witoelar, the environment minister, acknowledged he
was in a
difficult position.
"I'd like to maintain my objectivity," he said. "I
don't want to be
part of throwing investors out of Indonesia, and yet
you have to give
protection to the victims."
He added that the results of the government panel's
study would be
handed to prosecutors in Manado, the provincial
capital, which is
home to the mine. Prosecutors there have been
determining whether to
bring a criminal case against the company.
A prominent human rights lawyer, Mulya Lubis, said in
an interview on
Friday that he had been retained by Newmont as a legal
adviser.
He said he had told Richard Ness, the president of
Newmont in
Indonesia, to be prepared for a legal fight to clear
its name.
A long-standing concern
Even before the suit was brought, the Indonesian
Environment Ministry
had been concerned about the levels of arsenic.
In 2000, four years after the Minahasa Raya mine
opened, the ministry
wrote in an internal memorandum that the arsenic
levels in bay fish
were "found to be alarming." After drawn out
discussions with the
company, the ministry demanded in a letter in 2002
that Newmont take
immediate steps to improve waste treatment.
A number of documents, including letters and requests
from the
Environment Ministry to Newmont asking the company to
meet standards
for a permit to deposit the waste, were released with
the report on
Monday. Newmont says it operated with all the permits
it needed.
Environmentalists point to the case as an example of
the weakness in
regulating big multinational companies in a nation
that has
customarily welcomed foreign companies to exploit its
abundant
resources.
The report recommended that "the government tighten
monitoring of
future mining activities."
The findings followed an announcement Friday by
Newmont, which posted
a 12 percent jump in third-quarter profits, that it
would not go
ahead with the expansion of its gold mine in Peru,
saying it had
misunderstood the depth of local opposition.
In Indonesia, the mine above Buyat Bay stopped
production, as
scheduled, in August. But the company's far richer
Sumbawa mine,
which opened in 1999, is expected to operate for
another 15 years,
according to company projections.
In a 1997 interview with Forbes magazine, Ronald
Cambre, then
Newmont's chief executive officer, said the mine had
the potential to
generate $90 million a year in free cash flow for 20
years, based on
a gold price of $350 an ounce. Gold prices averaged
$403.78 in the
third quarter.
According to Newmont's estimates before the Sumbawa
mine opened, the
company pumps tens of thousands of tons more a day of
treated mine
waste into the ocean there than it did at Buyat Bay,
though farther
out to sea and at a greater depth. Both sites use the
same system:
submarine tailing disposal.
According to William Riley, regional director of the
Environmental
Protection Agency in Seattle, who has written opinions
on the system,
it is effectively banned in the United States under
the Clean Water
Act.
Newmont maintains that the system is safe and could be
used in the
United States, under proper conditions and with
exemptions from the
law, though none have ever been granted. The report
presented on
Monday recommended that Indonesia's government
"refrain from issuing
licenses for similar activities."
It also found that Newmont had deposited the tailings
waste in waters
shallower and warmer than it had pledged in its
initial environmental
impact assessment.
Before opening the mine, Newmont said the waste would
be deposited at
82 meters, or about 270 feet, where, it said, the
waste would not
move around or be consumed by marine organisms.
Newmont says the
waste remained in a stable position. In the telephone
interview,
Baker of Newmont said that the waste had risen to 70
meters, a
variation that he said had been predicted in the
premining assessment.
This latest report was used as ammunition by both
sides, as have
earlier studies of the condition of the bay, including
one paid for
by Newmont and conducted by the Commonwealth
Scientific and
Industrial Research Organization of Australia, a
government body.
Broad range of tests
This latest study was considered to be the most
comprehensive and
independent, however. The findings came from a broad
range of tests
on the bay waters, sediment on the bay floor, and
samples from a
variety of fish and the bottom-dwelling marine
organisms.
The government panel included a Newmont
representative, along with
members of environmental groups, university scientists
and members of
the ministries of the environment and mineral
resources.
An incomplete version of the study was released last
month by the
departing environment minister, Nabiel Makirim.
Newmont praised that
early version, saying that it represented a "complete
vindication"
and confirmed that "Newmont has told the truth."
When he released the report, Makirim said, "If there
is no pollution,
then there is no polluting."
Masnellyarti Hilman, chairwoman of the panel, who is a
senior
official at the Environment Ministry involved with
overseeing
Newmont's activities since the 1990s, said Makirim had
released the
incomplete report without the permission of the panel.
Then, as now, the company focused its statements on
the bay waters,
rather than the contamination of the sediment. The
results of the
latest report showed that arsenic levels in the
sediment ranged from
as low as 2.3 parts per million to as high as 666. The
average was
338 parts per million.
It compared the levels with the standards for other
nations in the
Association of Southeast Asian Nations, which define
arsenic
pollution as 50 to 300 parts per million. For mercury,
it said that
tests in the "disposal zone also yielded polluted
sediment" under
Asean standards.
The Newmont-financed Australian study found arsenic
levels in the
sediment at two areas near where the mine waste was
discharged of 466
and 678 parts per million, Moran, the American
specialist, said after
reviewing that report.
Another study, which Newmont said exonerated the
company, was
conducted under the auspices of the World Health
Organization, with
the expertise of the Minamata Institute in Japan. A
technical adviser
for the organization, Jan Speets, said the study was
mostly intended
to see if villagers suffered Minamata disease, which
is caused by
acute methylmercury poisoning. It found none.
A toxicologist, James Paulus, from Sam Ratulangi
University in North
Sulawesi, who was a member of the government panel,
said in an
interview on Monday that he was dissenting from the
latest findings.
Paulus said he believed that the point of the study
was to deal with
Minamata disease and that it had already been
discounted.
"There is a clear result from the World Health
Organization and the
Minamata Institute that the bay is not polluted and
that the heavy
metals are under the dangerous level," he said.
In a previous interview, Speets called the survey a
"very limited
spot check" and "not a scientific way" to determine
what was causing
the illnesses in the village or whether the bay was
polluted. Speets
said a bigger study was required.
This latest government report addressed that need.
In anticipation of the findings, Newmont undertook a
public relations
campaign to defend its position, professing its
innocence in full
page advertisements in Indonesian newspapers. The
report recommended
that the government ask Newmont to "remove all
misleading
advertisements in the print and electronic media
concerning the
quality of the environment around Buyat Bay."
Last week, Newmont told the Securities and Exchange
Commission that
the various studies "all confirm that PTNMR has not
polluted the
Buyat Bay environment and therefore has not adversely
affected the
fish in the bay or the health of nearby residents."
Newmont also called a briefing last week for
Indonesian journalists
to challenge the latest findings. Afterward, an
Indonesian employee
of The New York Times found an envelope with the
Newmont Minahasa
logo tucked into her packet of briefing papers with
five 50,000
rupiah notes, about $30.
The money, a sizable sum in a city where the average
minimum monthly
wage is $75, was returned the next day.
Asked what was the purpose of the money, Doug Hock,
the director of
public affairs for Newmont in Denver said, "We
provided
transportation reimbursement to national reporters, as
is customary
in Indonesia."
In a later e-mail message, he added, "We will refrain
from providing
it going forward in order to avoid any future
misunderstandings."
________________________________________________________________________
Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping"
your friends today! Download Messenger Now
http://uk.messenger.yahoo.com/download/index.html
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] [New York Time] Buyat Bay Report Heightens Pollution Dispute