[ppi] [ppiindia] Negeri Tercinta Didera Konflik

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/052006/29/0903.htm


Negeri Tercinta Didera Konflik
Oleh SOEROSO DASAR 


SIAPA yang sabar, dia akan menempatkannya di taman-taman kenikmatan seperti 
yang diharapkannya, dan siapa yang keluar dari hikmat-Nya, Dia akan 
melemparkannya ke jurang kebinasaan. Jika nafsu ditaklukkan layaknya hamba 
sahaya, maka ia akan menjadi pohon yang sari makannya pikiran, cabangnya 
kesabaran, rantingnya ilmu, daunnya ahlak yang baik, buahnya hikmah, dan 
batangnya taufik serta terhindar dari krisis. Karena hati yang baik adalah 
sadar untuk mengikuti kebaikan dan petunjuk, sedangkan hati yang buruk adalah 
hati yang sadar untuk mengikuti kesesatan dan kerusakan.

SENGAJA tulisan Ibnu Qayyim di atas penulis kemukakan untuk menyejukkan hati 
kita di saat gemuruh pertikaian sesama anak bangsa terjadi. Yang menarik adalah 
pertikaian itu dengan dalih demi rakyat, demi demokrasi, dan demi Indonesia. 
Sebuah kata-kata yang klise: pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk 
rakyat, (governance of the people, by the people, and for the people). 

Ada partisipasi rakyat, persamaan di depan hukum, distribusi pendapatan, 
kebebasan beragama, mengeluarkan pendapat, dan lain-lain. Begitu berkilaunya 
pesona sebuah demokrasi. Semua mengaku paling benar, bahkan bila mungkin 
menghalalkan berbagai cara. Padahal "kebenaran adalah ilusi", kata Nietzsche. 
Sejatinya yang benar adalah Allah - Al haq (Yang Mahabenar).

Presiden SBY dengan suara lirih menyerukan berkali-kali dari Kuwait: Sayangilah 
bangsa ini. Sayangilah bangsa Indonesia. Menanggapi perilaku dan gejolak sosial 
yang terjadi belakangan ini. Terutama menanggapi secara serius demonstrasi 
buruh. Seperti tidak ada bahasa lain kecuali bakar (Pilkada Tuban), rusak (demo 
buruh), tutup jalanan umum, perkelahian-perkelahian antarkelompok - bunuh 
(Bogor), suaka politik (Papua), rusak taksi (Bandung) dan lainnya, yang 
semuanya itu membangun image negatif betapa buruknya krisis sosial negeri ini. 
Negeri yang dikenal sabar, santun, sopan, arif, bijaksana, menjunjung adat 
istiadat, berubah menjadi beringas dan liar. Sebuah perilaku dan sikap yang 
sangat berseberangan dengan nilai-nilai peninggalan leluhur kita.

Presiden tampaknya merasa sedih menjadi marketing, dengan mengatakan Indonesia 
aman, agar investor masuk dan menanamkan modalnya. Padahal, pada saat yang sama 
realitas terjadi lain. Bila stabilitas politik dan keamanan terganggu, waktu, 
pikiran, serta biaya terbuang percuma. Karena bagaimanapun, ekonomi dan politik 
sulit dipisahkan. Ada hubungan sebab akibat (causation). Apakah kekuatan 
ekonomi menyebabkan (causing) kejadian politik (political outcomes), atau 
kekuatan politik menghasilkan ekonomi (economic outcomes). 

Pandangan pertama dikenal dengan "ekonomistis", dan kedua sebagai "politikis". 
M. Staniland: What is Political Economy? A Study of Social Theory and 
Underdevelopment, Yale University Press. Menghakimi (to judge) secara hitam 
putih suatu proses pembangunan yang sedang berjalan, terlebih ketika proses 
pembangunan itu terus-menerus didera masalah, rasanya tidaklah bijaksana. 
Apalagi kealpaan dari proses yang sedang berlangsung, dimanfaatkan menjadi 
suatu manuver politik. Terlalu besar ongkos sosial (social cost), yang harus 
dikeluarkan untuk bakar, rusak, terutama dampaknya dalam pergeseran nilai. 
Seolah semuanya menjadi halal dan hukum sudah tidak ada. Padahal, apabila 
ongkos sosial itu dijadikan untuk modal pembangunan, bisa terakumulasi dalam 
jumlah dana yang besar. 

Kasihan rakyat kecil terus menderita dan turut juga membayar mahal dari suatu 
proses pertarungan elite politik. Bak kata pepatah: Gajah dengan gajah 
bertarung, pelanduk mati di tengah-tengah. Mari kita camkan dan renungkan, demi 
perebutan "tahta dunia" sampai melibatkan dan mengorbankan banyak orang. Untuk 
apa itu dilakukan semua? Hans Urs von Balthasar dalam bukunya "Doa" yang 
dikutip Muhammad Ibn 'Abbat: Surat-surat sang sufi mengatakan: Kita hidup dalam 
zaman yang kering spiritual. Citra tentang dunia yang berbicara tentang Tuhan, 
telah menjadi tanda tanya yang kabur dan teka-teki tak jelas. Hati manusia 
zaman robot ini remuk redam, sehingga tidak percaya pada perenungan 
(kontempelasi). Orang berdoa karena putus asa dan sia-sia, bahkan meragukan 
eksistensi Tuhan. Bahkan mereka perlu menggunakan seluruh kekuatan untuk 
melawan arus. Betapa banyak nilai Ilahi ditinggalkan manusia, terutama dalam 
perilakunya keseharian.

Konsep pembangunan negeri ini terus diubah, diulang dan disempurnakan. Namun 
belum mampu mengangkat rakyat banyak dari tingkat kemiskinan yang hakiki. 
Mengaburkan konsep pembangunan sebagai eufemisme untuk perubahan, modernisasi, 
atau pertumbuhan, karena masalah pembangunan sangat luas sekali. Pendefinisian 
konsep pembangunan sebagai sutu konsep normatif, menyiratkan pilihan-pilihan 
tujuan untuk mencapai apa yang disebut Gandhi sebagai "realisasi potensi 
manusia" K. Gandhi : An Autobiography, The Story of My Experiments with Truth. 
Tetapi betapa sulitnya potensi sumber daya manusia untuk menjadi kekuatan 
tangguh di negeri ini.

Pengalaman membuktikan, pembangunan ekonomi di negara berkembang (termasuk 
Indonesia) telah memberikan hasil di satu pihak dan kegagalan di pihak lain. 
Semuanya merupakan pelajaran paling penting yang dapat dijadikan pegangan dalam 
rancang pembangunan di kemudian hari. Pendekatan pencapaian GNP yang tinggi 
ternyata tidak pernah terbukti akan menetes ke bawah (trickle down effect), 
sedangkan pendekatan aspek sosial, telah menimbulkan elite-elite baru dengan 
tingkat kebocoran yang tinggi. 

Dalam proses pencarian konsep pembangunan yang tepat karena cepatnya perubahan 
dalam era globalisasi, masyarakat sudah tidak sabar terhadap pembangunan yang 
langsung menyentuh kesejahteraan mereka. Pembangunan yang memihak kelompok 
miskin, bagaikan "oase" di tengah gurun pasir. Ketidaksabaran inilah membuat 
gejolak sosial terus berlangsung. Ada alasan logis dapat diterima dengan mem 
banchmarking negara tetangga, kenapa negeri ini terus ketinggalan di berbagai 
bidang. Pimpinan negara berganti, strategi berubah, tetapi kemelaratan dan 
penderitaan tidak kunjung reda. 

Kendati tahun 2006 stabilitas ekonomi makro relatif stabil: inflasi 15,7%, 
cadangan devisa US dolar 40,5 miliar, nilai rupiah berkisar Rp 9.000,00 dan 
indeks saham gabungan 1.459.2. Namun belum mampu mengangkat sektor riil secara 
signifikan, sehingga msalah pengangguran belum terjawab tuntas. Di sini gejolak 
sosial sangat rawan dan mudah dipicu. Kaum humanis memang lebih memusatkan 
perhatiannya pada matra-matra kemanusiaan dan etika pembangunan. Karena 
pembangunan memupuk harga diri, dalam menentukan pilihan-pilihan ke depan. 

Pembangunan bukan semata-mata mencari manfaat materil yang menghadirkan 
dehumanisasi. Potensi-potensi ekonomi, pribadi, haus muncul ke depan sehingga 
masyarakat mempunyai kemampuan untuk memilih dan memberikan tanggapan terhadap 
pembangunan tersebut. Tetapi sanggupkah kaum humanis menabrak tembok-tembok 
kokoh dan pilar kuat yang telah terbenam lama? Sistem nilai yang berlaku di 
mana keringat dan kerja keras dipandang hina, orang dinilai dan dihormati dari 
aset fisiknya, tampilan yang hendonisme. Wajar kalau muncul perilaku terobos, 
aji mumpung, jalan tol, dan lainnya. Bisakah sistem nilai yang demikian kuat 
dibongkar? Gejolak sosial yang demikian gencar merusak negeri ini, bisa 
membentuk tatanan nilai baru. Ini sangat berbahaya bagi eksistensi negeri 
tercinta. Sekali lagi, sayangilah negeri ini. Negeri yang indah dengan penuh 
cinta.*** 

Penulis, Peneliti Senior PPKPSDM Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Home is just a click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: