[ppi] [ppiindia] Negeri Tercinta Didera Konflik
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sun, 28 May 2006 23:38:34 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/052006/29/0903.htm
Negeri Tercinta Didera Konflik
Oleh SOEROSO DASAR
SIAPA yang sabar, dia akan menempatkannya di taman-taman kenikmatan seperti
yang diharapkannya, dan siapa yang keluar dari hikmat-Nya, Dia akan
melemparkannya ke jurang kebinasaan. Jika nafsu ditaklukkan layaknya hamba
sahaya, maka ia akan menjadi pohon yang sari makannya pikiran, cabangnya
kesabaran, rantingnya ilmu, daunnya ahlak yang baik, buahnya hikmah, dan
batangnya taufik serta terhindar dari krisis. Karena hati yang baik adalah
sadar untuk mengikuti kebaikan dan petunjuk, sedangkan hati yang buruk adalah
hati yang sadar untuk mengikuti kesesatan dan kerusakan.
SENGAJA tulisan Ibnu Qayyim di atas penulis kemukakan untuk menyejukkan hati
kita di saat gemuruh pertikaian sesama anak bangsa terjadi. Yang menarik adalah
pertikaian itu dengan dalih demi rakyat, demi demokrasi, dan demi Indonesia.
Sebuah kata-kata yang klise: pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk
rakyat, (governance of the people, by the people, and for the people).
Ada partisipasi rakyat, persamaan di depan hukum, distribusi pendapatan,
kebebasan beragama, mengeluarkan pendapat, dan lain-lain. Begitu berkilaunya
pesona sebuah demokrasi. Semua mengaku paling benar, bahkan bila mungkin
menghalalkan berbagai cara. Padahal "kebenaran adalah ilusi", kata Nietzsche.
Sejatinya yang benar adalah Allah - Al haq (Yang Mahabenar).
Presiden SBY dengan suara lirih menyerukan berkali-kali dari Kuwait: Sayangilah
bangsa ini. Sayangilah bangsa Indonesia. Menanggapi perilaku dan gejolak sosial
yang terjadi belakangan ini. Terutama menanggapi secara serius demonstrasi
buruh. Seperti tidak ada bahasa lain kecuali bakar (Pilkada Tuban), rusak (demo
buruh), tutup jalanan umum, perkelahian-perkelahian antarkelompok - bunuh
(Bogor), suaka politik (Papua), rusak taksi (Bandung) dan lainnya, yang
semuanya itu membangun image negatif betapa buruknya krisis sosial negeri ini.
Negeri yang dikenal sabar, santun, sopan, arif, bijaksana, menjunjung adat
istiadat, berubah menjadi beringas dan liar. Sebuah perilaku dan sikap yang
sangat berseberangan dengan nilai-nilai peninggalan leluhur kita.
Presiden tampaknya merasa sedih menjadi marketing, dengan mengatakan Indonesia
aman, agar investor masuk dan menanamkan modalnya. Padahal, pada saat yang sama
realitas terjadi lain. Bila stabilitas politik dan keamanan terganggu, waktu,
pikiran, serta biaya terbuang percuma. Karena bagaimanapun, ekonomi dan politik
sulit dipisahkan. Ada hubungan sebab akibat (causation). Apakah kekuatan
ekonomi menyebabkan (causing) kejadian politik (political outcomes), atau
kekuatan politik menghasilkan ekonomi (economic outcomes).
Pandangan pertama dikenal dengan "ekonomistis", dan kedua sebagai "politikis".
M. Staniland: What is Political Economy? A Study of Social Theory and
Underdevelopment, Yale University Press. Menghakimi (to judge) secara hitam
putih suatu proses pembangunan yang sedang berjalan, terlebih ketika proses
pembangunan itu terus-menerus didera masalah, rasanya tidaklah bijaksana.
Apalagi kealpaan dari proses yang sedang berlangsung, dimanfaatkan menjadi
suatu manuver politik. Terlalu besar ongkos sosial (social cost), yang harus
dikeluarkan untuk bakar, rusak, terutama dampaknya dalam pergeseran nilai.
Seolah semuanya menjadi halal dan hukum sudah tidak ada. Padahal, apabila
ongkos sosial itu dijadikan untuk modal pembangunan, bisa terakumulasi dalam
jumlah dana yang besar.
Kasihan rakyat kecil terus menderita dan turut juga membayar mahal dari suatu
proses pertarungan elite politik. Bak kata pepatah: Gajah dengan gajah
bertarung, pelanduk mati di tengah-tengah. Mari kita camkan dan renungkan, demi
perebutan "tahta dunia" sampai melibatkan dan mengorbankan banyak orang. Untuk
apa itu dilakukan semua? Hans Urs von Balthasar dalam bukunya "Doa" yang
dikutip Muhammad Ibn 'Abbat: Surat-surat sang sufi mengatakan: Kita hidup dalam
zaman yang kering spiritual. Citra tentang dunia yang berbicara tentang Tuhan,
telah menjadi tanda tanya yang kabur dan teka-teki tak jelas. Hati manusia
zaman robot ini remuk redam, sehingga tidak percaya pada perenungan
(kontempelasi). Orang berdoa karena putus asa dan sia-sia, bahkan meragukan
eksistensi Tuhan. Bahkan mereka perlu menggunakan seluruh kekuatan untuk
melawan arus. Betapa banyak nilai Ilahi ditinggalkan manusia, terutama dalam
perilakunya keseharian.
Konsep pembangunan negeri ini terus diubah, diulang dan disempurnakan. Namun
belum mampu mengangkat rakyat banyak dari tingkat kemiskinan yang hakiki.
Mengaburkan konsep pembangunan sebagai eufemisme untuk perubahan, modernisasi,
atau pertumbuhan, karena masalah pembangunan sangat luas sekali. Pendefinisian
konsep pembangunan sebagai sutu konsep normatif, menyiratkan pilihan-pilihan
tujuan untuk mencapai apa yang disebut Gandhi sebagai "realisasi potensi
manusia" K. Gandhi : An Autobiography, The Story of My Experiments with Truth.
Tetapi betapa sulitnya potensi sumber daya manusia untuk menjadi kekuatan
tangguh di negeri ini.
Pengalaman membuktikan, pembangunan ekonomi di negara berkembang (termasuk
Indonesia) telah memberikan hasil di satu pihak dan kegagalan di pihak lain.
Semuanya merupakan pelajaran paling penting yang dapat dijadikan pegangan dalam
rancang pembangunan di kemudian hari. Pendekatan pencapaian GNP yang tinggi
ternyata tidak pernah terbukti akan menetes ke bawah (trickle down effect),
sedangkan pendekatan aspek sosial, telah menimbulkan elite-elite baru dengan
tingkat kebocoran yang tinggi.
Dalam proses pencarian konsep pembangunan yang tepat karena cepatnya perubahan
dalam era globalisasi, masyarakat sudah tidak sabar terhadap pembangunan yang
langsung menyentuh kesejahteraan mereka. Pembangunan yang memihak kelompok
miskin, bagaikan "oase" di tengah gurun pasir. Ketidaksabaran inilah membuat
gejolak sosial terus berlangsung. Ada alasan logis dapat diterima dengan mem
banchmarking negara tetangga, kenapa negeri ini terus ketinggalan di berbagai
bidang. Pimpinan negara berganti, strategi berubah, tetapi kemelaratan dan
penderitaan tidak kunjung reda.
Kendati tahun 2006 stabilitas ekonomi makro relatif stabil: inflasi 15,7%,
cadangan devisa US dolar 40,5 miliar, nilai rupiah berkisar Rp 9.000,00 dan
indeks saham gabungan 1.459.2. Namun belum mampu mengangkat sektor riil secara
signifikan, sehingga msalah pengangguran belum terjawab tuntas. Di sini gejolak
sosial sangat rawan dan mudah dipicu. Kaum humanis memang lebih memusatkan
perhatiannya pada matra-matra kemanusiaan dan etika pembangunan. Karena
pembangunan memupuk harga diri, dalam menentukan pilihan-pilihan ke depan.
Pembangunan bukan semata-mata mencari manfaat materil yang menghadirkan
dehumanisasi. Potensi-potensi ekonomi, pribadi, haus muncul ke depan sehingga
masyarakat mempunyai kemampuan untuk memilih dan memberikan tanggapan terhadap
pembangunan tersebut. Tetapi sanggupkah kaum humanis menabrak tembok-tembok
kokoh dan pilar kuat yang telah terbenam lama? Sistem nilai yang berlaku di
mana keringat dan kerja keras dipandang hina, orang dinilai dan dihormati dari
aset fisiknya, tampilan yang hendonisme. Wajar kalau muncul perilaku terobos,
aji mumpung, jalan tol, dan lainnya. Bisakah sistem nilai yang demikian kuat
dibongkar? Gejolak sosial yang demikian gencar merusak negeri ini, bisa
membentuk tatanan nilai baru. Ini sangat berbahaya bagi eksistensi negeri
tercinta. Sekali lagi, sayangilah negeri ini. Negeri yang indah dengan penuh
cinta.***
Penulis, Peneliti Senior PPKPSDM Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Home is just a click away. Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Negeri Tercinta Didera Konflik