[ppi] [ppiindia] "Nasib TKW": Sebuah Balada Rakyat Indramayu

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0412/26/seni/1456771.htm
Minggu, 26 Desember 2004

"Nasib TKW": Sebuah Balada Rakyat Indramayu
Oleh: R Kristiawan

....Males temen nasib TKW, maksud ati pengen manggawe
Kanggo mbantu ekonomi keluarga
Mangkat kerja ning Saudi Arabia...
Bli digaji sampe taunan, awak rusak ilang kehormatan
Kaniaya nasibe wong ra duwe, nyawa TKW langka ragane....
Arep njaluk tulung ning sapa, Arabia jagate sapa
Yen wis inget wong ra duwe, rasa ngenes balik bli bisa
(Nasib TKW, Ciptaan Papa Irma)
(Terjemahan:
Kasihan sekali nasib TKW, maksud hati ingin bekerja
untuk membantu ekonomi keluarga
berangkat kerja ke Saudi Arabia...
tidak digaji sampai bertahun-tahun, badan rusak hilang kehormatan
teraniaya nasib orang miskin, nyawa TKW murah harganya
mau minta tolong pada siapa, Arabia dunia siapa
jika sudah ingat orang miskin, rasa sedih tidak bisa pulang)

Lara sih lara
Gara-gara mboke bocah
Lunga ning Saudi Arabia
Kula ning umah mong-mong bocah....
(Duda Kepaksa, Ciptaan Iip Bakir)
(Terjemahan: Sakit sih sakit
gara-gara ibu anak-anak
pergi ke Saudi Arabia
Saya di rumah mengasuh anak)

TEKS di atas adalah petikan dari syair dua lagu bertemakan tenaga kerja 
Indonesia (TKI) dari Indramayu. Cobalah Anda melihat-lihat kios kaset di 
Pasar Indramayu. Di situ Anda akan menemukan kaset-kaset dangdut cirebonan 
dengan lirik berisi seputar nasib TKI. Karakter musiknya tersusun oleh 
inkulturasi antara musik tradisional Cirebon dan dangdut modern dalam beat 
mengentak. Di sebuah kios di Pasar Indramayu, ada sekitar lima kaset dengan 
masing-masing satu sampai dua lagu yang bertema TKI. Lirik lagu-lagu itu 
memaparkan sebuah fenomena sosial bertema TKI yang sangat memengaruhi tidak 
hanya kehidupan ekonomi, tetapi juga dinamika sosial kultural masyarakat 
Indramayu.
Sebagai sebuah teks, kedua lirik lagu itu tidak berdiri otonom, tetapi 
dilatari oleh konstruksi sosial kultural yang menjadi konteks dari teks 
tersebut. Stuart Hall, perintis cultural studies dari Birmingham School of 
Cultural Studies menegaskan bahwa sebuah teks dimaknai dalam tarik-menarik 
antara proses encoding dan decoding. Dalam proses encoding, kita akan 
memahami apa latar motivasi pembuat teks dan bagaimana konstruksi sosial 
kultural yang membentuk teks itu, sementara decoding akan menggiring 
bagaimana decoder menyusun makna. Dengan demikian, Hall meninggalkan tradisi 
Gramscian yang melihat pemaknaan teks dalam proses kekuasaan satu arah. Hall 
melihat bahwa teks hadir sebagai sebuah representasi sosial dan relasi 
antarkekuasaan.
Dalam khazanah pembahasan lirik lagu, konteks menjadi salah satu hal penting 
dalam memaknai lirik. Susan Donley (2001) melihat adanya keterkaitan yang 
kuat antara syair lagu dan realitas sosial. Dia membagi fungsi syair lagu 
menjadi tiga, yaitu fungsi literatur, fungsi dokumentasi sejarah, dan fungsi 
dokumentasi sosial. Fungsi literatur menekankan aspek tema dan pesan dalam 
syair. Fungsi dokumentasi sejarah melihat aspek tata nilai, kepercayaan, dan 
peristiwa dalam sebuah kurun waktu tertentu. Sementara fungsi dokumentasi 
sosial melihat aspek representasi tren, motivasi, dan pengalaman pembuat 
syair, serta untuk siapa syair itu dibuat.
Dari syair Imagine karya John Lennon, kita bisa memahami bagaimana latar 
politik Perang Vietnam. Demikian pula Song of Bangladesh yang dinyanyikan 
oleh Joan Baez bermakna sangat kuat sebagai sebuah deskripsi duka lara 
terhadap tragedi kemiskinan di Bangladesh. Syair opera-opera Giacomo Puccini 
pun sangat kental oleh konteks romantisisme aristokrat dan pertentangan 
kelas masyarakat Eropa abad ke-19. Lirik-lirik negro spiritual dibentuk oleh 
sejarah perbudakan di Amerika. Di balik syair Stasiun Balapan karya Didi 
Kempot juga tersimpan konteks besar di mana terjadi transisi peran dari 
perempuan Jawa yang domestik menjadi perempuan yang bepergian ke luar kota. 
Contoh-contoh di atas hanya ingin menegaskan betapa lirik lagu sangat tidak 
independen, tetapi saling tergantung dengan situasi sejarah aktual.
Berbeda dengan syair lagu Stasiun Balapan, syair-syair lagu rakyat dari 
Cirebon, Indramayu, dan sekitarnya di atas punya pesan yang lebih gamblang. 
Stasiun Balapan hanya bercerita tentang perpisahan seorang laki-laki dan 
perempuan tanpa kejelasan tujuan kepergian perempuan itu. Ini berbeda sekali 
dengan lagu-lagu cirebonan di atas. Papa Irma, sang pencipta lagu, dengan 
sangat jelas menceritakan nasib para TKI lewat lagu Nasib TKW. Kelugasan 
muncul lewat frase "kanggo mbantu ekonomi keluarga" (untuk membantu ekonomi 
keluarga). Pemilihan kata ekonomi secara paradigmatis menyajikan pilihan 
tentang kejujuran sosial yang telanjang. Rasanya sulit sekali menemukan kata 
ini dalam banyak syair lagu di Indonesia. Padahal, ekonomi menjadi salah 
satu sumber masalah penting bangsa ini. Syair tentang kisah klasik tidak 
dibayarnya gaji para TKI karena dirampas para agen di luar negeri juga tidak 
menyediakan ruang konotasi sama sekali. Lihatlah frase "bli digaji sampe 
tahunan, awak rusak ilang kehormatan" (tidak digaji sampai bertahun-tahun, 
badan rusak kehilangan kehormatan). Bukankah frase ini sangat representatif 
terhadap kisah-kisah pilu TKI yang pada masa pemerintahan baru ini tetap 
saja kita dengar?
KONSTRUKSI sosial ekonomi masyarakat Indramayu pinggiran terbangun lewat 
basis ekonomi agraris. Akan tetapi, hamparan luas sawah dan posisi Kabupaten 
Indramayu sebagai penghasil 30 persen produksi beras nasional tidak terlalu 
terasa bagi penduduk pinggiran. Akar persoalannya adalah kepemilikan tanah. 
30 persen masyarakat adalah tuan tanah, sedangkan 70 persen lainnya adalah 
buruh tani. Lihat saja Dusun Sudimampir, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten 
Indramayu. Dusun ini sangat pekat oleh warna kemiskinan. Tidak ada pilihan 
bagi rakyat setempat untuk memilih profesi selain menjadi buruh tani. Dengan 
pola setahun dua kali panen, masyarakat harus hidup dalam roda sejarah yang 
senantiasa berbalut kemiskinan. Lagi pula untuk sekadar menyewa lahan pun 
mahal. Untuk menyewa tanah seluas satu bata (kira-kira 1.400 m2), mereka 
harus rela menyerahkan lima kuintal gabah kering hasil panenan, jumlah yang 
terlalu tinggi.
Di Balongan, tidak jauh dari Sudimampir, terdapat pabrik pengolahan minyak 
milik Pertamina. Pun bagi penduduk setempat, pabrik itu tetap saja asing. 
Cerobong asap hanya menyisakan kisah perubahan lahan pertanian menjadi 
kompleks pabrik.
Ceruk kemiskinan Sudimampir lebih terasa ketika kita menyusuri lorong-lorong 
kampung. Jalan-jalan tanah, orang tua yang sekadar duduk-duduk di depan 
rumah, anak muda laki-laki nongkrong di pojok kampung, kolam mandi dengan 
air kotor, orang tua laki-laki menambal ban sepeda tua karatan, semuanya 
menegaskan kisah kelu tentang kemiskinan yang terus merajut dalam sejarah 
masyarakat setempat.
Akan tetapi, semangat mempertahankan hidup menggurat garis sejarah baru. 
Garis itu dibuat oleh kisah para perempuan pemberani yang rela bekerja ke 
luar negeri meninggalkan sanak suami. Garis kisah itu mulai menggores sejak 
tahun 1997, ketika seluruh negeri terkoyak oleh badai ekonomi. Pun di 
Sudimampir, badai ekonomi itu membuat para wanita diliputi keberanian 
mengadu nasib.
Menjadi TKI adalah satu-satunya pilihan menuruti harapan perubahan nasib. 
Dengan membayar kepada "sponsor" (calo) sebesar Rp 1,5 juta, mereka 
berbondong-bondong mengadu nasib. Sebagian besar ke Timur Tengah. Gelombang 
ingar bingar migrasi pekerja itu kemudian meletakkan Kabupaten Indramayu 
sebagai salah satu pengirim terbesar TKI di seluruh Indonesia.
Risikonya memang besar, tetapi prospeknya juga besar. Jejak-jejak 
keberhasilan itu tercetak dalam bangunan-bangunan baru yang mudah ditemukan 
di Kecamatan Sliyeg. Bangunan itu berbahan luar keramik dengan desain rumah 
modern. Mudah sekali membedakan yang mana yang dibangun atas kiriman uang 
TKI atau bukan. Rumah hasil kiriman uang TKI biasanya berwarna cerah: pink, 
biru muda, hijau, cokelat terang, dengan kombinasi warna yang jauh dari 
konsep serasi. Rumah-rumah itu menyimpan kontradiksi besar. Lantai keramik 
mengilat itu bercampur dengan bau comberan di belakang rumah. Dikelilingi 
oleh tanah kering, kandang kambing, dan comberan, rumah-rumah itu bagai 
tidak tumbuh dari tanah kultural setempat. Akan tetapi, itulah simbol 
kepahlawanan 25 persen dari sekitar 2.500 perempuan Sudimampir. Jumlah 
penduduk Sudimampir mencapai 5.000 orang lebih.
Jejak kisah TKI yang lain adalah kisah pilu kegagalan. Dani (23) harus 
pulang dengan patah tulang kanan karena disiksa oleh majikannya di Arab. 
Seorang laki-laki dari Sudimampir Lor yang bekerja sebagai sopir di Arab 
bahkan harus pulang tanpa nyawa dua bulan lalu. Untung saja dia bisa dikubur 
di kampung halaman. Wunersih (25) dari Dusun Tugu, tetangga Dusun 
Sudimampir, baru saja tiba di rumah tanggal 7 Desember 2004 lalu. Tujuan 
kepergiannya bulan April 2004 lalu adalah Yordania. Akan tetapi, agen di 
luar negeri mengirimnya ke Baghdad, Irak. Nasibnya sial. Majikannya 
menuduhnya mencuri uang sekitar Rp 12 juta hingga menyiksanya. Gajinya pun 
tidak dibayarkan. Ia berhasil melarikan diri setelah disekap di kamar. Di 
antara desingan peluru dan ledakan bom, Wunersih berjalan menyusuri 
pinggiran kota Baghdad. Sepanjang perjalanan itu ia harus meminta makanan di 
masjid-masjid yang ia temui. Akhirnya ia menemukan polisi yang kemudian 
mengirimnya ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Irak.
Tanah Air ternyata tidak menjamin solidaritas sosial. Sampai di Terminal 3 
Bandara Soekarno-Hatta, petugas meminta uang padanya untuk biaya perjalanan 
ke Indramayu. Ia memberi Rp 190.000. Sopir di jalan pun masih memintanya 
uang yang kemudian ia beri Rp 50.000. Belum cukup, paspornya sampai sekarang 
juga ditahan oleh petugas berseragam di Bandara tanpa alasan jelas. Semua 
identitas pribadi dalam paspornya juga tidak palsu. Para petugas itu mungkin 
tidak tahu bahwa ekspor tenaga kerja menghasilkan devisa bagi Indonesia 
rata- rata sebanyak 1,6 miliar dollar AS per tahun.
ANAK-anak dan laki-laki adalah subplot dalam kisah ini. Di jalan-jalan 
kampung Sudimampir, ada semacam becak berhiaskan naga merah disertai tape 
recorder yang selalu memutar lagu dangdut. Becak itu berisi sekitar sepuluh 
anak berusia di bawah dua belas tahun. Satu di antara anak-anak itu mungkin 
tidak pernah merasakan air susu ibunya. Biasanya anak-anak itu diasuh oleh 
nenek atau bibinya sepeninggal ibunya ke Arab Saudi. Jumlah anak-anak 
bernasib seperti ini ada sekitar 70 anak di Dusun Sudimampir. Kalau ayah 
dari anak-anak ini adalah ayah yang baik, ayah inilah yang mengasuh mereka 
selepas kerja menjadi buruh tani. Lagu Duda Kepaksa ciptaan Iip Bakir 
lagi-lagi dengan gamblang menceritakannya. Lara sih lara, gara-gara mboke 
bocah lunga ning Saudi Arabia. Kula ning umah mong-mong bocah....
Akan tetapi, penggalan syair itu hanya menceritakan sepenggal cerita 
normatif tentang laki-laki yang ditinggal istri. Itu adalah contoh suami 
setia yang setia mengasuh anak-anaknya. Selain mengasuh anak, yang setia ini 
biasanya berkumpul pada malam-malam tertentu sambil membakar ayam (mayoran). 
Mereka mendirikan "organisasi" bernama Ikatan Duda Arab (Idara).
Yang tidak setia punya dua pilihan: menghamburkan duit kiriman istri di 
diskotek dan/atau kawin lagi. Yang dimaksud dengan diskotek adalah semacam 
kafe remang yang memutar lagu-lagu dangdut. Karena tidak tahan ditinggal 
istri, para suami ini sering kawin lagi. Menjadi masalah kalau istri mudanya 
pun akhirnya menjadi TKI. Laki-laki semacam ini ini harus pandai mengatur 
waktu pulang istri tuanya agar tidak bertabrakan dengan jadwal kedatangan 
istri mudanya.
Diskotek rupanya menjadi fenomena menarik. Di pinggir- pinggir jalan 
tersembul kafe remang dengan bunyi musik dangdut disertai aksesori tawaran 
kenikmatan kedagingan. Perempuan menjadi sangat responsif karena pada Duda 
Arab ini biasanya berkocek tebal. Di sanalah duit kiriman istri akan 
berkecamuk dengan lampu remang, alkohol, dan lendir duniawi.
KEKUATAN representasi sosial dalam syair lagu-lagu rakyat Indramayu dibentuk 
oleh dua hal, yaitu realitas sosial itu sendiri dan tradisi kesenian yang 
kuat di masyarakat bawah. Di Kecamatan Sliyeg dengan mudah kita bisa 
menemukan beberapa kelompok drama rakyat yang sudah berdiri sejak puluhan 
tahun lalu. Sutana (58), misalnya, pemimpin kelompok drama Mayang Sari, 
sudah bermain drama sejak tahun 1961. Kelompok drama ini masih hidup sampai 
sekarang meski sesudah 1997 relatif sepi tanggapan. Kisah-kisah yang 
biasanya dipanggungkan berasal dari tradisi penyebaran agama Islam, 
khususnya oleh Sunan Gunung Jati selain legenda lokal.
Ekspresi musikal rakyat setempat juga tinggi. Setiap aktivitas publik 
sekecil apa pun, pasti disertai oleh musik rakyat. Mendorong dagangan, 
mengasuh anak di becak, kredit keliling, semuanya disertai iringan musik. 
Kelompok organ tunggal juga bertebaran yang ditandai oleh puluhan papan 
reklame di pinggir jalan kecamatan.
Realitas sosial dan tradisi seni ini rupanya menjadi bahan bakar dasar dari 
produksi lirik lagu-lagu rakyat Indramayu. Harapan, duka lara, kegembiraan, 
dan keputusasan dalam lagu-lagu itu sebenarnya merupakan salah satu bentuk 
jeritan dari mereka yang sering disebut pahlawan devisa, tetapi sampai 
pemerintahan baru ini pun tidak tertangani sebagaimana mestinya.
Senok... aja nangis... (Nak... jangan menangis...)
Kelangan mimi ya nok ya (Kehilangan ibu ya nak ya)
Sebab mimi lagi usaha (Sebab ibu sedang berusaha)
Sedelat maning arep teka (Sebentar lagi akan datang)
R Kristiawan Peneliti di Yayasan Sains Estetika dan Teknologi (SET), 
Pengajar di Unika Atma Jaya Jakarta, dan Penyanyi Tenor

* Tulisan ini berdasarkan pada survei lapangan Yayasan SET pada awal 
Desember 2004.
Search :







Berita Lainnya :
·Pelayanan Kudus
·"Nasib TKW": Sebuah Balada Rakyat Indramayu
·Sumadiyasa Terpeleset di Ruang Angkasa
·Kesamaran Warna-warna Hantaguna
·Silaturahmi Seni Antarkota
·AGENDA SENI 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts:

  • » [ppi] [ppiindia] "Nasib TKW": Sebuah Balada Rakyat Indramayu