[ppi] [ppiindia] Moral Agama di Tengah Pusaran Politik

** ppi-india **
Sriwijaya Post, 25 Feb. 2004

Moral Agama di Tengah Pusaran Politik
Oleh Emha Faiq
Pengamat Politik dari UMM dan Peneliti
Religious and Social Studies (ReSIST) Malang.

APRIL 2004 menjadi momen berarti bagi masyarakat Indonesia, terutama elite
politik. Pemilu sebagai pesta demokrasi kembali digelar untuk menentukan
figur yang konon bisa menjebatani aspirasi rakyat. Partai-partai politik
sejak dini juga telah menyiapkan beragam program dan segunung janji kepada
masyarkat luas.
Tujuannya tidak lain adalah untuk mendulang suara sebanyak mungkin. Bahkan
tidak sedikit oknum partai yang menggunakan jalan menyimpang bahkan
menghalalkan segala cara untuk mengeruk suara yang nantinya mengantarkan
mereka ke kursi kekuasan. Karena itu semua, seolah bangunan moral dan etika
terkesampingkan.
Bagi mereka, ada saatnya politik harus dipisahkan dari moralitas. Karena
politik adalah seni dari segala yang mungkin, termasuk di dalamnya adalah
manipulasi atau konspirasi yang jelas-jelas berlawanan dengan sistem nilai
dan moralitas. Dengan demikian, politik adalah sistem yang menghalalkan
segala cara untuk mendapatkan kekuasaan.
Adalah Niccolo Machiavelli yang pertama kali menggagas bangunan teoritis
politik di atas. Statemennya yang paling populer adalah bahwa tujuan
menghalalkan segala cara. Oleh karena itulah, penganut pandangn ini,
orang-orang yang cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai
ambisinya, disebut Machiavellian.
Bagi dia, yang menjadi konsentrasi utama dalam politik adalah bagaimna
memperoleh kekuasaan dan mempertahankannya selama mungkin. Maka dalam rangka
mencapainya diperlukan segala macam keahlian, tipu muslihat, dan segenap
upaya. Moralitas, etika, sistem nilai hanya kan menjadi penghalang bagi
pencapaian kekuasaan. Oleh karenanya, kesemunya itu harus disingkirkan,
minimal ditinggalkan untuk sementara.
Sayangnya, wacana seperti ini mendapat legitimasi kuat dalam prpolitikan
kontemporer. Bahkan menjadi wacana serta praktik yang mendominasi dinamika
politik bangsa. Padahal awalnya, pemisahan politik (negara) dengan agama
adalah upaya untuk mereduksi kekuasaan lembaga keagamaan (gereja). Namun
belakangan ditafsirkan secara membabi buta dengan upaya membebaskan politik
sepenuhnya lepas dari moralitas agama. Inilah yang disebut Mohammad AS.
Hikam (2001) sebagai proses netralitas politik. Yakni upaya pemisahan
politik dari agama secara penuh.
Ketika moralitas agama ditinggalkan, karena dianggap sebagai penghalang,
agresifitas politisi semakin tidak terkendali. Pemuasan serta pelanggengan
kekuasaan akan dicapai dengan pelbagai jalan, tidak peduli benar atau salah,
yang penting adalah menang. Dalam kondisi seperti ini, konsesus sosial
seperti tenggang rasa, toleransi, saling menghormati, menghargai hak orang
lain menjadi luntur.
Kekuasan adalah utama. Untuknya, segala daya upaya dipersembahkan. Meskipun
darah taruhannya. Bila demikian, maka ketakutan Thomas Hobbes akan munculnya
atmosfer homo homini lupus, menjadi nyata. Manusia akan saling bantai demi
kekuasan yang dianggap haknya.
Dus, ketika politik lepas dari kontrol moral agama, maka peradaban manusia
dibayangi kegelapan. Untuk itu harus segera diinsafi bahwa moralitas agama
sebagai kekuatan trasendental, memiliki makna penting dalam pusaran politik.
Hal ini tidak lain adalah untuk membingkai ambisi manusia agar tidak
terjerembab ke dalam kenaifan kekuasan. Yang pada gilirannya menafikkan
nilai-nilai humanitas.
Artinya, berpolitik sekaligus harus bermoral. Tidak berbohong, tidak
melakukan tindak korupsi, tidak memasung kebebasan rakyat, tidak
mengintimidasi atau menggunkan kekerasan untuk mencapai tujuan-tujun
politik, apalagi sampi mengorbankn rakyat kecil. Banyak orang meyakini bahwa
agama adalah suatu sistem yang memiliki peran dan fungsi sentral dalam
setiap denyut nadi kehidupan manusia, termasuk politik.
Akhirnya, dengan landasan moral agama inilah, kiprah politik semakin
berbobot. Bukan saja karena mendapat legitimasi rakyat Indonesia yang
religius, tetapi mengokohkan bangunan kesadaran ultra-kritis, bahwa
berkiprah di tengah dunia politik selain untuk menyelamatkan bangsa adalah
untuk mencapai kepuasan spiritual. Bila kesadaran ini telah tumbuh, kiranya
pemilu April kelak akan terasa sejuk, cerah dan tidak terhalang
bayang-bayang kakerasan



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Other related posts: