[ppi] Re: [ppiindia] "Mitos-mitos tentang Perayaan Natal Bersama
- From: "Ichjar Musa" <imusa@xxxxxxxxxx>
- To: <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Thu, 30 Dec 2004 19:07:08 +0700
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Bung, bagiku agamaKU, bagimu agamaMU! Kalau anda bukan muslim tidak usah
komentar tentang keyakinan umat muslim.
----- Original Message -----
From: "ANDREAS MIHARDJA" <mihardja@xxxxxxxxxxx>
To: <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
Sent: Wednesday, December 29, 2004 11:54 PM
Subject: Re: [ppiindia] "Mitos-mitos tentang Perayaan Natal Bersama
>
> Kenapa begini cupet pikiran orang2 muslim diIndonesia. Presiden alm.
> Arafat yg saya kira 100% muslim biasanya setiap tahun menghadiri midnight
> ceremony Natal dikota Bethlehem. Dia hanya 2 tahun yl tidak hadir oleh
> karena Israel melarang. --- Ini sampai pemerintah US protest terhadap
> Israel [jaman Clinton] ----- silahkan kalian check.
> Andreas
>
> neena <nedyne_msn@xxxxxxxxx> wrote:
> mas.saya baru tahu masalah ginian.gak hobi baca koran,nyari berita dari
> milis ato google ;p
> MUI melarang muslim ikut PNB apapun alasannya,bukan cuma karena pengen
> toleran kan mas?
> kalau pengen ikut aja, soalnya biasanya acara natalan itu kan
> meriah..heboh..ketawa-ketiwi. boleh gak mas?
>
> Ambon <sea@xxxxxxxxxx> wrote:
> http://www.hidayatullah.com/modules.php?name=News&file=article&sid=1526
>
> Hidayatullah.com, Jumat, 24 Desember 2004
>
> "Mitos-mitos tentang Perayaan Natal Bersama"
>
> Sekelompok Muslim menggugat fatwa MUI tentang "haramnya seorang
> Muslim hadir dalam Perayaan Natal Bersama. Sikap "kebelet" agar bisa
> disebut toleran?. Baca CAP Adian Husaini, MA ke-83
>
> Menjelang perayaan Hari Natal, 25 Desember, ada sebagian kalangan
> kaum Muslim yang kembali menggugat fatwa MUI tentang "haramnya seorang
> Muslim hadir dalam Perayaan Natal Bersama." Ada yang menyatakan, bahwa
> yang melarang Perayaan Natal Bersama (PNB) atau yang tidak mau menghadiri
> PNB adalah tidak toleran, eksklusif, tidak menyadari pluralisme, tidak mau
> berta'aruf, dan sebagainya. Padahal orang Islam disuruh melakukan ta'aruf
> (QS 49:13). Banyak yang kemudian berdebat "boleh dan tidaknya" menghadiri
> PNB, tanpa menyadari, bahwa sebenarnya telah banyak diciptakan mitos-mitos
> seputar apa yang disebut PNB itu sendiri.
>
> Pertama, mitos bahwa PNB adalah keharusan. Mitos ini seperti sudah
> begitu berurat-berakar, bahwa PNB adalah enak dan perlu. Padahal, bisa
> dipertanyakan, apa memang perlu diadakan PNB? Untuk apa? Jika PNB perlu,
> bahkan dilakukan pada skala nasional dan dijadikan acara resmi kenegaraan,
> maka perlukah juga diadakan WB (Waisak Bersama), NB (Nyepi Bersama), IFB
> (Iedul Fitri Bersama), IAB (Idul Adha Bersama), MNB (Maulid Nabi Bersama),
> IMB (Isra' Mi'raj Bersama), IB (Imlek Bersama). Jika semua itu dilakukan,
> mungkin demi alasan efisiensi dan pluralisme beragama, akan ada yang usul,
> sebaiknya semua umat beragama merayakan HRB (Hari Raya Bersama), yang
> menggabungkan hari raya semua agama menjadi satu. Di situ diperingati
> bersama kelahiran Tuhan Yesus, peringatan Nabi Muhammad SAW, dan kelahiran
> dewa-dewa tertentu, dan sebagainya.
>
> Keharusan PNB sebenarnya adalah sebuah mitos. Jika kaum Kristen
> merayakan Natal, mengapa mesti melibatkan kaum agama lain? Ketika itu
> mereka memperingati kelahiran Tuhan Yesus, maka mengapa mesti memaksakan
> umat agama lain untuk mendengarkan cerita tentang Yesus dalam versi
> Kristen? Mengapa doktrin tentang Yesus sebagai juru selamat umat manusia
> itu tidak diyakini diantara pemeluk Kristen sendiri?
>
> Di sebuah negeri Muslim terbesar di dunia, seperti Indonesia, wacana
> tentang perlunya PNB adalah sebuah keanehan. Kita tidak pernah mendengar
> bahwa kaum Kristen di AS, Inggris, Kanada, Australia, misalnya,
> mendiskusikan tentang perlunya dilaksanakan IFB (Idul Fitri Bersama), agar
> mereka disebut toleran. Bahkan, mereka tidak merasa perlu menetapkan Idul
> Fitri sebagai hari libur nasional. Padahal, di Inggris, Kanada, dan
> Australia, mereka menjadikan 26 Desember sebagai "Boxing Day" dan hari
> libur nasional. Selain Natal, hari Paskah diberikan libur sampai dua hari
> (Easter Sunday dan Esater Monday). Di Kanada dan Perancis, Hari Natal juga
> libur dua hari. Hari libur nasional di AS meliputi, New Year's Day (1
> Januari), Martin Luther King Jr Birthday (17 Januari), Washingotn's
> Birthday (21 Februari), Memorial Day (30 Mei), Flag Day (14 Juni),
> Independence Day (4 Juli), Labour Day (5 September), Columbus Day (10
> Oktober), Veterans Day (11 November), Thanksgiving's Day (24 Novem
> ber),
> Christmas Day (25 Desember).
>
> Kedua, mitos bahwa PNB membina kerukunan umat beragama. Mitos ini
> begitu kuat dikampanyekan, bahwa salah satu cara membina kerukunan antar
> umat beragama adalah dengan PNB. Dalam PNB biasanya dilakukan berbagai
> acara yang menegaskan keyakinan umat Kristen terhadap Yesus, bahwa Yesus
> adalah anak Allah yang tunggal, juru selamat umat manusia, yang wafat di
> kayu salib untuk menebus dosa umat manusia. Kalau mau selamat, manusia
> diharuskan percaya kepada doktrin itu. (Yohanes, 14:16). Satu kepercayaan
> yang dikritik keras oleh al-Quran. (QS 5:72-73, 157; 19:89-91, dsb).
>
> Dalam surat Maryam disebutkan, memberikan sifat bahwa Allah punya
> anak, adalah satu "Kejahatan besar" (syaian iddan). Dan Allah berfirman
> dalam al-Quran: "Hampir-hampir langit runtuh dan bumi terbelah serta
> gunung-gunung hancur. Bahwasannya mereka mengklaim bahwa al-Rahman itu
> mempunyai anak." (QS 19:90-91).
>
> Prof. Hamka menyebut tradisi perayaan Hari Besar Agama Bersama
> semacam itu bukan menyuburkan kerukunan umat beragama atau toleransi,
> tetapi menyuburkan kemunafikan. Di akhir tahun 1960-an, Hamka menulis
> tentang usulan perlunya diadakan perayaan Natal dan Idul Fitri bersama,
> karena waktunya berdekatan:
>
> "Si orang Islam diharuskan dengan penuh khusyu' bahwa Tuhan Allah
> beranak, dan Yesus Kristus ialah Allah.
>
> Sebagaimana tadi orang-orang Kristen disuruh mendengar tentang Nabi
> Muhammad saw dengan tenang, padahal mereka diajarkan oleh pendetanya bahwa
> Nabi Muhammad bukanlah nabi, melainkan penjahat. Dan al-Quran bukanlah
> kitab suci melainkan buku karangan Muhammad saja. Kedua belah pihak, baik
> orang Kristen yang disuruh tafakur mendengarkan al-Quran, atau orang Islam
> yang disuruh mendengarkan bahwa Tuhan Allah itu ialah saru ditambah dua
> sama dengan satu, semuanya disuruh mendengarkan hal-hal yang tidak mereka
> percayai dan tidak dapat mereka terima. Pada hakekatnya mereka itu tidak
> ada yang toleransi. Mereka kedua belah pihak hanya menekan perasaan,
> mendengarkan ucapan-ucapan yang dimuntahkan oleh telinga mereka.
>
> Jiwa, raga, hati, sanubari, dan otak, tidak bisa menerima. Kalau
> keterangan orang Islam bahwa Nabi Muhammad saw adalah Nabi akhir zaman,
> penutup sekalian Rasul. Jiwa raga orang Kristen akan mengatakan bahwa
> keterangan orang Islam ini harus ditolak, sebab kalau diterima kita tidak
> Kristen lagi. Dalam hal kepercayaan tidak ada toleransi. Sementara sang
> pastor dan pendeta menerangkan bahwa dosa waris Nabi Adam, ditebus oleh
> Yesus Kristus di atas kayu palang, dan manusia ini dilahirkan dalam dosa,
> dan jalan selamat hanya percaya dan cinta dalam Yesus." Demikian kutipan
> tulisan Prof. Hamka yang ia beri judul: "Toleransi, Sekulerisme, atau
> Sinkretisme."
>
> Ketiga, mitos bahwa dalam PNB orang Muslim hanya menghadiri acara
> non-ritual dan bukan acara ritual. Untuk menjernihkan mitos ini, maka yang
> perlu dikaji adalah sejarah peringatan Natal itu sendiri, dan bagaimana
> bisa dipisahkan antara yang ritual dan yang non-ritual. Sebab, tradisi ini
> tidak muncul di zaman Yesus dan tidak pernah diperintahkan oleh Yesus.
> Maka, bagaimana bisa ditentukan, mana yang ritual dan mana yang tidak
> ritual? Yang jelas-jelas tidak ritual adalah menghadirkan tokoh Santa
> Claus, karena ini adalah tokoh fiktif yang kehadirannya dalam peringatan
> Natal banyak dikritik oleh kalangan Kristen. Sebuah situs Kristen
> (www.sabda.org), menulis satu artikel berjudul: "Merayakan Natal dengan
> Sinterklas: Boleh atau Tidak?"
>
> "Dikatakan, dalam artikelnya yang berjudul The Origin of Santa Claus
> and the Christian Response to Him (Asal-usul Sinterklas dan Tanggapan
> Orang Kristen Terhadapnya), Pastor Richard P. Bucher menjelaskan bahwa
> tokoh Sinterklas lebih merupakan hasil polesan cerita legenda dan mitos
> yang kemudian diperkuat serta dimanfaatkan pula oleh para pelaku bisnis.
>
> Sinterklas yang kita kenal saat ini diduga berasal dari cerita
> kehidupan seorang pastor dari Myra yang bernama Nicholas (350M). Cerita
> yang beredar (tidak ditunjang oleh catatan sejarah yang bisa dipercaya)
> mengatakan bahwa Nicholas dikenal sebagai pastor yang melakukan banyak
> perbuatan baik dengan menolong orang-orang yang membutuhkan. Setelah
> kematiannya, dia dinobatkan sebagai "orang suci" oleh gereja Katolik,
> dengan nama Santo Nicholas. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh Sinterklas
> sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran iman Kristen. Akhirnya, sebagai guru
> Sekolah Minggu kita harus menyadari bahwa hal terpenting yang harus kita
> perhatikan adalah menjadikan Kristus sebagai berita utama dalam merayakan
> Natal -- Natal adalah Yesus."
>
> Mitos tentang Santa Claus ini begitu hebat pengaruhnya, sampai-sampai
> banyak kalangan Muslim yang bangga berpakaian ala Santa Claus.
>
> Keempat, mitos bahwa tidak ada unsur misi Kristen dalam PNB. Melihat
> PNB hanya dari sisi kerukunan dan toleransi tidaklah tepat. Sebab, dalam
> PNB unsur misi Kristen juga perlu dijelaskan secara jujur. PNB adalah
> salah satu media yang baik untuk menyebarkan misi Kristen, agar umat
> manusia mengenal doktrin kepercayaan Kristen, bahwa dengan mempercayai
> Tuhan Yesus sebagai juru selamat, manusia akan selamat.
>
> Sebab, misi Kristen adalah tugas penting dari setiap individu dan
> Gereja Kristen. Konsili Vatikan II (1962-1965), yang sering dikatakan
> membawa angin segar dalam hubungan antar umat beragama, juga mengeluarkan
> satu dokumen khusus tentang misi Kristen (The Decree on the Missionary
> Activity) yang disebut "ad gentes" (kepada bangsa-bangsa). Dalam dokumen
> nostra aetate, memang dikatakan, bahwa mereka menghargai kaum Muslim, yang
> menyembah satu Tuhan dan mengajak kaum Muslim untuk melupakan masa lalu
> serta melakukan kerjasama untuk memperjuangkan keadilan sosial,
> nilai-nilai moral, perdamaian, dan kebebasan. ("Upon the Moslems, too, the
> Church looks with esteem. They adore one God, living and enduring,
> merciful and all-powerful, Maker of heaven and earth .Although in the
> cause of the centuries many quarrels and hostilities have arisen between
> Christians and Moslems, this most sacred Synod urges alls to forget the
> past and to strive sincerely for mutual understanding On behal
> f of all
> mankind, let them make common cause of safeguarding and fostering social
> justice, moral values, peace, and freedom.").
>
> Tetapi, dalam ad gentes juga ditegaskan, misi Kristen harus tetap
> dijalankan dan semua manusia harus dibaptis. Disebutkan, bahwa Gereja
> telah mendapatkan tugas suci untuk menjadi "sakramen universal
> penyelamatan umat manusia (the universal sacrament of salvation), dan
> untuk memaklumkan Injil kepada seluruh manusia (to proclaim the gospel to
> all men). Juga ditegaskan, semuya manusia harus dikonversi kepada Tuhan
> Yesus, mengenal Tuhan Yesus melalui misi Kristen, dan semua manusia harus
> disatukan dalam Yesus dengan pembaptisan. (Therefore, all must be
> converted to Him, made known by the Church's preaching, and all must be
> incorporated into Him by baptism and into the Church which is His body).
>
> Tentu adalah hal yang normal, bahwa kaum Kristen ingin menyebarkan
> agamanya, dan memandang penyebaran misi Kristen sebagai tugas suci mereka.
> Namun, alangkah baiknya, jika hal itu dikatakan secara terus-terang, bahwa
> acara-acara seperti PNB memang merupakan bagian dari penyebaran misi
> Kristen.
>
> Dengan memahami hakekat Natal dan PNB, seyogyanya kaum non-Muslim
> menghormati fatwa Majelis Ulama Indonesia yang melarang umat Islam untuk
> menghadiri PNB. MUI tidak melarang kaum Kristen merayakan Natal. Fatwa itu
> adalah untuk internal umat Islam, dan sama sekali tidak merugikan pemeluk
> Kristen. Fatwa itu dimaksudkan untuk menjaga kemurnian aqidah Islam dan
> menghormati pemeluk Kristen dalam merayakan Hari Natal.
>
> Fatwa itu dikeluarkan Komisi Fatwa MUI pada 7 Maret 1981, yang isinya
> antara lain menyatakan: (1) Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat
> Islam hukumnya haram (2) agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat
> dan larangan Allah SWT, dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan
> Natal.
>
> Kalangan Kristen ketika itu, melalui DGI dan MAWI, banyak mengkritik
> fatwa tersebut. Mereka menilai fatwa itu berlebihan dan tidak sejalan
> dengan semangat kerukunan umat beragama. Kalangan Kristen dari luar negeri
> juga banyak yang berkomentar senada. Padahal, sebenarnya aneh, jika
> kalangan Kristen yang meributkan fatwa ini. Lebih ajaib lagi, jika ada
> yang mengaku Muslim meributkan fatwa ini, karena mungkin "kebelet"
> merayakan Hari Natal dan ingin disebut toleran.
>
> Kalau terpaksa harus merayakan Natal, tidaklah bijak jika harus
> menggugat soal hukumnya. Apalagi, kemudian, melegitimasi dengan satu atau
> dua ayat al-Quran yang ditafsirkan sekehendak hatinya. Untuk memahami
> masalah salat, tidaklah cukup hanya mengutip ayat al-Quran dalam surat
> al-Ma'un: "Celakalah orang-orang yang salat." Masalah peringatan Hari
> Besar Agama, sudah diberi contoh dan penjelasan yang jelas oleh Rasulullah
> SAW, dan dicontohkan oleh para sahabat Rasul yang mulia. Sebaiknya hal ini
> dikaji secara ilmiah dari sudut ketentuan-ketentuan Islam. Untuk
> berijtihad, memutuskan mana yang halal dan mana yang haram, memerlukan
> kehati-hatian, dan menghindari kesembronoan. Sebab, tanggung jawab di
> hadapan Allah, sangatlah berat. Tidaklah cukup membaca satu ayat, lalu
> dikatakan, bahwa masalah ini halal atau haram.
>
> Lain halnya, jika seseorang yang memposisikan sebagai mujtahid, tidak
> peduli dengan semua itu. Untuk masalah hukum-hukum seputar Hari Raya,
> misalnya, bisa dibaca Kitab "Iqtidha' as-Shirat al-Mustaqim Mukhalifata
> Ashhabil Jahim", karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).
>
> Sejak awal mula, Islam sadar akan makna pluralitas. Islam hadir
> dengan mengakui hak hidup dan beragama bagi umat beragama lain, disaat
> kaum Kristen Eropa menyerukan membunuh kaum "heresy" karena berbeda agama.
> Karen Armstrong memuji tindakan Umar bin Khatab dalam memberikan
> perlindungan dan kebebasan beragama kepada kaum Kristen di Jerusalem,
> Beliau adalah penguasa pertama yang menaklukkan Jerusalem tanpa
> pengrusakan dan pembantaian manusia. Namun, Umar r.a. tidak mengajurkan
> kaum Muslim untuk berbondong-bondong merayakan Natal Bersama.
>
> Peringatan Hari Raya Keagamaan, sebaiknya tetap dipertahankan sebagai
> hal yang eksklusif milik masing-masing umat beragama. Biar masing-masing
> pemeluk agama meyakini keyakinan agamanya, tanpa dipaksa untuk menjadi
> munafik. Masih banyak cara dan jalan untuk membangun sikap untuk saling
> mengenal dan bekerjasama antar umat beragama, seperti bersama-sama melawan
> kezaliman global yang menindas umat manusia. Dan untuk itu tidak perlu
> menciptakan mitos tentang seorang tokoh fiktif bernama Santa Claus untuk
> menjadi juru selamat manusia, khususnya anak-anak. Wallahu a'lam. (KL, 24
> Desember 2004).
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
> 5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
> 6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
> 7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
>
>
>
> Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
>
>
> ---------------------------------
> Yahoo! Groups Links
>
> To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
>
> To unsubscribe from this group, send an email to:
> ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
>
> Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
>
>
>
> ---------------------------------
> Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today!
> Download Messenger Now
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
> 5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
> 6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
> 7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
>
>
>
> Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
>
>
> ---------------------------------
> Yahoo! Groups Links
>
> To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
>
> To unsubscribe from this group, send an email to:
> ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
>
> Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
> 5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
> 6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
> 7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
- References:
- [ppi] Re: [ppiindia] "Mitos-mitos tentang Perayaan Natal Bersama
- From: ANDREAS MIHARDJA
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] "Mitos-mitos tentang Perayaan Natal Bersama
- » [ppi] Re: [ppiindia] "Mitos-mitos tentang Perayaan Natal Bersama
- » [ppi] Re: [ppiindia] "Mitos-mitos tentang Perayaan Natal Bersama
- » [ppi] Re: [ppiindia] "Mitos-mitos tentang Perayaan Natal Bersama
- » [ppi] Re: [ppiindia] "Mitos-mitos tentang Perayaan Natal Bersama
- » [ppi] Re: [ppiindia] "Mitos-mitos tentang Perayaan Natal Bersama
- » [ppi] Re: [ppiindia] "Mitos-mitos tentang Perayaan Natal Bersama
- [ppi] Re: [ppiindia] "Mitos-mitos tentang Perayaan Natal Bersama
- From: ANDREAS MIHARDJA