[ppi] [ppiindia] Misi DPR di Belanda Gagal

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Refleksi: Mereka 
adalah pilihan rakyat. Rakyat digoblokan untuk memilih mereka atau memang  
mereka biasanya begitu?


http://www.jawapos.com/index.php?act=detail&id=5360

Senin, 01 Agt 2005,



Misi DPR di Belanda Gagal 
Pesawat Tertunda Jadi Alasan Shopping




JAKARTA - Politisi Senayan yang tertangkap kamera melakukan shopping di Belanda 
di sela-sela agenda kunjungan kerja ke Prancis mempunyai dalih soal 
keberadaannya di Negeri Kincir Angin itu. Mereka berada di Belanda karena ingin 
mampir ke Mahkamah Internasional di Den Haag.

Saat di Belanda, pesawat yang mereka tumpangi ditunda (delay). "Kesempatan itu 
dimanfaatkan rekan-rekan yang masih memiliki sisa uang perjalanan untuk 
berbelanja. Saya kebetulan tak punya uang, jadi tak beli apa-apa," jelas Ishaq 
Saleh, anggota Fraksi PAN, kepada Pontianak Post (Grup Jawa Pos) tadi malam.

Dia membantah bahwa rekan-rekannya lebih mementingkan berbelanja barang-barang 
mewah selama di Eropa. Menurut dia, tugas utama menggali ilmu tetap berjalan. 
Sebagai anggota dewan, dirinya mendapat masukan banyak selama perjalanan di 
kedua negara Eropa tersebut. 

Lantas, apa hasil pertemuan dengan Mahkamah Internasional itu? Ketika ditanya 
hal tersebut, Ishaq menjawab bahwa rencana itu akhirnya juga batal. Menurut 
dia, hal tersebut juga disebabkan terlambatnya pesawat dari Prancis. Sebagai 
gantinya, rombongan berdialog dengan duta besar Indonesia di Belanda pada 
malamnya. 

Studi banding ke Prancis dan Belanda, kata Ishaq, sudah direncanakan lama. 
Studi itu berkenaan dengan penyusunan rancangan undang-undang (RUU) penghapusan 
diskriminasi etnis dan ras serta undang-undang keuangan negara. Kedua RUU 
tersebut kini sedang dibahas badan legislatif. 

Namun, hasil jepretan aktivis PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Belanda yang 
menunjukkan foto rombongan DPR berbelanja barang bermerek itu telah menunjukkan 
sisi lain para wakil rakyat selama studi banding. Rekaman itu menjadi sorotan 
di tanah air karena negeri ini sedang giat-giatnya berkampanye hemat energi. 
Wakil Ketua DPR Zaenal Ma'arif meminta agar rombongan secepatnya kembali ke 
tanah air.

Dalam situs Persatuan Pelajar Indonesia Belanda di www.ppibelanda.or. para 
anggota dewan tersebut terlihat menenteng barang-barang belanjaan merek 
terkenal, seperti Gucci dan Bally. Mereka yang tertangkap basah di Hotel 
Radison SAS Airport Belanda itu adalah Nursyahbani Katjasungkana (FKB), 
Pataniari Siahaan (FPDIP), Andi Matalata (FP Golkar), Yahya Zaini (FP Golkar), 
Agus Tjondro Prayitno (FPDIP), Maiyasyah Johan (FPDIP), Ishaq Saleh (FPAN), dan 
Yusuf Fani Andim Kasim (FPBR).

Menurut Ishaq, mereka berangkat ke Eropa 25 Juli. Selama dua hari anggota dewan 
melakukan kunjungan ke Prancis. Kemudian, pada 28 Juli meninggalkan Eropa 
melalui Amsterdam, Belanda. Mereka tiba di tanah air Jumat (29/7) pagi. 

Anggota dewan yang masih berada di Eropa, dijelaskan Ishaq, hanya satu orang, 
yakni Nursyahbani Katjasungkana. Aktivis LSM itu memang akan lebih lama lagi 
pulang lantaran diundang sebuah LSM hak-hak perempuan dari Afrika Selatan. 
"Jadi, Bu Nursyahbani langsung ke Afrika Selatan. Kemungkinan pulang 
pertengahan Agustus," jelas Ishaq.


Ketua MPR Prihatin

Studi banding para wakil rakyat ke Eropa mengundang keprihatinan Ketua MPR RI 
Hidayat Nurwahid. "Secara pribadi, saya prihatin," katanya setelah menghadiri 
acara penutupan Munas I PKS kemarin.

Menurut Hidayat, sebagai anggota dewan, seharusnya mereka bisa lebih peka. 
Sebab, rencana keberangkatan studi banding baleg itu banyak menuai kritik. 
Dengan kejadian itu, citra studi banding yang sudah negatif malah kian terpuruk.

Untuk menghindari kesalahpahaman itu, Hidayat mengimbau agar mereka bisa 
menjelaskan masalah tersebut secara terbuka kepada masyarakat. "Sepulangnya 
nanti, kawan-kawan harus menjelaskan dengan jujur dan terbuka. Kenapa kunjungan 
ke Prancis bisa jadi ke Belanda," katanya.

Tentunya, kata Hidayat, dengan menyertakan bukti-bukti transparan. Termasuk, 
apa yang telah diperoleh dari kunjungan ke Prancis tersebut. "Saat ini kiprah 
DPR itu masih dipertanyakan. Jangan menambah masalah," katanya.

Karena itu, Hidayat secara pribadi merasa saat ini adalah kondisi yang tidak 
tepat untuk melakukan studi banding ke luar negeri. Meski, peningkatan kualitas 
DPR, termasuk hubungan dengan luar negeri, itu perlu. Hanya, masih ada cara 
lain untuk memperoleh ilmu dan bergaul dengan parlemen luar negeri.

Hidayat mengatakan, sekarang ini studi banding lebih efektif bila dilakukan di 
Indonesia. Misalnya, mengundang pakar atau anggota parlemen negara yang ingin 
dikunjungi datang ke Indonesia. "Tak perlu banyak. Toh hasilnya juga sama. 
Intinya kan tetap mendapat ilmu," ujarnya.

Dengan cara itu, kata mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera tersebut, 
profesionalitasnya lebih bisa dipertanggungjawabkan. Dengan begitu, diharapkan 
tidak akan menimbulkan kontroversi. Hal itu juga menghemat keuangan negara. 
"Kan biayanya lebih murah. Daripada mengirim rombongan ke luar negeri," 
jelasnya.

Jika tetap melakukan studi banding ke luar negeri, dewan perlu menyampaikan hal 
itu secara terbuka kepada publik. Termasuk siapa dan negara mana yang akan 
dikunjungi. 

Selain itu, siapa yang akan ditunjuk berangkat harus benar-benar yang kompeten. 
"Misalnya, dikirim ke Prancis. Paling tidak, mereka bisa bahasa Prancis. Kalau 
ke Arab, mereka bisa berbahasa Arab," katanya.

Hidayat merasa yakin masyarakat pun tidak ingin memiliki wakil rakyat yang 
tidak berkualitas. Studi banding anggota dewan sebenarnya masih diperlukan. 
Hanya, pelaksanaannya perlu diperbaiki. Termasuk masalah transparansinya. 


Tetap Bermanfaat 

Mengenai anggota badan legislasi yang memutuskan tinggal lebih lama di luar 
negeri, Ketua Baleg DPR RI A.S. Hikam memakluminya. Apa yang dilakukan di luar 
studi banding sudah merupakan urusan pribadi. Dia mengatakan, kunjungan memang 
seharusnya selesai 30 Juli lalu.

Hikam menganggap yang dilakukan itu tetap ada manfaatnya. Dia memberikan 
contoh, Nursyahbani memang memiliki banyak kolega di Eropa. Terutama di 
Belanda. "Mbak Nur itu banyak kolega di Belanda. Wajar jika kunjungan ini 
dimanfaatkan untuk urusan lain," katanya saat dihubungi kemarin.

Hikam juga menyangkal bahwa kunjungan ke Belanda itu dianggap sekadar 
jalan-jalan. "Apa yang diberitakan selama ini tidak benar," ujarnya.

Menurut Hikam, anggota baleg yang berangkat ke Prancis memang memiliki dua 
agenda. Tujuan yang utama memang Paris, Perancis. Karena berbagai pertimbangan, 
akhirnya diputuskan juga berangkat ke Den Haag, Belanda. "Di Belanda mereka 
berkunjung ke Mahkamah Internasional. Tidak keluyuran saja," katanya.

Bagaimana imbauan Wakil Ketua DPR RI Zaenal Ma'arif yang meminta anggota baleg 
segera pulang? Hikam mengatakan, pernyataan itu sangat tidak pantas. Sebagai 
wakil ketua DPR, Zaenal dianggap tidak mengerti soal urusan baleg. "Kalau mau 
ngomong, suruh berbicara dulu Zaenal ke baleg, biar ngerti," ujarnya.

Dia mengatakan, selama ini masyarakat sudah terlalu apriori terhadap studi 
banding dewan. Padahal, kata Hikam, banyak hal yang diperoleh melalui kunjungan 
tersebut. 

Dia pun mencontohkan, kunjungan baleg ke Amerika Serikat (AS) 25-29 lalu 
menghasilkan sesuatu yang konkret. Menurut dia, House of Representative AS 
berencana membuat peningkatan kualitas parlemen untuk demokrasi. "Indonesia 
menjadi salah sati di antara lima negara yang dipilih. Coba kalau tidak ada 
kunjungan, belum tentu kita terpilih," ujarnya.

Karena itu, 29 Agustus nanti, parlemen AS berkunjung ke Indonesia. Parlemen AS 
juga memperhatikan kepentingan Indonesia, termasuk masalah Aceh dan Papaua. 
"Jadi, jangan lihat yang sensasional-sensasional saja. Lihat juga manfaatnya," 
tegasnya. (man/abi)



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hd9uka6/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122876958/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998";>1.2
 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: