[ppi] [ppiindia] Misi DPR di Belanda Gagal
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Mon, 1 Aug 2005 06:15:30 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Refleksi: Mereka
adalah pilihan rakyat. Rakyat digoblokan untuk memilih mereka atau memang
mereka biasanya begitu?
http://www.jawapos.com/index.php?act=detail&id=5360
Senin, 01 Agt 2005,
Misi DPR di Belanda Gagal
Pesawat Tertunda Jadi Alasan Shopping
JAKARTA - Politisi Senayan yang tertangkap kamera melakukan shopping di Belanda
di sela-sela agenda kunjungan kerja ke Prancis mempunyai dalih soal
keberadaannya di Negeri Kincir Angin itu. Mereka berada di Belanda karena ingin
mampir ke Mahkamah Internasional di Den Haag.
Saat di Belanda, pesawat yang mereka tumpangi ditunda (delay). "Kesempatan itu
dimanfaatkan rekan-rekan yang masih memiliki sisa uang perjalanan untuk
berbelanja. Saya kebetulan tak punya uang, jadi tak beli apa-apa," jelas Ishaq
Saleh, anggota Fraksi PAN, kepada Pontianak Post (Grup Jawa Pos) tadi malam.
Dia membantah bahwa rekan-rekannya lebih mementingkan berbelanja barang-barang
mewah selama di Eropa. Menurut dia, tugas utama menggali ilmu tetap berjalan.
Sebagai anggota dewan, dirinya mendapat masukan banyak selama perjalanan di
kedua negara Eropa tersebut.
Lantas, apa hasil pertemuan dengan Mahkamah Internasional itu? Ketika ditanya
hal tersebut, Ishaq menjawab bahwa rencana itu akhirnya juga batal. Menurut
dia, hal tersebut juga disebabkan terlambatnya pesawat dari Prancis. Sebagai
gantinya, rombongan berdialog dengan duta besar Indonesia di Belanda pada
malamnya.
Studi banding ke Prancis dan Belanda, kata Ishaq, sudah direncanakan lama.
Studi itu berkenaan dengan penyusunan rancangan undang-undang (RUU) penghapusan
diskriminasi etnis dan ras serta undang-undang keuangan negara. Kedua RUU
tersebut kini sedang dibahas badan legislatif.
Namun, hasil jepretan aktivis PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Belanda yang
menunjukkan foto rombongan DPR berbelanja barang bermerek itu telah menunjukkan
sisi lain para wakil rakyat selama studi banding. Rekaman itu menjadi sorotan
di tanah air karena negeri ini sedang giat-giatnya berkampanye hemat energi.
Wakil Ketua DPR Zaenal Ma'arif meminta agar rombongan secepatnya kembali ke
tanah air.
Dalam situs Persatuan Pelajar Indonesia Belanda di www.ppibelanda.or. para
anggota dewan tersebut terlihat menenteng barang-barang belanjaan merek
terkenal, seperti Gucci dan Bally. Mereka yang tertangkap basah di Hotel
Radison SAS Airport Belanda itu adalah Nursyahbani Katjasungkana (FKB),
Pataniari Siahaan (FPDIP), Andi Matalata (FP Golkar), Yahya Zaini (FP Golkar),
Agus Tjondro Prayitno (FPDIP), Maiyasyah Johan (FPDIP), Ishaq Saleh (FPAN), dan
Yusuf Fani Andim Kasim (FPBR).
Menurut Ishaq, mereka berangkat ke Eropa 25 Juli. Selama dua hari anggota dewan
melakukan kunjungan ke Prancis. Kemudian, pada 28 Juli meninggalkan Eropa
melalui Amsterdam, Belanda. Mereka tiba di tanah air Jumat (29/7) pagi.
Anggota dewan yang masih berada di Eropa, dijelaskan Ishaq, hanya satu orang,
yakni Nursyahbani Katjasungkana. Aktivis LSM itu memang akan lebih lama lagi
pulang lantaran diundang sebuah LSM hak-hak perempuan dari Afrika Selatan.
"Jadi, Bu Nursyahbani langsung ke Afrika Selatan. Kemungkinan pulang
pertengahan Agustus," jelas Ishaq.
Ketua MPR Prihatin
Studi banding para wakil rakyat ke Eropa mengundang keprihatinan Ketua MPR RI
Hidayat Nurwahid. "Secara pribadi, saya prihatin," katanya setelah menghadiri
acara penutupan Munas I PKS kemarin.
Menurut Hidayat, sebagai anggota dewan, seharusnya mereka bisa lebih peka.
Sebab, rencana keberangkatan studi banding baleg itu banyak menuai kritik.
Dengan kejadian itu, citra studi banding yang sudah negatif malah kian terpuruk.
Untuk menghindari kesalahpahaman itu, Hidayat mengimbau agar mereka bisa
menjelaskan masalah tersebut secara terbuka kepada masyarakat. "Sepulangnya
nanti, kawan-kawan harus menjelaskan dengan jujur dan terbuka. Kenapa kunjungan
ke Prancis bisa jadi ke Belanda," katanya.
Tentunya, kata Hidayat, dengan menyertakan bukti-bukti transparan. Termasuk,
apa yang telah diperoleh dari kunjungan ke Prancis tersebut. "Saat ini kiprah
DPR itu masih dipertanyakan. Jangan menambah masalah," katanya.
Karena itu, Hidayat secara pribadi merasa saat ini adalah kondisi yang tidak
tepat untuk melakukan studi banding ke luar negeri. Meski, peningkatan kualitas
DPR, termasuk hubungan dengan luar negeri, itu perlu. Hanya, masih ada cara
lain untuk memperoleh ilmu dan bergaul dengan parlemen luar negeri.
Hidayat mengatakan, sekarang ini studi banding lebih efektif bila dilakukan di
Indonesia. Misalnya, mengundang pakar atau anggota parlemen negara yang ingin
dikunjungi datang ke Indonesia. "Tak perlu banyak. Toh hasilnya juga sama.
Intinya kan tetap mendapat ilmu," ujarnya.
Dengan cara itu, kata mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera tersebut,
profesionalitasnya lebih bisa dipertanggungjawabkan. Dengan begitu, diharapkan
tidak akan menimbulkan kontroversi. Hal itu juga menghemat keuangan negara.
"Kan biayanya lebih murah. Daripada mengirim rombongan ke luar negeri,"
jelasnya.
Jika tetap melakukan studi banding ke luar negeri, dewan perlu menyampaikan hal
itu secara terbuka kepada publik. Termasuk siapa dan negara mana yang akan
dikunjungi.
Selain itu, siapa yang akan ditunjuk berangkat harus benar-benar yang kompeten.
"Misalnya, dikirim ke Prancis. Paling tidak, mereka bisa bahasa Prancis. Kalau
ke Arab, mereka bisa berbahasa Arab," katanya.
Hidayat merasa yakin masyarakat pun tidak ingin memiliki wakil rakyat yang
tidak berkualitas. Studi banding anggota dewan sebenarnya masih diperlukan.
Hanya, pelaksanaannya perlu diperbaiki. Termasuk masalah transparansinya.
Tetap Bermanfaat
Mengenai anggota badan legislasi yang memutuskan tinggal lebih lama di luar
negeri, Ketua Baleg DPR RI A.S. Hikam memakluminya. Apa yang dilakukan di luar
studi banding sudah merupakan urusan pribadi. Dia mengatakan, kunjungan memang
seharusnya selesai 30 Juli lalu.
Hikam menganggap yang dilakukan itu tetap ada manfaatnya. Dia memberikan
contoh, Nursyahbani memang memiliki banyak kolega di Eropa. Terutama di
Belanda. "Mbak Nur itu banyak kolega di Belanda. Wajar jika kunjungan ini
dimanfaatkan untuk urusan lain," katanya saat dihubungi kemarin.
Hikam juga menyangkal bahwa kunjungan ke Belanda itu dianggap sekadar
jalan-jalan. "Apa yang diberitakan selama ini tidak benar," ujarnya.
Menurut Hikam, anggota baleg yang berangkat ke Prancis memang memiliki dua
agenda. Tujuan yang utama memang Paris, Perancis. Karena berbagai pertimbangan,
akhirnya diputuskan juga berangkat ke Den Haag, Belanda. "Di Belanda mereka
berkunjung ke Mahkamah Internasional. Tidak keluyuran saja," katanya.
Bagaimana imbauan Wakil Ketua DPR RI Zaenal Ma'arif yang meminta anggota baleg
segera pulang? Hikam mengatakan, pernyataan itu sangat tidak pantas. Sebagai
wakil ketua DPR, Zaenal dianggap tidak mengerti soal urusan baleg. "Kalau mau
ngomong, suruh berbicara dulu Zaenal ke baleg, biar ngerti," ujarnya.
Dia mengatakan, selama ini masyarakat sudah terlalu apriori terhadap studi
banding dewan. Padahal, kata Hikam, banyak hal yang diperoleh melalui kunjungan
tersebut.
Dia pun mencontohkan, kunjungan baleg ke Amerika Serikat (AS) 25-29 lalu
menghasilkan sesuatu yang konkret. Menurut dia, House of Representative AS
berencana membuat peningkatan kualitas parlemen untuk demokrasi. "Indonesia
menjadi salah sati di antara lima negara yang dipilih. Coba kalau tidak ada
kunjungan, belum tentu kita terpilih," ujarnya.
Karena itu, 29 Agustus nanti, parlemen AS berkunjung ke Indonesia. Parlemen AS
juga memperhatikan kepentingan Indonesia, termasuk masalah Aceh dan Papaua.
"Jadi, jangan lihat yang sensasional-sensasional saja. Lihat juga manfaatnya,"
tegasnya. (man/abi)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hd9uka6/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122876958/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998">1.2
million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Misi DPR di Belanda Gagal