[ppi] [ppiindia] Militerisme&Premanisme

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Militerisme&Premanisme
=20

Cukup menarik, untuk mengikuti perkembangan penilaian dari paham=20
Militerisme yang berkaitan erat dengan sektor preman. Bahkan sektor=20
preman sudah disebut premanisme karena juga sudah menjadi sebuah=20
pengakuan umum  dari bagian system kehidupan budaya sosial-politik/-
ekonomi bangsa Indonesia sampai sa=E1t ini.=20

Untuk menghadapi tantangan baru dengan adanya kemungkinan SBY-=20
Susilo Bambang Yudhoyono yang  `tidak' punya partai pendukungnya,=20
akan memenangkan dan menduduki `singgasana' kepresidenannya pada=20
hasil putaran ke-dua di bulan september mendatang. Sudah sewajarnya=20
bagi para pemerhati Pemilihan Calon Presiden kali ini untuk mengerti=20
penilaian secara teliti dan jernih sehubungan dengan meluasnya=20
perkembangan paham Militerisme-Premanisme sejak era Suharto hingga=20
pada era paska-suharto itu yang menjadi bagian tertentu dari sistem=20
kehidupan budaya sosial-politik/ -ekonomi bangsa Indonesia.=20=20

Memang pada kenyataan terakhir ini telah terjadi adanya imbas=20
Militerisme yang telah berintegrasi kearah menyatu di sektor=20
preman.  Bahkan sudah merupakan suatu asimilasi monster baru atau=20
sudah menjadi resep improvisasi hidangan makanan yang paling nikmat=20
bagi para penganut paham Militerisme-Premanisme.  Dan monster baru=20
itu dengan tanpa tedeng aling-aling tidak memperdulikan apakah resep-
improvisasi hidangan makanan tersebut akan juga memberi kenikmatan=20
kesehatan, kesejahteraan dan kenyamanan hidup bagi warga=20
penduduknya?=20

DJAGO, siapakah dia?

Proses dinamika dalam perkembangan interaksi antar sosial-politik/-
ekonomi ternyata sektor militer dan preman mengalami proses=20
pematangan paham bagi para penganutnya yaitu dengan terjadinya=20
gabungan sebuah ISME dari ide konsep sektor Militer dan Preman yang=20
berbasiskan pada tindakan kekerasan dalam merealisasi kepentingan=20
politik militerismenya.=20

Seakan-akan sudah menjadikan suatu kewajaran bahwa penyatuan paham=20
baru itu dijadikan legitimasi sebuah manifestasi kekerasan dimana=20
sektor militer ini tercermin dalam proses komplot atas pemahaman=20
yang disebut militer-preman-isme atau militerisme-premanisme. Tentu=20
pemahaman monster baru ini bagi para penganutnya tidak langsung=20
jatuh dari langit begitu saja tetapi melalui catatan panjang=20
bersejarah seperti rotasi roda kehidupan manusia di dalam suatu=20
masyarakat.=20=20

Contoh catatan dalam sejarah perkembangan pergerakan politik di=20
Indonesia dari jaman kolonial Belanda pun sudah pernah ada sejak=20
para penguasa kolonial dan penguasa lokal  harus menghadapi kekuatan=20
para DJAGO di Jawa yang dianggap nakal itu tapi sangat disegani oleh=20
rakyatnya yang tinggal di pedesaan. Misalnya, sejak abad ke 19 di=20
Banten para Djago yang disebut Jawara telah mempunyai konotasi=20
negatif dimata penguasa lokal maupun penguasa Kolonial. Mereka ini=20
selalu diawasi, dikejar-kejar dan dipenjarakan oleh penguasa setiap=20
ada keresahan dan huru-hara.  Pada umumnya Jawara dianggap oleh=20
penguasa sebagai salah seorang penyulut keonaran. Sedangkan di pihak=20
kaum rakyat pedesaan penggarap lahan tani ataupun perkebunan, yang=20
hidupnya dibebani wajib bayar pajak tinggi berupa hasil panen atau=20
uang oleh penguasa lokal, menganggap Jawara sebagai pahlawannya=20
karena keberpihakannya untuk membebaskan kaum tani yang di tindas=20
dan dihisap oleh penguasa.

Para pelaku kolonial Belanda, yang menduduki dan menjajah daratan=20
Nusantara sejak tahun 1595 atau di abad ke 16, sebenarnya sudah=20
memulai dengan meningkatkan perangkat bangunan kelembagaannya=20
beserta perangkat sarana pendukungnya. Keberhasilan Institusi=20
tersebut sampai di abad ke 19 juga dibarengi oleh proses=20
pengembangan sistim manajemen "heerst en Verdeeld", yang berarti=20
penguasaan atas pembagian jatah sumber hidup dimana pemanfaatan=20
sumberdaya secara efektif digunakan untuk mencapai tujuan atau=20
sasaran yang dimaksudkan.=20

Pendekatan yang dilakukannya, yaitu melalui negosiasi dengan cara=20
berkompromi terhadap para `Radja' lokal atau disebut penguasa=20
kerajaan dan penguasa kesultanan di berbagai daratan nusantara ini.=20
Tentu pendekatan tersebut dilakukan dengan sikap dan tindakan=20
kekerasan yang sangat tidak menusiawi. Karena tujuan utamanya adalah=20
demi keamanan dan kenyamanan dalam merampok dan menguras kekayaan=20
alam yang Indonesia miliki itu.=20

Sang Radja yang berkuasa di setiap tempat pun pada akhirnya berperan=20
sebagai Abdi dalem penguasa kolonial Belanda karena dibuatnya secara=20
sukarela menerima janji-janji pembagian jatah hidupnya dengan cara=20
menindas atau memeras rakyatnya sendiri. Keabsahan untuk bersedia=20
melakukan kekerasan dianggap demi keamanan kesejahteraan hidup sang=20
para penguasa kerajaan lokal beserta para pendukungnya, misalnya=20
antara lain para priayi yang menduduki jabatan pamongprajaan=20
setempat yang dianggap sebagai pengikut loyalisnya. Sementara itu=20
sebagian dari para "Djago" yang dikenal pada jamannya sebagai orang=20
kuat berasal dari keluarga sederhana dan memiliki ilmu silat tinggi.=20
Mereka menganggap dirinya sebagai bagian yang tidak berpihak pada=20
para pengikut loyalis penguasa lokal tersebut. Berdasar Sikap=20
mendukung dan memihak pada kaum tani atau  penggarap lahan=20
perkebunan di pedesaan dikarenakan adanya rasa permusuhan yang=20
sebenarnya berupa dendam terhadap pamongpraja dan polisi yang=20
dinilai sebagai penyalur kebudayaan barat yang dianggap kafir.=20
Sehingga berhasillah penyatuan antar para kekuatan lokal yang=20
diwakili club's Radja Lokal yang berasimilasi dengan kekuatan=20
penjajah untuk menghadapi kekuatan para "DJAGO" yang berpihak pada=20
kaum pendukung yang posisinya dirugikan yang diwakili oleh para kyai=20
dan haji yang kharismatis.

Dengan begitu manifestasi tindakan atas warna persenyawaan sikap=20
politiknya menjadi dasar etika yang disebut  "heerst en verdeeld"=20
politiek atau disebut oleh bangsa Indonesia Politik Adu Domba. Dasar=20
langgam hubungan kerjasama antar kepentingan penguasa, dimana VOC-
Verenigde Oost Indische Compagnie bersama kerajaan dan penguasa=20
kesultanan lokal, dijadikan ujung tombak konsep pengembangan=20
kepentingannya demi adanya proses penyegaran dalam membuat kebijakan-
kebijakan yang merugikan wong Cilik di sektor sosial-politik/-
ekonomi di masyarakat jajahan.  Politik manajemen tersebut tentu=20
juga sekaligus berguna untuk melemahkan kekuatan pergerakan politik=20
yang dianggap telah berpihak pada kepentingan wong cilik. Konflik=20
sosial tersebut dijadikan ancaman stabilitas kehidupan para kaum=20
yang pro kekuasaan. dalam menghadapi kontra pergerakan politik untuk=20
melepaskan diri dari penjajahan bumi Nusantara pada jamannya. Dengan=20
begitu stabilitas kekuasaan hegemoni VOC  mampu bertahan lama sampai=20
pada melalui fase serah terima atas kekuasaannya kepada pemerintahan=20
Kerajaan Belanda. Mereka pun telah berhasil sukses dan bertahan=20
lama, guna menguras kekayaan Alam di daratan Nusantara selama 350=20
tahun, tanpa mendapatkan tuntutan catatan HUKUM pelaku kejahatan=20
atas kemanusiaan.=20

Refleksi Militer-Preman ISME  abad 20

Dalam catatan perkembangan sejarah sistem kehidupan budaya sosial-
politik/-ekonomi mancanegara, juga dialami dan sangat dirasakan oleh=20
penghuni penduduk nya sampai akhir di abad ke 20. Imbas kekerasan=20
dari komplot sektor kekuatan Militer dan Preman dalam kehidupan=20
masyarakat Industrialisasi, yang juga mengalami persoalan kekerasan=20
militerisme,  telah melahirkan model kehidupan masyarakat baru era=20
militerisme antara lain Adolf Hitler di Jerman, Musolini di Italia,=20
Franko di Spanyol dengan disebut sebagai  kekuasaan pemerintahan=20
rejim Fascisme.=20=20

Di Afrika Selatan pun telah dianggap sebagai negara terakhir di abad=20
ke 20 yang mentas dari ikatan dan jeratan kekerasan paham=20
Militerisme dan Premanisme. Yang mana ketika itu dengan bangganya=20
kaum pendukung pemerintahan Apartheid turut mengibarkan bendera=20
kekuatan legitimasinya serta menamakan dirinya sebagai penganut=20=20
sistim pemerintahan  rejim Rasisme. Keberhasilan atas perjuangan=20
anti Apartheid rejim tersebut, tetap menilai untuk lebih keras=20
bekerja guna membersihkan sisa-sisa- elemen pengaruh  jangkitan=20
virus dari penyakit kanker paham Rasisme, yang dilaluinya selama=20
ratusan tahunan telah mendominasi tatanan kehidupan manusia di=20
Afrika Selatan.

Abdi Dalem refleksi simbol tradisi Demokrasi?=20

Kalau kita menengok kebelakang, untuk melihat hasil tatanan=20
kehidupan masyarakat di Indonesia sampai sa=E1t ini, memang sangat=20
menyedihkan. Tatanan penciptaan ruang dan waktu untuk membangun=20
proses demokratisasi memang di awali oleh semangat juang para=20
penganut Kemerdekaan Republik Indonesia.=20

Tradisi Demokrasi yang pernah dibangunnya telah mengalami tantangan=20
baru dalam prosesnya. Ini ketika "Nasionalisasi Perusahaan Belanda/=20
Asing" sejak tahun 1957 dipercayakan pada para penganut "tangan besi=20
dan Parang", yang diwakili oleh a.l Nasution cs. Kepercayaan=20
tersebut dianggap olehnya sebagai keberhasilan guna menggantikan dan=20
menduduki posisi Manajers Perusahaan Nasional. Para Manajers=20
tersebut yang juga memiliki hak autonominya untuk mengelola dan=20
mengatur pelaksasanaan pekerjaannya guna mencapai sasaran. Dengan=20
begitu mereka  mendapatkan keleluasaannya, antara lain dalam=20
melakukan tindakan kekerasan. Pengabdiannya juga mendapat pengakuan=20
sebagai salah satu bagian pendukung yang menunjukan sikap=20
loyalitasnya kepada  "bapak Revolusi Kemerdekaan". Biar pun ini juga=20
berarti telah melahirkan embrio kekerasan baru yang menyikapi pada=20
setiap pemunculan konflik sosial di sektor pabrik dan perkebunan.=20
Peranannya sebagai penyanggah "Keamanan Nasional" demi menyelamatkan=20
jiwa semangat Revolusi 1945  juga dianggap berhasil untuk memainkan=20
peranannya di sektor pedesaan. Sejak sa=E1t itu konflik di berbagai=20
sektor sosial, dalam proses perkembangan demokratisasinya, di isi=20
oleh bermacam ketegangan sosial kehidupan vertikal maupun horizontal=20
antar pro dan kontra atas kepentingannya masing-masing di berbagai=20
sektor Nasional. Dengan begitu para pelaku di sektor militer=20
berhasil mengambil posisi pemegang kartu truf kekuatan Ekonomi-
Industri Nasional.=20

Keberhasilan atas kekuatan sosial ekonominya pada akhirnya=20
menghasilkan proses saling berselingkuhan ataupun bercumbu manis=20
dengan sektor agama di pedesaan maupun dengan sektor kepentingan=20
para adikuasa manca negara. Ini juga sekaligus dinilai sebagai=20
pemegang piagam simbolis sebagai pemenang kekuasaan Sosial Politik-
Ekonomi Nasional. Hasil dari proses pembangunan tradisi Demokrasi=20
yang pernah ada, yang dianggap masih bayi karena baru lahir dari=20
Rahim sang Bunda Revolusi Kemerdekaannya di tahun 1945 itu, pada=20
akhirnya mengalami kehancuran secara sistimatis setelah mengalami=20
peristiwa berdarah yang disebut Tragedi Kemanusiaan di tahun=20
1965/66.=20

Pencapaian sukses besar di tahun 1965 adalah atas manipulasi politik=20
yang menjadi keabsahan sebagai pengambil alihan kekuasaan politik-
militer disambut hangat oleh para pendukung loyalisnya, serta ikut=20
berpesta pora diatas darah rakyat yang dianggap bersalah ataupun=20
tidak terbukti kesalahannya. Para preman loyalis militerisme ikut=20
bersorak ria dan menawarkan dirinya untuk tetap siap setia dan loyal=20
terhadap sang para Bapak-bapak yang menang! Perlu di ingat bahwa=20
karakteristik premanisme secara terbuka berkiprah kekerasan dengan=20
slogan "Asal bapak senang...kalau ada uang, maka ada sayang toh?"=20
Disinilah yang menjadi ukuran loyalitas sang preman sejati.

Laju pembangunan perangkat pendukung militerisme dan premanisme=20
melalui sistim sosial politik ditempatkan sebagai wadah warna moral=20
dan etika paham baru untuk dijadikan tatanan kehidupan baru bangsa=20
Indonesia.  Legitimasi ISME baru mendapat sebutan pemerintahan ORDE=20
BARU yang secara hakiki sistim pemerintahannya mengandalkan proses=20
produksi kekerasan fisik maupun siksaan psikologis. Ilmu sulap =E1la=20
mbah Dukun bagaikan akibat kemujaraban ramuan ilmu sihir di era=20
Soeharto. Dominasi pengaruh kekuasaannya yang dilaluinya selama 32=20
tahun konon dapat dirambatkan ke dalam periode paska Soeharto karena=20
mempunya makna tautan. Tentu aliran ilmu sulap =E1la Mbah Dukunnya=20
akan selalu mengalami penyesuaian yang mengandung konotasi kekerasan=20
pada setiap proses perkembangan ISME-nya.=20

Pengamatan ini tentunya akan tidak terlepas dalam  lembaran sejarah=20
proses kemerdekaan dan rakyatnya yang oleh awal ISME ORDE BARU=20
mendominasi warna aspek kehidupan masyarakat bangsa Indonesia hingga=20
saat ini.

Sebutan Orde Baru tidak saja dinilai oleh penganut dalam Negerinya=20
sebagai simbol keberhasilan membangun perangkat fondasi sosial=20
politik/-ekonomi pembangunannya tetapi juga bagi penganut paham isme=20
di berbagai Mancanegara menilainya sebagai pengakuan `Herois' yang=20
dibanggakan. Legitimasi ini juga oleh para pendukung penguasa=20
mancanegara dianggap sebagai penunjang produk paham baru di=20
jaman "perang dingin" yaitu menumbuhkan pertikaian antar ISME Adi=20
Kuasa atas kepentingan Politik-Ekonomi Global. Sejak sa=E1t itu sikap=20
dukungannya terhadap pemerintahan Militer di negara Dunia ke tiga=20
(negara bekas jajahan kolonial =96 Eropa)  untuk mendominasi=20
pembangunan sosial-ekonomi dalam negerinya.

Begitu pun berbagai bangsa bekas jajahan Kolonial dengan suka rela=20
berganti jubah menjadi bangsa penganut Legalisasi Kekerasan Militer.=20
Contoh di negara Chili, Amerika Latin, pada tahun 1973 akhirnya=20
dibawah paksaan untuk menyusul nasibnya sang Indonesia yang dianggap=20
berhasil dalam mencapai membangun Rejim Militer dan kekuasaan=20
ISMEnya dibawah struktur pemerintahan Birokrasi-Militer. Dan inipun=20
bisa dinilai sebagai sikap pengabdiannya terhadap kepentingan status=20
quo adikuasa mancanegara dalam melahirkan paham Isme-Baru: Militer =96=20
Preman di Indonesia.

ISME sebagai budaya kehidupan Global

Ketika kita hidup di Indonesia pada tahun 1965 =96 1973 sudah sangat=20
terasa adanya suatu perbedaan yang menegangkan dalam mengalami=20
proses kehidupannya yang tidak menyamankan untuk menghadapi=20
persoalan birokrasi-Militer dari bagan struktur pemerintahan. Sikap=20
pelayanan untuk kemasyarakatan dari tingkat RT (Rukun Tetangga/=20
Kantor wilayah tingkat kepala desa sub bagian lingkungan daerah, RW=20
(Rukun Warga/ Kantor Wilayah tingkat kepala desa sub bagian=20
lingkungan warga), Lurah (Kantor Wilayah tingkat Kepala desa wilayah=20
sub bagian lingkungan daerah dan warga), Camat (Kantor Wilayah=20
Tingkat Kepala Desa yang membawahi sub-sub RT, RW dan Lurah) dan=20
seterusnya mengikat disepanjang mata rantai kepulauan Nusantara.=20
Makna kehidupannya pun tentu akan menunjukan kesan tindakan yang=20
bersifat untuk mengontrol warganya yang dianggap mengancam=20
kestabilan atas kekuasaannya. Dan hikma dari ilmu `uang sulap' nya=20
pun dijadikan anjang ritual keabsahan untuk menindas para pelaku=20=20
pelanggaran terhadap Hak Asasi Kemanusiaan.

Sementara itu di periode yang sama kita pun menyadari atas pengaruh=20
ketegangan dalam kehidupan sosial di berbagai mancanegara. Yang mana=20
ini merupakan akibat konsekuensi logis dari konflik kekuasaan atas=20
dominasi dalam penentuan kebijakan sosial-politik/-ekonomi global.=20
Begitu pun seperti para kekuatan negara produksi Minyak& Gas di=20
timur tengah yang masih sempat menunjukan sikap `tidak tunduk'=20
terhadap adikuasa pemerintahan di mancanegara. Yakni dalam=20
pertikaiannya untuk menentukan kebijakan harga dan produksi Minyak &=20
Gas nya. Akibatnya para penghuni penduduk di daratan Eropa musti=20=20
beresiko untuk berjalan kaki ke sekolah ataupun ke pekerjaannya=20
serta mengalami hidup di dalam rumahnya tanpa listrik dan pemanas.=20
Begitu pun para industrialis terpaksa menghentikan produksinya.=20=20

Pada saat sekarang ini muncul pertanyaan baru pula: siapakah yang=20
berwenang menikmati kejayaan bendera "Anti Terorisme?"=20=20

Disisi lain muncul pula persoalan yang menegangkan untuk menghadapi=20
imbas paham ISME =96 Baru hasil asimilasi Militerisme dan Premanisme=20
yang mewarnai proses pergerakan politik/-ekonomi di Indonesia. Yang=20
menjadi pertanyaan adalah, "bagaimana arah politik pergerakan=20
politik para pendukung demokratisasi demi menyelamatkan arti=20
kemerdekaan negara dari keterpurukannya?"

Kemungkinan di masa mendatang Indonesia akan mendapatkan piagam=20
penghargaan sebagai simbol legitimasi model "sistim pemerintahan=20
demokrasi yang paling demokratis" di alam sejarah perkembangan=20
wacana kehidupan pergerakan demokratisasi dunia. Meskipun Indonesia=20
dinilai sebagai salah satu warga Islam terbesar di dunia serta=20
dianggap `Paham' untuk hidup bersahaja di alam `Demokrasi' abad ke=20
21 ini.=20

Bilamana figur SBY yang bekas Militer itu (pensiunan Letnan Jendral)=20
bisa berhasil dengan gampangnya naik panggung kekuasaan sipil=20
dibawah pemerintahan "Rechtsstaat" (Negara Hukum), apakah itu semua=20
tanpa dukungan `gawe' dari gengnya? Biar pun dia masih tetap=20
dianggap tidak punya atau tidak butuh partai pendukungnya. Jadi,=20
konsekuensi sistim pemerintahannya akan dibawa kemana olehnya?=20=20
Wallahualam=85


La Luta Continua!




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->=20
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->=20

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
 Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20

--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: