[ppi] [ppiindia] Militer sebagai Alat Demokrasi?

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**MEDIA INDONESIA
Rabu, 28 September 2005


Militer sebagai Alat Demokrasi?
Dita Indah Sari, Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik, Jakarta



POSISI politik militer di Indonesia, bahkan setelah jatuhnya kediktatoran, 
tetap dilihat sebagai salah satu problem demokrasi. Dalam banyak momentum 
reformasi, TNI/Polri berada dalam posisi sebagai tergugat terutama berkaitan 
dengan praktik politik dan ekses pelanggaran HAM masa lalu. Persoalan lainnya 
adalah kehendak untuk menghormati supremasi sipil masih juga setengah hati 
dalam hal penyelesaian kasus-kasus itu.

Institusi TNI/Polri dengan berbagai dalih masih digunakan untuk melindungi para 
petingginya yang terlibat kejahatan HAM. Demokratisasi karenanya menjadi sebuah 
proses yang tidak tuntas dan rentan. Proses ini semakin rumit dengan lemahnya 
komitmen demokrasi dan dominannya aliansi kepentingan yang pragmatis dari para 
politisi sipil saat bersinggungan dengan institusi TNI, termasuk saat 
menghadapi tuntutan keadilan bagi para korban. Penyelesaian kasus pembunuhan 
massal 1965, penculikan aktivis, kasus Trisakti, Semanggi, Talangsari, Tanjung 
Priok menjadi terhambat penuntasannya.

Bertolak belakang dengan Indonesia, di Venezuela sebagian unsur militer justru 
menjadi agen perubahan dan demokrasi yang sangat penting. Meskipun rakyat sipil 
tetaplah ujung tombak perubahan politik, para prajurit yang turun ke jalan dan 
bergabung dengan ribuan rakyat pendukung Presiden Kolonel Hugo Chavez adalah 
sumber kepercayaan diri yang besar bagi orang-orang miskin.

Tradisi demokrasi

Meskipun 36% penduduknya berpendapatan kurang dari US$1/hari, Venezuela 
tersohor sebagai negeri yang tradisi demokrasi liberalnya paling kuat di 
Amerika Latin. Setelah merdeka dari Spanyol, kelompok-kelompok kiri dan 
demokratik bekerja sama menggulingkan kediktatoran Jenderal Marcoz Perez 
Jimenez tahun 1958. Kelompok militer yang terlibat dalam penggulingan ini, 
sempat memegang kekuasaan politik selama beberapa saat sebelum diadakan pemilu. 
Namun mereka kemudian berikrar bersama untuk mendukung pemerintahan sipil yang 
demokratis dan menolak junta militer karena melanggar konstitusi.

Empat puluh lima tahun kemudian, mayoritas tentara Venezuela menganggap bahwa 
sejarah penghormatan kepada demokrasi sipil ini haruslah terus dijaga. Sikap 
ini ditunjukkan saat Presiden Chavez, yang terpilih dengan 56% suara dalam 
sebuah pemilu demokratis tahun 1998, dikudeta oleh sejumlah jenderal sayap 
kanan (dengan dukungan CIA) di tahun 2002.

Sejak menjadi orang nomor satu di Venezuela, Chavez memang menjadi ancaman bagi 
kelompok pengusaha besar, para elite Venezuela, sejumlah jenderal kaya serta 
Amerika Serikat. Setelah menjabat sebagai presiden, Chavez melakukan sejumlah 
reformasi radikal, antara lain menolak konsep pasar bebas NAFTA, menggratiskan 
pendidikan dasar hingga universitas, dan nasionalisasi sejumlah aset swasta 
yang vital bagi kepentingan umum, termasuk pertambangan minyak.

Sebagai negeri penghasil minyak dan batu bara terbesar di Amerika Latin, Chavez 
juga menaikkan pajak bagi investasi asing di sektor minyak dan gas dari 16,6% 
menjadi 30%. Dalam sidang-sidang OPEC, Venezuela juga sukses memelopori 
pengontrolan produksi minyak, sehingga harga tetap stabil. Chavez pun tak 
ketinggalan melakukan reformasi agraria, karena 60% total luas tanah hanya 
dimiliki 1% tuan tanah besar.

Kudeta terhadap Chavez membangkitkan kemarahan rakyat. Ratusan ribu orang turun 
ke jalan selama berhari-hari, menuntut agar presiden mereka 'dikembalikan'. 
Dalam situasi ini, sejumlah jenderal beserta pasukannya menyatakan tetap 
mendukung Chavez, seperti Jenderal Raul Isaias Baduel dan Jenderal Garcia 
Montoya. Iklim keterbukaan politik yang telah dimiliki Venezuela selama hampir 
setengah abad bukan hanya membuat demokrasi menjadi bagian dari kultur 
masyarakat, namun hingga ke level militer pun hal ini juga diakui sebagai 
tradisi yang positif.

Sejarah
Menurut Marta Harnecker, seorang analis Venezuela, faktor lain yang melahirkan 
karakter demokrasi di tubuh militer Venezuela adalah bahwa sebagian besar 
perwira militer juga dilatih di Akademi Militer Venezuela, bukan hanya di 
sekolah militer AS yang brutal. Sejak 1971 status Akademi Militer telah 
disejajarkan dengan universitas. Dengan adanya perubahan ini, kader-kader 
militer diharuskan belajar ilmu politik dan membaca tulisan tentang demokrasi 
dan tentang realitas Venezuela.

Tidak seperti di Meksiko ataupun Kolombia, kondisi politik Venezuela yang 
demokratis membuat perlawanan bersenjata setelah tahun 60-an hampir tak ada, 
karena lapangan politik terbuka sepenuhnya bagi kaum oposisi. Karena itu, para 
tentara yang berpatroli ke desa-desa tidak menemukan kaum pemberontak, namun 
melihat dan merasakan sendiri kemiskinan kaum tani di sana.

Hal ini sangat berbeda dengan tradisi militer Indonesia. Cikal bakal TNI adalah 
pasukan-pasukan yang didirikan oleh kekuatan kolonial Belanda (KNIL) dan 
fasisme Jepang (PETA). Setelah program rasionalisasi tahun 1948 berhasil 
menghancurkan/melucuti laskar-laskar yang didirikan rakyat, maka yang tinggal 
adalah kedua unsur warisan kolonial di atas, yang masih berkarakter mirip 
pendahulunya.

Keterlibatan militer dalam bidang ekonomi, terutama sejak Soekarno 
menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda di tahun 1957, juga membuat 
sejumlah jenderal bertransformasi menjadi kapitalis bersenjata. Hal ini sangat 
berperan dalam merusak seluruh karakter positif yang mungkin masih diwariskan 
oleh revolusi nasional dalam tubuh TNI.

Berbeda dengan Venezuela, demokrasi liberal di Indonesia dalam sejarahnya tidak 
pernah menjadi prinsip politik yang dominan, apalagi mentradisi. 
Kekuatan-kekuatan sipil yang tampil dalam berbagai bentuk politik aliran dalam 
periode pasca kemerdekaan, menemui ajalnya di tahun 1965. Ruang politik bagi 
oposisi disumbat rapat, yang hanya mampu dijebol 32 tahun kemudian. Reaksi 
balik yang drastis terhadap tentara pascajatuhnya Soeharto sedikit banyak 
memang memaksa militer untuk melakukan koreksi atas doktrin dan praktiknya 
selama ini. Namun proses ini selalu terkorupsi oleh keengganan para politisi 
sipil untuk mendesakkan penuntasan problem-problem besar masa lalu yang menjadi 
tanggung jawab angkatan bersenjata.

Filosofi

Masih menurut Harnecker, pengaruh pemikiran Simon Bolivar dalam pemikiran 
militer Venezuela amat kuat. Bolivar adalah tokoh yang paling legendaris dalam 
sejarah perjuangan rakyat Amerika Latin melawan kolonialisme Spanyol. Bolivar 
meyakini pentingnya persatuan rakyat Amerika Latin melawan Eropa dan Amerika 
dan bahwa demokrasi adalah sistem politik yang dapat memberi kebahagiaan 
tertinggi kepada rakyat. Ia juga menekankan, tidak boleh ada militer yang ingin 
menggunakan senjatanya untuk menentang rakyat. Gagasan-gagasan ini masih 
dipegang sejumlah unsur dalam tubuh militer Venezuela hingga kini.

Akhirnya, pengalaman Venezuela (dan Indonesia) memberi kita kesimpulan, 
reformasi politik militer bukan tergantung dari kerelaan sejumlah jenderal, 
namun dari seberapa besar tekanan dan desakan publik agar demokrasi dihormati 
oleh semua pihak, termasuk oleh tentara.***

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/V8WM1C/EbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: