[ppi] [ppiindia] Menjernihkan Teologi Hindu (Brahma Widya)

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/10/15/o2.htm

Sebagai umat Hindu dengan konsep teologi yang jelas dan khas, tentu tidak tepat 
jika kita berusaha ''memodifikasi'' konsep teologi hanya karena ingin 
menghindari sebuah sebutan yang menurut kita ''tidak enak didengar''.
-----------------------------------

Menjernihkan Teologi Hindu (Brahma Widya)
Oleh IB Radendra Suastama, S.H., M.Hum.

DALAM relasi antaragama, sering terlihat kegamangan umat Hindu misalnya ketika 
menghadapi beberapa pertanyaan sahabat-sahabat beragama lain tentang Hindu. 
Kasus yang lebih memprihatinkan, beberapa teman Hindu (di perantauan) 
sampai-sampai meninggalkan Hindu, bukan karena pertimbangan yang mendalam, 
tetapi lebih karena merasa tak bisa memahami agamanya sendiri. Sebagai hak 
asasi tentu hal itu sah saja. Namun yang jadi pokok persoalan adalah, sungguh 
sayang jika masih ada umat kita (Hindu) yang tidak paham agamanya, dan tidak 
punya cukup kepercayaan diri untuk menjelaskan ketika bertemu stigma-stigma 
tertentu tentang Hindu.

-----------------------------

Terminologi Ahli

Ini salah satu hal yang sering mengguncangkan keyakinan diri umat Hindu. Ketika 
seorang sahabat bertanya: Hindu menyembah banyak Tuhan ya? Maka kebanyakan dari 
kita mulai memutar otak menyusun kalimat untuk memberi jawaban yang ''tepat''. 
Tepat maksudnya, kita ingin sekali meyakinkan bahwa Hindu itu monotheis, 
menyembah satu Tuhan Yang Maha Esa, dan seterusnya. Si penjawab ''kebakaran 
jenggot'' menjelaskan hal itu. Hanya karena takut dianggap menyembah banyak 
Tuhan.

Ada beberapa kemungkinan penyebab hal ini terjadi. Pertama, mungkin karena sila 
pertama Pancasila berbunyi: Ketuhanan Yang Maka Esa (yang diartikan: percaya 
pada satu Tuhan, pen). Umat Hindu takut tidak diakui sebagai agama resmi hanya 
karena dianggap bertuhan jamak. 

Kedua, ada konsep dalam agama para sahabat kita lainnya, bahwa Tuhan itu satu, 
tiada duanya, bahkan tak boleh diduakan. Jika perspektif itu digunakan 
meneropong Hindu, tentu Hindu akan tampak ''salah''. Karena banyaknya nama dan 
manifestasi Tuhan dalam Hindu. Sehingga beberapa di antara kita lalu mengambil 
sikap over-protektif dengan ''memodifikasi'' agama kita sendiri agar sesuai 
dengan selera penanya, agar tidak tampak ''salah'', bahkan agar tetap 
''disukai''.

Padahal sesungguhnya, istilah monotheis dan polytheis adalah terminologi yang 
diciptakan para ahli ilmu (perbandingan) agama untuk mendeskripsikan dan 
mengklasifikasikan agama-agama yang menjadi objek kajian mereka. Terlepas 
apakah terminologi ini tepat atau tidak, dan fair atau tidak, yang jelas sudah 
menjadi istilah yang sangat familiar di telinga kita semua.

Secara teoretis, yang dimaksud monotheis yakni jika menyembah satu Tuhan Yang 
Maha Kuasa, yang tiada lain yang bisa menyaingi apalagi menyamainya, yang punya 
kekuasaan absolut dan tidak terbagi-bagi. 

Yang dimaksud polytheis yakni jika berlawanan dengan itu. Cirinya antara lain 
menyembah banyak Tuhan/Dewa (sebagaimana secara sederhana disimpulkan misalnya 
dari banyaknya perbendaharaan nama Tuhan), termasuk menyembah leluhur, 
merupakan ciri yang dilekatkan pada agama polytheistik.



Jangan ''Menghindar''



Sebagai umat Hindu dengan konsep teologi yang jelas dan khas, tentu tidak tepat 
jika kita berusaha ''memodifikasi'' konsep teologi hanya karena ingin 
menghindari sebuah sebutan yang menurut kita ''tidak enak didengar''.

Haruskah kita kebakaran jenggot ketika kita disebut polytheis? Tidak perlu. 
Kita harus yakin dengan konsep agama kita sendiri. Meskipun benar bahwa perlu 
bersikap terbuka. Namun, tentunya tak perlu mengorbankan agama hanya untuk 
meraih ''penilaian'' orang. Memang tak ada yang bengkok untuk diluruskan, 
tetapi menjernihkan. Artinya kita harus melihat teologi Hindu secara jernih, 
bening, jujur apa adanya, tanpa perlu politisasi dan rekayasa untuk alasan apa 
pun.

Hindu jelas-jelas mempercayai banyak dewa. Itu tak perlu disangkal atau dikemas 
dalam bahasa yang rumit. Tak perlu disembunyikan. Bahwa Hindu juga percaya pada 
Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa, itu pun suatu keyakinan tak terbantahkan. 
Masalah apakah para dewa itu pada hakikatnya sinar suci Tuhan, fungsi-fungsi 
dari Tuhan, nama-nama Tuhan, simbol-simbol Tuhan, wujud-wujud Tuhan, 
representasi Tuhan, sampai ke konsep yang lebih duniawi seperti: Dewa-dewa 
adalah para ''menteri'' dari Tuhan, subordinat dari Tuhan, aspek-aspek Tuhan, 
atau makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang punya ''kesaktian'' (kekuatan 
supranatural/suprahuman), bukanlah masalah. Yang jelas, jangan sampai demi 
meraih predikat sebagai agama monotheis, kita mencoba secara sistematis 
memarginalkan bahkan mengeliminasi eksistensi pada dewa.

Jadi, Hindu adalah mono-polytheis, poly-monotheis, atau mungkin bukan 
kedua-duanya. Ada pula yang mengatakan henotheisme, kathenotheisme, monisme, 
pantheisme, dan sebagainya (Lihat: IB.P. Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, 
2003). Tetapi apa pun itu namanya, mungkin memang tidak ada suatu istilah pun 
mampu menggambarkan dengan tepat konsep teologi Hindu yang demikian kompleks. 
Yang paling tepat adalah teologi Hindu atau sering juga disebut sebagai Brahma 
Widya, dengan segala keunikan dan kekhasannya.

Lihatlah Veda, hampir seluruh isinya berisi keyakinan terhadap para dewa. Hindu 
juga meyakini dan memuja roh leluhur. Jangan sampai pula kita menutup-nutupi 
hal ini hanya karena takut misalnya dianggap animisme atau dinamisme. Sekali 
lagi, terminologi-terminologi tersebut ciptaan para akademisi pengkaji ilmu 
(perbandingan) agama-agama, guna memudahkan mereka dalam mengklasifikasi 
berbagai agama yang begitu beragam. Perspektif mereka belum tentu benar, 
apalagi istilah-istilah yang mereka introduksikan. Kebenaran yang lebih dapat 
diandalkan justru bersumber dari kitab suci.

Keyakinan terhadap para dewa dan leluhur juga tampak jelas dalam ajaran, 
tradisi, dan praktik Hindu di Bali. Konsep-konsep misalnya pengider-ider, 
dewata nawa sanga, panca dewata, jenis-jenis pelinggih (Rong Tiga, Padma, 
Taksu, Anglurah, dan lain-lain), komposisi dan jumlah pelinggih di 
pura/pamerajan, keberadaan khayangan tiga di tiap desa, dan sebagainya jelas 
menunjukkan bahwa dalam menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa, Hindu tidaklah cukup 
dengan hanya menyebut satu nama tanpa disertai simbolisasi lain yang lebih 
membumi.

Meskipun dalam Hindu diakui bahwa seseorang telah mencapai tingkat 
spiritualisasi tertentu, dimungkinkan untuk berkomunikasi dengan Tuhan melalui 
meditasi tanpa sarana lainnya. Namun, Hindu juga sangat mengakui pluralitas 
tingkat pemahaman dan penghayatan masyarakat dalam pencarian hakikat Tuhan.

Ini baru salah satu aspek dari begitu banyak aspek dalam Hindu yang punya 
potensi masalah yang sama. Semoga saja contoh satu aspek ini memberikan 
inspirasi bagi kita semua.

Anak-anak kita, generasi penerus kita, punya sejuta pertanyaan kritis tentang 
Hindu yang jawabannya akan menentukan, apakah mereka nanti akan menjadi seorang 
Hindu yang penuh percaya diri dan keyakinan, ataukah menjadi seorang yang 
selalu ragu-ragu dan takut terhadap sebutan orang mengenai agamanya. 

Penulis, dosen Program S2 Universitas Hindu Indonesia, Denpasar


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts:

  • » [ppi] [ppiindia] Menjernihkan Teologi Hindu (Brahma Widya)