[ppi] [ppiindia] Menjaga Bali

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/10/21/f2.htm


Menjaga Bali
BALI semestinya menarik pelajaran berharga dari tragedi Bom Bali I dan Bom Bali 
II. Betapa tidak, dua tragedi berdarah yang merenggut ratusan nyawa manusia tak 
berdosa itu telah mencabik-cabik predikat Pulau Seribu Pura ini sebagai 
destinasi pariwisata yang aman, nyaman, dan damai. Kini, wisatawan mancanegara 
mulai dihantui rasa ketakutan berwisata ke Bali lantaran dinilai tidak ada lagi 
garansi keamanan. Bayang-bayang serangan teroris senantiasa berkelebat.

Harus diakui, Bali memang sudah tidak steril lagi dari keberadaan kaum teroris. 
Para bromocorah itu tidak lagi menjadikan Bali sebagai tempat persembunyian 
semata, tetapi sudah memasukkannya dalam daftar target dan sasaran untuk 
menebar ketakutan. Dalam kondisi seperti ini, Bali wajib mendapat proteksi yang 
superketat. Sistem keamanan Bali harus dirombak mengingat citra Indonesia 
sejatinya dipertaruhkan di sini. Sebab, guncangan sekecil apa pun yang terjadi 
di Bali akan menciptakan daya ledak yang luar biasa di dunia internasional. 

Lantas, dari mana penataan sistem keamanan Bali itu harus dimulai? Menurut Baga 
Palemahan Majelis Madya Desa Pakraman Kabupaten Gianyar I Gusti Nyoman Astawa 
Windia, komitmen itu bisa diawali dengan mewujudkan tertib administrasi 
kependudukan yang lebih. Ditegaskan, tertib administrasi kependudukan itu tidak 
boleh berlaku secara parsial, namun diterapkan di seluruh wawengkon Bali secara 
terintegrasi. Pasalnya, kaum teroris itu menyelusup masuk Bali dalam wujudnya 
sebagai penduduk pendatang. Dan, serbuan penduduk pendatang itu bukan lagi 
menjadi monopoli Kota Denpasar dan Badung semata. Dapat dipastikan, seluruh 
daerah di Bali juga sudah dipusingkan dengan persoalan serupa meskipun kasusnya 
tidak separah seperti yang dialami Denpasar dan Badung. Langkah awal 
mengantisipasi kehadiran teroris itu bisa diawali dengan mewujudkan tertib 
administrasi kependudukan yang lebih baik. ''Selama ini registrasi penduduk 
pendatang itu harus diakui masih banyak bolongnya, sehingga tidak semua
  pendatang ter-cover pendataan,'' kata Astawa Windia yang juga menjabat 
Sekretaris Majelis Alit Desa Pakraman Kecamatan Gianyar mengkritisi.



Seleksi Penduduk



Ditegaskannya, seleksi kualitas penduduk pendatang yang masuk Bali merupakan 
hal yang mutlak. Jangan lagi mengulangi kesalahan lama dengan membiarkan 
penduduk pendatang yang tidak melengkapi keberadaannya di Bali dengan 
keterampilan/keahlian yang memadai leluasa bermukim di Bali. Sebab, hal itu 
akan membuat mereka gagal mendapatkan pekerjaan alias menambah panjang daftar 
pengangguran. Apabila kenyataan ini dibiarkan berlarut-larut, mereka yang 
"tersisih" ini dikhawatirkan akan berbuat apa saja untuk bisa makan. Termasuk 
bertindak di luar hukum seperti melakukan kegiatan perampokan, pencurian yang 
disertai tindak kekerasan, prostitusi serta tindakan-tindakan melanggar hukum 
lainnya. Termasuk nekat menjadi pelaku bom bunuh diri dengan sejumlah 
pertimbangan tertentu. Sudah saatnya seluruh kabupaten/kota di Bali satu bahasa 
dalam menyikapi fenomena gelombang serbuan pendatang yang makin deras itu. 
Semuanya harus bergerak sinergis.

Ditegaskannya, berbagai ekses negatif itu harus tetap diwaspadai dengan 
menyeleksi kualitas penduduk pendatang secara ketat. Namun, kebijakan yang 
superketat itu tidak boleh diterjemahkan bahwa Bali merupakan wilayah yang 
eksklusif alias tertutup bagi kehadiran kaum migran. Ditegaskan, siapa pun 
berhak datang, bermukim serta mengais rezeki di Bali, asalkan yang bersangkutan 
siap menaati serta tunduk dengan segala ketentuan yang dipersyaratkan. "Dalam 
bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia-red), Bali memang tidak boleh 
menutup diri dari kehadiran rekan-rekan sebangsa dan setanah air. Hanya, jelas 
tetap ada rambu-rambu yang wajib hukumnya untuk dipatuhi bersama," tegasnya.

Astawa Windia juga menyambut positif ide penyeragaman teknis pendataan penduduk 
pendatang untuk seluruh Bali. Di masa datang, operasi penertiban penduduk juga 
harus dilakukan secara sinergis atau ditangani lintas kabupaten. Dengan kata 
lain, masing-masing kabupaten tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Hal ini 
untuk menghindari adanya "pelarian" penduduk pendatang dari satu daerah ke 
daerah lain yang mekanisme pengawasan administrasi kependudukannya dinilai 
tidak ketat. "Kita memang harus sering-sering duduk satu meja untuk membahas 
hal ini, sehingga ada kesamaan gerak dan langkah dalam bertindak. Hal ini juga 
penting untuk mendeteksi penyusupan kaum teroris yang ingin menghancurkan Bali 
maupun Indonesia secara menyeluruh. Peristiwa memilukan Bom Bali I dan Bom Bali 
II wajib dijadikan pelajaran berharga agar seluruh komponen masyarakat Bali 
lebih berhati-hati dalam menerima kehadiran pendatang," katanya dan 
mengingatkan, tingginya angka kriminalitas seperti perampokan dan peno
 dongan dengan senjata api yang notabene dilakukan penduduk pendatang 
mengindikasikan melemahnya peran krama Bali dalam menfiltrasi kualitas kaum 
migran yang masuk ke Bali. 

Penertiban pendatang liar di pintu masuk Pulau Bali jauh lebih efektif 
ketimbang membiarkan mereka "menyelusup" lebih dulu ke kabupaten/kota yang 
dituju. Kebijakan ini, jelas berdampak positif bagi kabupaten/kota yang selama 
ini menjadi incaran para kaum migran itu. Obsesi Kota Denpasar, Kabupaten 
Badung dan kabupaten-kabupaten lainnya untuk mewujudkan tertib administrasi 
kependudukan di wilayahnya jelas akan lebih diringankan karena seleksi ketat 
sudah dimulai sejak di pintu-pintu masuk tersebut. Dengan begitu, kualitas 
serta tujuan penduduk pendatang ke Bali sudah terdeteksi dari awal. Apakah 
untuk kepentingan mencari pekerjaan, melanjutkan pendidikan, berwisata maupun 
kepentingan-kepantingan lainnya. Kendati demikian, dia tetap mengingatkan agar 
aparat penertiban tetap berjalan dalam koridor hukum yang digariskan serta 
tidak bersikap arogan. Jangan sampai pengawasan ketat itu melahirkan kesan 
bahwa Bali merupakan daerah tertutup bagi penduduk pendatang. Tetapi, kita 
wajib 
 mencegah masuknya pendatang yang tidak punya keterampilan khusus maupun tujuan 
yang tidak jelas ke Bali guna meminimalkan risiko di bidang kamtibmas maupun 
problem sosial lainnya. 

Astawa Windia menambahkan, bukan hanya pintu masuk Bali yang harus dijaga 
ketat. Sebab, selalu saja ada celah bagi oknum-oknum tak bertanggung jawab 
untuk menyelusup masuk. Dalam konteks ini, dia mensyaratkan pentingnya peran 
desa pakraman untuk mengamankan wawengkon-nya masing-masing. Apalagi, setiap 
desa pakraman sudah dilengkapi aparat keamanan bernama pecalang. Aparat inilah 
yang semestinya diberdayakan untuk memproteksi wilayahnya dari penyusupan 
penduduk pendatang yang tidak jelas asal-usulnya. Mereka wajib punya kepekaan 
tinggi untuk mengendus keberadaan penduduk pendatang yang tidak melaporkan diri 
kepada aparat berwenang. 

Supaya pecalang bisa memiliki mobilitas yang tinggi, krama desa pakraman 
sebaiknya  rela menyisihkan sebagian pendapatannya untuk mendukung kinerja 
mereka. Termasuk, memberikan semacam insentif kepada mereka sebagai uang lelah 
atas aktivitas pengamanan yang telah mereka jalankan. 

* w. sumatika


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: