[ppi] [ppiindia] Menjaga Bali
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 21 Oct 2005 00:56:29 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/10/21/f2.htm
Menjaga Bali
BALI semestinya menarik pelajaran berharga dari tragedi Bom Bali I dan Bom Bali
II. Betapa tidak, dua tragedi berdarah yang merenggut ratusan nyawa manusia tak
berdosa itu telah mencabik-cabik predikat Pulau Seribu Pura ini sebagai
destinasi pariwisata yang aman, nyaman, dan damai. Kini, wisatawan mancanegara
mulai dihantui rasa ketakutan berwisata ke Bali lantaran dinilai tidak ada lagi
garansi keamanan. Bayang-bayang serangan teroris senantiasa berkelebat.
Harus diakui, Bali memang sudah tidak steril lagi dari keberadaan kaum teroris.
Para bromocorah itu tidak lagi menjadikan Bali sebagai tempat persembunyian
semata, tetapi sudah memasukkannya dalam daftar target dan sasaran untuk
menebar ketakutan. Dalam kondisi seperti ini, Bali wajib mendapat proteksi yang
superketat. Sistem keamanan Bali harus dirombak mengingat citra Indonesia
sejatinya dipertaruhkan di sini. Sebab, guncangan sekecil apa pun yang terjadi
di Bali akan menciptakan daya ledak yang luar biasa di dunia internasional.
Lantas, dari mana penataan sistem keamanan Bali itu harus dimulai? Menurut Baga
Palemahan Majelis Madya Desa Pakraman Kabupaten Gianyar I Gusti Nyoman Astawa
Windia, komitmen itu bisa diawali dengan mewujudkan tertib administrasi
kependudukan yang lebih. Ditegaskan, tertib administrasi kependudukan itu tidak
boleh berlaku secara parsial, namun diterapkan di seluruh wawengkon Bali secara
terintegrasi. Pasalnya, kaum teroris itu menyelusup masuk Bali dalam wujudnya
sebagai penduduk pendatang. Dan, serbuan penduduk pendatang itu bukan lagi
menjadi monopoli Kota Denpasar dan Badung semata. Dapat dipastikan, seluruh
daerah di Bali juga sudah dipusingkan dengan persoalan serupa meskipun kasusnya
tidak separah seperti yang dialami Denpasar dan Badung. Langkah awal
mengantisipasi kehadiran teroris itu bisa diawali dengan mewujudkan tertib
administrasi kependudukan yang lebih baik. ''Selama ini registrasi penduduk
pendatang itu harus diakui masih banyak bolongnya, sehingga tidak semua
pendatang ter-cover pendataan,'' kata Astawa Windia yang juga menjabat
Sekretaris Majelis Alit Desa Pakraman Kecamatan Gianyar mengkritisi.
Seleksi Penduduk
Ditegaskannya, seleksi kualitas penduduk pendatang yang masuk Bali merupakan
hal yang mutlak. Jangan lagi mengulangi kesalahan lama dengan membiarkan
penduduk pendatang yang tidak melengkapi keberadaannya di Bali dengan
keterampilan/keahlian yang memadai leluasa bermukim di Bali. Sebab, hal itu
akan membuat mereka gagal mendapatkan pekerjaan alias menambah panjang daftar
pengangguran. Apabila kenyataan ini dibiarkan berlarut-larut, mereka yang
"tersisih" ini dikhawatirkan akan berbuat apa saja untuk bisa makan. Termasuk
bertindak di luar hukum seperti melakukan kegiatan perampokan, pencurian yang
disertai tindak kekerasan, prostitusi serta tindakan-tindakan melanggar hukum
lainnya. Termasuk nekat menjadi pelaku bom bunuh diri dengan sejumlah
pertimbangan tertentu. Sudah saatnya seluruh kabupaten/kota di Bali satu bahasa
dalam menyikapi fenomena gelombang serbuan pendatang yang makin deras itu.
Semuanya harus bergerak sinergis.
Ditegaskannya, berbagai ekses negatif itu harus tetap diwaspadai dengan
menyeleksi kualitas penduduk pendatang secara ketat. Namun, kebijakan yang
superketat itu tidak boleh diterjemahkan bahwa Bali merupakan wilayah yang
eksklusif alias tertutup bagi kehadiran kaum migran. Ditegaskan, siapa pun
berhak datang, bermukim serta mengais rezeki di Bali, asalkan yang bersangkutan
siap menaati serta tunduk dengan segala ketentuan yang dipersyaratkan. "Dalam
bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia-red), Bali memang tidak boleh
menutup diri dari kehadiran rekan-rekan sebangsa dan setanah air. Hanya, jelas
tetap ada rambu-rambu yang wajib hukumnya untuk dipatuhi bersama," tegasnya.
Astawa Windia juga menyambut positif ide penyeragaman teknis pendataan penduduk
pendatang untuk seluruh Bali. Di masa datang, operasi penertiban penduduk juga
harus dilakukan secara sinergis atau ditangani lintas kabupaten. Dengan kata
lain, masing-masing kabupaten tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Hal ini
untuk menghindari adanya "pelarian" penduduk pendatang dari satu daerah ke
daerah lain yang mekanisme pengawasan administrasi kependudukannya dinilai
tidak ketat. "Kita memang harus sering-sering duduk satu meja untuk membahas
hal ini, sehingga ada kesamaan gerak dan langkah dalam bertindak. Hal ini juga
penting untuk mendeteksi penyusupan kaum teroris yang ingin menghancurkan Bali
maupun Indonesia secara menyeluruh. Peristiwa memilukan Bom Bali I dan Bom Bali
II wajib dijadikan pelajaran berharga agar seluruh komponen masyarakat Bali
lebih berhati-hati dalam menerima kehadiran pendatang," katanya dan
mengingatkan, tingginya angka kriminalitas seperti perampokan dan peno
dongan dengan senjata api yang notabene dilakukan penduduk pendatang
mengindikasikan melemahnya peran krama Bali dalam menfiltrasi kualitas kaum
migran yang masuk ke Bali.
Penertiban pendatang liar di pintu masuk Pulau Bali jauh lebih efektif
ketimbang membiarkan mereka "menyelusup" lebih dulu ke kabupaten/kota yang
dituju. Kebijakan ini, jelas berdampak positif bagi kabupaten/kota yang selama
ini menjadi incaran para kaum migran itu. Obsesi Kota Denpasar, Kabupaten
Badung dan kabupaten-kabupaten lainnya untuk mewujudkan tertib administrasi
kependudukan di wilayahnya jelas akan lebih diringankan karena seleksi ketat
sudah dimulai sejak di pintu-pintu masuk tersebut. Dengan begitu, kualitas
serta tujuan penduduk pendatang ke Bali sudah terdeteksi dari awal. Apakah
untuk kepentingan mencari pekerjaan, melanjutkan pendidikan, berwisata maupun
kepentingan-kepantingan lainnya. Kendati demikian, dia tetap mengingatkan agar
aparat penertiban tetap berjalan dalam koridor hukum yang digariskan serta
tidak bersikap arogan. Jangan sampai pengawasan ketat itu melahirkan kesan
bahwa Bali merupakan daerah tertutup bagi penduduk pendatang. Tetapi, kita
wajib
mencegah masuknya pendatang yang tidak punya keterampilan khusus maupun tujuan
yang tidak jelas ke Bali guna meminimalkan risiko di bidang kamtibmas maupun
problem sosial lainnya.
Astawa Windia menambahkan, bukan hanya pintu masuk Bali yang harus dijaga
ketat. Sebab, selalu saja ada celah bagi oknum-oknum tak bertanggung jawab
untuk menyelusup masuk. Dalam konteks ini, dia mensyaratkan pentingnya peran
desa pakraman untuk mengamankan wawengkon-nya masing-masing. Apalagi, setiap
desa pakraman sudah dilengkapi aparat keamanan bernama pecalang. Aparat inilah
yang semestinya diberdayakan untuk memproteksi wilayahnya dari penyusupan
penduduk pendatang yang tidak jelas asal-usulnya. Mereka wajib punya kepekaan
tinggi untuk mengendus keberadaan penduduk pendatang yang tidak melaporkan diri
kepada aparat berwenang.
Supaya pecalang bisa memiliki mobilitas yang tinggi, krama desa pakraman
sebaiknya rela menyisihkan sebagian pendapatannya untuk mendukung kinerja
mereka. Termasuk, memberikan semacam insentif kepada mereka sebagai uang lelah
atas aktivitas pengamanan yang telah mereka jalankan.
* w. sumatika
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Menjaga Bali