[ppi] [ppiindia] Menimbang Gagasan Islam Progresif
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Mon, 1 Nov 2004 00:19:40 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Republika
Kamis, 28 Oktober 2004
Menimbang Gagasan Islam Progresif
Oleh :
Ahmad Fuad Fanani
Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM))
Tragedi 11 September 2001, bom Bali 2002, bom Marriot 2003, serta bom di depan
Kedutaan Besar Australia 2004 kemarin, secara tidak langsung menyebabkan wajah
Islam banyak tercoreng oleh kelakukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Memang, tuduhan bahwa pelakunya adalah orang Islam sampai saat ini masih
menjadi kontroversi yang belum berakhir. Akan tetapi, sosok seperti Osama bin
Laden, Amrozi, dan Imam Samudra yang mengaku sebagai Muslim dan yang menjadi
idola di sebagian kaum Muslimin, secara tidak langsung meneguhkan prasangka
itu. Belum lagi, semarak kehadiran Islam militan seperti Front Pembela Isla
(FPI), Laskar Jihad, Laskar Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan lainnya, semakin
menambah beban wajah Islam sebagai agama yang toleran dan terbuka.
Sebagai wacana pembanding (counter discourse) terhadap Islam militan dan
ekstrim yang akhir-akhir banyak mengemuka, Islam Progresif sangat signifikan
untuk diwacanakan dan dibumikan. Istilah Islam Progresif ini sebetulnya bukan
sesuatu yang baru, sebelum ini telah hadir, misalnya istilah Wahyu Progresif
dari Farid Esack ataupun ''Islam yang berkemajuan'' dari KH Ahmad Dahlan.
Secara sederhana, Islam Progresif adalah Islam yang menawarkan sebuah
kontekstualisasi penafsiran Islam yang terbuka, ramah, segar, serta responsif
terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan. Hal ini tentu berbeda dengan Islam
militan dan ekstrimis yang tetap berusaha menghadirkan wacana penafsiran masa
lalu serta menutup diri terhadap ide-ide baru yang berasal dari luar
kelompoknya. Bahkan, seringkali untuk meneguhkan keyakinannya, mereka bertindak
dengan mengklaim diri sebagai pemilik otoritas kebenaran untuk bertindak secara
otoriter terhadap paham dan agama lain.
Menurut Omid Safi (2003), Islam Progresif menawarkan sebuah metode ber-Islam
yang menekankan pada terciptanya keadilan sosial, kesetaraan gender, dan
pluralisme keagamaan. Maka, seorang Muslim yang progresif haruslah mau untuk
berjuang untuk menegakkan keadilan sosial di muka bumi ini. Perjuangan itu bisa
berwujud pada advokasi hak-hak orang yang termarjinalisasi, orang yang
tertindas, orang yang terkena polusi lingkungan, serta orang yang ''yatim''
secara sosial dan politik.
Islam progresif meyakini bahwa semua pembelaan itu mempunyai dasar dan tradisi
yang kuat dalam Alquran dan hadist. Banyak ayat-ayat Alquran yang meneguhkan
tentang pentingnya kepedulian sosial, seperti yang tertera dalam surat al-Maun.
Begitu juga, sejarah kehidupan dan dakwah Nabi pun juga tampak jelas membela
terhadap hak-hak golongan mustadz'afin, fakir miskin, dan anak yatim.
Dari hal di atas nampak bahwa yang menjadi ciri khas Islam Progresif adalah
pada aspek pembebasannya terhadap hak-hak kemanusiaan. Oleh karenanya, untuk
membumikan agendanya tersebut, Islam progresif juga mengadopsi ide-ide
pembebasan dari Gustavo Guiterrez, Leornardo Boff, Rebecca S Chopp, serta
humanisme sekulernya Noam Chomsky dan Edward Said. Misalnya, Islam Progresif
berusaha mengkombinasikan suara Tuhan untuk keadilan sebagaimana tercantum
dalam Alquran dengan keberanian menyuarakan kebenaran terhadap kekuasaan
seperti yang dilakukan oleh Edward Said. Dengan kombinasi itu, Islam Progresif
berusaha mengawal proses sosial sebagai sebuah upaya transformasi untuk
menciptakan keadilan sosial.
Prinsip keterlibatan
Untuk melakukan transformasi sosial itu, maka Islam Progresif menekankan adanya
sinergi antara pemikiran dan aksi di lapangan. Hal itu sekaligus untuk
mengkritik sebagian pembaharu keagamaan yang banyak menekankan pada keterbukaan
pemikiran, namun jarang sekali melakukan aksi sosial untuk membumikan
gagasannya itu. Maka, dalam Islam Progresif tidak ada dikotomi antara seorang
pemikir dan aktivis dalam membumikan gagasannya. Justru, jika yang dilakukan
hanya sebuah sosialisasi pemikiran baru, yang seringkali terjadi adalah wacana
itu hanya mampu diserap oleh kalangan akademis dan elite tertentu. Padahal,
masyarat di akar rumput juga sangat perlu diperkenalkan dengan ide-ide baru
yang terbuka, toleran, serta membebaskan.
Oleh karenanya, untuk menjembatani jurang wacana antara masyarakat bawah
(grassroots) dan masyarakat kelas menengah dan atas (the middle and high class)
itu, perlu adanya sebuah keterlibatan sosial. Keterlibatan ini sangat penting
untuk mensinergikan visi tentang keadilan sosial dan perdamaian dengan
transformasi jiwa untuk membentuk komunitas sosial yang berkeadilan.
Seperti dinyatakan oleh Leonardo Boof, bahwa yang dibutuhkan bukan hanya
liberalisasi pemikiran, namun juga pembebasan sosial. Ia mengatakan: liberaco
(liberation) links the concepts liber (free) and acao (action). There is no
liberation without action. Omid Safi juga menambahkan, bahwa: Vision and
activism are both necessary. Activism without vision is doomed from the start.
Vision without activism quickly becomes irrelevant. Dari penegasan itu tampak,
bahwa sebuah model keterlibatan dan sinergi antara visi dan aksi, adalah agenda
yang mesti dilakukan oleh Islam Progresif (In Progressive Muslims: On Justice,
Gender, and Pluralism, 2003).
Bukti keterlibatan para pemikir Islam Progresif ini sudah banyak tampak
dilakukan. Misalnya oleh Chandra Muzaffar dan Farish A Noor dengan gerakan
International Justice dan hak azasi manusia (HAM); Farid Esack dengan
solidaritas menentang rezim apartheid dan advokasi korban HIV-AIDS di Afrika
Selatan; serta Shirin Abadi dengan komunitas perjuangan hak-hak anak di Iran.
Selain itu, banyak aktivis-aktivis Islam lainnya yang juga menggerakkan diri
dan organisasinya untuk gerakan perdamaian dan keadilan sosial,
pengorganisasian grassroots, serta penegakan hak asasi manusia di berbagai
tempat. Hal ini relevan dengan penegasan Farid Esack, bahwa yang membedakan
Islam Progresif dan Islam lainnya adalah adanya aksi atau keterlibatan sosial
entah sekecil apapun yang mereka lakukan.
Agenda ke Depan
Terlepas dari perbedaan antara Islam Progresif, Islam Moderat, ataupun Islam
Liberal, saya pikir mereka bisa bersinergi untuk mengkampanyekan wajah Islam
yang ramah, terbuka, dan anti kekerasan. Dengan wajah Islam yang seperti
itulah, maka umat agama lain dapat merasa aman dan umat Islam sendiri dapat
memberikan sumbangan yang signifikan terhadap kemajuan bangsa dan dunia. Wacana
Islam yang terbuka terhadap ide-ide segar seperti HAM, keadilan gender,
pluralisme, demokrasi, serta keadilan sosial, saya kira sangat relevan dengan
masyarakat Indonesia yang pada dasarnya sangat terbuka dan menginginkan
kehidupan yang adil, aman, dan sejahtera.
Meski Barat banyak terbukti tidak konsisten dengan ide-ide pencerahannya, namun
perlawanan terhadap mereka jangan sampai menggunakan cara-cara ekstrim. Barat
memang tidak adil ketika menangani kasus perselisihan Israel-Palestina,
Afghanistan, maupun Irak, namun di masyarakat mereka sendiri pada dasarnya juga
terdapat penentangan yang dilakukan secara terbuka terhadap kebijakan
pemerintahnya. Kita harus ingat, bahwa sebagaimana masyarakat Islam sendiri,
masyarakat Barat tidaklah berwajah tunggal, namun banyak sekali paham-paham
yang berkembang. Oleh karenanya, untuk melawan ketidakadilan (kedzaliman) Barat
itu, jangan sampai kita juga menciptakan kedzaliman yang baru dengan melakukan
kekerasan, sweeping, jihad kekerasan, atau bom dan tindakan teror lainnya.
Agenda mendesak yang perlu dilakukan oleh Islam Progresif di masa mendatang
adalah bersinergi dengan kekuatan Islam lainnya untuk mengkampanyekan wajah
Islam yang ramah, damai, dan berkeadilan sosial. Harus dilakukan pemahaman
terus-menerus bahwa pada dasarnya tidak ada ajaran agama yang menyerukan
umatnya untuk melakukan tindakan yang ekstrim dan menghalalkan kekerasan. Oleh
karenanya, dialog dengan kalangan Islam militan dan ekstrimis juga harus
digalakkan pelaksanaannya. Selain itu, untuk mengurangi dan mengakhiri tindakan
ekstrim dan teror itu, mereka harus senantiasa kritis terhadap segala bentuk
kebijakan Barat dan negara yang kadang kerap menyimpang.
Dengan begitu, di samping mengkampanyekan perlunya keterbukaan dalam hal
pemikiran, kita juga berjuang untuk membela orang-orang yang tertindas oleh
ketidakadilan sosial, politik, dan ekonomi. Dan masa depan Islam Progresif,
saya kira sangat ditentukan oleh kemampuannya melakukan pembaharuan pemikiran,
kekritisannya terhadap segala bentuk ketidakadilan, serta keterlibatnnya dalam
proses transformasi sosial secara terus-menerus. Apabila hal itu mampu
dilakukan secara konsisten, Islam Progresif akan menjadi mazhab baru yang
dianut dan dipercayai oleh masyarakat luas, jadi bukan hanya menjadi konsumsi
elite akademis saja. Sudah saatnya, kita menjadi --meminjam istilah Farid
Esack-- The Muslim Vanguard dalam menegakkan perdamaian dan keadilan sosial
pada percatural regional dan global. Wallahu A'lam
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts: