[ppi] [ppiindia] Menghapus Seragam Sekolah, Mengapa Tidak?
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 26 Jul 2006 13:17:20 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.suarapembaruan.com/News/2006/07/26/Editor/edit01.htm
SUARA PEMBARUAN DAILY
Menghapus Seragam Sekolah, Mengapa Tidak?
Arissetyanto Nugroho
Menteri Pendidikan Nasional beberapa waktu yang lalu, mengeluarkan wacana
tentang dihapuskannya seragam sekolah. Artinya, tidak ada lagi ketentuan pada
sekolah SD s/d SMA untuk mengenakan wajib berseragam kepada siswanya. Namun,
kita memang masih harus menunggu, apakah wacana tersebut akan menjadi kenyataan
dan di implementasikan di lapangan. Mengingat, seragam sekolah adalah sebuah
identitas-baik dari sisi jenjang pendidikan maupun indentitas sekolah. Seperti
diketahui,sejak 1982 SD menggunakan seragam baju putih dan bawahan merah, SMP
bawahan biru baju putih, sedang SMA menggunakan bawahan abu-abu dan baju putih.
Di samping itu, masing-masing sekolah mendapatkan kebebasan untuk menentukan
seragam sekolahnya masing-masing. Motif seragam merupakan indentitas bagi
sebuah sekolah sekaligus sebagai kebanggaan sebuah sekolah. Beberapa sekolah
malah menambah keseragaman tersebut pada sepatu sekolah. Misalnya, warna sepatu
harus hitam dan harus bertali. Plus harus pula menggunakan kaos kaki putih dan
ikat pinggang hitam.
Sebelum membahas lebih lanjut, saya ingat betul pemberlakuan seragam sekolah
dimaksudkan untuk meminimalkan perbedaan status sosial antar siswa yang satu
dengan yang lain. Sehingga diharapkan seorang siswa tidak bisa bergaya dan
memamerkan baju-baju mewahnya pada saat di sekolah dan tampil sama seperti
siswa lainnya. Di dalam kebijakan seragam ini, ada pula pengajaran disiplin
terhadap siswa. Karena, biasanya pada sekolah tertentu, seorang siswa akan
dikenai hukuman apabila melanggar ketentuan seragam sekolahnya.
Sekadar penunjang
Kebijakan mengenai seragam sekolah sesungguhnya bukanlah kebijakan mendasar
dalam dunia pendidikan. Karena, seragam hanyalah atribut, yang termasuk unsur
penunjang pada dunia pendidikan. Seragam sekolah tidak memiliki korelasi dengan
prestasi siswa dan kualitas pendidikan nasional. Sehingga, tanpa adanya
ketentuan dan keharusan memakai seragam sekolah pun pendidikan nasional tetap
harus jalan. Generasi muda sebagai penerus bangsa harus tetap mendapatkan
pendidikan agar memiliki kapabilitas dan kemampuan untuk meneruskan mengelola
kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebab itu,wacana untuk menghapus seragam sekolah memang patut dipertimbangkan
dampaknya di lapangan. Pada saat ini, kita tidak perlu khawatir, penghapusan
seragam sekolah akan menimbulkan efek negatif terhadap siswa, karena, misalnya,
akan terjadi perang pamer kekayaan. Seperti siswa yang berasal dari keluarga
kaya-akan memamerkan pakaiannya pada saat berada di sekolah. Sehingga
menimbulkan kecemburuan siswa lain yang tidak mampu berganti ganti pakaian
setiap hari.
Dengan memakai seragam sekolah pun, siswa dari kalangan mampupun pasti
berpenampilan lebih parlente. Lantaran, sang siswa biasanya memiliki beberapa
pasang seragam sehingga bajunya tidak pernah terlihat kusam plus asesoris jam
tangan, sepatu, tas yang up to date. Sementara bagi siswa yang tidak mampu,
mereka rata-rata hanya memiliki satu pasang baju sekolah saja.
Akibatnya, seragam putihnya cepat kusam dan mereka tak mampu memakai asesoris
apapun. Belum lagi selama ini tidak pernah ada larangan dari sekolah untuk para
siswanya agar tidak membawa telepon seluler dan mengendarai mobil pribadi ke
sekolah. Jadi seragam terbukti tidak efektif dalam menghentikan sekolah sebagai
tempat ajang "pamer" kekayaan.
Pada sisi lain, contoh di Yogyakarta yang keadaannya belum pulih dari gempa
bulan mei lalu, ratusan orang tua siswa SMP dan SMA tanggal 24 juli memprotes
ke DPRD atas tindakan 64 Komite Sekolah yang me"legal"kan para Kepala Sekolah
untuk menarik uang seragam sekitar Rp 300-800 ribu kepada mereka. Bagi para
orang tua tersebut, pengadaan seragam dianggap tidak perlu dan menyumbang
praktek ekonomi biaya tinggi.
Konsep pendidikan sekolah SD hingga SMA tentu saja berbeda dengan sebuah
pendidikan militer. Bagi sebuah angkatan perang, identitas memang amat
dibutuhkan.
Filosofinya adalah untuk membedakan tentara dengan masyara-kat sipil dan
membedakan satu kesatuan dengan kesatuan lainnya. Selain itu, di medan perang
akan bermanfaat untuk membedakan antara musuh dengan kawan.
Pula, patut dicatat pendidikan militer pada dasarnya adalah pendidikan
khusus-yang merupakan sebuah pilihan bagi seseorang dalam melanjutkan karier
kehidupannya, setelah menempuh pendidikan umum. Dengan demikian, seragam bagi
militer memang amat dibutuhkan, karena berhubungan dengan kebutuhan militer di
medan pertempuran. Para era saat ini,wacana tanpa seragam sekolah bila
dikaitkan dengan upaya perbaikan sistem pendidikan dan berujung pada upaya
pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara sistematis, merupakan
terobosan yang dapat diimplementasikan di sekolah-sekolah.
Selain itu, sudah saatnya kita menyadari sepenuhnya, indoktrinasi generasi
melalui sistem pendidikan harus diubah dengan pola pendidikan yang lebih
interaktif dua arah. Siswa bukanlah obyek tetapi adalah subyek pendidikan.
Hubungan siswa dengan sekolah, siswa dengan guru,sekolah dan orang tua harus
didorong pada hubungan kesetaraan pada pola berpikir, terlebih- lebih dengan
adanya angin segar dari Pemerintah yang membebaskan SD hingga SMA di seluruh
tanah air untuk mengembangkan model kurikulumnya masing-masing.
Guru bersama-sama dengan siswa, orang tua dan seluruh stake holder pendidikan
menjadi "otoritas" pemegang kebenaran segala informasi. Dengan demikian terjadi
pula demokratisasi di dalam dunia pendidikan. Dengan penghapusan seragam,
diharapkan siswa, orangtua siswa, guru dan pengelola sekolah membuka wawasan
berpikir seluas-luasnya, tentang pentingnya mengeliminasi pola berpikir formal
(yang cenderung mencetak generasi hafalan) sehingga menghambat kreativitas
siswa dan guru dalam mengembangkan kemampuan berpikir dan bakat-bakat
alamiahnya menjadi lebih berpikir Substantif (mencetak generasi yang paham
masalah secara utuh).
Saya meyakini, kebebasan berpikir ini secara jangka panjang berdampak positif
kepada perkembangan generasi muda bangsa. Kita pun tidak perlu berburuk sangka,
bahwa penghapusan seragam akan berdampak pada menurunnya kedisiplinan siswa dan
mempertajam kesenjangan sosial antara siswa yang mampu dan tidak mampu.
Pengalaman penulis yang pernah dididik di SMP dan SMA tahun 1981-1987 yang
tidak berseragam sekolah, menunjukan bahwa kecerdasan intelektual, disiplin dan
rasa kesetiakawanan sosial yang tinggi bisa terwujud. Nama- nama seperti Prof.
Billy Yudono, Sarwono Kusumaatmadja, dan Fauzi Bowo, adalah beberapa nama
kondang alumni SMA di Jakarta yang tidak memiliki tradisi seragam sekolah.
Adalah lebih tepat apabila disiplin diajarkan tidak saja secara formal seperti
di sekolah, tetapi ditempatkan pada kerangka pola dan perilaku masyarakat
secara lebih luas. Disiplin haruslah dimulai dari tingkat paling dasar, yakni
rumah tangga.
Artinya, orang tua dan anggota keluarga harus menjadi garda terdepan
keteladanan disiplin dan budi pekerti bagi siswa untuk bersikap bagi diri
sendiri dan orang lain. Jika kita ingin anak kita selalu mandi sebelum makan
pagi, maka kita sebagai orang tua harus memberi contoh.
Bukan keteladanan yang lain seperti sarapan pagi sebelum mandi. Disiplin harus
dilakukan sebagai tanggung jawab pribadi yang tumbuh dari dalam, bukan sebagai
indoktrinasi.Sekali lagi, disiplin bukanlah sekedar formalitas melalui seragam
sekolah, karena seragam sekolah tidak termasuk unsur elementer dalam sistem
pendidikan nasional.
Penulis adalah Wakil Rektor Universitas Mercu Buana
Last modified: 25/7/06
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/3EuRwD/bOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Menghapus Seragam Sekolah, Mengapa Tidak?