[ppi] [ppiindia] Menggugat Tayangan Sinetron Religius
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 19 Oct 2005 02:03:13 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=194007
Rabu, 19 Okt 2005,
Menggugat Tayangan Sinetron Religius
Oleh Benni Setiawan *
Beberapa tahun terakhir ini, pemirsa tayangan televisi dimanjakan dengan
berbagai ragam acara yang bernuansa religius. Tayangan-tayangan tersebut
diformat sedemikian rupa sehingga digemari penonton.
Selain itu, ada beberapa tayangan religius yang langsung didampingi dai-dai
kondang Indonesia seperti, Arifin Ilham, Jefri al Bukhori, Luthfiah Sungkar,
dan seterusnya. Pendamping sinetron itu mengajak pemirsa untuk merenungkan apa
yang telah dilihatnya di awal ataupun di akhir tayangan.
Sinetron bernuansa religius itu semakin marak dengan datangnya bulan Ramadan.
Tayangan seperti Takdir ilahi, Rahasia Ilahi, Kehendakmu, Insyaf Ramadan, dan
sebagainya yang konon memiliki rating tertinggi menambah marak suasana Ramadan.
Pertanyaannya, benarkah tayangan-tayangan tersebut sarat nilai dan memang
memperjuangkan kejayaan agama Islam pada khususnya?
Sinetron yang bernuansa religius itu mau tidak mau harus kita terima sebagai
sebuah tawaran baru dalam persinetronan Indonesia. Atau paling tidak menjadi
salah satu cara dakwah dalam Islam itu sendiri.
Televisi
Televisi menjadi salah satu hiburan yang murah bagi bangsa Indonesia. Sebab,
harga televisi tidak terlalu mahal dan terjangkau oleh kalangan bawah
sekalipun.
Televisi juga telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidup masyarakat.
Hal itu terbukti dengan penelitian Jalaluddin Rahmat (1995) bahwa televisi
banyak mengatur jadwal hidup dan kegiatan hidup masyarakat. Masyarakat rela
menyesuaikan agenda-agenda kerja demi menonton sebuah acara televisi.
Apalagi, hal tersebut dihubungkan dengan efek negatif dari kenaikan harga bahan
bakar minyak (BBM) sekarang. Pasien gangguan jiwa meningkat gara-gara BBM.
Masyarakat akan banyak mencari hiburan dengan cara menonton televisi ataupun
jalan-jalan.
Kecenderungan masyarakat demikian setidaknya cukup mengkhawatirkan. Lalu apa
hubungannya dengan sinetron religius? Tayangan sinetron religius sering
mengisahkan perjalanan seseorang dalam mengarungi hidup sampai ajal. Biasanya
seseorang itu digambarkan dalam peran berwatak jahat ataupun baik. Orang jahat
biasanya digambarkan dengan siksa yang pedih menjelang ajal (sakratulmaut).
Peristiwa-peristiwa aneh mengiringi kematiannya, seperti hilangnya keranda dari
tempat penyimpanan, liang kubur yang dipenuhi ular, air, kalajengking, dan
seterusnya.
Berbeda dengan yang disebutkan di atas, orang baik digambarkan hidupnya selalu
rukun dan damai. Ketika menjelang sakratulmaut pun, orang baik digambarkan
dengan keadaan yang baik pula, seperti mayat yang wangi, mayat yang utuh selama
sekian tahun, dan sebagainya.
Pencitraan yang demikian sering membuat kita menjadi tambah iman dan amal
saleh. Namun, tayangan-tayangan tersebut menjadi sebuah Tuhan baru di tengah
masyarakat.
Mitos
Sinetron yang demikian di awal 2000-an telah menjadi perbincangan publik. Ambil
contoh, sinetron Keluarga Cemara, Bidadari, Misteri Gunung Merapi. Dalam cerita
keluarga Cemara, diceritakan keadaan keluarga yang damai dan bagian hidup di
tengah perkampungan masyarakat. Keluarga tersebut terdiri atas kedua orang tua
dan tiga anak gadis yang selalu berbakti kepada orang tua.
Kritik yang terlontar dari sinetron ini adalah kapan ketiga anaknya salat
Subuh. Padahal, ketiga anaknya dibangunkan orang tuanya ketika fajar sudah
tinggi dan langsung bergegas ke sekolah dengan membawa barang jajanan.
Gambaran sinetron-sinetron tersebut tidak lebih dari pengagung terhadap
mitos-mitos-meminjam bahasa Kuntowijoyo.
Periodisasi masyarakat menurut Pak Kunto adalah mitos, ideologi, dan ilmu.
Masyarakat Indonesia yang sudah merdeka 60 tahun ini ternyata belum mampu
keluar dari periode mitos yang membelenggu.
Kuntowijoyo (2002) menyatakan, mitos tidak perlu ada pengalaman. Mitos itu
dituturkan secara subjektif, dalam arti kebenarannya hanya berlaku di
masyarakatnya dan tak ada kaitannya antara pengalaman dan penuturan.
Sinetron religius pun demikian. Sinetron religius yang diilhami dari
kisah-kisah nyata dituturkan secara subjektif. Tidak ada orang yang tahu selain
yang membuat cerita-cerita tersebut di atas.
Guna mengakhiri periode mitos, Pak Kunto menawarkan adanya demitologisasi
(peniadaan mitos). Demitologisasi dapat dilakukan dengan beberapa cara.
Pertama, ilmu pengetahuan harus dapat menjelaskan hal yang sebenarnya mengenai
sinetron religius tersebut. Dengan ilmu, seseorang dapat membedakan antara yang
hak (benar) dan yang batil (salah).
Kedua, memurnikan ajaran agama (puritanisme). Dengan adanya gerakan puritanisme
yang banyak dipelopori Muhammadiyah, sinetron religius tersebut dapat ditekan
sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kesyirikan baru di tengah
masyarakat.
Ketiga, sejarah dan seni. Sejarah yang bersifat rasional dan faktual akan dapat
menangkal mitos-mitos di masyarakat. Demikian pula dengan seni. Seni bersifat
konkretisasi dari yang abstrak. Hal itu tentunya akan sangat bertentangan
dengan mitos yang bersifat abstraksi.
* Benni Setiawan, alumnus UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Menggugat Tayangan Sinetron Religius