[ppi] [ppiindia] Mengevaluasi untuk Keluar dari Kerumitan
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 19 Oct 2005 20:47:25 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/10/20/o2.htm
Untuk keluar dari kerumitan ini, ada baiknya SBY melakukan penilaian terhadap
anggota kabinetnya berdasarkan ukuran-ukuran yang objektif, baik secara politis
maupun fungsional.
---------------------------------
Mengevaluasi untuk Keluar dari Kerumitan
Oleh Aldan Fakry
SETAHUN pemerintahan SBY-JK selama kurun 20 Oktober 2004 hingga 20 Oktober 2005
ini, agaknya dapat menjadi ukuran awal untuk mengevaluasi sejauh mana komitmen
mereka kepada rakyat. Masalahnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan
Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) merupakan pemimpin pertama Indonesia yang
dipilih secara langsung oleh jutaan rakyat Indonesia. Rakyat memilih mereka
setidaknya menaruh harapan besar atas berbagai janji yang dikampanyekan dalam
dua tahap pemilihan presiden pada Juli-Oktober 2004.
-------------------------------------
Evaluasi Kabinet
Bagaimana cara mengukur seorang anggota kabinet dinilai mampu bekerja secara
profesional atau tidak, memang bukan perkara mudah. Bisa saja seseorang
ditunjuk menjadi anggota kabinet karena profesionalismenya, tapi karena
birokrasi di kementerian yang dipimpinnya tidak mendukung, ia sulit bekerja dan
gagal. Sebaliknya mungkin ada anggota kabinet yang kurang profesional, tapi
karena didukung birokrasi yang sudah mapan, ia bisa sukses bekerja.
Kerumitan lain dalam menilai anggota kabinet, selain karena faktor birokrasi,
juga menyangkut dukungan politik dari parlemen. Bisa saja, seorang menteri yang
profesional gagal di bidangnya karena dalam menjalankan program-programnya
dihambat oleh parlemen. Sebaliknya, ada menteri yang bukan dari kalangan
profesional tapi karena mendapat dukungan dari parlemen ia relatif sukses
menjalankan program kementerian yang dipimpinnya.
Untuk keluar dari kerumitan ini, ada baiknya SBY melakukan penilaian terhadap
anggota kabinetnya berdasarkan ukuran-ukuran yang objektif, baik secara politis
maupun fungsional. Secara politis, keberhasilan seorang menteri bisa dilihat
dari faktor dukungan parlemen dan opini publik. Sedangkan secara fungsional,
ukuran didasarkan pada langkah-langkah berikut pencapaian-pencapaiannya yang
berdampak langsung bagi kemajuan masyarakat, terutama jika dibandingkan dengan
periode kementerian sebelumnya. Jika terpaksa memilih antara ukuran politis dan
fungsional, maka ukuran fungsional yang harus dikedepankan.
Dengan tolok ukur yang objektif, SBY tentu akan bisa menilik dengan jelas,
siapa saja di antara anggota kabinetnya yang tergolong sukses atau sebaliknya.
Terhadap yang sukses, SBY harus mendorongnya untuk terus bekerja keras,
meningkatkan kinerja untuk kepentingan rakyat. Untuk yang gagal, sebaiknya SBY
menyodorkan dua opsi pilihan: pertama, mengundurkan diri secara terhormat;
kedua, bila yang bersangkutan tidak mau mundur harus berani diambil keputusan
untuk menggantinya dengan yang baru, yang lebih profesional.
Ketidaktegasan harus dibuang jauh-jauh dari seorang presiden, apalagi presiden
dalam suatu negara "abnormal" seperti Indonesia. Terlalu mahal harga yang harus
ditebus jika negara sesemrawut Indonesia dipimpin seorang presiden yang
ragu-ragu. Tentunya ia harus bisa bercermin dari pedahulunya yang tidak tegas
untuk memecat bawahannya yang dinilai gagal. Kegagalan bawahan yang dimaafkan
sang leader akan menjadi kegagalan sang leader juga. Memimpin negara sebesar
Indonesia, tak bisa didasarkan pada sikap menjalin "kebersamaan" dalam
menanggung kegagalan.
Ada dua pertimbangan mengapa reshuffle harus dilakukan. Pertama, SBY mengemban
tugas yang berat. Tidak mungkin bagi SBY untuk menggantungkan pelaksanaan
tugas-tugas pada anggota kabinet yang tidak becus. Sedangkan yang profesional
saja belum tentu mampu mengembannya.
Kedua, tugas pokok SBY adalah how to govern, bukan how to campaign. SBY harus
konsentrasi pada tugas-tugasnya yang begitu banyak.
Kemungkinan 'Reshuffle'
Tantangan yang dihadapi kian hari kian berat. Bukan waktunya lagi memikirkan
popularitas. Reshuffle kabinet, barangkali bukan langkah yang populer. Apalagi
jika yang terkena reshuffle adalah anggota kabinet yang berasal dari partai
politik yang sejak awal memberikan dukungan kepadanya.
Bisa saja parpol yang kadernya digeser akan menarik dukungan. Kiranya ini tidak
apa-apa, karena dari sisi legitimasi tak ada masalah, selain mendapat mandat
rakyat melalui pemilu secara langsung, dukungan pada pasangan ini di parlemen
juga sangat besar, terutama dengan tampilnya Jusuf Kalla sebagai ketua umum
parpol terbesar. Menggeser satu-dua orang anggota kabinet dari partai-partai
yang kecil atau sedang, tak akan berpengaruh bagi tingkat dukungan parlemen
terhadap kabinet SBY.
Jika yang di-reshuffle berasal dari partai besar, tentu akan lebih
menguntungkan jika penggantinya juga berasal dari partai yang juga besar.
Dengan begitu, reshuffle tidak berpengaruh bagi kemungkinan berkurangnya
tingkat dukungan politik di parlemen.
Yang tidak kalah penting, setelah melakukan reshuffle, sebagaimana pada awal
perekrutan kabinet, anggota kabinet baru diharuskan menandatangani kontrak
politik yang berisi antara lain siap mundur atau diganti yang lain, jika di
kemudian hari juga terbukti gagal menjalankan tugas-tugas yang diembankan
kepadanya.
Sebab jika nanti pemerintahan SBY-JK beserta Kabinet Indonesia Bersatu (KIB)
gagal, itu bukan hanya kegagalan SBY, tetapi adalah kegagalan rakyat Indonesia
secara keseluruhan.
Namun masyarakat tetap berharap semoga SBY-JK mampu melihat momentum ini.
Penulis, pemerhati kebijakan publik, alumnus Universitas Airlangga Surabaya
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/V8WM1C/EbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Mengevaluasi untuk Keluar dari Kerumitan