[ppi] [ppiindia] Mengapa Saya Memilih Mega?

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
-- MENGAPA SAYA MEMILIH MEGA? --

oleh : Eka Darmaputera 

Mengapa saya memilih Mega? Saya akui, judul tersebut terdengar provokatif. Tapi 
pasti tidak salah. Kita #8209; sebagai bangsa dan sebagai gereja #8209; telah 
tiba di satu titik, di mana kita mesti mempunyai pilihan yang jelas. Tidak bisa 
lagi main "netral#8209;netral"an. Di sini, terus terang, saya iri kepada gereja 
Roma Katolik. 
Mengapa saya memilih Mega? Apakah karena saya anggota PDS? Tidak! Saya memang 
anggota PDS. Tapi bukan karena itu, saya memilih pasangan ini. Saya memilih 
Mega, demi Tuhan, bukan sebagai partisan partai politik tertentu. Bukan pula 
secara oportunistik Di mana saya memilih yang paling populer dan kira#8209;kira 
akan menang. Para konglomerat, khususnya yang "hitam", memang begitu. Tapi 
pilihan saya ini, kita tahu, justru sedang merosot deras popularitasnya. Jadi 
mengapa saya memilih "dia", sementara orang banyak meliriknya pun tidak? 

Saya memilih Mega, karena alasan#8209;alasan (yang saya anggap) "obyektif' dan 
"realistis". Obyektif', karena saya punya dasar#8209;dasar yang rasional untuk 
itu. Dan "realistis", karena saya seperti kita semua #8209; mengetahui, 
keduanya bukanlah calon#8209;calon yang "ideal". Namun demikian, pasangan 
inilah yang "terbaik" di antara yang "buruk". The best among the worst. 

Toh, saya akui, tidak mungkin saya bisa obyektif 100 persen. Tak seorang pun 
bisa. Bagaimana pun, pilihan saya itu, pada akhirnya, tidak mungkin terlepas 
dari realitas dan perspektif saya sebagai seorang Kristen, sebagai seorang 
keturunan Cina, sebagai seorang aktivis, sebagai seorang Pancasilais, dan 
karenanya seorang yang inklusif, pluralis, dan "committed" kepada NKRI. 

Pada waktunya saya akan menjelaskan lebih lanjut makna dari semua yang saya 
katakan itu. Tapi sebelum itu, perkenankanlah saya menjawab dulu pertanyaan 
yang kemungkinan besar mengganjal di benak dan hati Anda. Yaitu, pantaskah 
dalam forum seperti ini, kita menyebut nama? Sebagai "gereja", khususnya 
gereja#8209;gereja Protestan, Wah maunya kita ini serba netral, serba aman 
#8209; walau, sebagai konsekuensinya, kita lalu menjadi serba tidak jelas dan 
tidak tegas dan, yang memprihatinkan, tidak terkoordinasi. 

Jawaban saya adalah, mengapa tidak?! Why not? Pertama, dengan sadar dan 
sengaja, saya memberi judul presentasi saya ini, "Mengapa saya memilih Mega?". 
Maksudnya, saya tidak mengatas#8209;namakan siapa pun, kecuali mewakili diri 
saya sendiri. Itu sebabnya saya tidak memilih judul, misalnya, "Mengapa GKI 
harus memilih Mega?" . Atau, "Anda cuma punya satu pilihan: Mega!". Tidak. 

Karenanya, seperti nampak pada judulnya, presentasi ini pada hakikatnya adalah 
sebuah kesaksian; sebuah upaya berbagi (= sharing). Tidak lebih, tidak kurang. 
Bukan fatwa. Bukan kampanye. 

Saya ingin bersaksi dan berbagi dengan Anda, hal#8209;hal yang saya anggap 
benar, baik, penting, dan perlu untuk Anda ketahui. Jadi, mengapa tidak boleh 
bersaksi dan berbagi? Kalau Slamet Rahardjo Djarot boleh bersaksi di televisi, 
mengapa ia memilih Amien Rais, mengapa saya tidak boleh bersaksi di hadapan 
Anda mengenai pilihan saya? 

Bahwa Anda sudah punya pilihan yang lain, itu sepenuhnya adalah hak dan 
kebebasan Anda. Tak sedikit pun saya bermaksud mengusiknya. Bahkan, bila 
berkenan, saya ingin mengajak Anda bertukar pandangan dan berbagi argumentasi 
mengenai perbedaan tersebut. Siapa tahu, Anda lebih benar dari pada saya. 

Presentasi saya ini terutama tidak saya tujukan kepada Anda yang telah 
mempunyai pilihan yang mantap dan pasti. Melainkan dengan penuh kerendahan 
hati, saya tujukan bagi Anda #8209;#8209; saudara#8209;saudari saya seiman dan 
sebangsa #8209;­yang: (a) masih bingung dalam menentukan pilihan; atau (b) 
sudah mempunyai pilihan, tapi sebenarnya berdasarkan pertimbangan yang (saya 
anggap) salah dan/atau informasi yang kurang lengkap. 
     

STRATEGI

Bagaimana saya tiba pada pilihan saya? Pertama, saya mempunyai perhitungan 
matematis yang amat sederhana untuk tiba pada pilihan itu. Begini. Saya tahu, 
banyak suadara-saudara saya seiman yang telah mantap memilih SBY. Mengenai ini 
saya tidak merasa terganggu, walau saya mempunyai catatan dan penilaian sendiri 
tentang pasangan SBY#8209;Kalla ini. 

Perhitungan saya begini. Dengan atau tanpa suara Anda, artinya Anda memilih dia 
atau tidak, pasangan ini akan lolos ke putaran kedua. Jadi yang harus menjadi 
concern utama kita sekarang, menurut pendapat saya, adalah pasangan mana yang 
mesti kita perjuangkan untuk lolos ke 5 Juli 2004 nanti. Ada tiga kemungkinan 
yang paling realistis, pasangan AR#8209;SY, pasangan W#8209;SW, dan pasangan 
M#8209;HM. 

Nah, pertanyaan kita menjadi sedikit lebih sederhana. Apa anda ingin Amien Rais 
yang menang? Atau Wiranto? Atau Mega? Kalau saya, pertanyaan seperti ini mudah 
sekali untuk kita jawab. Di antara tiga alternatif itu, pasangan M#8209;HM 
tidak dapat tidak #8209; dari perespektif kita #8209; adalah yang paling kita 
kehendaki untuk lolos. 

Tapi ini tidak mudah Kans M#8209;HM untuk lolos, sampai sekarang, adalah 
fifty#8209;fifty #8209; atau malah kurang. Karena itu, kalau kita memang 
betul#8209;betul yakin akan pilihan kita, kita harus berjuang, bekerja keras, 
untuk mengusahakan tambahan suara. Bahkan, demi strategi kita, saya ingin Anda 
yang telah mantap memilih SBY #8209; paling tidak untuk putaran ini #8209; 
mengalihkan suaranya untuk M-HM. Bukan karena pilihan Anda itu salah, tapi agar 
5 Juli nanti yang maju adalah pasangan#8209;pasangan yang paling kita kehendaki 
Sementara itu, pilihan Anda #8209; SBY#8209;YK #8209; toh saya yakin akan maju, 
walaupun kali ini suara Anda bukan untuk mereka. 

Jadi strategi kita, menurut pendapat saya, adalah untuk putaran pertama ini, 
paling jauh adalah pasangan yang kita kehendaki maju, dan paling tidak 
(sekiranya pun M#8209;HM gagal) pasangan yang tidak kita kehendaki jangan 
sampai maju. Menghadapi putaran kedua, kita akan memikirkan strategi yang lain 
lagi. Ini akan kita lakukan pada waktunya.    

PASANGAN YANG PADU

Setelah strategi kita jelas, tentu saja saya harus mempertanggungjawabkan 
mengapa saya memilih Mega, Pertanyaan ini ingin saya letakkan dalam kerangka 
pertanyaan yang lebih substansial. Bagaimana sih gambaran kita mengenai siapa 
presiden dan wakil presiden yang "ideal" itu? Ini tidak sulit dijawab. 

Bagi saya, dan saya kira kita semua setuju, (a) keduanya #8209; capres dan 
cawapres #8209; itu harus merupakan sebuah "simbiosis" yang baik. Mitra yang 
sejajar. Penolong yang sepadan. Maksud saya, mitra yang lain itu tidak boleh 
hanya "dicomot", sekadar demi bisa meraup suara sebanyak#8209;banyaknya. 
MisaInya, karena yang satu "Jawa" maka yang lain sebaiknya "non#8209;Jawa"; 
atau karena yang satu "militer" yang lain "sipil"; atau karena yang satu 
"islami" yang lain "nasionalis". Sebab yang mesti lebih dipertimbangkan adalah: 
apakah, sekiranya terpilih, mereka berdua akan merupakan pasangan yang 
benar#8209;benar "padu". 

Sebab itu menarik sekali mendengar Pak Hasyim Muzadi mengatakan, bahwa ia 
menerima "lamaran" Megawati, justru untuk menghilangkan dikotomi antara 
"nasionalis" dan "Islam", serta untuk mengintegrasikan pekik "Merdeka!" dan 
"Allahhu Akbar'. Menarik pula kesaksian pribadinya, mengapa ia menampik lamaran 
calon yang lain. Karena ia tidak mau digulung tanpa daya oleh mesin politik 
yang telah keburu luar biasa kuat dari pelamarnya itu. Ia ingin menjadi "equal 
partner?#8209; yang aktif, saling mengisi dan saling menyempurnakan. Dan ini, 
ia lihat mungkin ia lakukan, bila berpasangan dengan Megawati dan tidak dengan 
Wiranto. 

Jadi, bila Anda mau menilai, mana di antara lima pasangan yang ada yang 
sebaiknya Anda pilih, lihat dan nilailah mana di antara mereka yang 
betul#8209;betul bisa menjadi sebuah "pasangan" yang harmonis, efektif dan 
produktif selama 5 tahun bekerja#8209;sama nanti. Sebab kalau tidak, maka 
rakyatlah nanti yang harus menanggung "excess baggage" dibebani untuk 
memecahkan persoalan antar#8209;mereka, bukan mereka yang memecahkan masalah 
rakyat. Megawati dan Hasyim Muzadi, sepanjang saya mengenai mereka, memiliki 
nilai#8209;nilai dasar (= basic values) yang sama. MisaInya dalam mereka 
melihat dan menyikapi masalah kemajemukan, kesatuan dan persatuan, perlakuan 
terhadap kelompok minoritas, dan lain#8209;lain. Sekarang PDI-P itu telah 
didukung oleh PARTAI DAMAI SEJAHTERA, yaitu satu satunya Partai Nasionalis 
Kristen, jadi lengkaplah kalau kita memilih PDI-P. 

Kemudian, masih ada tiga persyaratan pokok lagi yang harus dipenuhi oleh 
presiden dan wakil presiden yang "ideal". Tapi mengenai ini, rasanya saya tidak 
perlu berbicara panjang lebar, sebab telah dimuat dalam "Surat Penggembalaan 
BPMS GKI Menjelang Pemilu Presiden 2004", yang diberi judul "Jangan Salah 
Pilih!". Saya akan mengutip yang pokok#8209;pokok saja. 

     
AKSEPTABILITAS DAN KREDIBILITAS

Dua syarat ini dibutuhkan, khususnya dalam hubungan fungsi presiden sebagai 
"kepala negara". Dengan "akseptabilitas", saya maksudkan, yang bersangkutan 
diterima oleh rakyat dengan ikhlas sebagai presiden mereka, secara lintas 
etnis, lintas suku, lintas ras, lintas daerah, lintas agama, dan sebagainya. 

Konsekuensinya, yang bersangkutan haruslah orang yang berkepribadian inklusif, 
punya komitmen nasional, serta menghargai dengan sepenuh hati realitas 
kemajemukan masyarakat kita. 

Dan "kredibel", artinya: tidak boleh mempunyai cacat di bidang pelanggaran HAM 
berat, serta tindakan#8209;tindakan diskriminatif baik yang bersifat 
primordial, sosio#8209;ekonomis, maupun ideologis.      

KAPABILITAS

Syarat ini mutlak dipenuhi oleh setiap pemimpin, apa lagi oleh seorang 
presiden, Khususnya, dalam hubungan dengan fungsi yang ditentukan dalam UUD 
kita bahwa presiden adalah "kepala pemerintahan" (berbeda dengan Singapura, 
misalnya). 

Karena itu, yang patut kita pilih adalah calon yang kita yakini punya visi 
kenegarawanan, kemampuan kepemimpinan, serta keterampilan manajerial yang 
memadai. Kalau pun kualitas ini tidak dapat dipenuhi secara optimal oleh yang 
bersangkutan #8209; tidak dapat kita jadikan tuntutan mutlak, sebab bagaimana 
pun jabatan presiden adalah jabatan politis, bukan profesi. Bnd. Ronald Reagan 
#8209;#8209; , kekosongan ini harus diisi dengan membentuk sebuah tim kerja, 
yaitu kabinet yang kompak dan terdiri dari tenaga#8209;tenaga ahli. 

Saya sangat setuju bahwa Indonesia membutuhkan sebuah pemerintahan yang kuat 
dan efektif. Tapi mesti diingat, bahwa pemerintahan yang kuat sama sekali tidak 
identik dengan kekerasan. Juga tidak ada hubungannya dengan figur militer atau 
sipil. Pemerintahan yang kuat dan efektif akan lahir secara alamiah melalui 
legitimitas #8209; bukan sekadar legalitas #8209;#8209; dari rakyat, karena 
keteguhan prinsipnya, integritas moralnya, dan keberhasilannya membangun 
semangat kebersamaan. Latar belakang yang kuat dari Hasyim Muzadi dalam 
"Gerakan Moral Nasional", menurut saya, sangat membantu. 

Dalam hubungan ini perlu pula saya sebutkan, betapa vitaInya sebuah 
pemerintahan yang demokratis dan bersih itu. Karenanya, calon yang kita pilih 
wajib mempunyai komitmen, keberanian dan kemampuan untuk memberantas segala 
bentuk korupsi dan penyelewengan. Kita harus mewaspadai calon yang patut kita 
duga mempunyai kepentingan melindungi diri dari kemungkinan tindakan hukum 
karena perbuatannya di masa lalu! 
      
SIMPATI  INTERNASIONAL

Syarat yang ketiga tidak kurang pentingnya khususnya dalam realitas politik 
global dewasa ini. Dalam era globalisasi ini, kita betul#8209;betul membutuhkan 
seorang presiden yang diterima dan memperoleh simpati dunia internasional. 
Paling sedikit, tidak berpotensi menghadapi masalah dalam hal ini. Dalam hal 
ini PARTAI DAMAI SEJAHTERA yang telah mendukung PARTAI DEMOKRASI INDONESIA 
PERJUANGAN, telah memiliki kantor kantor Unit di Mancanegara yang pada saat ini 
saja sudah bekerja dengan gigih untuk menangani masalah masalah internasional 
yang belum teratasi oleh Pemerintah NKRI saat ini.

Saya ingat apa yang pernah terjadi pada seorang presiden terpilih Austria. Ia 
terpilih secara demokratis. Tapi beberapa negara Eropa dan Amerika menolaknya, 
karena ia dianggap punya latar#8209;belakang hitam sewaktu pemerintahan Nazi. 
Negara#8209;negara ini tentu tidak berhak menolak hasil pemilu. Tapi mereka 
mengancam bahwa presiden terpilih ini tidak pernah akan diberi visa masuk ke 
negara#8209;negara tersebut. 

Hanya beberapa bulan, presiden terpilih itu akhirnya terjungkal. Ya, faktor 
persepsi serta apresiasi dunia internasional tidak dapat lagi kita pandang 
remeh, atau kita naifkan dengan mengobarngobarkan sentimen#8209;sentimen 
nasionalisme yang sempit!       

SEMUA PERLU KITA CERMATI

Menurut pengamatan saya, yang sangat mengkhawatirkan adalah bahwa banyak sekali 
dari antara kita yang menentukan pilihannya, "hanya" berdasarkan dukungan serta 
simpati kepada si "calon presiden" semata#8209;mata. Ini jelas tidak memadai 
dan bisa membuat kita salah pilih. Sebab kita tahu, bahwa si capres itu nanti, 
bila terpilih, tidak akan bekerja sendiri. Dan yang tidak boleh kita lupakan 
adalah, bahwa yang bersangkutan bisa menjadi "capres" atau "cawapres", setelah 
melalui proses "deal#8209;deal" dan transaksi politik yang panjang yang terjadi 
di balik pintu tertutup. 

Dengan perkataan lain, yang bersangkutan bisa menjadi "capres" karena 
memberikan konsesi-konsesi politik. Konsesi#8209;konsesi ini, karena 
tersembunyi, hanya bisa kita tebak#8209;tebak. Tapi jelas sekali, inilah yang 
nanti akan menentukan secara praktis kebijakan#8209;kebijakan yang diambil. 
Konsesi#8209;konsesi inilah yang akan "mencencang" kaki dan tangan si presiden 
terpilih. Dalam tahapan demokrasi di Indonesia sekarang ini, faktor ini justru 
jauh lebih penting ketimbang, misaInya, platform atau janji#8209;janji manis 
para calon. Saudara percaya bahwa Hamzah Haz akan berhasil membebaskan biaya 
pendidikan dari SD sampai ke SMA? Amien Rais akan berhasil membersihkan korupsi 
dalam waktu 5 tahun? 

Jadi apa#8209;apa saja yang perlu sekali kita cermati dan analisis di samping 
figur capresnya? Tak pelak lagi, adalah cermati figur "cawapres"nya (di samping 
memperhatikan apakah keduanya benar#8209;benar dapat menjalin sinergi yang 
harmonis). Kemudian, yang juga tak boleh dilupakan adalah: cermati 
partai#8209;partai apa saja yang diajak berkoalisi. Ingatlah, 
partai#8209;partai ini tak akan memberi dukungan, bila mereka tak memperoleh 
keuntungan apa#8209;apa. 

Dan, last but not least, periksa pula "Tim Sukses"nya. Mengapa Tim Sukses 
penting? Karena "tim sukses" ini #8209;paling tidak beberapa di antara mereka 
#8209; itulah nanti yang akan membentuk "inner circle" #8209; menjadi 
orang#8209;orang terdekat #8209; pembisik#8209;pembisik #8209;#8209; di sekitar 
presiden. 

Jadi, misaInya, saya dapat mengenal siapa Wiranto lebih jelas, bukan terutama 
karena Partai Golkarnya, atau karena Solahudin Wahid#8209;nya, tapi antara lain 
berdasarkan partai#8209;partai mana saja yang mendukungnya (a.l. PKPB), dan 
orang#8209;orang yang ada di Tim Suksesnya (a.l. Jendral Fahrurozy dan Letjen. 
Suadi Marasabesy). SBY more than alright, tapi kenalkah kita siapa YK atau PBB 
dengan YM#8209;nya? 

Sekiranya semua ini kita lakukan, maka bagaimana kira#8209;kira hasil yang akan 
kita peroleh? Berdasarkan semua kriteria yang saya sebutkan itu, saya akan 
mengemukakan hasil penilaian ("obyektif') saya atas semua calon. Angka yang 
akan saya berikan ada tiga macam, yaitu: #8209;#8209; angka 3 untuk kategori 
"baik sekali"; #8209;#8209; angka 1 untuk kategori "sedang#8209;sedang saja"; 
dan angka 0 untuk "kurang/diragukan". Inilah hasilnya: 

WIRANTO
Cawapres 1
Aksepta/Kredibi 0
Kapabi 1
Internasional 0
Partai Pendu. 0
Tim Sukses 0

MEGA
Cawapres 3
Aksepta/Kredibi 3
Kapabi 3
Internasional 3
Partai Pendu. 3
Tim Sukses 3

SBY 
Cawapres 1
Aksepta/Kredibi 1
Kapabi 2
Internasional 3
Partai Pendu. 0
Tim Sukses 1

AMIEN
Cawapres 3
Aksepta/Kredibi 1
Kapabi 3
Internasional 1
Partai Pendu. 0
Tim Sukses 1

HAMZAH
Cawapres 1
Aksepta/Kredibi 1
Kapabi 1
Internasional 1
Partai Pendu. 1
Tim Sukses 0

RASIONAL DAN PROPORSIONAL

Hasil di atas menunjukkan bahwa pasangan Mega#8209;Hasyim memperoleh angka 
tertinggi. Pertanyaannya adalah: apakah hasil ini sesuai dengan kenyataan yang 
kita lihat? Saya tahu ada banyak sekali ketidak#8209;puasan #8209;#8209; bahkan 
kekecewaan #8209; terhadap prestasi dan kinerja Megawati selama 3 tahun ia 
menjadi presiden. Bahkan banyak yang sudah "patah arang" sehingga tiba pada 
kesimpulan, "siapa saja asal jangan Mega lagi". Ini dapat saya mengerti. 

Saya pun menyimpan amat banyak kekecewaan, dan dalam pelbagai kesempatan dan 
forum mengemukakannya secara terbuka Kelambanannya bergerak. "Human dan Public 
Relation"nya yang amat buruk. Ketidak#8209;pekaannya memanfaatkan kesempatan. 
Dan yang paling mengecewakan, tentu saja adalah dibiarkannya korupsi kian 
meluas dan mengakar menggerogoti hampir semua sektor dan aras kehidupan. Saya 
juga gemas karena keluguannya dan kekakuannya. Mbok ya bisa acting sedikit 
seperti SBY atau AR, Sebagai orang kristen tentu kita juga amat kecewa dengan 
lolos dan diundangkannya SISDIKNAS yang kontroversial itu, walau jelas ini 
berada di luar kontrolnya. Dengan jujur saya kemukakan, bahwa sekiranya saja 
dalam pemilu ini ada pilihan lain yang lebih baik, pasti saya tidak akan 
memilih Mega! Pasti! Tetapi Mega sekarang kan bukan Mega yang 3 tahun yang 
lalu, karena saat ini Mega sudah didampingi oleh PARTAI DAMAI SEJAHTERA, itulah 
bedanya dengan Mega tiga tahun yang lalu seperti tertulis di atas itu. 
 Jadi
 kita tidak perlu meragukannya lagi.

Kalau kita memilih, tentu saja kita akan memilih yang terbaik, yang ideal. Tapi 
ketika kita diperhadapkan pada pilihan antara "yang buruk" dan "yang buruk", 
maka #8209; apa boleh buat #8209; pilihan kita lalu jadi terbatas pada memilih 
"yang lebih kurang buruk"nya. Dan itulah situasi yang kita hadapi sekarang. 

Pertanyaan yang paling pokok adalah: Apakah memilih Mega tidak berarti sama 
dengan melanggengkan keadaan sekarang? Apakah tidak lebih baik bila #8209; demi 
perubahan #8209;#8209; kita memberi kesempatan kepada yang lain? Tanggapan saya 
adalah: cara berfikir seperti ini hanya benar, apabila kita memang berada dalam 
situasi jalan buntu yang benar#8209;benar buntu. Bila Anda berada di 
persimpangan jalan, dan diperhadapkan pada pilihan: ke kanan mati, ke kiri juga 
mati tapi masih ada kemungkinan hidup #8209; walau amat kecil #8209;#8209; 
maka, benar, pilihan kita tentu adalah belok kiri. Apalagi di kiri itu sudah 
tersedia kendaraan dari PARTAI DAMAI SEJAHTERA yang siap untuk melayani seperti 
Yusuf yang melayani Firaun. 

Tapi apakah keadaan kita sekarang dapat digambarkan seperti itu? Di sini, kita 
dapat mempunyai pendapat yang berbeda. Tapi anjuran dan imbauan saya adalah: 
marilah kita #8209; secara kristiani bersedia lebih rasional dan proporsional 
menilai pemerintahan sekarang.      

PUNAI DI TANGAN

(a) prestasi pemerintahan ini sebenarnya tidak buruk#8209;buruk amat. Memberi 
kesan buruk, karena "public relation" Mega yang amat buruk. Dan masyarakat 
lebih banyak dicekoki dengan informasi#8209;informasi negatif, ketimbang 
kenyataan yang sebenarnya. Fondasi ekonomi, stabilitas politik dan keamanan 
sebenarnya telah berhasil dibangun cukup mantap. 
 
(b) Tentu saja, yang belum baik masih jauh lebih banyak. Ya! Tapi jangan kita 
lupakan, pemerintahan ini baru berjalan 3,5 tahun. Dan ia dimulai dari situasi 
kemelut politik yang luar biasa pada waktu itu. Naiknya Mega adalah hasil 
kompromi politik, sehingga baik susunan kabinetnya maupun 
kebijakan#8209;kebijakan nya tidak dapat lain ya mesti dijalankan secara 
kompromistis. Jadi, pemerintahan sekarang ini sebenarnya "bukan"lah 
pemerintahan Mega, melainkan pemerintahan "koalisi pelangi" yang terbangun 
secara oportunistis pada waktu itu. Kegagalan pemerintahan ini sebenarnya 
adalah kegagalan bersama. 
 
(c) Dalam suasana kekecewaan ini, yang agak sering kita lupakan adalah 
sekiranya saja bukan Mega, tapi SBY atau Wiranto atau Amien Rais yang jadi 
presiden selama ini, pastikah mereka akan dapat menyelesaikan 
masalah#8209;masalah yang kini mereka limpahkan tangungjawabnya kepada Mega 
soal pendidikan, pengangguran, KKN, hukum, dan sebagainya? Situasi Indonesia 
kita ini telah demikian parah dan kompleksnya sehingga saya yakin, tak satu 
malaikat pun sanggup menyelesaikan masalah Indonesia dalam 3 tahun! 
 
(d) Jangan mudah percaya kepada janji#8209;janji sorga! Kalau ada sinshe atau 
obat yang menjanjikan kesembuhan untuk semua penyakit, ini justru alasan yang 
kuat untuk tidak mempercayainya! Yang kita hadapi sekarang ini adalah, memilih 
antara "janji#8209;janji" manis yang sama sekali belum terbukti, dan, 
"kenyataan#8209;kenyataan" yang walau mengecewakan tapi sebenarnya tidak 
buruk#8209;buruk amat, yang kita alami selama ini. Menurut saya, karena toh 
Mega tidak buruk#8209;buruk amat, dan ada tanda#8209;tanda bahwa kelemahan itu 
akan dapat diisi kalau tidak oleh Hasyim Muzadi, oleh suatu susunan kabinet 
yang tepat, maka jauh lebih bijaklah bila kita berpikir sederhana seperti 
nasihat orang#8209;orang tua kita: "Jangan melepaskan punai di tangan, karena 
mengharapkan burung terbang tinggi di angkasa". Kalau salah pilih RT atau RW 
atau Lurah, masih okelah. Tapi kalau salah pilih presiden, pertaruhannya 
sungguh sangat besar. 

Kini perkenankanlah saya mengakhiri tulisan ini dengan sebuah permintaan yang 
sederhana, tetapi sebenarnya inti yang paling hakiki dan paling penting dari 
semua. 


JANGANLAH BERHENTI BERDOA, MEMOHON AGAR TUHAN SENDIRI YANG MENETAPKAN 
HAMBA#8209;NYA UNTUK MEMIMPIN NEGERI TERCINTA; 

JANGANLAH BERHENTI BERDOA, MEMOHON AGAR KITA PEKA DAN DENGAR DENGARAN TERHADAP 
KEHENDAK TUHAN, BETAPA PUN MUNGKIN BERLAWANAN DENGAN JALAN PIKIRAN ATAU 
KEPENTINGAN KITA PRIBADI, 

JANGANLAH BERHENTI BERDOA, MEMOHON AGAR KITA TIDAK SALAH PILIH, DAN AGAR RAKYAT 
INDONESIA JUGA TIDAK SALAH PILIH! 

      
Tanpa bermaksud mengklaim apa#8209;apa, apa lagi menyampaikan "fatwa", saya 
hendak bersaksi bahwa saya tiba pada pilihan saya itu, tidak semata#8209;mata 
berdasarkan pertimbanganpertimbangan akaliah saya, tetapi juga setelah melalui 
pergumulan doa yang panjang dan sungguh#8209;sungguh. Baru kemudian saya diberi 
tahu oleh beberapa kawan, bahwa banyak saudara-saudara seiman yang juga 
menggumuli ini dalam doa dan puasa mereka, dan ... tiba pada pencerahan yang 
sama. 

Bagaimana bila ada saudara yang lain yang juga berdoa tapi "mendengar" jawaban 
yang berbeda? Mungkin saja! Allah kita maha bebas, maha berdaulat, dan maha 
kuasa! Bebas, berdaulat dan berkuasa untuk berbuat apa saja, Yang penting, Anda 
berdoa. Mohon agar Roh Kudus memampukan Anda memanfaatkan akal sehat serta hati 
nurani Anda untuk mengenali kehendak Allah! 

Pilihan kita PDI-P yang dipimpin oleh Mega-Hasyim dan Hutasoit itu telah 
dibawakan dalam doa dan puasa oleh seluruh PENDOA SYAFAAT dari PARTAI DAMAI 
SEJAHTERA, baik di Indonesia maupun di MANCANEGARA, apakah doa dan puasa yang 
dilakukan secara dahsyat ini bisa menghasilkan pilihan yang salah ? Saya rasa 
kemungkinan salahnya adalah kecil sekali. 
 
Adakah Calon lain yang didoakan dan dipuasakan oleh Pendukung Pendukungnya, 
Pengurus Pengurusnya, Simpatisan Simpatisannya, Anggota Anggotanya bahkan 
Pendoa Pendoa Syafaatnya dari dalam maupun dari luar negeri ? Doa orang benar 
PASTI DIDENGAR OLEH ALLAH BAPA DI SORGA, AMIN !

Jakarta, 29 Juni 2004
 


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: