[ppi] [ppiindia] Mengapa Saya Memilih Mega?
- From: Team PDS Surabaya <teampdssurabaya@xxxxxxxxx>
- To: pdimega@xxxxxxxxxxxxxxx, ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Tue, 29 Jun 2004 19:32:24 -0700 (PDT)
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
-- MENGAPA SAYA MEMILIH MEGA? --
oleh : Eka Darmaputera
Mengapa saya memilih Mega? Saya akui, judul tersebut terdengar provokatif. Tapi
pasti tidak salah. Kita #8209; sebagai bangsa dan sebagai gereja #8209; telah
tiba di satu titik, di mana kita mesti mempunyai pilihan yang jelas. Tidak bisa
lagi main "netral#8209;netral"an. Di sini, terus terang, saya iri kepada gereja
Roma Katolik.
Mengapa saya memilih Mega? Apakah karena saya anggota PDS? Tidak! Saya memang
anggota PDS. Tapi bukan karena itu, saya memilih pasangan ini. Saya memilih
Mega, demi Tuhan, bukan sebagai partisan partai politik tertentu. Bukan pula
secara oportunistik Di mana saya memilih yang paling populer dan kira#8209;kira
akan menang. Para konglomerat, khususnya yang "hitam", memang begitu. Tapi
pilihan saya ini, kita tahu, justru sedang merosot deras popularitasnya. Jadi
mengapa saya memilih "dia", sementara orang banyak meliriknya pun tidak?
Saya memilih Mega, karena alasan#8209;alasan (yang saya anggap) "obyektif' dan
"realistis". Obyektif', karena saya punya dasar#8209;dasar yang rasional untuk
itu. Dan "realistis", karena saya seperti kita semua #8209; mengetahui,
keduanya bukanlah calon#8209;calon yang "ideal". Namun demikian, pasangan
inilah yang "terbaik" di antara yang "buruk". The best among the worst.
Toh, saya akui, tidak mungkin saya bisa obyektif 100 persen. Tak seorang pun
bisa. Bagaimana pun, pilihan saya itu, pada akhirnya, tidak mungkin terlepas
dari realitas dan perspektif saya sebagai seorang Kristen, sebagai seorang
keturunan Cina, sebagai seorang aktivis, sebagai seorang Pancasilais, dan
karenanya seorang yang inklusif, pluralis, dan "committed" kepada NKRI.
Pada waktunya saya akan menjelaskan lebih lanjut makna dari semua yang saya
katakan itu. Tapi sebelum itu, perkenankanlah saya menjawab dulu pertanyaan
yang kemungkinan besar mengganjal di benak dan hati Anda. Yaitu, pantaskah
dalam forum seperti ini, kita menyebut nama? Sebagai "gereja", khususnya
gereja#8209;gereja Protestan, Wah maunya kita ini serba netral, serba aman
#8209; walau, sebagai konsekuensinya, kita lalu menjadi serba tidak jelas dan
tidak tegas dan, yang memprihatinkan, tidak terkoordinasi.
Jawaban saya adalah, mengapa tidak?! Why not? Pertama, dengan sadar dan
sengaja, saya memberi judul presentasi saya ini, "Mengapa saya memilih Mega?".
Maksudnya, saya tidak mengatas#8209;namakan siapa pun, kecuali mewakili diri
saya sendiri. Itu sebabnya saya tidak memilih judul, misalnya, "Mengapa GKI
harus memilih Mega?" . Atau, "Anda cuma punya satu pilihan: Mega!". Tidak.
Karenanya, seperti nampak pada judulnya, presentasi ini pada hakikatnya adalah
sebuah kesaksian; sebuah upaya berbagi (= sharing). Tidak lebih, tidak kurang.
Bukan fatwa. Bukan kampanye.
Saya ingin bersaksi dan berbagi dengan Anda, hal#8209;hal yang saya anggap
benar, baik, penting, dan perlu untuk Anda ketahui. Jadi, mengapa tidak boleh
bersaksi dan berbagi? Kalau Slamet Rahardjo Djarot boleh bersaksi di televisi,
mengapa ia memilih Amien Rais, mengapa saya tidak boleh bersaksi di hadapan
Anda mengenai pilihan saya?
Bahwa Anda sudah punya pilihan yang lain, itu sepenuhnya adalah hak dan
kebebasan Anda. Tak sedikit pun saya bermaksud mengusiknya. Bahkan, bila
berkenan, saya ingin mengajak Anda bertukar pandangan dan berbagi argumentasi
mengenai perbedaan tersebut. Siapa tahu, Anda lebih benar dari pada saya.
Presentasi saya ini terutama tidak saya tujukan kepada Anda yang telah
mempunyai pilihan yang mantap dan pasti. Melainkan dengan penuh kerendahan
hati, saya tujukan bagi Anda #8209;#8209; saudara#8209;saudari saya seiman dan
sebangsa #8209;­yang: (a) masih bingung dalam menentukan pilihan; atau (b)
sudah mempunyai pilihan, tapi sebenarnya berdasarkan pertimbangan yang (saya
anggap) salah dan/atau informasi yang kurang lengkap.
STRATEGI
Bagaimana saya tiba pada pilihan saya? Pertama, saya mempunyai perhitungan
matematis yang amat sederhana untuk tiba pada pilihan itu. Begini. Saya tahu,
banyak suadara-saudara saya seiman yang telah mantap memilih SBY. Mengenai ini
saya tidak merasa terganggu, walau saya mempunyai catatan dan penilaian sendiri
tentang pasangan SBY#8209;Kalla ini.
Perhitungan saya begini. Dengan atau tanpa suara Anda, artinya Anda memilih dia
atau tidak, pasangan ini akan lolos ke putaran kedua. Jadi yang harus menjadi
concern utama kita sekarang, menurut pendapat saya, adalah pasangan mana yang
mesti kita perjuangkan untuk lolos ke 5 Juli 2004 nanti. Ada tiga kemungkinan
yang paling realistis, pasangan AR#8209;SY, pasangan W#8209;SW, dan pasangan
M#8209;HM.
Nah, pertanyaan kita menjadi sedikit lebih sederhana. Apa anda ingin Amien Rais
yang menang? Atau Wiranto? Atau Mega? Kalau saya, pertanyaan seperti ini mudah
sekali untuk kita jawab. Di antara tiga alternatif itu, pasangan M#8209;HM
tidak dapat tidak #8209; dari perespektif kita #8209; adalah yang paling kita
kehendaki untuk lolos.
Tapi ini tidak mudah Kans M#8209;HM untuk lolos, sampai sekarang, adalah
fifty#8209;fifty #8209; atau malah kurang. Karena itu, kalau kita memang
betul#8209;betul yakin akan pilihan kita, kita harus berjuang, bekerja keras,
untuk mengusahakan tambahan suara. Bahkan, demi strategi kita, saya ingin Anda
yang telah mantap memilih SBY #8209; paling tidak untuk putaran ini #8209;
mengalihkan suaranya untuk M-HM. Bukan karena pilihan Anda itu salah, tapi agar
5 Juli nanti yang maju adalah pasangan#8209;pasangan yang paling kita kehendaki
Sementara itu, pilihan Anda #8209; SBY#8209;YK #8209; toh saya yakin akan maju,
walaupun kali ini suara Anda bukan untuk mereka.
Jadi strategi kita, menurut pendapat saya, adalah untuk putaran pertama ini,
paling jauh adalah pasangan yang kita kehendaki maju, dan paling tidak
(sekiranya pun M#8209;HM gagal) pasangan yang tidak kita kehendaki jangan
sampai maju. Menghadapi putaran kedua, kita akan memikirkan strategi yang lain
lagi. Ini akan kita lakukan pada waktunya.
PASANGAN YANG PADU
Setelah strategi kita jelas, tentu saja saya harus mempertanggungjawabkan
mengapa saya memilih Mega, Pertanyaan ini ingin saya letakkan dalam kerangka
pertanyaan yang lebih substansial. Bagaimana sih gambaran kita mengenai siapa
presiden dan wakil presiden yang "ideal" itu? Ini tidak sulit dijawab.
Bagi saya, dan saya kira kita semua setuju, (a) keduanya #8209; capres dan
cawapres #8209; itu harus merupakan sebuah "simbiosis" yang baik. Mitra yang
sejajar. Penolong yang sepadan. Maksud saya, mitra yang lain itu tidak boleh
hanya "dicomot", sekadar demi bisa meraup suara sebanyak#8209;banyaknya.
MisaInya, karena yang satu "Jawa" maka yang lain sebaiknya "non#8209;Jawa";
atau karena yang satu "militer" yang lain "sipil"; atau karena yang satu
"islami" yang lain "nasionalis". Sebab yang mesti lebih dipertimbangkan adalah:
apakah, sekiranya terpilih, mereka berdua akan merupakan pasangan yang
benar#8209;benar "padu".
Sebab itu menarik sekali mendengar Pak Hasyim Muzadi mengatakan, bahwa ia
menerima "lamaran" Megawati, justru untuk menghilangkan dikotomi antara
"nasionalis" dan "Islam", serta untuk mengintegrasikan pekik "Merdeka!" dan
"Allahhu Akbar'. Menarik pula kesaksian pribadinya, mengapa ia menampik lamaran
calon yang lain. Karena ia tidak mau digulung tanpa daya oleh mesin politik
yang telah keburu luar biasa kuat dari pelamarnya itu. Ia ingin menjadi "equal
partner?#8209; yang aktif, saling mengisi dan saling menyempurnakan. Dan ini,
ia lihat mungkin ia lakukan, bila berpasangan dengan Megawati dan tidak dengan
Wiranto.
Jadi, bila Anda mau menilai, mana di antara lima pasangan yang ada yang
sebaiknya Anda pilih, lihat dan nilailah mana di antara mereka yang
betul#8209;betul bisa menjadi sebuah "pasangan" yang harmonis, efektif dan
produktif selama 5 tahun bekerja#8209;sama nanti. Sebab kalau tidak, maka
rakyatlah nanti yang harus menanggung "excess baggage" dibebani untuk
memecahkan persoalan antar#8209;mereka, bukan mereka yang memecahkan masalah
rakyat. Megawati dan Hasyim Muzadi, sepanjang saya mengenai mereka, memiliki
nilai#8209;nilai dasar (= basic values) yang sama. MisaInya dalam mereka
melihat dan menyikapi masalah kemajemukan, kesatuan dan persatuan, perlakuan
terhadap kelompok minoritas, dan lain#8209;lain. Sekarang PDI-P itu telah
didukung oleh PARTAI DAMAI SEJAHTERA, yaitu satu satunya Partai Nasionalis
Kristen, jadi lengkaplah kalau kita memilih PDI-P.
Kemudian, masih ada tiga persyaratan pokok lagi yang harus dipenuhi oleh
presiden dan wakil presiden yang "ideal". Tapi mengenai ini, rasanya saya tidak
perlu berbicara panjang lebar, sebab telah dimuat dalam "Surat Penggembalaan
BPMS GKI Menjelang Pemilu Presiden 2004", yang diberi judul "Jangan Salah
Pilih!". Saya akan mengutip yang pokok#8209;pokok saja.
AKSEPTABILITAS DAN KREDIBILITAS
Dua syarat ini dibutuhkan, khususnya dalam hubungan fungsi presiden sebagai
"kepala negara". Dengan "akseptabilitas", saya maksudkan, yang bersangkutan
diterima oleh rakyat dengan ikhlas sebagai presiden mereka, secara lintas
etnis, lintas suku, lintas ras, lintas daerah, lintas agama, dan sebagainya.
Konsekuensinya, yang bersangkutan haruslah orang yang berkepribadian inklusif,
punya komitmen nasional, serta menghargai dengan sepenuh hati realitas
kemajemukan masyarakat kita.
Dan "kredibel", artinya: tidak boleh mempunyai cacat di bidang pelanggaran HAM
berat, serta tindakan#8209;tindakan diskriminatif baik yang bersifat
primordial, sosio#8209;ekonomis, maupun ideologis.
KAPABILITAS
Syarat ini mutlak dipenuhi oleh setiap pemimpin, apa lagi oleh seorang
presiden, Khususnya, dalam hubungan dengan fungsi yang ditentukan dalam UUD
kita bahwa presiden adalah "kepala pemerintahan" (berbeda dengan Singapura,
misalnya).
Karena itu, yang patut kita pilih adalah calon yang kita yakini punya visi
kenegarawanan, kemampuan kepemimpinan, serta keterampilan manajerial yang
memadai. Kalau pun kualitas ini tidak dapat dipenuhi secara optimal oleh yang
bersangkutan #8209; tidak dapat kita jadikan tuntutan mutlak, sebab bagaimana
pun jabatan presiden adalah jabatan politis, bukan profesi. Bnd. Ronald Reagan
#8209;#8209; , kekosongan ini harus diisi dengan membentuk sebuah tim kerja,
yaitu kabinet yang kompak dan terdiri dari tenaga#8209;tenaga ahli.
Saya sangat setuju bahwa Indonesia membutuhkan sebuah pemerintahan yang kuat
dan efektif. Tapi mesti diingat, bahwa pemerintahan yang kuat sama sekali tidak
identik dengan kekerasan. Juga tidak ada hubungannya dengan figur militer atau
sipil. Pemerintahan yang kuat dan efektif akan lahir secara alamiah melalui
legitimitas #8209; bukan sekadar legalitas #8209;#8209; dari rakyat, karena
keteguhan prinsipnya, integritas moralnya, dan keberhasilannya membangun
semangat kebersamaan. Latar belakang yang kuat dari Hasyim Muzadi dalam
"Gerakan Moral Nasional", menurut saya, sangat membantu.
Dalam hubungan ini perlu pula saya sebutkan, betapa vitaInya sebuah
pemerintahan yang demokratis dan bersih itu. Karenanya, calon yang kita pilih
wajib mempunyai komitmen, keberanian dan kemampuan untuk memberantas segala
bentuk korupsi dan penyelewengan. Kita harus mewaspadai calon yang patut kita
duga mempunyai kepentingan melindungi diri dari kemungkinan tindakan hukum
karena perbuatannya di masa lalu!
SIMPATI INTERNASIONAL
Syarat yang ketiga tidak kurang pentingnya khususnya dalam realitas politik
global dewasa ini. Dalam era globalisasi ini, kita betul#8209;betul membutuhkan
seorang presiden yang diterima dan memperoleh simpati dunia internasional.
Paling sedikit, tidak berpotensi menghadapi masalah dalam hal ini. Dalam hal
ini PARTAI DAMAI SEJAHTERA yang telah mendukung PARTAI DEMOKRASI INDONESIA
PERJUANGAN, telah memiliki kantor kantor Unit di Mancanegara yang pada saat ini
saja sudah bekerja dengan gigih untuk menangani masalah masalah internasional
yang belum teratasi oleh Pemerintah NKRI saat ini.
Saya ingat apa yang pernah terjadi pada seorang presiden terpilih Austria. Ia
terpilih secara demokratis. Tapi beberapa negara Eropa dan Amerika menolaknya,
karena ia dianggap punya latar#8209;belakang hitam sewaktu pemerintahan Nazi.
Negara#8209;negara ini tentu tidak berhak menolak hasil pemilu. Tapi mereka
mengancam bahwa presiden terpilih ini tidak pernah akan diberi visa masuk ke
negara#8209;negara tersebut.
Hanya beberapa bulan, presiden terpilih itu akhirnya terjungkal. Ya, faktor
persepsi serta apresiasi dunia internasional tidak dapat lagi kita pandang
remeh, atau kita naifkan dengan mengobarngobarkan sentimen#8209;sentimen
nasionalisme yang sempit!
SEMUA PERLU KITA CERMATI
Menurut pengamatan saya, yang sangat mengkhawatirkan adalah bahwa banyak sekali
dari antara kita yang menentukan pilihannya, "hanya" berdasarkan dukungan serta
simpati kepada si "calon presiden" semata#8209;mata. Ini jelas tidak memadai
dan bisa membuat kita salah pilih. Sebab kita tahu, bahwa si capres itu nanti,
bila terpilih, tidak akan bekerja sendiri. Dan yang tidak boleh kita lupakan
adalah, bahwa yang bersangkutan bisa menjadi "capres" atau "cawapres", setelah
melalui proses "deal#8209;deal" dan transaksi politik yang panjang yang terjadi
di balik pintu tertutup.
Dengan perkataan lain, yang bersangkutan bisa menjadi "capres" karena
memberikan konsesi-konsesi politik. Konsesi#8209;konsesi ini, karena
tersembunyi, hanya bisa kita tebak#8209;tebak. Tapi jelas sekali, inilah yang
nanti akan menentukan secara praktis kebijakan#8209;kebijakan yang diambil.
Konsesi#8209;konsesi inilah yang akan "mencencang" kaki dan tangan si presiden
terpilih. Dalam tahapan demokrasi di Indonesia sekarang ini, faktor ini justru
jauh lebih penting ketimbang, misaInya, platform atau janji#8209;janji manis
para calon. Saudara percaya bahwa Hamzah Haz akan berhasil membebaskan biaya
pendidikan dari SD sampai ke SMA? Amien Rais akan berhasil membersihkan korupsi
dalam waktu 5 tahun?
Jadi apa#8209;apa saja yang perlu sekali kita cermati dan analisis di samping
figur capresnya? Tak pelak lagi, adalah cermati figur "cawapres"nya (di samping
memperhatikan apakah keduanya benar#8209;benar dapat menjalin sinergi yang
harmonis). Kemudian, yang juga tak boleh dilupakan adalah: cermati
partai#8209;partai apa saja yang diajak berkoalisi. Ingatlah,
partai#8209;partai ini tak akan memberi dukungan, bila mereka tak memperoleh
keuntungan apa#8209;apa.
Dan, last but not least, periksa pula "Tim Sukses"nya. Mengapa Tim Sukses
penting? Karena "tim sukses" ini #8209;paling tidak beberapa di antara mereka
#8209; itulah nanti yang akan membentuk "inner circle" #8209; menjadi
orang#8209;orang terdekat #8209; pembisik#8209;pembisik #8209;#8209; di sekitar
presiden.
Jadi, misaInya, saya dapat mengenal siapa Wiranto lebih jelas, bukan terutama
karena Partai Golkarnya, atau karena Solahudin Wahid#8209;nya, tapi antara lain
berdasarkan partai#8209;partai mana saja yang mendukungnya (a.l. PKPB), dan
orang#8209;orang yang ada di Tim Suksesnya (a.l. Jendral Fahrurozy dan Letjen.
Suadi Marasabesy). SBY more than alright, tapi kenalkah kita siapa YK atau PBB
dengan YM#8209;nya?
Sekiranya semua ini kita lakukan, maka bagaimana kira#8209;kira hasil yang akan
kita peroleh? Berdasarkan semua kriteria yang saya sebutkan itu, saya akan
mengemukakan hasil penilaian ("obyektif') saya atas semua calon. Angka yang
akan saya berikan ada tiga macam, yaitu: #8209;#8209; angka 3 untuk kategori
"baik sekali"; #8209;#8209; angka 1 untuk kategori "sedang#8209;sedang saja";
dan angka 0 untuk "kurang/diragukan". Inilah hasilnya:
WIRANTO
Cawapres 1
Aksepta/Kredibi 0
Kapabi 1
Internasional 0
Partai Pendu. 0
Tim Sukses 0
MEGA
Cawapres 3
Aksepta/Kredibi 3
Kapabi 3
Internasional 3
Partai Pendu. 3
Tim Sukses 3
SBY
Cawapres 1
Aksepta/Kredibi 1
Kapabi 2
Internasional 3
Partai Pendu. 0
Tim Sukses 1
AMIEN
Cawapres 3
Aksepta/Kredibi 1
Kapabi 3
Internasional 1
Partai Pendu. 0
Tim Sukses 1
HAMZAH
Cawapres 1
Aksepta/Kredibi 1
Kapabi 1
Internasional 1
Partai Pendu. 1
Tim Sukses 0
RASIONAL DAN PROPORSIONAL
Hasil di atas menunjukkan bahwa pasangan Mega#8209;Hasyim memperoleh angka
tertinggi. Pertanyaannya adalah: apakah hasil ini sesuai dengan kenyataan yang
kita lihat? Saya tahu ada banyak sekali ketidak#8209;puasan #8209;#8209; bahkan
kekecewaan #8209; terhadap prestasi dan kinerja Megawati selama 3 tahun ia
menjadi presiden. Bahkan banyak yang sudah "patah arang" sehingga tiba pada
kesimpulan, "siapa saja asal jangan Mega lagi". Ini dapat saya mengerti.
Saya pun menyimpan amat banyak kekecewaan, dan dalam pelbagai kesempatan dan
forum mengemukakannya secara terbuka Kelambanannya bergerak. "Human dan Public
Relation"nya yang amat buruk. Ketidak#8209;pekaannya memanfaatkan kesempatan.
Dan yang paling mengecewakan, tentu saja adalah dibiarkannya korupsi kian
meluas dan mengakar menggerogoti hampir semua sektor dan aras kehidupan. Saya
juga gemas karena keluguannya dan kekakuannya. Mbok ya bisa acting sedikit
seperti SBY atau AR, Sebagai orang kristen tentu kita juga amat kecewa dengan
lolos dan diundangkannya SISDIKNAS yang kontroversial itu, walau jelas ini
berada di luar kontrolnya. Dengan jujur saya kemukakan, bahwa sekiranya saja
dalam pemilu ini ada pilihan lain yang lebih baik, pasti saya tidak akan
memilih Mega! Pasti! Tetapi Mega sekarang kan bukan Mega yang 3 tahun yang
lalu, karena saat ini Mega sudah didampingi oleh PARTAI DAMAI SEJAHTERA, itulah
bedanya dengan Mega tiga tahun yang lalu seperti tertulis di atas itu.
Jadi
kita tidak perlu meragukannya lagi.
Kalau kita memilih, tentu saja kita akan memilih yang terbaik, yang ideal. Tapi
ketika kita diperhadapkan pada pilihan antara "yang buruk" dan "yang buruk",
maka #8209; apa boleh buat #8209; pilihan kita lalu jadi terbatas pada memilih
"yang lebih kurang buruk"nya. Dan itulah situasi yang kita hadapi sekarang.
Pertanyaan yang paling pokok adalah: Apakah memilih Mega tidak berarti sama
dengan melanggengkan keadaan sekarang? Apakah tidak lebih baik bila #8209; demi
perubahan #8209;#8209; kita memberi kesempatan kepada yang lain? Tanggapan saya
adalah: cara berfikir seperti ini hanya benar, apabila kita memang berada dalam
situasi jalan buntu yang benar#8209;benar buntu. Bila Anda berada di
persimpangan jalan, dan diperhadapkan pada pilihan: ke kanan mati, ke kiri juga
mati tapi masih ada kemungkinan hidup #8209; walau amat kecil #8209;#8209;
maka, benar, pilihan kita tentu adalah belok kiri. Apalagi di kiri itu sudah
tersedia kendaraan dari PARTAI DAMAI SEJAHTERA yang siap untuk melayani seperti
Yusuf yang melayani Firaun.
Tapi apakah keadaan kita sekarang dapat digambarkan seperti itu? Di sini, kita
dapat mempunyai pendapat yang berbeda. Tapi anjuran dan imbauan saya adalah:
marilah kita #8209; secara kristiani bersedia lebih rasional dan proporsional
menilai pemerintahan sekarang.
PUNAI DI TANGAN
(a) prestasi pemerintahan ini sebenarnya tidak buruk#8209;buruk amat. Memberi
kesan buruk, karena "public relation" Mega yang amat buruk. Dan masyarakat
lebih banyak dicekoki dengan informasi#8209;informasi negatif, ketimbang
kenyataan yang sebenarnya. Fondasi ekonomi, stabilitas politik dan keamanan
sebenarnya telah berhasil dibangun cukup mantap.
(b) Tentu saja, yang belum baik masih jauh lebih banyak. Ya! Tapi jangan kita
lupakan, pemerintahan ini baru berjalan 3,5 tahun. Dan ia dimulai dari situasi
kemelut politik yang luar biasa pada waktu itu. Naiknya Mega adalah hasil
kompromi politik, sehingga baik susunan kabinetnya maupun
kebijakan#8209;kebijakan nya tidak dapat lain ya mesti dijalankan secara
kompromistis. Jadi, pemerintahan sekarang ini sebenarnya "bukan"lah
pemerintahan Mega, melainkan pemerintahan "koalisi pelangi" yang terbangun
secara oportunistis pada waktu itu. Kegagalan pemerintahan ini sebenarnya
adalah kegagalan bersama.
(c) Dalam suasana kekecewaan ini, yang agak sering kita lupakan adalah
sekiranya saja bukan Mega, tapi SBY atau Wiranto atau Amien Rais yang jadi
presiden selama ini, pastikah mereka akan dapat menyelesaikan
masalah#8209;masalah yang kini mereka limpahkan tangungjawabnya kepada Mega
soal pendidikan, pengangguran, KKN, hukum, dan sebagainya? Situasi Indonesia
kita ini telah demikian parah dan kompleksnya sehingga saya yakin, tak satu
malaikat pun sanggup menyelesaikan masalah Indonesia dalam 3 tahun!
(d) Jangan mudah percaya kepada janji#8209;janji sorga! Kalau ada sinshe atau
obat yang menjanjikan kesembuhan untuk semua penyakit, ini justru alasan yang
kuat untuk tidak mempercayainya! Yang kita hadapi sekarang ini adalah, memilih
antara "janji#8209;janji" manis yang sama sekali belum terbukti, dan,
"kenyataan#8209;kenyataan" yang walau mengecewakan tapi sebenarnya tidak
buruk#8209;buruk amat, yang kita alami selama ini. Menurut saya, karena toh
Mega tidak buruk#8209;buruk amat, dan ada tanda#8209;tanda bahwa kelemahan itu
akan dapat diisi kalau tidak oleh Hasyim Muzadi, oleh suatu susunan kabinet
yang tepat, maka jauh lebih bijaklah bila kita berpikir sederhana seperti
nasihat orang#8209;orang tua kita: "Jangan melepaskan punai di tangan, karena
mengharapkan burung terbang tinggi di angkasa". Kalau salah pilih RT atau RW
atau Lurah, masih okelah. Tapi kalau salah pilih presiden, pertaruhannya
sungguh sangat besar.
Kini perkenankanlah saya mengakhiri tulisan ini dengan sebuah permintaan yang
sederhana, tetapi sebenarnya inti yang paling hakiki dan paling penting dari
semua.
JANGANLAH BERHENTI BERDOA, MEMOHON AGAR TUHAN SENDIRI YANG MENETAPKAN
HAMBA#8209;NYA UNTUK MEMIMPIN NEGERI TERCINTA;
JANGANLAH BERHENTI BERDOA, MEMOHON AGAR KITA PEKA DAN DENGAR DENGARAN TERHADAP
KEHENDAK TUHAN, BETAPA PUN MUNGKIN BERLAWANAN DENGAN JALAN PIKIRAN ATAU
KEPENTINGAN KITA PRIBADI,
JANGANLAH BERHENTI BERDOA, MEMOHON AGAR KITA TIDAK SALAH PILIH, DAN AGAR RAKYAT
INDONESIA JUGA TIDAK SALAH PILIH!
Tanpa bermaksud mengklaim apa#8209;apa, apa lagi menyampaikan "fatwa", saya
hendak bersaksi bahwa saya tiba pada pilihan saya itu, tidak semata#8209;mata
berdasarkan pertimbanganpertimbangan akaliah saya, tetapi juga setelah melalui
pergumulan doa yang panjang dan sungguh#8209;sungguh. Baru kemudian saya diberi
tahu oleh beberapa kawan, bahwa banyak saudara-saudara seiman yang juga
menggumuli ini dalam doa dan puasa mereka, dan ... tiba pada pencerahan yang
sama.
Bagaimana bila ada saudara yang lain yang juga berdoa tapi "mendengar" jawaban
yang berbeda? Mungkin saja! Allah kita maha bebas, maha berdaulat, dan maha
kuasa! Bebas, berdaulat dan berkuasa untuk berbuat apa saja, Yang penting, Anda
berdoa. Mohon agar Roh Kudus memampukan Anda memanfaatkan akal sehat serta hati
nurani Anda untuk mengenali kehendak Allah!
Pilihan kita PDI-P yang dipimpin oleh Mega-Hasyim dan Hutasoit itu telah
dibawakan dalam doa dan puasa oleh seluruh PENDOA SYAFAAT dari PARTAI DAMAI
SEJAHTERA, baik di Indonesia maupun di MANCANEGARA, apakah doa dan puasa yang
dilakukan secara dahsyat ini bisa menghasilkan pilihan yang salah ? Saya rasa
kemungkinan salahnya adalah kecil sekali.
Adakah Calon lain yang didoakan dan dipuasakan oleh Pendukung Pendukungnya,
Pengurus Pengurusnya, Simpatisan Simpatisannya, Anggota Anggotanya bahkan
Pendoa Pendoa Syafaatnya dari dalam maupun dari luar negeri ? Doa orang benar
PASTI DIDENGAR OLEH ALLAH BAPA DI SORGA, AMIN !
Jakarta, 29 Juni 2004
---------------------------------
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Mengapa Saya Memilih Mega?