[ppi] [ppiindia] Mengapa Pemimpin Ingkar Janji?

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
RIAU POS

      Mengapa Pemimpin Ingkar Janji?


      Jumat, 03 Maret 2006  
      Berawal dari krisis ekonomi kemudian diikuti pula oleh krisis moral dan 
budaya, yaitu semakin menipisnya pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai 
moral dan budaya yang mereka miliki. Terakhir kita pun saat ini tengah dilanda 
oleh suatu krisis yang tak kalah hebatnya yaitu krisis kepemimpinan, yakni 
suatu krisis dimana masyarakat tidak lagi mampu memberikan kepercayaan terhadap 
pemimpin-pemimpin yang terpilih, walaupun pemimpin itu dipilih oleh rakyat 
secara aklamasi, namun pada saat yang sama, justru tidak lagi mendapat dukungan 
dari rakyatnya. 

      Kalau kita ikuti perjalanan sejarah kepemimpinan bangsa selama beberapa 
dekade, sulit rasanya untuk menemukan pemimpin yang nota bene memiliki 
prioritas serta intensitas yang tinggi terhadap kepentingan rakyat. Padahal 
jika dilihat individu dari pemimpin itu sendiri, sebagian besar di antara 
mereka adalah para ulama, karena mereka memiliki pengetahuan yang tinggi 
tentang masalah keagamaan, didukung lagi dengan sertifikasi pendidikan yang 
merupakan jebolan perguruan tinggi agama, tidak saja sekadar itu merekapun 
barani mengeluarkan "fatwa" dihadapan para jema'ah mereka tentang 
persoalan-persoalan keagamaan.

       Namun tatkala status mereka bertambah menjadi umara' (pemimpin), 
seolah-olah ada kecenderungan untuk meninggalkan fungsi mereka sebagai ulama. 
Betapa banyak para nabi dan rasul serta orang-orang zaman dahulu kala yang 
menerapkan prinsip penyatuan ini, Baginda Rasulullah SAW disamping seorang nabi 
dan rasul ia juga sebagai khalifah (pemimpin), Umar ibn Khattab disamping 
seorang khalifah ia pun seorang ulama, dan banyak lagi contoh lain dalam 
sejarah perkembangan peradaban Islam yang menerapkan prinsip penyatuan ini dalm 
menjalankan roda pemerintah. Akibatnya karena mereka lupa dengan fungsinya 
sebagai ulama.

      Persoalannya adalah mengapa mental seperti ini menggoroti sebagian besar 
para pemimpin kita, apakah kita sebagai rakyat yang salah dalam menentukan 
pilihan ataukah mungkin mereka itu tidak lagi komitmen dengan janji-janji 
mereka sehingga rakyat terkesan dilupakan bahkan tidak jarang rakyat dijadikan 
sebagai onjek penderita akibat kebijakan yang tidak bijaksana.

      Menyikapi fenomena ril di atas penulis ingin mengingatkan kita semua, 
sebagai rakyat agar kita tidak salah dalam menentukan sikap, serta keliru dalam 
menentukan pilihan setidaknya ada tiga paradigma utama yang harus kita jadikan 
acuan dalam menentukan seorang pemimpin, di antaranya. Pertama, memiliki 
komitmen untuk menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar artinya seorang pemimpin 
harus memiliki nyali dan keberanian untuk mengatakan bahwa yang benar itu 
salah, dengan siapapun ia berhadapan dan apapun yang ia hadapi, ia akan 
mengatakan ''ya'' terhadap yang benar dan ''tidak'' terhadap yang salah.

      Kedua, pemimpin yang menjunjung tinggi prinsip kejujuran dan keadilan. 
Artinya, seorang pemimpin yang adil itu adalah pemimpin yang menempatkan hukum 
di atas segala-galanya. Siapapun yang bersalah maka di saat itu ia harus 
mendapatkan hukuman, dan sebaliknya siapa saja yang tidak terbukti bersalah 
maka ia berhak untuk mendapatkan kebebasan. Prinsip ini pula yang menjiwai 
kepribadian Rasulullah SAW, tatkala ia menjadi seorang rasul dan khalifah, 
dalam sebuah kesempatan ia pernah mengeluarkan statement yang berbunyi 
''Kalaulah seandainya Fathimah anakku yang mencuri, maka sungguh akan kupotong 
tangannya.''  Ini adalah ungkapan yang sarat dengan komitmen untuk menjunjung 
tinggi nilai-nilai kejujuran dan keadilan.

      Ketiga, pemimpin yang memiliki azas kebersamaan. Artinya adalah pemimpin 
yang memiliki pandangan bahwa jabatan bukan segala-galanya, dan jabatan adalah 
sebuah amanah yang diberikan rakyat kepada dirinya karena ia dianggap mampu 
untuk memimpin, dan ia sadar sebelum menjadi pemimpin diapun adalah rakyat, 
maka dari pemahaman seperti ini, akan muncullah sikap kebersamaan antara 
pemimpin dengan rakyatnya. Implikasi berikutnya adalah memperkecil jarak antara 
ia dengan rakyatnya, bahkan ia tidak akan segan-segan untuk melakukan sesuatu 
perbuatan yang munurut pandangan sebagian orang ''tidak pantas dilakukan oleh 
seorang pejabat''. Prinsip inilah ynag kemudian mewarnai pola pemerintahan yang 
diterapkan oleh Umar ibn Khattab tatkala ia menjadi khalifah, setiap kebijakan 
yang dikeluarkannya senantiasa mendapatkan dukungan dari rakyatnya dan nyaris 
tidak pernah ada rakyat yang kecewa dan dirugikan akibat keputusannya, karena 
demikian dekatnya umar dan rakyatnya sehingga rakyat mer
 asakan betapa mereka berada dalam naungan sang khalifah yang memiliki jiwa 
kerakyatan yang tinggi.

      Sebuah riwayat mengisahkan. ''Tatkala Umar ibn khattab malakukan inspeksi 
ke lapangan, dan didapatinya sebuah rumah seorang perempuan tua yang sedang 
memeluk anaknya, sedangkan anaknya itu tak henti-hentinya menangis sambil 
mengatakan ''lapar,lapar, dan lapar.'' Sedangkan dihadapannya terdapat sebuah 
tungku yang dinyalakan api, di atasnya terdapat periuk, suatu petanda ada 
sesuatu yang sedang dimasak. Lama sekali Umar memperhatikan peristiwa tersebut, 
namun perempuan tua itu tidak kunjung memberikan makanan yang ia masak kepada 
anaknya, sehingga pada akhirnya anaknya itupun tertidur. Kemudian Umar segera 
masuk ke dalam rumah itu dan menanyakan kepada perempuan tua tersebut. Kenapa 
anakmu menangis? Perempuan tua itu menjawab. Ia menagis karena lapar. Lalu umar 
kembali bertanya kenapa engkau tidak menghidangkan apa yang sedang engkau masak 
itu pada anakmu? Ia menjawab, aku meletakkan periuk di atas tungku, dan 
memasukkan air ke dalam periuk, kemudian memasukkan batu ke da
 lam air itu, supaya anakku menyangka bahwa periuk itu ada makanan yang sedang 
dimasak, kemudian ia menunggu dan menunggu sampai pada akhirnya ia tertidur. 
Inilah yang sering saya lakukan ketika anak saya menangis meminta makanan 
karena lapar. Umar kemudian bertanya lagi kenapa semua ini engkau lakukan? 
Perempuan itu menjawab, karena kami adalah orang miskin yang tidak mampu untuk 
mencukupi keperluan hidup sehari-hari, sedangkan penguasa kami adalah orang 
yang zalim, yang tidak pernah tahu bagaiman penderitaan rakyatnya. Mendengar 
ungkapan itu secara spontan umar keluar dari rumah perempuan tua itu dan segera 
menuju ke Baitulmal, kemudian beliau kembali dengan memikul dipundaknya sendiri 
satu karung gandum dan diserahkannya pada perempuan tua tersebut seraya 
berkata. Wahai perempuan tua aku adalah Umar, penguasa zalim yang engkau 
maksudkan, mendengar ucapan tersebut perempuan tua itu gemetar dan langsung 
bersujud dihadapan umar, seraya minta maaf atas segala ucapan yang telah
  dikeluarkannya. Ternyata penguasa yang ia anggap zalim itu adalah seorang 
yang mulia dan penuh perhatian pada rakyatnya, kemudian Umar duduk dan 
melanjutkan pembicaraannya, aku sangat berterima kasih karena engkau 
membangunkan aku dari kelalaianku, aku tidak tahu sebesar apa azab yang akan 
aku pikul diakhirat nanti, jika seandainya aku melalaikan tugas yang 
diamanahkan rakyat kepadaku.''

      Demikianlah ungkapan seorang penguasa yang menjunjung tinggi prinsip 
kebersamaan. Prinsip inilah yang harus dijadikan moral dasar seorang pemimpin, 
jika ia ingin mendapatkan simpatik dan dukungan dari rakyatnya, sebaliknya jika 
ada pemimpin yang memegang jabatan tanpa dilandasi oleh prinsip tersebut, maka 
sesungguhnya ia telah zalim pada dirinya dan kepada rakyat yang dipimpinnya. ***


       Khairul Akbar El Islami, pegawai SMP IT Al Ittihad Rumbai 
     


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: