[ppi] [ppiindia] Menelusuri Kabar 3 mahasiswa Asal Papua yang Lari Mencari Suaka ke PNG
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 29 Mar 2006 01:07:10 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
CENDRAWASIH POS
Rabu, 29 Maret 2006
Menelusuri Kabar 3 mahasiswa Asal Papua yang Lari Mencari Suaka ke PNG
Hanya Nelayan yang Terdampar, Tapi Cosmos Yuel Memang Buron
Ketika berita 42 warga Papua yang mencari suaka resmi diberi visa sementara
oleh Australia masih santer dibicarakan seluruh rakyat di Indonesia, tiba-tiba
dihebohkan lagi dengan kabar 3 mahasiswa asal Papua mencari suaka politik ke
PNG. Sejah mana kebenarannya? Berikut hasil penelusuran Cenderawasih Pos.
Laporan Rahmatia, Jayapura
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di
Port Moresby dan Konsulat Republik Indonesia (KRI) Vanimo, Papua New Guinea
(PNG) mengakui ada tiga orang mahasiswa asal Papua yang telah berada di Papua
New Guinea untuk meminta suaka politik. Ketiganya diduga bernama. Cosmal Yual,
Lidya dan Linda. Namun itu dinyatakan tidak benar.
Tapi adanya berita yang menyatakan bahwa ada tiga mahasiswa yang menyeberang ke
PNG untuk minta suaka politik pasca bentrok di Abepura 16 Maret lalu, dibantah
oleh Duta Besar RI untuk PNG dan Polda Papua. Baik Dubes RI maupun Polda Papua,
tidak menemukan warga Papua terlebih mahasiswa asal Jayapura yang datang ke PNG
untuk minta suaka.
Dubes Ad Interim RI Untuk PNG, Pratito menjelaskan, hingga kemarin tidak ada
warga Papua yang minta suaka politik ke PNG. "Tidak benar itu. Tidak ada orang
Papua yang ke PNG minta suaka. Belum ada yang kesana, saya sudah konform
masalah ini dengan pihak PNG, tapi tidak ada warga Papua yang mencari suaka di
PNG," kata Pratito menjawab Cenderawasih Pos di Gedung Negara (Dok V Jayapura),
Selasa (28/3) kemarin.
Ditambahkan bahwa kalau ada tiga orang Papua yang tiba di PNG, memang benar.
Tapi tiga orang tersebut adalah nelayan yang terdampar. "Mereka adalah Asri,
Yusuf dan Ansor. Mereka sedang menjalani perawatan dan akan kita pulangkan ke
Jayapura (ke Hamadi)," tuturnya.
Lebih jauh dikatakan, orang Indonesia (Papua) yang tinggal di PNG, memang cukup
banyak. Namun untuk mahasiswa asal Papua yang hendak mencari suaka kesana
sampai saat ini tidak ada.
"Kalau orang Indonesai asli dari sini (Papua) khususnya di Vanimo, banyak
sekali. Tapi kan kita punya border (kerja sama), sehingga mereka bisa lintas
saja tanpa Paspor. Cukup dengan menggunakan kartu merah," jelasnya.
Kata Pratito, sejauh ini Pemerintah PNG sangat kooperatif dan mendukung penuh
NKRI. "Jadi tidak ada orang Papua yang lari ke PNG (Pasca Bentrok di Abepura).
Itu mungkin orang Papua, tapi tanahnya memang di sana. Jadi mereka bebas saja,"
ujarnya lagi. Berkali-kali Pratito mengingatkan bahwa tidak ada warga Papua
yang lari ke PNG. "Nggak ada, nggak ada apa-apa di sana (PNG)," tukasnya.
Menyinggung apakah 42 orang pencari suaka di Australia kemungkin sebagian dari
PNG atau mereka orang Papua tetapi tinggal di PNG, Pratito mengatakan tidak
tahu.
"Kami belum tahu siapa mereka, yang jelas bukan orang PNG dan kami juga tidak
tahu asal usul mereka. Tentang siapa mereka, kami sedang cari siapa. Orang PNG
tidak ada yang kehilangan keluarganya. Ada yang bilang dari Merauke, Manokwari,
Sorong, tapi tetap saja belum jelas," tuturnya.
Meski begitu, Pratito melihatnya kalau masalah tersebut merupakan suatu
rekayasa yang sengaja diciptakan untuk mengacaukan situasi di Indonesia
khususnya di Papua. "Kalau saya menilai ini ada rekayasa," tandasnya.
Menurut Pratito, dalam bulan-bulan ketika isu itu merabak, untuk ke Australia
dari Papua sangat sulit karena ombak sangat tinggi dan berbahaya. "Dari Merauke
(Papua) sampai kesana (Australia) itu ombaknya tinggi. Nah mungkin nggak mereka
itu, hanya dengan perahu kecil melintasi ombak yang tingginya 5 meter.
Sedangkan beberapa staf teman-teman saya waktu repatriasi dari Daru (PNG)
sampai ke Merauke saja ombaknya tinggi dan besar pada bulan yang sama, apa
mungkin itu," terangnya.
Baginya hal ini adalah suatu rekayasa, sehingga tercipta suasana seperti
sekarang ini. "Apa ini bukan suatu rekayasa. Tapi apakah mereka itu sudah ada
yang mengatur, sehingga mereka ditaruh dan diambil. Ini kita bicara sebagai
orang awam," katanya lagi. Namun begitu, sekali lagi ia menegaskan bahwa
Pemerintah PNG sangat mendukung Pemerintah RI untuk menyelesaikan masalah
tersebut.
Secara terpisah Direktur Reskrim Polda Papua, AKBP Drs. Paulus Waterpauw, juga
membantah adanya kabar tiga mahasiswa yang minta suaka politik ke PNG. Apalagi
disebutkan dengan jelas namanya Cosmal Yual, Lidya dan Linda.
"Memang Cosmos Yuel dan Heni Lani masuk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang),
namun keberadaan mereka saya perkirakan masih di sekitar Jayapura. Mereka ini
tidak menyeberang ke PNG. Itu hanya isu yang sengaja dihembuskan," kata
Waterpauw.
Dikatakan, untuk memastikan informasi tentang tiga mahasiswa yang minta suaka
ke PNG, pihaknya telah bertemu dengan salah seorang staf kedutaan RI di PNG dan
staf kedutaan itu menyatakan tidak ada tiga mahasiswa yang minta suaka ke PNG.
"Memang ada tiga orang yang masuk ke Pulau Manus, namun mereka adalah nelayan
yang terdampar dan dalam waktu dekat akan segera dipulangkan," tuturnya.
Dengan kenyataan ini, maka menurut Direskrim, bahwa tiga mahasiswa yang minta
suaka ke PNG itu adalah sebuah isu saja. "Isu yang dikembangkan itu memang
sangat menyesatkan dan tidak realistis," ucapnya sedikit kesal.
Sementara saat ditanya soal rencana penambahan jumlah DPO yang diperkirakan
antara 4 hingga 5 orang, pihaknya menyatakan yang sudah ditetapkan dalam DPO
hanya 4 orang saja. "Dari 4 orang itu, 3 diantaranya adalah masyarakat umum dan
1 sisanya adalah berstatus mahasiswa," terang Waterpauw.
Terkait proses penyidikan, lanjut Waterpauw, yang terpenting adalah dari segi
kualitas, bukan dari segi kuantitas tersangkanya. "Kami tidak terpaku pada
banyaknya jumlah tersangka yang berhasil ditangkap, tetapi yang terpenting
adalah mengejar para otak di balik kasus ini. Karena itu bagi mahasiswa yang
tidak ada hubungannya dengan aksi bentrok tersebut supaya kembali ke kampus dan
melakukan aktivitasnya seperti biasa," ajaknya.
Secara terpisah salah seorang mahasiswa Uncen dari FISIP Uncen, Marinus
Bompaymengatakan, jika memang dikatakan tiga mahasiswa itu ada yang bernama
Lidya mungkin benar dia adalah mahasiswi Uncen.
Menurutnya, jika benar Lidya yang ia dikenal itu, maka ia adalah tercacat
sebagai mahasiswa FISIP di Universitas Cenderawasih. Sementara Linda sebagai
siswa di SMA YPPK Taruna Bhakti Waena (bukan mahasiswa), sedangkan Cosmos Yual
secara pasti dia tidak tahu kuliah di mana.
"Kalau orangnya kami tahu, ada mahasiswa, ada siswa dan sementara satunya kami
tidak tahu. Tapi kalau soal apakah lari ke PNG meminta suaka karena alasan
tertentu itu yang kami juga tidak tahu sampai sekarang," katanya yang diiyakan
oleh teman-temannya.
Hal yang sama dikatakan, Rudi Mebri. Mahasiswa Universitas Saint Teknologi
Jayapura (USTJ) ini mengaku mengenal mereka. "Kalau Linda dan Lidya saya tahu,
satu mahasiswa Uncen dan satu SMA YPPK Taruna Bhakti Waena. Kalau Cosmos ini
memang saya kenal orangnya tapi kuliah dimana itu yang saya tidak tahu,"
katanya.
Sementara itu Rektor Universitas Cenderawasih Prof Dr. Bert Kambuaya, M.BA saat
dikonformasi tentang adanya mahasiswa yang ingin meminta suaka ke PNG tersebut
belum mengetahui adanya informasi tersebut.
"Sampai sekarang saya juga belum mendegar kalau ada mahasiswa kami yang ingin
meminta suaka politik, nanti kami cari tahu. Tapi alasan untuk minta suaka
politik juga tidak ada jelas, dan itu bukan gampang," ujarnya singkat.
(dibantu mahfur rohman, fiktor palembangan, m.nur)
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Menelusuri Kabar 3 mahasiswa Asal Papua yang Lari Mencari Suaka ke PNG