[ppi] [ppiindia] "Menelanjangi" Capres Tanpa Misi Kampanye
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 2 Apr 2004 12:26:46 +0200
** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
http://www.suarapembaruan.com/News/2004/04/02/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
--------------------------------------------------------------------------------
Kupas Tuntas Calon Presiden
"Menelanjangi" Capres Tanpa Misi Kampanye
Pembaruan/Alex Suban
KUPAS TUNTAS - Presiden RI Megawati Soekarnoputri didampingi mantan Menko
polkam Susilo Bambang Yudhoyono pada sebuah latihan TNI AL di laut Jawa
beberapa waktu lalu. Keduanya diundang dalam acara "Kupas Tuntas Calon
Presiden" yang ditayangkan di "Trans TV" setiap Senin pukul 22.30 wib mulai 5
April 2004.
Demokrasi di Indonesia semakin berkembang. Menjelang Pemilihan Presiden RI
Periode 2004-2009 pada 5 Juli 2004, Trans TV akan menggelar acara bertajuk
Kupas Tuntas Calon Presiden selama tujuh minggu berturut-turut. Tayangan
perdana akan digelar pada 5 April dan berlangsung setiap Senin pukul 22.30 WIB
hingga 17 Mei dengan durasi selama satu jam. Tayangan ini ditujukan untuk
mengedukasi masyarakat seputar calon presiden. Formatnya menelanjangi capres
tanpa misi kampanye.
Tujuh calon presiden dipilih untuk tampil di acara ini. Syuting akan dilakukan
di tujuh universitas. Untuk tayangan perdana, akan tampil Wiranto, calon
presiden dari Konvensi Golkar, berhadapan dengan civitas akademika Universitas
Airlangga, Surabaya Jawa Timur. Selanjutnya, berturut-turut adalah Susilo
Bambang Yudhoyono (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta), Jusuf Kalla
(Universitas Sumatera Utara, Medan), Akbar Tandjung (tempat masih dalam
konfirmasi), Siti Hardiyanti Rukmana (Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat),
Amien Rais (Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat), dan Megawati Soekarnoputri
atau Taufiq Kiemas (masih dalam konfirmasi, Universitas Indonesia, Jakarta).
Menurut Direktur Pemberitaan Trans TV, Riza Primadi, tujuh capres yang
ditampilkan dipilih berdasarkan kontroversi masing-masing. Mereka kemudian
dihadirkan di depan publik yang bukan merupakan basis kekuatannya. Karena itu,
Amien Rais, misalnya, tidak dihadirkan di Yogyakarta, melainkan di Bandung.
Para capres bisa mendapat kritikan yang tajam dan menarik sehingga menjadi
tayangan menarik sebagai tontonan.
"Kami ingin, para capres ini bisa menjawab keingintahuan masyarakat, terutama
dari kalangan mahasiswa. Pasti banyak yang penasaran, kenapa Wiranto atau Mbak
Tutut mencalonkan diri sebagai presiden? Kalau capres lain seperti Hidayat Nur
Wahid kan orangnya lurus-lurus saja dan tidak kontroversial. Pemilihan
perguruan tinggi sebagai lokasi adalah karena kampus merupakan entitas yang
paling netral dari kepentingan politik. Kami juga berharap, dialog antara
capres dan para hadirin bisa berlangsung kritis dan konstruktif," jelas Riza
dalam jumpa pers, di Jakarta Senin (29/3).
Riza menambahkan, ajang ini bukanlah sebagai kampanye masing-masing capres.
Ibaratnya, mereka akan "ditelanjangi" di depan forum karena tingkat
intelektualitas dan kemampuan retorika masing-masing akan diuji di bawah
tekanan publik mahasiswa yang begitu kritis.
"Formatnya tetap seperti Kupas Tuntas reguler, yakni program talkshow dengan
liputan mendalam. Untuk visi dan misi tiap-tiap capres, kami tidak akan
membiarkan si capres berbicara. Visi dan misi mereka akan kami kemas dalam
ringkasan tayangan visual, sehingga tempo acara pun bisa berlangsung dengan
cepat. Ini bukan acara debat, tapi mungkin sebagai embrio debat Capres seperti
yang ada di luar negeri khususnya Amerika Serikat (AS)," lanjut Riza.
Yang berbeda, Kupas Tuntas Calon Presiden ini ditayangkan secara tunda, tidak
secara langsung seperti Kupas Tuntas reguler. Alasan yang diajukan pihak Trans
TV lebih menyangkut kendala teknis, bukan kendala politis. Karena Kupas Tuntas
memiliki slot tayang malam hari, amat mustahil jika syuting digelar secara
langsung di universitas-universitas. Oleh karena itu, syuting pun dilaksanakan
setiap Sabtu siang di universitas yang dipilih, kemudian baru disiarkan Trans
TV pada Senin malam.
"Tidak ada proses editing dalam syuting ini. Kami menggunakan sistem live on
tape. Seluruh yang terjadi pada saat syuting, direkam oleh kamera dan akan
disiarkan tanpa edit," jelas Endah Saptorini, produser Kupas Tuntas Calon
Presiden.
Pemilihan waktu tayang juga dilakukan seteliti mungkin. Pasalanya tokoh-tokoh
yang dihadirkan adalah orang sangat sibuk. Tim produksi mengaku cukup kewalahan
dengan pengaturan jadwal. Apalagi, banyak detil yang harus diperhatikan. Untuk
para capres yang ikut Konvensi Golkar, misalnya, Trans TV berusaha keras agar
mereka bisa tampil sebelum Konvensi digelar. Kupas Tuntas Calon Presiden juga
sengaja digelar setelah pemilu legislatif. Sehingga, tayangan ini tidak akan
mempengaruhi jumlah suara yang dikumpulkan tiap partai.
Kemudian, ada juga kendala dengan capres yang berasal dari partai baru yang
riskan untuk gagal meraup suara minimal tiga persen. Seperti diketahui, para
capres baru bisa lolos ke ajang Pemilihan Presiden jika partai yang mencalonkan
mereka bisa mendapatkan suara sebanyak minimal tiga persen. Dalam jajaran
capres yang dihadirkan Trans TV, terdapat dua nama, yakni Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) dan Mbak Tutut .Untuk ini, tim produksi menyiasati dengan dua
cara.
"SBY sengaja kami tampilkan di minggu kedua April. Kami prediksi, saat itu
hasil penghitungan suara dari KPU belum selesai, sehingga kalaupun Partai
Demokrat tidak bisa meraih suara tiga persen, setidaknya SBY sudah ditayangkan
dalam Kupas Tuntas Calon Presiden. Sementara itu, kami cukup yakin bahwa Mbak
Tutut bisa lolos ke pemilihan Presiden. Kalaupun dia gagal, kami sudah ada
cadangan, yakni Capres dari PKB, Gus Dur. Saat ini, Gus Dur tidak kami pilih
karena belum ada kejelasan dari KPU, apakah Gus Dur layak dicalonkan atau
tidak, dengan kendala kesehatannya," jelas Rizal Mustari, host Kupas Tuntas.
Kontroversial
Selain itu, karena para capres yang dihadirkan cukup kontroversial, seperti
Wiranto, Mbak Tutut dan Akbar Tandjung, tim produksi juga mengaku cukup pusing
dengan pengaturan lokasi. Negosiasi pun tidak hanya dilakukan dengan para
capres yang akan tampil saja, tapi juga dengan rektor dan civitas academia
universitas yang diplot untuk lokasi syuting. Untuk menghindari hal-hal yang
tidak diinginkan, pihak Trans TV dan rektor masing-masing universitas sudah
meneken perjanjian tertentu.
Rizal Mustari mengakui, anggaran yang disiapkan untuk acara ini memang cukup
besar. Untuk tujuh episode saja, tim produksi diprediksi bakal menghabiskan
sekitar 1,5 miliar rupiah. Namun, ini tak berarti serta merta Trans TV membuka
kesempatan kepada salah satu capres untuk mensponsori acara ini. Dengan
menjunjung tinggi konsep idealisme, Rizal tidak mau ada sepeser pun uang para
capres yang terpakai untuk biaya produksi.
"Mulai dari hotel, akomodasi dan transportasi, semua kami yang membayar. Pihak
capres kami perlakukan sebagai bintang tamu biasa. Kami tidak mau menerima uang
sepeser pun sehingga kami bisa didikte. Tayangan ini kan bertujuan untuk
"menguliti" si capres, bukan kampanye mereka. Untuk slot iklan, kami membuka
kepada siapa saja yang ingin beriklan. Kalau acara ini sukses, tak tertutup
kemungkinan kami akan memperpanjangnya menjadi lebih dari tujuh episode,"
lanjut Rizal. (ID/W-8)
--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 2/4/04
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] "Menelanjangi" Capres Tanpa Misi Kampanye