[ppi] [ppiindia] Meneguhkan Islam Rahmatan lil 'Alami
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Tue, 24 Feb 2004 21:26:31 +0100
** ppi-india **
Republika
Selasa, 24 Februari 2004
Meneguhkan Islam Rahmatan lil 'Alamin
Oleh : Mohamad Guntur Romli
Judul tulisan ini diilhami dari tema besar International Conference of
Islamic Scholars (ICIS) yang akan dilaksanakan oleh Pengurus Besar Nahdlatul
Ulama (PBNU) di Jakarta tanggal 23-26 Februari 2004. Konferensi
internasional ini diproyeksikan sebagai multaqa al-fikir (forum pemikiran)
para sarjana muslim dari pelbagai penjuru dunia untuk meneguhkan kembali
Islam sebagai ajaran universal yang mampu menembus sekat-sekat ruang dan
waktu (shalihun li kulli zaman wa makan). Dari Malaysia PM Abdullah Badawi
sebagai ketua OKI siap hadir.
Sedangkan dari Mesir telah bertolak Rektor Universitas al-Azhar, Prof
Dr Ahmad Thayyib bersama empat orang pemikir Mesir sebagai delegasi al-Azhar
untuk menghadiri konferensi tersebut. Perhelatan pemikiran akbar tersebut
memiliki dua tujuan global. Pertama, bisa disebut tujuan "tersurat", dan
kedua, tujuan "tersirat".
Tujuan tersurat adalah gagasan dan idealisme yang tertuang dalam
bentuk tulisan resmi term of reference acara ini. Yaitu sebagai upaya
rekonstruksi pemikiran keagamaan dan ekplorasi ajaran Islam yang kaya nilai
kemanusiaan. Namun tidak cukup dalam bursa ide dan gagasan tetapi juga
merumuskan aksi-aksi praksis yang bisa mengembangkan dan mengaktualkan Islam
sebagai rahmatan lil 'alamin.
Konvergensi otentisitas dan modernitas
Pada hakikatnya gagasan ini merupakan pengembangan dari problematika
sentral (al-isykaliyat al-markaziyah) relasi antara otentisitas (al-ashalah)
ajaran Islam dengan tuntutan modernitas (al-mu'asharah). Bagaimana
merumuskan ide dan sikap untuk menjaga Islam yang mampu mengadopsi
nilai-nilai kemajuan tanpa harus meninggalkan tradisi klasik yang orisinal.
Dalam bahasa yang lebih familiar bagi jamaah Nahdlatul Ulama adalah
al-muhafadzah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdz bi al-jadid al-ashlah
(menjaga nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang
lebih baik). Menurut Pemikir Mesir, Prof Hassan Hanafi, terdapat tiga model
relasi antara tradisi dan modernitas yang menjadi acuan umat dewasa ini.
Pertama "model keterputusan" (al-namudzat al-inqitha'i) adalah model yang
memutuskan antara tradisi dan modernitas.
Sikap ini diaplikasikan masyarakat Barat dengan konsep sekularismenya
yang memisahkan antara tradisi klasik dengan nilai-nilai modern. Bagi
mereka, tradisi sangat identik dengan kemunduran dan kejumudan. Dalam abad
modern, masyarakat Barat tidak menyisakan tempat sedikit pun bagi tradisi.
Kedua, "model berdampingan" (al-namudzat al-tajawuri) adalah model yang
mensejajarkan kedudukan tradisi dan modernitas, tidak ada yang lebih
diunggulkan dari yang lain.
Sikap ini diterapkan oleh masyarakat Jepang dan Cina, yang mampu
menjaga tradisi mereka tanpa harus terganggu dengan adanya nilai-nilai
modern. Kedua model di atas memiliki kekurangan dan kelemahan yaitu, tidak
ada interaksi aktif dan dialog kritis antara tradisi dan modernitas. Pada
model pertama, hubungan antara tradisi dan modernitas adalah hubungan
antagonis dan konfrontatif.
Sedangkan pada model kedua, meskipun tradisi dan modernitas tidak
saling bermusuhan dan menegasikan tetapi keduanya tidak mampu berinteraksi
secara aktif dan membuahkan, tapi pasif, mandul, dan "cuek". Sedangkan model
relasi yang ideal antara tradisi dan modernitas adalah "model kesinambungan"
(al-namudzat al-tawashuli) yang mampu melahirkan "tradisi baru" sebagai buah
"perkawinan" antara tradisi klasik dan modernitas.
Agama dalam konteks ini ibarat makhluk hidup yang berkembang-biak
untuk mempertahankan eksistensinya. Agama bukan semacam arca klasik dan
usang yang mencoba terus bertahan tanpa berdialog dengan tempat yang
dipijak. Agama juga bukan "barang" yang tiba-tiba muncul dan baru sehingga
umat manusia merasa aneh dengan kehadirannya. Jika ingin mengaplikasikan
"model kesinambungan", Islam saat ini adalah "anak" yang berasal dari bapak
dan ibunya; tradisi dan modernitas.
Sedangkan tujuan "tersirat" dari konferensi ini adalah pertimbangan
geo-politik global dan lokal. Tujuan politik yang saya maksud bukan tujuan
politik pragmatis yang menjadi ideologi politikus Indonesia saat ini.
Berpolitik demi tujuan sesaat untuk meraih kekuasaan dengan cara-cara yang
korup. Tujuan politis konferensi ini sebagai penyeimbang kebijakan politik
luar negeri negara-negara adidaya di dunia yang sering memojokkan dan
merugikan Islam.
Sejak peristiwa 11 September dan bom Bali, Islam dipandang oleh
masyarakat dunia sebagai "agama laknat" bukan "agama rahmat". Dengan adanya
konferensi ini paling tidak tercipta opini yang positif bagi masyarakat
dunia bahwa Islam adalah rahmat dan ramah, bukan laknat dan pemarah. Islam
juga tidak penah melegitimasi aksi-aksi kekerasan, dan terorisme. Sedangkan
dalam konteks lokal menjelang Pemilu tidak meniscayakan terjadinya
politisasi agama termasuk Islam.
Dalam posisi yang ironis ini, umat tidak lagi mampu menangkap secara
jernih pesan-pesan luhur dan universal Islam, tetapi yang terjadi sebaliknya
pendangkalan pemahaman umat terhadap Islam akibat terkontaminasi kepentingan
ideologi dan tujuan politik kelompok tertentu. Dalam kondisi ini, Islam
tidak akan menjadi simpul ikatan bagi keragaman komunitas (jamaah) Islam,
tetapi menjadi potensi konflik intern (antarmuslim) dan konflik ekstern
(antarmuslim dan non-muslim). Nah, konferensi ini berupaya meneguhkan
kembali "khittah" Islam sebagai ajaran mondial dan menjadi berkah bagi
seluruh alam semesta.
Merumuskan Islam sebagai rahmat
Bagaimana menjadikan Islam sebagai rahmat bagi alam? Sebagai langkah
pertama, perlu bertolak dari gagasan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi yaitu
memahami dan menjadikan Islam sebagai kekuatan ajaran, bukan kekuatan
gerakan. Gagasan ini sangat penting karena ada perbedaan sangat mendasar
antara Islam sebagai ajaran dengan Islam sebagai gerakan. Islam sebagai
ajaran bisa meluas, menyerap, dan menembus lintas ruang dan waktu (passing
over).
Sedangkan Islam sebagai gerakan telah mempersempit ajaran Islam
menjadi milik kelompok tertentu. Tidak jarang antara gerakan-gerakan yang
mengatasnamakan Islam tersebut terlibat konflik kekerasan akibat pebedaan
politik dan kepentingan. Langkah kedua adalah sikap keberagamaan yang
menjungjung tinggi nilai-nilai tawassuth (moderat), tasamuh (toleran),
tawazun (seimbang), dan i'tidal (konsisten).
Tidak cukup pada nilai-nilai tersebut tetapi juga kemampuan umat
mengadopsi nilai-nilai masyarakat modern, seperti demokrasi, HAM,
rasionalitas, civil society, keterbukaan, dan lain-lain. Langkah ketiga
adalah kemampuan Islam melestarikan persaudaraan (ukhuwah) dalam diri umat
manusia. Seperti yang pernah disampaikan almarhum KH Ahmad Siddiq, terdapat
tiga ukhuwah yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Pertama persaudaraan keislaman (ukhuwah Islamiyah), kedua,
persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah), dan persaudaraan kemanusiaan
(ukhuwah basyariah). Jika Islam mampu merawat dan melestarikan nilai-nilai
persaudaraan tersebut, maka, dapat dipastikan Islam akan menjadi rahmat dan
berkah bagi semuanya, tidak sekadar bagi umat Islam sendiri.
Mahasiswa Filsafat Universitas al-Azhar, Mesir Aktivis Muda NU Mesir
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Meneguhkan Islam Rahmatan lil 'Alami