[ppi] [ppiindia] Mencetak Manusia Suci Dengan Puasa
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 21 Oct 2005 00:51:18 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**REFLEKSI: Alangkah hebat kalau Pak Harto dan konco-konco berkuasa berubah
menjadi manusia-manusia suci, lalu karena kesucian ini mereka kembalikan semua
harta umat [rakyat] yang selama ini dimiliki dengan cara KKN, pasti kita
semua gembira dan bangga serta panjatkan syukur kepadaNya bahwa harapan
kemakmuran telah berada diambang pintu.
http://www.indomedia.com/bpost/102005/21/opini/opini2.htm
Mencetak Manusia Suci Dengan Puasa
Oleh : Yulia Hafizah MEI
Puasa, yang sekarang dijalankan umat Islam di seluruh dunia, merupakan ibadah
wajib (mahdhah) yang diyakini berfungsi tidak hanya sebagai ritual rutin yang
harus dilaksanakan setiap individu muslim sebagai wujud penghambaannya kepada
Tuhan semata. Tetapi lebih dari itu, ia memiliki semacam metode dalam rangka
membangun kualitas kepribadian seorang muslim yang unggul dan tangguh.
Proses pembinaan mental dan kepribadian dalam Islam bersifat kontinyu, dan tak
mengenal istilah henti (long life education). Secara harian, proses ini
dimanifestasikan dalam ritual shalat, setidaknya selama lima kali sehari
semalam. Untuk bulanan, ada ibadah puasa yang menggembleng seorang muslim
selama satu bulan penuh pada Ramadhan. Untuk tahunan, yaitu zakat. Kemudian
yang sifatnya sekali seumur hidup, yaitu perjalanan ibadah haji.
Semua bentuk ibadah di atas, terangkum dalam Rukun Islam yang merupakan
kewajiban setiap muslim yang aqil dan baligh untuk ditunaikan. Proses
pendidikan semacam ini yang diterapkan Rasulullah SAW, yang kemudian
mengantarkan kepada kejayaan umat Islam (the golden age). Oleh karenanya,
penelusuran atas hikmat yang dikandung masing-masing ibadah ini menjadi sesuatu
yang penting sekali. Terlebih saat ini, umat Islam berada di Bulan Ramadhan,
suatu bulan istimewa yang penuh berkah dan kemuliaan.
Tulisan ini secara sederhana membahas kaitan antara puasa sebagai kewajiban
setiap muslim di Bulan Ramadhan, dengan kesucian (fithrah) yang akan diperoleh
pelakunya selepas Ramadhan.
Kewajiban Semua Makhluk
Puasa sebagai suatu perintah yang diwajibkan atas setiap orang beriman terdapat
dalam Firman Allah: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu
bertaqwa." (QS Al-Baqarah: 183).
Berangkat dari pemahaman pada ayat tersebut, dapat diketahui, puasa bukan suatu
bentuk ibadah yang khas dimiliki umat Islam saja. Bisa dipastikan, tidak ada
satu agama pun di dunia ini yang tidak memiliki ritual bernama puasa. Bukan
hanya manusia, binatang pun pada saat-saat tertentu menjalani ritual yang satu
ini. Misalnya, ulat akan berpuasa sebelum menjadi seekor kupu-kupu. Begitu juga
ular sewaktu mengganti kulit, akan berpuasa sebelumnya.
Meski ada perbedaan dalam praktiknya, namun ada satu benang merah yang
menghubungkan antara bermacam ritual puasa, yaitu pada dasarnya semuanya
memiliki orientasi untuk peningkatan kualitas tertentu bagi pelakunya. Baik
sifatnya fisik maupun psikis, duniawi (profan) maupun yang memiliki unsur
transenden.
Dalam Islam, kualitas yang ingin dicapai dari berpuasa adalah taqwa. Ini adalah
kualitas tertinggi yang bisa diraih manusia sebagai hamba Allah. Tidak ada
kualitas yang lebih mulia dan lebih tinggi dari itu. Bagi mereka yang
memperoleh kualitas demikian, janji Allah berupa surga akan diberikan padanya.
Firman Allah SWT: "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan (maghfirah) dari
Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan
untuk orang-orang yang bertaqwa." (QS Ali Imran: 133).
Dalam Perspektif Islam
Perintah puasa dalam Islam ditujukan kepada orang beriman. Di sini unsur iman
menjadi parameter utama. Mengapa? Karena, puasa tidak seperti ritual ibadah
mahdhah lainnya, ia memiliki unsur 'kerahasiaan' yang sangat kuat. Puasa adalah
ibadah yang sangat personal dan merupakan hubungan sangat khusus antara hamba
dengan Tuhannya. Karenanya, yang diseru kemudian adalah iman seseorang,
keyakinannya pada perintah Tuhan yang mewajibkan atasnya puasa.
Berangkat dari karakteristik puasa yang sangat pribadi ini, kualitas taqwa
diharapkan bisa terwujud. Bagaimana mekanisme kerjanya? Puasa sebagaimana Rukun
Islam lainnya, memiliki fungsi sebagai sarana latihan bagi seorang muslim.
Selama seseorang menjalankan puasa dengan penuh kesadaran dan keyakinan, tidak
makan dan minum serta perilaku lainnya yang bisa membatalkan puasa. Mengapa ia
mau menjalankan demikian? Karena ia sadar, meski tidak ada seorang pun yang
tahu, apakah ia benar-benar berpuasa atau tidak, ada yang Maha Tahu yang
mengawasi dia. Ada yang Maha Hadir (omnipresent) yang selalu memperhatikan
gerak-geriknya, sehingga dia ulus dan penuh kesadaran rela untuk tidak
melakukan hal yang sebenarnya 'halal', demi ketaatan pada perintah kepada yang
Maha Hadir tadi.
Proses pembinaan atas 'pengetahuan' senantiasa diawasi yang Maha Hadir ini,
kelak akan memunculkan sifat taqwa pada diri seseorang. Taqwa secara sederhana
diartikan sebagai takut kepada Tuhan, yang dilaksanakan dengan menjauhi segala
larangan Nya dan menjalankan semua perintah Nya. Pada prinsipnya, kata taqwa
mengandung makna: pelaksanaan iman dan amal shaleh; memelihara hubungan dengan
Tuhan bukan saja karena takut, tetapi lebih dari itu yaitu kesadaran diri
sebagai hamba Allah. Orang yang bertaqwa (muttaqi), meminjam istilah Mirza
Nashir Ahmad (1996) disebut the righteous, orang yang lurus atau budiman.
Masih dalam lingkup pembentukan taqwa, intisari dari puasa adalah pengendalian
diri. Setidaknya menahan diri dari makan, minum dan hubungan seksual. Ketiga
faktor ini yang 'menjatuhkan' manusia dari unsur kemuliaannya, ketika tidak
bisa dikendalikan dengan baik. Kejatuhan Adam dari surga, adalah satu bentuk
ketidakmampuannya menahan diri dari tidak memakan buah yang dilarang Allah SWT.
Dalam berpuasa, seorang muslim menahan dirinya untuk tidak melakukan sesuatu
yang 'halal'. Logika yang bisa diambil, sesuatu yang halal saja, seorang muslim
mampu menahan dirinya, apalagi terhadap yang haram.
Manusia Suci
Dengan pemahaman seperti tersebut, dipastikan ketika puasa dilakukan secara
benar dan penuh ketulusan, derajat taqwa pun akan bisa diperoleh. Ramadhan,
adalah bulan penyucian jiwa. Selama Ramadhan, dengan ritual puasa dan ibadah
lainnya, pemuasa digembleng lahir batin untuk mendapatkan kualitas taqwa itu.
Dalam Ramadhan, ada satu malam yang disebut lailatul qadr, kebaikannya melebihi
seribu bulan. Malam istimewa ini, bisa dicari --berdasarkan petunjuk Rasul--
pada sepuluh terakhir Ramadhan. Ini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan
penyucian diri. Lailatul qadr, jelas hanya akan menemui mereka yang telah suci
jiwanya. Dua puluh hari menjalankan puasa, diharapkan seorang muslim bisa
menyucikan jiwanya sehingga pada sisa akhir berikutnya, lailatul qadr datang
menyapanya.
Pasca Ramadhan, seorang muslim diyakini suci jiwanya. Oleh karenanya perlu
dirayakan dengan Idul Fithri, hari raya penyucian. Sebagai penambah nilai
kesucian ini, ada kewajiban zakat fithrah sebagai manifestasi penyucian jiwa
dan harta. Tapi Ramadhan bukan akhir dari proses ritual. Ia baru merupakan
langkah awal yang akan ditentukan pada 11 bulan berikutnya. Ramadhan,
diharapkan mampu mewarnai 11 bulan pasca Ramadhan. Ini yang diharapkan dari
pembinaan mental dan kepribadian yang berlangsung selama Ramadhan.
Dosen Fak Syariah IAIN Antasari, tinggal di Banjarmasin
e-mail: yulia_bungas@xxxxxxxxx
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Mencetak Manusia Suci Dengan Puasa