[ppi] [ppiindia] Mencegah Teroris, Mencegah Generasi Frustrasi
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 21 Oct 2005 01:01:38 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/10/21/o1.htm
Mencegah Teroris,
Mencegah Generasi Frustrasi
SAMPAI dengan minggu ketiga setelah ledakan bom Jimbaran-Kuta awal Oktober
lalu, masih juga belum ditemukan siapa atau kelompok mana pelakunya. Kita
berharap, seperti juga bom Legian tiga tahun yang lalu, tidak sampai dua bulan
pihak kepolisian berhasil mengungkap dan menangkap aktor di balik peledakan
tersebut.
Setidaknya sampai hari ini kita sangat menghargai peran kepolisian, usaha-usaha
mereka dalam mencari pelaku peledakan tersebut. Usaha itu tidak saja dilakukan
di Bali juga di Pulau Jawa, bahkan dicurigai otak pelaku itu kini berada di
Sulawesi Selatan. Pihak Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan diberitakan bahkan
telah menurunkan sebanyak 16.500 personel untuk melakukan pelacakan. Sekali
lagi, kita amat menghargai hal demikian dengan harapan agar pelakunya
secepatnya bisa ditangkap.
Betapa pun, keberhasilan menangkap gembong teror ini akan sedikit banyak mampu
mengobati sakit hati mereka yang menjadi korban bom Jimbaran-Kuta serta
mengobati sakit hati masyarakat. Keberhasilan demikian tentu pula menambah
positif reputasi kepolisian kita di mata internasional. Karena bom bunuh diri
kini telah menjadi ancaman internasional, bukan semata-mata menjadi
kekhawatiran domestik.
Namun, di balik usaha-usaha positif yang telah dilakukan oleh pihak kepolisian
kita, ada satu perkembangan lain yang mestinya kita waspadai bersama.
Perkembangan baru itu terletak dalam hal pola perekrutan pelaku bom bunuh diri.
Menurut keterangan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah, berdasarkan data
intelijen terbaru, pola perekrutan bom bunuh diri kini telah berubah dan
bergeser. Jika sebelumnya pola itu dipusatkan pada orang-orang yang merasal
dari masyarakat miskin, kini menuju masyarakat frustrasi, bermasalah secara
kejiwaan. Dalam keterangannya, ia menyebutkan pelaku bom bunuh diri itu
berasal dari kalangan preman dan pecandu narkoba. Disebutkan pula dari 35
rekrutmen bom bunuh diri, 19 di antaranya berasal dari Jawa Tengah.
Apa arti informasi ini? Yang pertama kita garis bawahi bahwa sesungguhnya pihak
kepolisian telah mampu menemukan titik terang berupa metode perekrutan bom
bunuh diri. Artinya perekrutan bom bunuh diri itu memang ada di Indonesia.
Karena itu, kita imbau agar pihak kepolisian mengawasi secara ketat fenomena
ini.
Kedua, betapapun data itu masih dalam data intelijen, yang artinya mesti diolah
lagi, kita sudah bisa membayangkan bahwa sesungguhnya perilaku teroris juga
dipengaruhi lingkungan masyarakat yang terkecil, yaitu rumah tangga. Inilah
keadaan yang sebelumnya tidak kita duga. Jika satu keluarga lalai mendidik
anggota keluarganya (anak-anak), di masa depan dia akan bisa salah dalam
nenentukan arah hidup. Kesalahan mendidik generasi muda akan bisa membuat
mereka frustrasi, menjalani kehidupan liar semacam preman atau pecandu narkoba.
Inilah yang menjadi sasaran empuk otak teroris untuk direkrut menjadi pengebom
bunuh diri, dengan berbagai kedoknya.
Mencermati perkembangan ekonomi politik mutakhir dari negara kita, situasi ini
menimbulkan kekhawatiran karena kondisi yang serba tak terjangkau saat ini
memungkinkan lahirnya anggota masyarakat dan generasi yang frustrasi.
Kita mencoba mengaitkan temuan di Jawa Tengah itu dengan fenomena sosial
ekonomi yang kita hadapi saat ini. Karena itu, sesungguhnya pencegahan teroris,
baik kini maupun masa mendatang, memerlukan langkah holistik, menyeluruh. Ia
tidak saja mesti ditangani pihak kepolisian, juga dibarengi dengan pembinaan
keluarga yang madani, harmonis, tidak muluk-muluk, mampu memberi penjelasan
secara logis dan rasional terhadap perkembangan zaman tanpa mengaitkannya
dengan dogma. Negara pun dituntut untuk selalu memikirkan langkah cermat
membuat kebijakan secara nasional. Tanpa itu, jangan-jangan kita secara tidak
sadar menciptakan kondisi tumbuhnya teroris baru di dalam keluarga yang justru
menghancurkan diri kita sendiri. Sekuat tenaga kita harus mencegah potensi
teroris itu dan harus dimulai dari sekarang.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Mencegah Teroris, Mencegah Generasi Frustrasi