[ppi] [ppiindia] Mencari Arah Republik
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Mon, 29 Aug 2005 23:57:45 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/30/opini/2012863.htm
Mencari Arah Republik
Oleh: Toto Sugiarto
Tanggal 15 Agustus lalu, saat menyampaikan tilikan politik atas hasil jajak
pendapat Mencari Arah Republik 2009, saya melihat realitas, ketika muncul
kesulitan BBM, pemerintah tiba-tiba mencanangkan penghematan, mengurangi
penerangan di kantor, menaikkan suhu AC, dan sebagainya.
Entah reaksi apa yang akan dilakukan pemerintah saat harga minyak dunia
mencapai 70 dollar AS per barel. Yang aneh dari tindakan pemerintah adalah
kebiasaan memublikasikan subsidi BBM yang akan mencapai Rp 100 triliun lebih
tanpa menginformasikan penerimaan negara dari ekspor minyak. Patut
dipertanyakan berapa dan ke mana mengalirnya hasil ekspor minyak. Apakah angka
subsidi BBM sudah dikurangi penghasilan dari ekspor minyak?
Realitas lain, saat muncul wabah busung lapar dan polio, menteri kesehatan
mengunjungi daerah wabah lalu memerintahkan jajarannya untuk memberi gizi
tambahan dan vaksinasi.
Cermin pemerintahan seperti apa ini? Bukankah BBM dapat diatur agar tidak
muncul kesulitan? Bukankah kesehatan balita dapat dijaga sehingga tidak terjadi
busung lapar?
Harga yang harus dibayar
Pemerintah seharusnya tidak hanya reaktif atas masalah yang muncul, tetapi
harus memiliki arah yang jelas. Ada titik yang hendak dituju oleh arah itu.
Alam pun memiliki tujuan, yaitu kebebasan. Revolusi dan reformasi di seluruh
belahan bumi adalah alam yang sedang bekerja mewujudkan kebebasan. Korban jiwa
dalam revolusi dan reformasi adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah
kebebasan.
Tetapi, apakah bayi yang mati karena busung lapar merupakan harga yang harus
dibayar oleh alam untuk mencapai tujuannya? Ini bukan merupakan harga yang
harus dibayar alam. Ini adalah harga yang harus dibayar untuk pemerintahan yang
tanpa arah.
Pentingnya arah
Dari hasil jajak pendapat 28 Juli-4 Agustus terungkap, lebih dari 70 persen
responden menilai pemerintahan belum punya arah. Angka itu dapat ditafsirkan
sebagai sebuah kondisi yang memprihatinkan. Negara ini berjalan tanpa tujuan
pasti.
Mengapa pemerintah harus mempunyai arah, tidak hanya reaktif terhadap masalah?
Arah diperlukan terutama karena negara ini telah terjerumus dalam sedikitnya
tiga jeratan. Pemerintah harus mengarahkan negara untuk keluar dari berbagai
jeratan itu.
Pertama, jeratan utang. Utang Republik amat besar, lebih dari Rp 1.000 triliun.
Meski penerimaan dalam negeri terus meningkat, kesejahteraan rakyat tidak
pernah menjadi kenyataan. Sedikitnya 30 persen dari hasil penerimaan mengalir
keluar untuk bayar utang.
Kedua, jeratan berbagai masalah yang terus mendera, seperti krisis energi yang
bisa berujung krisis kepercayaan, busung lapar, polio, dan korupsi.
Ketiga, jeratan neoliberalisme. Pemerintah telah sepenuhnya mengadopsi
prinsip-prinsip pasar dalam menjalankan negara. Apakah negara sama dan
sepenuhnya cocok dengan pasar?
Pasar memang memberikan hal baik bagi manusia, yaitu kompetisi. Dengan meminjam
pemikiran Immanuel Kant, kompetisi membuat manusia bisa membuang bahaya laten
yang tersimpan dalam diri manusia, yaitu kemalasan. Namun, pasar yang
kompetitif menyimpan hal buruk bagi manusia, yaitu selalu melahirkan pihak yang
kalah.
Pasar bisa mengenyahkan pihak yang kalah itu. Pasar bisa mengusir gelandangan.
Pasar bisa dengan seenaknya menggusur pedagang kaki lima. Tetapi, apakah negara
bisa mengusir gelandangan untuk keluar dari wilayah negara ini? Apakah negara
bisa menggusur pedagang kaki lima tanpa memberi solusi?
Konstitusi mengatakan "fakir miskin dan anak telantar dipelihara negara".
Berdasarkan konstitusi ini, dapat diartikan negara berbeda dengan pasar. Pasar
tidak peduli dengan keseluruhan, sedangkan negara harus berguna bagi seluruh
rakyat.
Pemerintah harus mengarahkan negara untuk keluar dari berbagai jeratan dan
bergerak menuju era kebebasan.
Eliminasi kepentingan diri
Salah satu alasan responden adalah pemimpin tidak satu arah. Ini dapat dibaca
sebagai masalah amat serius karena berkait dengan keutuhan visi anggota
kabinet. Jika pada awal pemerintahan Yudhoyono-Kalla menghadapi tantangan dari
kaum "oposisi", yaitu koalisi kebangsaan, kini mereka menghadapi masalah lebih
serius, yakni penyakit dalam tubuh sendiri.
Tidak satu arahnya pemerintahan dapat dibaca sebagai terlalu dominannya
kepentingan diri, egoisme, sehingga menutup rapat perjuangan mencapai
kepentingan bersama, yaitu kepentingan rakyat. Akhirnya, masing-masing elite
mengejar kepentingan diri.
Seorang pemimpin bangsa seharusnya telah mampu mengeliminasi egoisme, tidak
mementingkan diri sendiri, dan mampu mengarahkan dirinya untuk selalu
memperjuangkan kepentingan rakyat. Dengan begitu, arah yang dituju akan menjadi
jelas dan satu. Dengan demikian, pencarian arah akan berhasil. Biduk republik
dapat berjalan dengan arah yang pasti menuju kebebasan dan kecemerlangan.
Toto Sugiarto Peneliti pada Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Mencari Arah Republik