[ppi] [ppiindia] Menagih Janji Kemakmuran bagi Warga Papua Melalui Otonomi Khusus

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/29/daerah/2006142.htm

 
Menagih Janji Kemakmuran bagi Warga Papua Melalui Otonomi Khusus 


Oleh: M ZAID WAHYUDI

Dewan Adat Papua telah mengembalikan otonomi khusus kepada pemerintah pusat 
karena dinilai gagal memberi kemakmuran kepada warga Papua.

"Otonomi khusus hanya gula-gula politik pemerintah pusat," kata Ketua Dewan 
Adat Papua Daerah Sorong Apolos Sewa. Salah satu bukti tiadanya niat pemerintah 
melaksanakan otonomi khusus itu adalah tidak adanya peraturan pemerintah untuk 
melaksanakannya.

Akibatnya, lanjutnya, berbagai lembaga pendukung otonomi khusus, seperti Dewan 
Perwakilan Rakyat Papua, Majelis Rakyat Papua (MRP), lembaga peradilan adat, 
dan partai lokal hingga saat ini belum terakomodasi. Pembentukan MRP yang 
digagas Pemerintah Provinsi Papua dinilai tidak mewakili 257 suku yang ada di 
Papua. UU Otonomi Khusus dinilai mandul.

Pascapenggabungan Irian Barat melalui Penentuan Pendapat Rakyat tahun 1969, 
pemerintah memberikan otonomi khusus melalui UU Nomor 12 Tahun 1969 tentang 
Pembentukan Provinsi Otonom Irian Barat dan Kabupaten-kabupaten Otonom di 
Provinsi Irian Barat. Otonomi khusus itu gugur karena nama Irian Barat berubah 
menjadi Irian Jaya. Hal serupa terjadi ketika terbit UU No 21 Tahun 2001.

Kini masyarakat Papua masih tertinggal dibandingkan dengan saudara-saudara 
mereka sebangsa. Di Kota Sorong, gerbang Provinsi Papua, kota industri, 
perdagangan, dan jasa di Papua, ketersisihan warga Papua amat nyata. Hampir 
seluruh sektor ekonomi-formal maupun informal-dikuasai warga non-Papua.

Kalaupun ada warga Papua yang terjun di dunia perdagangan, mereka umumnya 
bermodal kecil dengan keuntungan sangat kecil. Barang yang dijual umumnya hasil 
kebun dan hutan yang nilai jualnya tidak seberapa. Pertokoan dan kios di 
jalan-jalan utama kota hampir seluruhnya dimiliki warga pendatang yang sudah 
menetap lama. Pedagang warga Papua hanya ada di pasar-pasar tradisional.

Di pertokoan modern atau kantor pemerintah, karyawan warga Papua sangat sedikit 
dibandingkan dengan warga pendatang. Bahkan hingga pekerjaan yang tak 
memerlukan keterampilan khusus, seperti tukang sapu. Pembelinya pun sebagian 
besar warga yang diistilahkan sebagai "orang berambut lurus".

Dari jumlah penduduk Kota Sorong tahun 2003, 144.033 jiwa, menurut Kepala 
Bagian Humas Kota Sorong F Palangan, sejumlah 70 persen adalah warga pendatang. 
Mereka dinilai membawa kemajuan dengan budaya yang dinilai lebih unggul.

Ketidakmampuan warga Papua bersaing dengan warga pendatang sebenarnya harus 
dipahami sebagai perbedaan pola budaya. Warga pendatang umumnya memiliki pola 
budidaya-mampu mengelola sumber daya yang ada menjadi lebih bernilai guna dan 
hasilnya berlipat. Sementara warga asli Papua masih memiliki budaya 
berburu-hanya memanfaatkan aset sesuai keperluan.

Palangan menambahkan, ketertinggalan dicoba diatasi pemerintah lewat otonomi 
khusus. "Menjalankan otsus tak seperti membalik telapak tangan, butuh waktu 
untuk melaksanakan."

Dari rencana dana otonomi khusus 25 tahun, di Kota Sorong dana baru digunakan 
membangun infrastruktur penunjang ekonomi, seperti penataan pasar obor-untuk 
warga Papua berjualan pada malam hari-dan pembangunan Bandara Domine Eduard 
Osok di Sorong Daratan.

Menurut Palangan, yang membuat warga Papua tertinggal adalah mereka tidak mampu 
mengelola keuangan. Setiap mendapat untung, digunakan untuk berfoya-foya di 
tempat hiburan, seperti pub, karaoke, atau lokalisasi. Masyarakat lokal juga 
terlalu pilih-pilih dalam bekerja. Selain pegawai negeri sipil, pekerjaan lain 
dianggap kelas dua.

Sebagai daerah yang kaya sumber daya alam, warga Papua hanya terlibat di level 
rendah. "Tingkat pendidikannya belum memenuhi syarat. Umumnya lulusan setingkat 
SLTA," ujar Kepala Operasional Badan Pelaksana Migas Perwakilan Papua dan 
Maluku Sulistya Hastuti Wahyu.

Industri minyak di Sorong telah dimulai tahun 1935, sejak pengeboran minyak 
bumi oleh Nederlands Neauw Guinea Petrolium Matschcapeij. Namun tidak juga ada 
tenaga lokal profesional. Kini pihak Sulistya sedang mengupayakan karyawan 
lokal bisa mencapai target 80 persen. Di antaranya dengan program kerja sama 
guna mengembangkan SDM untuk menggali, mengolah, dan mengelola hasil migas.



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: