[ppi] [ppiindia] Menagih Janji Kemakmuran bagi Warga Papua Melalui Otonomi Khusus
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sun, 28 Aug 2005 22:35:41 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/29/daerah/2006142.htm
Menagih Janji Kemakmuran bagi Warga Papua Melalui Otonomi Khusus
Oleh: M ZAID WAHYUDI
Dewan Adat Papua telah mengembalikan otonomi khusus kepada pemerintah pusat
karena dinilai gagal memberi kemakmuran kepada warga Papua.
"Otonomi khusus hanya gula-gula politik pemerintah pusat," kata Ketua Dewan
Adat Papua Daerah Sorong Apolos Sewa. Salah satu bukti tiadanya niat pemerintah
melaksanakan otonomi khusus itu adalah tidak adanya peraturan pemerintah untuk
melaksanakannya.
Akibatnya, lanjutnya, berbagai lembaga pendukung otonomi khusus, seperti Dewan
Perwakilan Rakyat Papua, Majelis Rakyat Papua (MRP), lembaga peradilan adat,
dan partai lokal hingga saat ini belum terakomodasi. Pembentukan MRP yang
digagas Pemerintah Provinsi Papua dinilai tidak mewakili 257 suku yang ada di
Papua. UU Otonomi Khusus dinilai mandul.
Pascapenggabungan Irian Barat melalui Penentuan Pendapat Rakyat tahun 1969,
pemerintah memberikan otonomi khusus melalui UU Nomor 12 Tahun 1969 tentang
Pembentukan Provinsi Otonom Irian Barat dan Kabupaten-kabupaten Otonom di
Provinsi Irian Barat. Otonomi khusus itu gugur karena nama Irian Barat berubah
menjadi Irian Jaya. Hal serupa terjadi ketika terbit UU No 21 Tahun 2001.
Kini masyarakat Papua masih tertinggal dibandingkan dengan saudara-saudara
mereka sebangsa. Di Kota Sorong, gerbang Provinsi Papua, kota industri,
perdagangan, dan jasa di Papua, ketersisihan warga Papua amat nyata. Hampir
seluruh sektor ekonomi-formal maupun informal-dikuasai warga non-Papua.
Kalaupun ada warga Papua yang terjun di dunia perdagangan, mereka umumnya
bermodal kecil dengan keuntungan sangat kecil. Barang yang dijual umumnya hasil
kebun dan hutan yang nilai jualnya tidak seberapa. Pertokoan dan kios di
jalan-jalan utama kota hampir seluruhnya dimiliki warga pendatang yang sudah
menetap lama. Pedagang warga Papua hanya ada di pasar-pasar tradisional.
Di pertokoan modern atau kantor pemerintah, karyawan warga Papua sangat sedikit
dibandingkan dengan warga pendatang. Bahkan hingga pekerjaan yang tak
memerlukan keterampilan khusus, seperti tukang sapu. Pembelinya pun sebagian
besar warga yang diistilahkan sebagai "orang berambut lurus".
Dari jumlah penduduk Kota Sorong tahun 2003, 144.033 jiwa, menurut Kepala
Bagian Humas Kota Sorong F Palangan, sejumlah 70 persen adalah warga pendatang.
Mereka dinilai membawa kemajuan dengan budaya yang dinilai lebih unggul.
Ketidakmampuan warga Papua bersaing dengan warga pendatang sebenarnya harus
dipahami sebagai perbedaan pola budaya. Warga pendatang umumnya memiliki pola
budidaya-mampu mengelola sumber daya yang ada menjadi lebih bernilai guna dan
hasilnya berlipat. Sementara warga asli Papua masih memiliki budaya
berburu-hanya memanfaatkan aset sesuai keperluan.
Palangan menambahkan, ketertinggalan dicoba diatasi pemerintah lewat otonomi
khusus. "Menjalankan otsus tak seperti membalik telapak tangan, butuh waktu
untuk melaksanakan."
Dari rencana dana otonomi khusus 25 tahun, di Kota Sorong dana baru digunakan
membangun infrastruktur penunjang ekonomi, seperti penataan pasar obor-untuk
warga Papua berjualan pada malam hari-dan pembangunan Bandara Domine Eduard
Osok di Sorong Daratan.
Menurut Palangan, yang membuat warga Papua tertinggal adalah mereka tidak mampu
mengelola keuangan. Setiap mendapat untung, digunakan untuk berfoya-foya di
tempat hiburan, seperti pub, karaoke, atau lokalisasi. Masyarakat lokal juga
terlalu pilih-pilih dalam bekerja. Selain pegawai negeri sipil, pekerjaan lain
dianggap kelas dua.
Sebagai daerah yang kaya sumber daya alam, warga Papua hanya terlibat di level
rendah. "Tingkat pendidikannya belum memenuhi syarat. Umumnya lulusan setingkat
SLTA," ujar Kepala Operasional Badan Pelaksana Migas Perwakilan Papua dan
Maluku Sulistya Hastuti Wahyu.
Industri minyak di Sorong telah dimulai tahun 1935, sejak pengeboran minyak
bumi oleh Nederlands Neauw Guinea Petrolium Matschcapeij. Namun tidak juga ada
tenaga lokal profesional. Kini pihak Sulistya sedang mengupayakan karyawan
lokal bisa mencapai target 80 persen. Di antaranya dengan program kerja sama
guna mengembangkan SDM untuk menggali, mengolah, dan mengelola hasil migas.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Menagih Janji Kemakmuran bagi Warga Papua Melalui Otonomi Khusus