[ppi] [ppiindia] Memimpikan Pemimpin Indonesia yg Bermartabat
- From: "Khairur Razi" <rozie@xxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Sat, 02 Oct 2004 23:52:31 +0500
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Pengantar:
Bahwa banyak pemimpin kita yg bisanya cuma retorika tanpa aksi nyata sudah
menjadi fenomena umum; dari presiden sampai lurah. Dan hal ini tidak hanya
terjadi di kita, tapi juga di India, tempat saya belajar saat ini.
Karena itu, ketika ketua partai Kongres Sonia Gandhi menolak jadi PM India
disaat kekuasaan itu ada digenggamannya menjadi berita yg sangat
menggemparkan. Banyak yg tidak percaya dan terhenyak kaget. Dicarilah berbagai
alasan oleh kalangan lawan politiknya untuk deevaluasi langkah Sonia Gandhi
tsb. Terlepas dari segala kontroversi tsb, dua hal yg jelas: bahwa ia menjadi
satu-satunya pemimpin India yg menolak jabatan PM dua kali; pertama, ketika
suaminya, Rajiv Gandhi tewas kena bom bunuh diri, kedua, saat dia jadi pemimpin
partai Kongres.
Kembali pada Indonesia, kapan kita memiliki pemimpin bermartabat dan tulus
semacam Sonia Gandhi yg cukup puas karena telah mengalahkan partai
fundamentalis BJP dan tidak berambisi memegang tampuk kekuasaan? Yg spirit
utamanya hanya untuk mempersolid barisan nasional kebangsaan yg penuh toleransi
pada semua rakyat dan mengakui realitas perbedaan? Yg cukup puas dg melihat
kekalahan partai ultranasional hindu -- yg antiplurasime dan ingin menegasikan
peradaban (baca: agama)selain Hindu?
Mungkin harapan ini terlalu muluk sekarang. Tapi, setidaknya ini bisa diawali
dg sikap awal yg tipikal dilakukan manajer sepakbola Eropa: mundurlah apabila
merasa tidak mampu, apabila terlibat skandal, apabila terlibat kasus
kejahatan/kriminal. Tapi, mungkinkah?
Razi (Putra Riau)
Minggu, 26 September 2004
Martabat Pemimpin
Oleh : Haedar Nashir
http://www.republika.co.id/ASP/kolom.asp?kat_id=49
Einsenhower tak ingin berkuasa lama. Ketika reputasinya menjulang tinggi dan
rakyat Amerika Serikat mengeluk-elukannya untuk memimpin kembali Amerika
Serikat, dia justru bikin kejutan. Presiden AS itu tak mau lagi mencalonkan
diri, bahkan mengajukan pembatasan masa jabatan. Sejak itu presiden AS hanya
boleh menjabat maksimal dua kali, yang kemudian menjadi pola umum sirkulasi
kekuasaan di negara-negara demokrasi modern. Itulah kecerdasan sekaligus
kearifan selaku negarawan yang dimiliki Eisenhower. Ada peluang berkuasa,
tetapi melepaskannya demi masa depan bangsa dan negara. Dia mengajarkan moral
berpolitik yang elok, berkuasa untuk melepaskan. Dia memiliki martabat sebagai
pemimpin bangsa.
Bagaimana dengan para pemimpin di Indonesia? Pengalaman sejarah justru
sebaliknya. Serba ingin melanggengkan kekuasaan. Soekarno yang dikenal salah
seorang the founding fathers dan proklamator terkemuka, bahkan harus merancang
kekuasaan presiden seumur hidup. Soeharto dengan gayanya yang khas, menjadi
presiden setiap lima tahun sekali hingga 32 tahun. Keduanya berjasa untuk
bangsa dan negara, tetapi mengakhiri kekuasaannya dengan tragis. Keduanya
terhempas oleh revolusi rakyat karena hasrat absolutisme kekuasaan yang tak
terbendung.
Keduanya tak memiliki kearifan kenegarawanan sebagaimana Eishenhower. Di
belakang hari, ternyata hasrat untuk berkuasa minus kearifan kenegarawanan
seolah menjadi watak para elite politik di negeri ini. Jangankan karena
keberhasilan, bahkan gagal pun tak malu diri untuk terus menduduki jabatan.
Lebih ironis lagi, ketika telah terbukti gagal dan kemudian dilengserkan secara
tak terhormat, masih juga mencalonkan diri untuk menduduki singgasana
kekuasaan. Alasannya demi demokrasi. Itulah jika demokrasi dan kekuasaan
sekadar gumpalan pikiran instrumental, semuanya menjadi serba power-over.
Politik dan politisi sekadar mengabdi pada dirinya sendiri. Sama sekali tak
bersentuhan dengan pemgkhidmatan tulus untuk bangsa dan negara. Juga tak
menyentuh etika dan kearifan kenegarawanan. Dunia politik dan kekuasaan
akhirnya menjadi ladang perburuan yang sarat ambisi meluap-luap. Bahkan
terkesan agak primitif.
Di negeri ini tak ada presiden, menteri, dan pejabat publik yang dengan rela
hati mundur karena gagal atau terkena sekandal. Di dunia lain pun seperti dunia
olahraga nyaris sama. Selalu ada pembenar untuk bertahan dan bebas dari jeratan
kesalahan serta akuntabilitas publik. Selalu pandai berkelit dengan berbagai
basa-basi dan retorika yang kelihatan bagus tetapi sesat dan menyesatkan. Tak
ada lagi etika dan kearifan yang tersisa. Bahkan yang kemudian muncul ialah
kebohongan dan pembodohan publik, lalu bertingkah aneh-aneh dan bikin gaduh.
Berpolitik menjadi terkesan ugal-ugalan dan bebal. Celakanya, dalam suasana
yang tak sedap seperti itu, masih juga mengobral isu-isu demokrasi, kejujuran,
kebenaran, keadilan, dan demi bangsa dan negara. Sudah sesat jalan dan
menyesatkan, masih juga merasa pembawa panji kebenaran. Jika salah di hadapan
publik, dengan ringan melepas beban, begitu saja repot. Aset negara lepas satu
persatu pun seperti tak menjadi beban berat, malah bisa bagi-b
agi uang ke siapa saja yang mau beri dukungan politik. Di masa kampanye uang
dan senyum para pemimpin seperti murah untuk rakyat, setelah itu semua kembali
jadi biasa. Nyaris sulit menemukan mutiara keteladanan dan martabat
kepemimpinan.
Demi kekuasaan tak mengherankan jika muncul keganjilan-keganjilan para elite
yang menyesatkan nalar publik. Katanya golput, tapi ngelencer dukung sana-sini
tanpa beban apa pun di hadapan publik. Katanya mau berhenti, tapi masih pula
ingin bertahta. Katanya mau oposisi, tetapi pagi-pagi sudah mendeklarasikan
dukungan politik dengan khidmat. Katanya mau memberantas korupsi, tetapi
kanan-kiri dan depan-belakang tak diberantas dulu, jangan-jangan malah tak
bersih-diri. Gagal pun masih dianggap berhasil, malah mengumumkan kesuksesan.
Katanya tak suka politik dan lebih suka kultural, namun calon sana calon sini,
dukung sana dukung sini, dengan gairah politik yang melebihi politisi. Berbagai
macam dalih, idiom, dan retorika yang sarat ambigu dan paradoks pun
dicampur-aduk jadi kebiasaan berpikir dan bertingkah laku. Lalu, tak ada lagi
standar benar-salah, baik-buruk, dan pantas atau tidak pantas, yang ada adalah
perburuan kekuasaan dengan nafsu merah menyala. Politik akhirnya jadi p
anglima. Mudah-mudahan tak jadi berhala baru.
Mungkin biarkanlah berbagai logika yang aneh-aneh, paradoks, dan bahkan
menyesatkan tumbuh-mekar di Republik ini. Ditentang pun malah dianggap tak
sampai maqom. Bangsa Indonesia kan terkenal gemar hal-hal paranormal. Keanehan
atau ketaklaziman malah sering dimitoskan menjadi semacam tahayul baru. Tahayul
tentang kehebatan sang pemimpin dan pentingnya meraih kekuasaan lewat jalur
segala cara pun seperti jadi tradisi politik. Kataklaziman bahkan diproduksi
dan diwariskan ke generasi berikutnya, dengan penuh kebanggaan. Orang Islam
malah memiliki mitos religio-magis tentang Wali, sosok yang boleh bertingkah
apa pun di luar kelaziman. Pembaru atau mujadid itu harus aneh-aneh. Semakin
aneh dan tak lazim, kian sakral mitos dan derajat kewalian dan kepembaruannya.
Rakyat pun dibiarkan berkubang dalam hegemoni dan ideologi yang tak lazim itu.
Laiknya sinetron dunia gaib, publik di negeri ini terus dibikin gemar akan
hal-hal yang aneh bin ajaib dan tak masuk akal. Ratingnya malah jadi tinggi.
Maka lengkaplah, para pemimpinnya suka yang nyleneh, paradoks, dan sepi
kearifan. Sedangkan rakyatnya jadi pembebek. Semoga saja negeri ini tak berubah
jadi Republik paranormal dan paranoid dalam selimut mabuk cinta kuasa dan
tingkah kontroversial. Kini negeri ini telah memiliki sistem pemilihan dan
sirkulasi kekuasaan yang lebih baik. Tanggal 20 Oktober 2004 bahkan secara
resmi telah lahir presiden dan wakil presiden baru hasil pemilihan langsung.
Lahir pula institusi baru yang bernama DPD yang bersama DPR hasil pemilihan
sistem proporsional terbuka untuk mengisi sistem politik baru yang lebih
demokratik itu. Namun semuanya tak akan berubah banyak jika tidak disertai
perubahan perilaku elite dan para pimpinan politik di negeri ini.
Bangunan kekuasaan baru itu bukan hanya memerlukan transformasi sistem, tetapi
juga tak kalah pentingnya perubahan perilaku manusianya. Lebih-lebih jika
perilaku itu menyangkut para pemimpin, sungguh sangat menentukan, apakah itu
baik atau sebaliknya buruk. Perilaku pemimpin akan mempengaruhi rakyatnya. Jika
para pemimpinnya bertingkah ugal-ugalan, gila kuasa, dan hilang kearifan maka
kepada siapa rakyat harus mengambil teladan? Bukankah kata pepetah, ikan busuk
dimulai dari kepala?
Sejak 20 Oktober 2004 sampai lima tahun mendatang bangsa ini akan menagih
pemimpinnya. Janji, citra kearifan, dan isu perubahan tengah dan akan terus
dihisab rakyat. Adakah serba kebajikan yang dicitrakan pemimpinnya benar-benar
nyata atau sekadar citra semu? Akankah bangsa ini benar-benar berubah jadi
lebih maju, lebih adil, lebih aman, lebih sejahtera, dan lebih tercerahkan atau
sebaliknya? Adakah para pejabat publik hasil Pemilu 2004 yang melelahkan itu
benar-benar berkhidmat untuk rakyat atau untuk diri dan kroninya? Akankah
Indonesia menjadi negeri berdaulat dan bermartabat di hadapan dunia
internasional? Adakah para elite di Senayan pun akan benar-benar memperjuangkan
nasib rakyat atau mereka terus sibuk saling tukar-menukar cendara mata politik
dan berburu kuasa belaka? Berbagai tagihan politik akan bermunculan karena pada
hakikatnya kekuasaan yang diberikan rakyat itu adalah utang dan amanat yang
harus dibayar. Bukan barang gratis.
Indonesia ke depan sungguh memerlukan pemimpin yang bukan hanya cerdas dan
cakap, tetapi juga arif-bijaksana dan sanggup mengkhidmatkan diri
sebesar-besarnya untuk kepentingan bangsa. Bukan pemimpin yang urakan dan gemar
bersiasat. Apalagi hanya pemimpin pemburu kuasa dengan mengorbankan etika dan
hajat hidup publik. Bukan pula pemimpin yang bebal dan tak tahu harus berbuat
apa. Bangsa ini sudah terlalu lelah dengan ulah elite dan pemimpin yang hanya
gemar membikin gaduh dan membingungkan rakyat, juga pemimpin yang tak
memberikan harapan. Jika berkata memperjuangkan demokrasi, maka berdemokrasilah
secara tulus dan nyata sebagaimana laiknya demokrat sejati. Jika mengatakan
demi bangsa dan negara, berkhidmatlah untuk bangsa dan negara secara nirpamrih
laiknya pemimpin pejuang. Jika berjanji, penuhilah sebagai amanah dan utang
kepada rakyat bahkan kepada Tuhan. Pemimpin itu harus menjadi uswah hasanah,
bukan uswah syayi'ah.
Luruskan kata dan perbuatan, jangan banyak retorika dan penghindaran diri dari
tanggung jawab ketika gagal. Kalau bertindak salah, belajarlah untuk berterus
terang dan bertanggung jawab. Bersikap dan bertindaklah secara otentik, tidak
penuh topeng dan muslihat busuk. Di situlah muru'ah dan martabat pemimpin
sejati. Pemimpin sebagai negarawan!
Khairurrazi
Aligarh Muslim University
Uttar Pradesh, India
--
India.com free e-mail - www.india.com.
Check out our value-added Premium features, such as an extra 20MB for mail
storage, POP3, e-mail forwarding, and ads-free mailboxes!
Powered by Outblaze
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts: