[ppi] [ppiindia] Membumikan Risalah Perdamaian Islam

** ppi-india **
http://www.suarapembaruan.com/News/2004/02/27/index.html


SUARA PEMBARUAN DAILY

Membumikan Risalah Perdamaian Islam
Oleh Happy Susanto

PADA tanggal 23-26 Februari 2004 ini, diadakan International Conference for
Islamic Scholars yang bertajuk "Upholding Islam as Rahmatan Lil 'alamin".
Acara ini diadakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan Kementerian
Luar Negeri (Menlu) RI. Hasil yang ingin dicapai dari cara ini adalah (1)
pernyataan-pernyataan yang merefleksikan pandangan komprehensif bagaimana
umat ini merespons berbagai tantangan di masa depan, (2) rencana kerja untuk
mengembangkan dan mengaktualisasikan Islam sebagai rahmatan lil a'lamin.
Konferensi ini juga ingin mendialogkan Islam dengan agama lain, komunitas
lain, dan terutamanya dengan Barat. Lebih jauh lagi, konferensi ini juga
ingin mengembangkan peran civil society dalam pandangan Islam.
Acara ini patut diapresiasi, terlepas apakah ada motif politik atau tidak di
balik perhelatan ini. Yang jelas, kita sangat membutuhkan wajah Islam yang
damai, toleran, dan penuh mengajarkan kemanusiaan. Prof Dr Mohammad Sayed
Tantawi pada pidato pembukaan konferensi itu menegaskan bahwa bimbingan dan
ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW menjadi obat dan rahmat bagi
sekalian alam. Islam adalah agama kemanusiaan yang bukan hanya khusus bagi
umat Islam karena agama ini memang dibawa oleh semua nabi. Menarik sekali
pernyataan yang dikemukakan Tantawi, Sheikh Al-Azhar yang sangat dikenal
moderat ini.
Hassan Hanafi (2001:131-137), intelektual progresif asal Mesir juga
menegaskan bahwa Islam adalah agama perdamaian yang universal. Menurutnya,
secara literal semua nabi terdahulu adalah muslim karena mereka menundukkan
kehendaknya di bawah kehendak suci Tuhan. Wahyu yang mereka terima
sebenarnya bertalian dalam satu mata rantai yang kemudian dipadukan dan
disempurnakan dalam Islam. Jadi, Islam adalah agama yang dibawa setiap nabi
untuk semua individu, semua bangsa, dan seluruh umat manusia. Di sinilah
kode etik universal perlu diangkat sebagai jaminan atas cita-cita perdamaian
dalam Islam, yaitu kesamaan esensi misi mereka dalam upaya menciptakan
kemanusiaan dan keadilan di muka bumi.
Kekerasan
Sekarang ini umat Islam selalu dipojokkan dan seakan menjadi "pihak
terdakwa" dari berbagai kasus tindak kekerasan, seperti kasus 11 September
dan bom Bali. Tentu, pencitraan negatif ini membuat umat Islam tidak tenang
dan merasa perlu untuk mengklarifikasi akan hal itu. Secara objektif, tidak
bisa kemudian umat Islam secara keseluruhan dianggap sebagai penganut agama
yang dikata menyesatkan. Seperti yang kita yakini, Islam adalah agama
keselamatan (salamah). Hanya saja, perilaku oknum tertentu yang memakai
jubah agama menyebabkan distorsi pemahaman mengenai Islam.
Kekerasan atas nama agama memiliki muatan yang sangat kompleks. Paling
tidak, ada dua sisi yang menyebabkan Islam kemudian dipandang sebagai agama
yang "bermasalah" gara-gara kekerasan atas nama agama itu. Pertama, bisa
dilihat secara internal. Boleh jadi, kekerasan itu memang benar-benar
dilakukan oleh sebuah organisasi atau beberapa oknum yang mengaku sebagai
penganut sebuah agama. Mereka melakukan itu disebabkan oleh sempitnya
pemahamannya atas agama, dibarengi oleh sikap emosi yang tak tertahankan.
Pemaknaan tekstual atas konsep jihad dan kafir menjadi penyebab aksi
kekerasan yang mereka lakukan.
Kedua, secara eksternal. Pencitraan Islam yang dilakukan media asing
menimbulkan bias tersendiri. Dalam pandangan dunia internasional, Islam
seakan-akan dianggap sebagai "agama teroris". Di tengah suasana menegangkan,
terkadang media bisa menjadi pemicu yang menambah rumit keadaan. Seharusnya,
media perlu bersikap objektif dan membeberkan berita mengenai Islam secara
faktual dan bisa dipertanggungjawabkan. Media asing (Barat) memiliki banyak
kelemahan dalam mencitrakan Islam di saat menghubungkannya dengan peristiwa
pengeboman dan aksi kekerasan.
Pertemuan yang diadakan PBNU dan Deplu itu memiliki relevansi yang sangat
signifikan untuk memberikan citra baru (yang sesungguhnya) atas Islam, yaitu
Islam sebagai rahmatan lil 'Alamin (rahmat bagi seluruh sekalian alam).
Selain itu, perlu juga perbincangan mengenai bagaimana Islam itu menyikapi
tantangan dan perubahan yang ada. Islam adalah agama yang dihadirkan ke muka
bumi untuk memberikan rahmat dan perdamaian bagi setiap manusia, tanpa
membedakan suku, ras, dan agamanya. Substansi yang ingin diperjuangkan Islam
adalah bagaimana kemanusiaan dan keadilan itu benar-benar telah ditegakkan
di bumi ini.
Moderatisme
Upaya strategis untuk membumikan risalah perdamaian dalam Islam adalah
dengan membangun sikap moderatisme dalam beragama. Sikap ini perlu disertai
dengan upaya pengembangan peran profetis agama yang banyak mengajarkan
kemanusiaan. Pesan tersebut bisa kita rujuk pada al-Qur'an yang menyatakan
bahwa "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah"
(Ali Imron, 3 : 110). Ada tiga makna yang terkandung dlaam ayat ini, yaitu
"ma- syarakat utama" (khairu ummah), "kesadaran sejarah" (ukhrijat linnas),
"liberasi" (amr ma'ruf), "emansipasi" (nahy munkar), dan "transendensi"
(al-iman billah).
Konsep "amar ma'ruf" (menyuruh pada kebaikan) dan "nahy munkar" (mencegah
kemungkaran) banyak ditafsirkan sebagai bentuk dakwah yang dilakukan secara
formal dan terkadang sering menggunakan cara kekerasan. Padahal, ada makna
lain di balik itu, yaitu memberikan pemahaman yang baik pada umat mengenai
ajaran-ajaran kebaikan agama dengan memberikan ruang kebebasan pada manusia
itu sendiri. Substansinya bahwa Islam mengajarkan mengenai pesan-pesan
ibadah, muamalah, dan syariah, yang kesemuanya itu diorientasikan untuk
meraih makna hidup yang berlandaskan pada kemanusiaan. Dakwah yang banyak
dilakukan selama ini hanya berorientasi pada pencapaian makna agama secara
normatif. Seharusnya umat perlu juga diajak berpikir kritis terhadap
berbagai fenomena yang ada dalam penampakan realitas keseharian mereka.
Pola pemikiran Islam yang profetis itu diaplikasikan dalam sebuah sikap
moderatisme dalam beragama. Sikap ini sangat ditekankan dalam Islam. Sikap
moderatisme umat Islam (ummatan wasthan) akan melahirkan kedewasaan dalam
beragama sehingga akan sangat objektif dalam menyikapi segala persoalan yang
ada dalam realitas sosial. Fenomena radikalisme agama disebabkan karena
emosi beberapa pihak umat Islam yang tidak bisa ditahan. Belum lagi, hal itu
diperkuat oleh pemahaman keagamaan yang sangat sempit. Misalkan, konsep
mengenai jihad. Bagi mereka, jihad melawan kemungkaran dan "musuh-musuh"
Allah adalah kemestian agama dan menjadi ukuran keberislaman seseorang.
Maka, kekerasanlah yang sangat mungkin mereka lakukan. Tentu, ini sangat
berbahaya.
Moderatisme beragama akan mengerem sejauh mana umat Islam ini harus pintar
dalam menyikapi berbagai persoalan yang ada. Sikap moderat juga akan
menghilangkan kecurigaan dalam memandang umat di luar Islam. Umat beragama
yang lain adalah saudara sendiri dan mereka perlu diperlakukan secara damai
dan toleran. Polarisasi antara Islam dan "yang lain" (the others), begitu
pula perbedaan antar madzhab pemikiran dalam Islam juga perlu dicairkan.
Pandangan inklusif dan pluralis harus terus dikembangkan dan
disosialisasikan pada masyarakat Islam secara keseluruhan.
Islam adalah agama yang damai dan penuh mengajarkan kemanusiaan. Perdamaian
adalah jiwa Islam yang telah mengakar sejak agama ini diturunkan ke muka
bumi. Islam bukanlah ajaran mengenai kekerasan. Umat Islam perlu meluruskan
makna Islam ini dengan memberikan pemahaman baru terhadapnya. Disertai sikap
moderatisme dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam dalam konteks masa
sekarang ini. Wallahu A'lam.
Penulis adalah Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) dan
Peneliti The International Institute of Islamic Thought (IIIT) Indonesia.


Last modified: 27/2/04



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Other related posts: