[ppi] [ppiindia] Membongkar Konsep Dasar al-Quran
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Thu, 26 Feb 2004 20:59:49 +0100
** ppi-india **
http://www.hidayatullah.com/modules.php?name=News&file=article&sid=946
Hidayatullah.com, Senin, 12 Januari 2004
Membongkar Konsep Dasar al-Quran
Nasr Hamid yang melakukan kritik terhadap teks al-Quran, banyak
persamaan dengan fenomena dalam tradisi Kristen yang begitu digemari para
sarjana Muslim. Baca di CAP Adia Husaini, MA ke-39
Pada tanggal 27 Desember 2003, Harian Republika menurunkan
artikel saya yang berjudul "Mendudukkan Tradisi". Seminggu kemudian, 3
Januari 2004, muncul tanggapan terhadap artikel tersebut dari seorang
mahasiswa pascasarjana asal Indonesia yang sedang belajar di Department of
Comparative Religion, Western Michigan University. Ia juga penulis buku
berjudul Nasr Hamid Abu Zaid dan Kritik Teks Keagamaan.
Salah satu masalah yang mendapat sorotan adalah kritik terhadap
Nasr Hamid Abu Zaid oleh Dr. Mustha Tajudin, pakar Ulumul Quran asal Maroko,
yang sekarang mengajar di Universitas Islam Internasional Malaysia. Musthafa
yang pernah berdebat secara terbuka dengan Nasr Hamid di Maroko memberikan
kritikan tajam terhadap pendapat-pendapat Nasr Hamid. Karena sosok Nasr
Hamid itu sekarang sangat popular di dunia internasional, termasuk di
Indonesia, maka kiranya perlu kita pahami sedikit latar belakang
kehidupannya. Beberapa bukunya sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Ia memang menekuni bidang Bahasa Arab dan Ulumul Quran. Meskipun kemudian
melarikan diri dari Mesir ke Belanda, namun dalam satu wawancara, dia
menyatakan bangga, karena telah mendidik banyak cendekiawan, termasuk
beberapa dari Indonesia. Tahun 1972, ia menjadi asisten dosen di Jurusan
Bahasa Arab Fakultas Sastra Universitas Kairo.
Pada tahun 1975-1977, ia mendapat bantuan beasiswa dari Ford
Foundation untuk studi di Universitas Amerika Kairo. Lalu, tahun 1978-1979
ia belajar di Universitas Pennsylvania, Philadelphia USA. Berbeda dengan
banyak ulama atau cendekiawan Muslim, Nasr Hamid banyak menulis tentang
kritik terhadap teks al-Quran, satu studi yang biasa dilakukan terhadap
Bible. Tentu, bagi kaum Muslim, kritik teks (textual Criticism) terhadap
al-Quran adalah sesuatu yang aneh.
Studi tentang kritik teks Bible memang telah berkembang pesat di
Barat. Dr. Ernest C. Colwell, dari School of Theology Claremont, misalnya,
selama 30 tahun menekuni studi ini, dan menulis satu buku berjudul "Studies
in Methodology in Textual Criticism on the New Testatement". Maka, jika
teks-teks Bible sudah begitu banyak dikritisi, muncul pertanyaan di kalangan
orientalis, mengapa teks-teks al-Quran tidak dapat diperlakukan yang sama?
Menurut mereka, bukankah al-Quran juga sebuah "teks"? Apa bedanya dengan
Bible?
Toby Lester dalam The Atlantic Monthly, Januari 1999, mengutip
pendapat Gerd R. Joseph Puin, seorang orientalis pengkaji al-Quran, yang
menyarankan perlunya ditekankan soal aspek kesejarahan al-Quran. "So many
Muslims have this belief that everything between the two covers of the Koran
is just God's unaltered word," (Dr. Puin) says. "They like to quote the
textual work that shows that The Bible has a history and did not fall
straight out of the sky, but until now the Koran has been out of this
discussion. The only way to break through this wall is to prove that the
Koran has a history too."
Jadi, orang seperti Lester ini ingin agar kaum Muslim melepaskan
keyakinannya, bahwa al-Quran adalah kata-kata Tuhan (kalam Allah) yang tidak
berubah. Untuk menjebol tembok keyakinan umat Islam itu, menurut Puin, maka
harus dibuktikan bahwa al-Quran juga memiliki aspek kesejarahan. Aspek
historisitas al-Quran inilah yang harus ditekankan.
Disamping merujuk kepada sederet orientalis, Lester juga
menyatakan kegembiraannya bahwa di dunia Islam, sejumlah orang telah
melakukan usaha "revisi" terhadap paham tentang teks al-Quran sebagai kalam
Allah. Diantaranya, ia menyebut nama Nasr Hamid Abu Zaid, Arkoen, dan
beberapa lainnya.
Michael Cook, dalam bukunya, The Koran: A Very Short
Introduction, (2000:44), mengutip pendapat Nasr Hamid -yang dia tulis
sebagai "a Muslim secularist" -tentang al-Quran sebagai produk budaya: "If
the text was a message sent to the Arabs of the seven century, then of
necessity it was formulated in a manner which took for granted historically
specific aspects of their language and culture. The Koran thus took shape in
human setting. It was a ' cultural product' - a phrase Abu Zayd used several
times." (Pendapat Lester dan Cook dikutip dari buku The History of the Qur'
anic Text, From Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old
and New Testament, karya Musthafa A'zhami (2003).
Dalam melakukan kajian terhadap al-Quran, disamping merujuk
kepada pendapat-pendapat Mu'tazilah, Nasr Hamid banyak menggunakan metode
yang disebut sebagai hermeneutic. Ia seorang hermeneut. The New Encyclopedia
Britannica menulis, bahwa hermeneutika adalah studi prinsip-prinsip general
tentang interpretasi Bible (the study of the general principle of biblical
interpretation). Tujuan dari hermeneutika adalah untuk menemukan kebenaran
dan nilai-nilai dalam Bible. Salah satu prinsip penting dalam hermeneutika
untuk memahami satu teks adalah menganalisis kondisi pengarang dari teks
tersebut.
Untuk Bible, hal ini tidak terlalu menjadi masalah, sebab semua
Kitab dalam Bible memang ada pengarangnya. Tetapi, apa ada yang disebut
sebagai pengarang al-Quran? Bapak hermeneutika modern, Friedrich
Schleiermacher (1768-1834), merumuskan teori hermeneutikanya dengan
berdasarkan pada analisis terhadap pengertian tata bahasa dan kondisi
(sosial, budaya, kejiwaan) pengarangnya. Analisis terhadap faktor pengarang
ini sangat penting untuk memahami teks.
Tentang al-Quran, Nasr Hamid menempatkan Nabi Muhammad saw
sebagai penerima wahyu, pada posisi semacam "pengarang" al-Quran ini. Ia
menulis dalam bukunya, Mafhum al-Nash, bahwa al-Quran diturunkan melalui
Malaikat Jibril kepada seorang Muhammad yang manusia.
Bahwa, Muhammad, sebagai penerima pertama, sekaligus penyampai
teks adalah bagian dari realitas dan masyarakat. Ia adalah buah dan produk
dari masyarakatnya. Ia tumbuh dan berkembang di Mekkah sebagai anak yatim,
dididik dalam suku Bani Sa'ad sebagaimana anak-anak sebayanya di
perkampungan badui.
Dengan demikian, kata Nasr Hamid, membahas Muhammad sebagai
penerima teks pertama, berarti tidak membicarakannya sebagai penerima pasif.
Membicarakan dia berarti membicarakan seorang manusia yang dalam dirinya
terhadap harapan-harapan masyarakat yang terkait dengannya. Intinya,
Muhammad adalah bagian dari sosial budaya, dan sejarah masyarakatnya.
Tentang konsep wahyu dan Muhammad ini, ditulis dalam buku "Nasr
Hamid Abu Zaid: Kritik Teks Keagamaan" (2003:70), " Mereka memandang
al-Quran - setidaknya sampai pada tingkat perkataan - bukanlah teks yang
turun dari langit (surga) dalam bentuk kata-kata aktual - sebagaimana
pernyataan klasik yang masih dipegang berbagai kalangan --, tetapi merupakan
spirit wahyu yang disaring melalui Muhammad dan sekaligus diekspresikan
dalam tapal batas intelek dan kemampuan linguistiknya."
Dengan definisi seperti itu, jelas bahwa Nabi Muhammad saw
diposisikan sebagai semacam pengarang al-Quran. Dan ini sebenarnya masih
sejalan dengan pendapat para orientalis dan misionaris Kristen yang menyebut
agama Islam sebagai "agama Muhammad", dan hukum Islam disebut sebagai
"Mohammedan Law", umat Islam disebut sebagai Mohammedan". Tokoh misionaris
terkenal Samuel M. Zwemmer, menyebut bukunya yang berjudul "Islam: A
Challenge to Faith" (terbit pertama tahun 1907), sebagai "studies on the
Mohammedan religion and the needs and opportunities of the Mohammedan World
From the standpoint of Christian Missions".
Karena itu, mestinya penyebaran pendapat tentang al-Quran yang
"nyeleneh" seperti itu dipikirkan dan didiskusikan secara serius dengan para
ulama dan cendekiawan Muslim lainnya. Sebab, pendapat seperti ini membawa
dampak yang serius dalam pemahaman tentang konsep dasar al-Quran.
Sebagaimana ditulis dalam sampul buku Mafhum al-Nash edisi Indonesia, bahwa
"Dengan pembongkaran ini, kajian atas al-Quran menjadi semakin menarik,
merangsang perdebatan ini melahirkan konsep baru yang radikal terhadap
eksistensi al-Quran."
Pendapat Nasr dan kalangan dekontsruksionis ini memang menjebol
konsep dasar tentang al-Quran yang selama ini diyakini kaum Muslim, bahwa
al-Quran, baik makna maupun lafaz-nya adalah dari Allah. Nabi Muhammad saw
hanyalah sekedar menyampaikan, dan tidak mengapresiasi atau mengolah wahyu
yang diterimanya, untuk kemudian disampaikan kepada umatnya, sesuai dengan
interpretasinya yang dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan, sosial, dan budaya,
setempat dan seketika itu. Posisi beliau saw dalam menerima dan menyampaikan
al-wahyu memang pasif, hanya sebagai "penyampai" apa-apa yang diwahyukan
kepadanya. Beliau tidak menambah dan mengurangi apa-apa yang disampaikan
Allah kepada beliau melalui Malaikat Jibril. Beliau pun terjaga dari segala
kesalahan, karena beliau ma'shum.
Al-Quran menyebutkan: "Dan dia (Muhammad saw) tidak menyampaikan
sesuatu, kecuali (dari) wahyu yang diwahyukan kepadanya." (QS Al-Najm: 3).
Muhammad saw memang seorang manusia biasa, tetapi beliau berbeda dengan
manusia lainnya, karena beliau menerima al-wahyu. (QS Fushilat:6).
Dalam keyakinan Muslim selama ini, Nabi Muhammad saw hanyalah
sebagai penyampai. Teks-teks al-Quran memang dalam bahasa Arab dan beberapa
diantaranya berbicara tentang budaya ketika itu. Tetapi, al-Quran tidak
tunduk pada budaya. Al-Quran justru merombak budaya Arab dan membangun
sesuatu yang baru. Istilah-istilah yang dibawa al-Quran, meskipun dalam
bahasa Arab, tetapi membawa makna baru, yang berbeda dengan yang dipahami
kaum Musyrik Arab waktu itu.
Kajian historisitas Kitab suci semacam ini pun sebenarnya telah
berkembang lama dalam tradisi Bible. Reginald H. Fuller, dalam bukunya
berjudul A Critical Introduction to the New Testament, (London: Gerald
Duckworth & Co Ltd, 1979), menulis: "That is why if we are to understand
what the New Testament texts were meant to say by the authors when they were
first written. we must first understand the historical situation in which
they were first written."
Jadi, kata penulis buku ini, jika ingin tahu apa yang dimaksud
oleh teks Perjanjian Baru oleh penulisnya, maka harus tahu kondisi sejarah
saat kitab itu ditulis. Canon Sell (1839-1932), seorang misionaris Kristen
di Madras, India, sudah lama menyarankan agar kajian kritis-historis
terhadap al-Quran dilakukan dengan menggunakan metodologi kritik Injil
(Biblical Criticism). Sell sendiri, dalam karyanya Historical Development of
the Qur'an sudah menggunakan metodologi higher criticism, untuk mengkaji
historisitas al-Qur'an. (Canon Sell, Studies in Islam (Delhi: B. R.
Publishing Corporation, 1985; pertama terbit tahun 1928).
Pertanyaan kita, apakah Nabi Muhammad saw menulis al-Quran?
Sebagaimana Lukas, Markus, Matius, Johanes menulis Bible? Tentu tidak sama.
Posisi dan kondisi teks al-Quran dan Bible itulah yang sebenarnya berbeda,
sehingga tidaklah tepat jika metode interpretasi Bible yang disebut sebagai
hermeneutika juga diterapkan tehadap al-Quran. Tetapi, sekarang sudah begitu
banyak yang mengecam kitab-kitab tafsir para ulama dan mengajukan tafsir
baru metode hermeneutika. Dalam sebuah buku hermeneutika yang terbit di
Indonesia, penulisnya mencatat: "Apalagi sebagian besar tafsir dan ilmu
penafsiran yang diwarisi umat Islam selama ini, sadar atau tidak, telah
turut melanggengkan status quo, dan kemerosotan umat Islam secara moral,
politik, dan budaya."
Nasr Hamid yang seorang hermeneut, juga mengecam keras metode
tafsir kaum Ahlusunnah yang didasarkan pada Sunnah Rasul, pendapat para
sahabat Nabi, Tabi'in, dan tabi'it tabi'in. Ia menulis dalam buku Mafhum
al-Nas Diraasah fii Uluum al-Quran: bahwa tafsir kaum Ahlussunnah adalah
tafsir yang didasarkan pada kuasa ulama kuno, yang mengaitkan "makna teks"
dan signifikansinya dengan masa keemasan, kenabian, risalah, dan masa
turunnya wahyu. Mereka menyusun sumber-sumber pokok pengambilan tafsir pada
empat hal yang dimulai dengan pengambilan dari Rasulullah saw, kemudian
mengambil pendapat sahabat, lalu merujuk pendapat-pendapat tabi'in, baru
kemudian muncul tingkat keempat, dan terakhir yaitu tafsir bahasa.
Fenomena Nasr Hamid dan para pendukungnya di Indonesia perlu
dikaji secara serius oleh para ulama dan cendekiawan Muslim. Mengapa
pemikiran yang "nyeleneh" dan banyak persamaannya dengan fenomena serupa
dalam tradisi Kristen itu begitu banyak digemari oleh kalangan sarjana
Muslim. Beberapa diantaranya menjadi fanatik dan marah-marah kalau tokoh
pujaannya dikritik. Dalam beberapa buku tentang Nasr Hamid yang terbit di
Indonesia ditulis sejumlah pujian terhadapnya. Ia digambarkan sebagai sosok
ilmiah, akademis, progresif, dan sebagainya, sementara pengritiknya
diposisikan sebagai ortodoks, fundamentalis, dan sebagainya. Seolah-olah ia
adalah seorang "mujtahid" abad ke-21. Misalnya ditulis dalam sebuah buku
tentang dia: "Kendati ia harus diseret ke pengadilan dan diharuskan bercerai
dengan istrinya karena dianggap keluar dari Islam, namun gairah intelektual
tak pernah menyurutkan dirinya untuk berkarya."
Dalam sampul buku Mafhum al-Nash edisi Indonesia ditulis: "Buku
ini merupakan salah satu sayap penafsiran radikal yang menolak al-Quran
didekati secara dogmatis-ideologis. Sebagai sanggahannya, penulis melakukan
pembongkaran atas Konsep Teks dan Wahyu melalui metode analisis teks."
Para pendukung Nasr Hamid bukanlah manusia sembarangan. Mereka
rata-rata para sarjana agama dan beberapa diantaranya aktif di organisasi
Islam terkenal. Ada yang sejak kecil hidup di pesantren dan berasal dari
keluarga tokoh Islam. Memang sering muncul pertanyaan, mengapa orang yang
sama-sama belajar al-Quran justru kemudian memiliki pandangan dan sikap yang
berbeda-beda terhadap al-Quran? Secara ekstrim, banyak kasus semacam ini
terjadi. Para orientalis begitu banyak yang mengkaji al-Quran, namun justru
mereka ingin meruntuhkan otoritas al-Quran.
Nama-nama Arthur Jefry, Noldeke, dan sebagainya, sudah sangat
terkenal dalam kajian tentang al-Quran. Arthur Jefry, misalnya, mendesak
agar tafsir kritis terhadap teks al-Qur'an diwujudkan dengan menggunakan
metode penelitian kritis modern. Jefry mengatakan, bahwa apa yang kita
butuhkan, adalah tafsir kritis yang mencontohi karya yang telah dilakukan
oleh orientalis modern sekaligus menggunakan metode-metode penelitian kritis
modern untuk tafsir al-Qur'an. Mestinya, karya-karya orientalis seperti ini
dikritisi, sebab banyak diantara mereka yang memiliki misi dan motif tidak
baik dalam mengkaji al-Quran. Musthafa A'zhami dalam bukunya, The History of
the Qur'anic Text, From Revelation to Compilation: A Comparative Study with
the Old and New Testament, membongkar habis-habisan serangan orientalis dan
berbagai kalangan lain terhadap al-Quran.
Fenomena semacam ini sekali lagi membuktikan, bahwa sedang
terjadi proses liberalisasi yang sangat serius di dalam tubuh umat Islam,
khususnya di Indonesia. Ratusan, bahkan ribuan cendekiawan dari kalangan
kaum Muslim sendiri kini siap membongkar-bongkar apa yang selama ini telah
"selesai" dalam konsep Islam. Tidak perlu orientalis atau misionaris yang
turun tangan. Banyak diantara pelakunya yang kemudian mendapat keuntungan di
dunia. Apalagi, penguasa dunia yang sedang berkuasa dan kaya raya, pun suka
terhadap mereka. Wallahu a'lam. (KL, 9 Januari 2004).
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Membongkar Konsep Dasar al-Quran