[ppi] [ppiindia] Membangun Mutual Trust
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Thu, 1 Jun 2006 05:39:30 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=228779
Kamis, 01 Juni 2006,
Membangun Mutual Trust
Oleh M. Rokib Kasmuri
PERBEDAAN dan keberagaman dalam konteks keindonesiaan sangatlah niscaya. Bila
ditelisik secara geografis, ribuan pulau yang terbentang dari Sabang sampai
Merauke telah meniscayakan adanya keragaman. Tentu saja pulau-pulau tersebut
memiliki kearifan lokal (local wisdom) masing-masing.
Dari perbedaan dan keragaman itulah bangsa dan negara Indonesia terbentuk
hingga kini. Perbedaan yang meliputi pelbagai aspek kehidupan tersebut harus
bisa menumbuhkan kesadaran untuk hidup bersama. Artinya, harus ada kesadaran
dan kesalingpercayaan (mutual trust) di setiap perbedaan.
Barangkali semua pihak yang berbeda, baik beda agama, suku, ras, dan budaya
perlu bersikap jujur. Kesadaran sebagai bangsa Indonesia sebenarnya tumbuh
sekitar 1920-an atas politik kultural para mahasiswa yang terhimpun dalam
sebuah perhimpunan di negeri Belanda.
Ancaman disintegrasi bangsa sangatlah niscaya karena perbedaan kultur dan
identitas yang teramat luas. Beberapa kasus seperti kerusuhan di Poso, Ambon,
dan Tuban pascareformasi beberapa waktu lalu telah mengindikasikan perpecahan
dan disintegrasi bangsa. Ancaman tersebut terus membayang dan membahayakan
keutuhan bangsa yang plural ini.
Kemunculan pencarian identitas kesukuan dan keagamaan yang "liar" dan
berlebihan di beberapa daerah memunculkan syakwasangka antarsuku, antaragama,
dan antargolongan.
Tak heran setiap daerah berlomba-lomba memunculkan putra daerah dan menebarkan
isu kedaerahan. Pegawai daerah lain, dengan berbagai konsekuensi, bisa dihambat
karirnya hanya karena dianggap orang "luar".
Identitas kesukuan yang memicu fanatisme daerah pun tampak dalam ajang
perlombaan penyanyi dan pemilihan bintang idola tertentu. Sikap ini melahirkan
fanatisme kesukuan atau apa yang disebut Ibn Khaldun sebagai ashabiyah. Dalam
Islam fenomena ini terjadi pada periode jahiliyah. Hal inilah yang
mengindikasikan kian jauhnya masyarakat dari semangat keindonesiaan.
Belum lagi konflik internal yang terjadi dalam agama seperti serbuan terhadap
(agama sempalan) jamaah Ahmadiyah, kasus Yusman Roy, Lia Eden, Jaringan Islam
Liberal (JIL), dan lainnya yang memicu ketegangan dalam hidup berbhinneka
tunggal ika.
Konflik seperti ini perlu dikaji lebih jauh sebagai upaya menghindari
kepentingan-kepentingan kelompok dan kaum elite tertentu yang mengancam
integrasi bangsa.
Fenomena lain yang belakangan masih mengalami tarik-ulur adalah munculnya
rangan undang-undang (RUU) yang berkecenderungan mengusung kepentingan sepihak
seperti RUU Antipornografi dan Pornoaksi (APP). RUU ini perlu ditinjau lebih
dalam sebagai upaya penyadaran antara kepentingan kelompok tertentu dan
realitas kultur lainnya.
Bila yang terjadi adalah pemaksaan sepihak, tidak tertutup kemungkinan akan
melahirkan disintegrasi bangsa dengan hukum yang pincang!
Bahkan, saya mengendus beberapa konflik agama dan yang terkait dengan agama
dipicu oleh tafsir yang terlalu rigid sehingga sulit untuk berdialog dengan
realitas. Penafsiran seperti inilah yang berpotensi besar melahirkan konflik
dan disintegrasi bangsa.
Dapat dikatakan menguatnya tafsir literalis dan meredupnya tafsir liberatif
yang emansipatoris menumbuhkan konflik komunal dan membangkitkan budaya massa
sebagai kekuatan represif yang melahirkan kerusuhan dan kekerasan berjubah
agama.
Sikap jujur dan melek sejarah perlu ditingkatkan demi keutuhan bangsa. Sikap
ini setidaknya dapat mengingatkan sejarah terbentuknya bangsa dan negara
Indonesia yang terdiri atas pelbagai agama dan budaya. Sejarah Indonesia yang
cukup suram seyogianya tidak diperparah dengan konflik yang sarat kepentingan
pribadi atau golongan.
Adanya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang tumbuh dari rasa
penindasan berlarut-larut dahulu kala perlu ditumbuhkembangkan hingga kesadaran
untuk hidup layak terajut bersama.
Kebersamaan dalam pelbagai perbedaan ini melahirkan mutual trust antaragama dan
budaya. Pemupukan sikap ini sejak awal telah termaktub dalam kanon bersama
yaitu UUD '45.
Yang jelas, perbedaan dan pluralisme Indonesia bukanlah sesuatu yang harus
diyakini jatuh dari langit begitu saja. Pluralisme tersebut perlu ditata ulang
untuk menanggapi dan berdialog dengan realitas yang ada. Penataan ulang ini
bisa jadi berstatus hukum yang adil dan transparan.
Dibangunnya hukum dalam negara dimaksudkan untuk memaksa setiap orang
menghormati kebebasan orang lain. Kebebasan dalam negara plural seyogianya
dapat merepresentasikan dan mengayomi seluruh entitas dan perbedaan yang ada.
Perbedaan yang memang niscaya ini bukan berarti ditepis oleh hukum. Tapi, hukum
dapat melindungi setiap hak warga negara beserta kultur yang sudah barang tentu
berbeda dengan kultur lain.
Doktrin moralitas agama yang dielu-elukan menjadi pengayom perbedaan ternyata
tidak mampu menyelesaikan konflik. Bahkan, doktrin tersebut justru memicu
konflik. Padahal, Islam -bila dikaji dengan hikmah- meniscayakan perbedaan dan
mengharuskan toleransi antarperbedaan. Begitu pula agama lainnya.
Wallahu alam
Mohammad Rokib, mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel
Surabaya
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Home is just a click away. Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Membangun Mutual Trust