[ppi] [ppiindia] Membangun Harga Diri Bangsa

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
RIAU POS


      Membangun Harga Diri Bangsa        


      Kamis, 31 Agustus 2006  
      "Hai bangsaku, berilah daku sepuluh pemuda, maka aku akan menggoncang 
dunia.'' (Presiden Pertama RI, Ir Soekarno) 

      Pidato Bung Karno itu benar-benar menggetarkan. Bung Karno memang 
menjadikan pemuda sebagai garda terdepan dalam memperjuangkan kemerdekaan. 
Bahkan hanya dengan sepuluh pemuda tangguh, dia yakin akan mengguncangkan 
dunia. Kenyataannya, kemerdekaan Indonesia memang diraih dengan semangat 
kepemudaan yang tinggi, dilakukan oleh orang-orang muda yang progresif, 
dinamis, berani, heroik dan sedikit nekat. Modal inilah yang telah menjadikan 
bangsa ini dapat meraih kemerdekaannya, karena tanpa keberanian, tanpa sedikit 
nekat, mungkin proklamasi kemerdekaan sulit terwujud.

      Sejarah menunjukkan bahwa proklamasi terjadi setelah beberapa orang 
pemuda dipimpin oleh Chaerul Saleh 'menculik' Soekarno dan Hatta untuk segera 
memproklamirkan kemerdekaan RI. Para pemuda telah kehilangan kesabaran pada 
PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang terkesan lamban. Proklamasi 
kemerdekaan RI memang kemudian terjadi setelah peristiwa Rengasdengklok 
tersebut, yang membuktikan bahwa peran pemuda dalam mengubah  sebuah kebuntuan, 
memang tak terbantahkan.

      Gerakan pemuda dan termasuk di dalamnya mahasiswa kadang memang memiliki 
kekuatan yang tidak terduga. Sejarah membuktikan,  perubahan bangsa banyak 
dimulai oleh gerakan kepemudaan dan mahasiswa. Gerakan pemuda dan mahasiswa 
Argentina (1955) misalnya, berhasil meluluhlantakkan kekuasaan diktator Juan 
Veron. Gerakan pemuda dan mahasiswa Kuba (1957) juga berhasil menghancurkan 
diktator Batista. Keberhasilan itu juga tercermin pada gerakan reformasi pemuda 
dan mahasiswa Indonesia  1998.

      Namun ironisnya, yang terjadi sekarang, perjuangan para pemuda itu tak 
dilanjutkan oleh orang-orang muda juga. Setelah didesak oleh pemuda 
memproklamirkan kemerdekaan, Soekarno 'meninggalkan' para pemuda pejuang itu. 
Gerakan reformasi juga tak jauh beda. Setelah reformasi bergulir, pemerintahan 
berganti, pemuda dan mahasiswa juga ditinggalkan. Para pemuda progresif itu 
bagaikan pendorong mobil mogok yang kemudian ditinggal kabur setelah perjuangan 
selesai. Akibatnya, agenda kepemudaan yang menggebu-gebu itu hilang ditelan 
gempita dan pemikiran yang sudah penuh trik dan polusi kaum tua yang mengaku 
lebih berpengalaman dan lebih segalanya.

      Akibatnya, konsep-konsep reformasi dengan kekuatan semangat kepemudaan 
untuk mengubah tatanan negeri ini tak juga berjalan sesuai harapan. Kekuatan 
kaum muda Indonesia hanya bertahan sesaat dan kemudian kembali dikendalikan 
oleh 'kaum tua', orang-orang di belakang layar yang  menjadi 'penumpang gelap 
reformasi'. Kaum muda kembali harus gigit jari karena mereka kehilangan 
momentum untuk dapat merebut kembali hegemoni kekuasaan yang ternyata diberikan 
kepada orang-orang yang kurang 'mengerti' makna, semangat dan progresivitas 
kepemudaan.

      Tantangan Pemuda
      Semangat perjuangan sebenarnya sudah menjadi bagian penting dari pemuda 
Indonesia sejak dulu. Dari sanalah semangat kepemudaan harus dipupuk dan 
dipertahankan. Semangat kepemudaan seharusnya tak boleh hilang diterjang 
berbagai godaan dan tantangan. Seharusnya semakin banyak tantangan, maka  
semangat kepemudaan itu semakin membaja, semakin kuat dan semakin terlatih. 
Tantangan terbesar sesungguhnya yang dihadapi para pemuda dewasa ini adalah 
penghadapi globalisasi beserta dampak dan pengaruhnya yang terbilang luar 
biasa.  

      Anak-anak muda sekarang lebih bangga jika dapat berperilaku 
kebarat-baratan, mulai dari gaya pakaian, makanan, bahkan sikap dan pandangan 
hidup. Stereotipe gaya hidup hura-hura itu ditunjukkan secara gamblang lewat 
stasiun televisi mulai dari gaya sinetron dengan pendekatan serba hedonis, 
hingga acara kontes menyanyi seperti Indonesian Idol atau AFI (Akademi Fantasi 
Indosiar). Anak muda sekarang lebih semangat memacu diri lewat 'jalan pintas':  
Menjadi penyanyi terkenal, artis, lalu banyak penggemar dan kaya lewat profesi 
yang serba gemerlap. Cuma segelintir pemuda negeri ini yang lebih keras 
berupaya dalam hal prestasi dengan kegemilangan pengetahuan, penelitian, atau 
memeras otak dan keringat dari intelegensinya. Kebanyakan anak muda justru 
ternina bobo oleh angan-angan kosong yang ditawarkan sistem kapitalisme, tanpa 
menyadari bahwa 'perjuangan' mereka di jalur serba hedonis, hanya bisa 
dikategorikan dan menjadi sebuah perjudian atau harapan fatamorgana.

      Kesadaran Kolektif
      Untuk   menjadikan peran pemuda di tengah masyarakat lebih konkret lagi, 
perlu adanya kesadaran kolektif para pemuda pada perjuangan yang sesungguhnya. 
Anak-anak muda perlu diberikan stimulan besar untuk dapat   kembali ke jalan 
kebenaran, mempertahankan semangat perjuangan dan kepemudaan. Hal yang perlu 
pertama kali disikapi adalah tujuan ideal yang akan dicapai oleh para pemuda 
itu, bukan hanya sekadar tujuan antara. 'Perjuangan' para anak muda dalam 
kontes menyanyi, mungkin dapat dikatakan sebagai upaya untuk dapat mencari 
eksistensi diri. Namun perlu diingat bahwa 'perjuangan' itu hanya sekilas, 
menjadi euforia sesaat, tanpa ada makna yang lebih luas secara sosial dan bagi 
kemanusiaan. Pemuda perlu mendefinisikan kembali tujuan dan visi hidupnya 
secara kolektif. Dari sini kemudian akan ada kesadaran kolektif untuk 
melanjutkan peran yang diwariskan para pemuda sebelumnya. Sebab hanya dengan 
semangat, kolektivitas, dan tekad yang kuat, bangsa ini dapat kembali berjaya
  dan bangkit dari keterpurukan.

      Jika dilihat berbagai catatan dan berbagai predikat yang disandang 
Indonesia, maka anak yang baru lahir pun mungkin akan malu menjadi orang 
Indonesia. Bahkan ada buku yang berjudul seperti itu: Aku Malu Menjadi Orang 
Indonesia. Berbagai 'rekor' memang ditorehkan negeri ini, dengan label buruk. 
Kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia saat ini berada pada peringkat 
ke-109 dari 174 negara di dunia. Sementara itu, Singapura, Malaysia, Brunei, 
dan Thailand masing-masing berada pada peringkat ke-41 sampai 44. Posisi negeri 
ini bahkan di bawah Vietnam yang baru bangkit dari perang dengan Amerika.   
Jika diamati pula indeks pembangunan manusia Indonesia,  maka akan dilihat 
fakta yang terus menurun dalam lima tahun belakangan ini. Pada tahun 1995, 
Indonesia menduduki peringkat ke 104 dunia, jauh di atas Vietnam yang saat itu 
berada di peringkat 120 dunia. Ironisnya,  dalam tahun 2005 ini peringkat 
Indonesia merosot ke urutan 110 dunia sedangkan Vietnam naik menjadi peringka
 t 108 dunia.  Utang luar negeri yang ditanggung Indonesia kini mencapai 
Rp1.300 triliun lebih yang bila dibagi rata untuk seluruh penduduk Indonesia, 
mencapai Rp6,5 juta perorang. Transperancy International yang bermarkas di 
Berlin pun  mengumumkan peringkat indeks korupsi tahun 2005, dan Indonesia 
menempati rangking ke 137 dari 159 negara di dunia. 'Luar biasa'.

      Indonesia  mungkin dapat menjadi negara yang memalukan dalam berbagai 
hal, hingga saat ini. Namun ini tentu tak boleh dibiarkan berlarut. Bagaimana 
pun, harga diri bangsa sudah eksis dan didengungkan dari awal. Berkaca pada 
pepatah Melayu lama, sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Maka 
tentunya perlu dibentuk kesadaran kolektif terhadap bangsa ini mengenai 
eksistensi, kemandirian dan harga diri bangsa. Itu sebenarnya harus dimulai 
dari generasi muda seperti halnya kemerdekaan bangsa, kebangkitan bangsa sejak 
kelahiran Boedi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928 dan proklamasi kemerdekaan yang 
semuanya digerakkan oleh motor utama para pemuda. Tentunya diperlukan 
pemuda-pemuda yang tangguh, bukan para pemuda yang cengeng atau bermental 
hedonis. Maka, 'cita-cita ideal Bung Karno' pemuda tangguh Indonesia akan 
benar-benar mampu mengguncang dunia, bukan hanya sekadar orasi dan lips service 
semata. Mudah-mudahan.***


      Muhammad Amin MAg, wartawan Riau Pos 


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: