[ppi] [ppiindia] Membangun Harga Diri Bangsa
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Thu, 31 Aug 2006 23:42:27 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
RIAU POS
Membangun Harga Diri Bangsa
Kamis, 31 Agustus 2006
"Hai bangsaku, berilah daku sepuluh pemuda, maka aku akan menggoncang
dunia.'' (Presiden Pertama RI, Ir Soekarno)
Pidato Bung Karno itu benar-benar menggetarkan. Bung Karno memang
menjadikan pemuda sebagai garda terdepan dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Bahkan hanya dengan sepuluh pemuda tangguh, dia yakin akan mengguncangkan
dunia. Kenyataannya, kemerdekaan Indonesia memang diraih dengan semangat
kepemudaan yang tinggi, dilakukan oleh orang-orang muda yang progresif,
dinamis, berani, heroik dan sedikit nekat. Modal inilah yang telah menjadikan
bangsa ini dapat meraih kemerdekaannya, karena tanpa keberanian, tanpa sedikit
nekat, mungkin proklamasi kemerdekaan sulit terwujud.
Sejarah menunjukkan bahwa proklamasi terjadi setelah beberapa orang
pemuda dipimpin oleh Chaerul Saleh 'menculik' Soekarno dan Hatta untuk segera
memproklamirkan kemerdekaan RI. Para pemuda telah kehilangan kesabaran pada
PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang terkesan lamban. Proklamasi
kemerdekaan RI memang kemudian terjadi setelah peristiwa Rengasdengklok
tersebut, yang membuktikan bahwa peran pemuda dalam mengubah sebuah kebuntuan,
memang tak terbantahkan.
Gerakan pemuda dan termasuk di dalamnya mahasiswa kadang memang memiliki
kekuatan yang tidak terduga. Sejarah membuktikan, perubahan bangsa banyak
dimulai oleh gerakan kepemudaan dan mahasiswa. Gerakan pemuda dan mahasiswa
Argentina (1955) misalnya, berhasil meluluhlantakkan kekuasaan diktator Juan
Veron. Gerakan pemuda dan mahasiswa Kuba (1957) juga berhasil menghancurkan
diktator Batista. Keberhasilan itu juga tercermin pada gerakan reformasi pemuda
dan mahasiswa Indonesia 1998.
Namun ironisnya, yang terjadi sekarang, perjuangan para pemuda itu tak
dilanjutkan oleh orang-orang muda juga. Setelah didesak oleh pemuda
memproklamirkan kemerdekaan, Soekarno 'meninggalkan' para pemuda pejuang itu.
Gerakan reformasi juga tak jauh beda. Setelah reformasi bergulir, pemerintahan
berganti, pemuda dan mahasiswa juga ditinggalkan. Para pemuda progresif itu
bagaikan pendorong mobil mogok yang kemudian ditinggal kabur setelah perjuangan
selesai. Akibatnya, agenda kepemudaan yang menggebu-gebu itu hilang ditelan
gempita dan pemikiran yang sudah penuh trik dan polusi kaum tua yang mengaku
lebih berpengalaman dan lebih segalanya.
Akibatnya, konsep-konsep reformasi dengan kekuatan semangat kepemudaan
untuk mengubah tatanan negeri ini tak juga berjalan sesuai harapan. Kekuatan
kaum muda Indonesia hanya bertahan sesaat dan kemudian kembali dikendalikan
oleh 'kaum tua', orang-orang di belakang layar yang menjadi 'penumpang gelap
reformasi'. Kaum muda kembali harus gigit jari karena mereka kehilangan
momentum untuk dapat merebut kembali hegemoni kekuasaan yang ternyata diberikan
kepada orang-orang yang kurang 'mengerti' makna, semangat dan progresivitas
kepemudaan.
Tantangan Pemuda
Semangat perjuangan sebenarnya sudah menjadi bagian penting dari pemuda
Indonesia sejak dulu. Dari sanalah semangat kepemudaan harus dipupuk dan
dipertahankan. Semangat kepemudaan seharusnya tak boleh hilang diterjang
berbagai godaan dan tantangan. Seharusnya semakin banyak tantangan, maka
semangat kepemudaan itu semakin membaja, semakin kuat dan semakin terlatih.
Tantangan terbesar sesungguhnya yang dihadapi para pemuda dewasa ini adalah
penghadapi globalisasi beserta dampak dan pengaruhnya yang terbilang luar
biasa.
Anak-anak muda sekarang lebih bangga jika dapat berperilaku
kebarat-baratan, mulai dari gaya pakaian, makanan, bahkan sikap dan pandangan
hidup. Stereotipe gaya hidup hura-hura itu ditunjukkan secara gamblang lewat
stasiun televisi mulai dari gaya sinetron dengan pendekatan serba hedonis,
hingga acara kontes menyanyi seperti Indonesian Idol atau AFI (Akademi Fantasi
Indosiar). Anak muda sekarang lebih semangat memacu diri lewat 'jalan pintas':
Menjadi penyanyi terkenal, artis, lalu banyak penggemar dan kaya lewat profesi
yang serba gemerlap. Cuma segelintir pemuda negeri ini yang lebih keras
berupaya dalam hal prestasi dengan kegemilangan pengetahuan, penelitian, atau
memeras otak dan keringat dari intelegensinya. Kebanyakan anak muda justru
ternina bobo oleh angan-angan kosong yang ditawarkan sistem kapitalisme, tanpa
menyadari bahwa 'perjuangan' mereka di jalur serba hedonis, hanya bisa
dikategorikan dan menjadi sebuah perjudian atau harapan fatamorgana.
Kesadaran Kolektif
Untuk menjadikan peran pemuda di tengah masyarakat lebih konkret lagi,
perlu adanya kesadaran kolektif para pemuda pada perjuangan yang sesungguhnya.
Anak-anak muda perlu diberikan stimulan besar untuk dapat kembali ke jalan
kebenaran, mempertahankan semangat perjuangan dan kepemudaan. Hal yang perlu
pertama kali disikapi adalah tujuan ideal yang akan dicapai oleh para pemuda
itu, bukan hanya sekadar tujuan antara. 'Perjuangan' para anak muda dalam
kontes menyanyi, mungkin dapat dikatakan sebagai upaya untuk dapat mencari
eksistensi diri. Namun perlu diingat bahwa 'perjuangan' itu hanya sekilas,
menjadi euforia sesaat, tanpa ada makna yang lebih luas secara sosial dan bagi
kemanusiaan. Pemuda perlu mendefinisikan kembali tujuan dan visi hidupnya
secara kolektif. Dari sini kemudian akan ada kesadaran kolektif untuk
melanjutkan peran yang diwariskan para pemuda sebelumnya. Sebab hanya dengan
semangat, kolektivitas, dan tekad yang kuat, bangsa ini dapat kembali berjaya
dan bangkit dari keterpurukan.
Jika dilihat berbagai catatan dan berbagai predikat yang disandang
Indonesia, maka anak yang baru lahir pun mungkin akan malu menjadi orang
Indonesia. Bahkan ada buku yang berjudul seperti itu: Aku Malu Menjadi Orang
Indonesia. Berbagai 'rekor' memang ditorehkan negeri ini, dengan label buruk.
Kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia saat ini berada pada peringkat
ke-109 dari 174 negara di dunia. Sementara itu, Singapura, Malaysia, Brunei,
dan Thailand masing-masing berada pada peringkat ke-41 sampai 44. Posisi negeri
ini bahkan di bawah Vietnam yang baru bangkit dari perang dengan Amerika.
Jika diamati pula indeks pembangunan manusia Indonesia, maka akan dilihat
fakta yang terus menurun dalam lima tahun belakangan ini. Pada tahun 1995,
Indonesia menduduki peringkat ke 104 dunia, jauh di atas Vietnam yang saat itu
berada di peringkat 120 dunia. Ironisnya, dalam tahun 2005 ini peringkat
Indonesia merosot ke urutan 110 dunia sedangkan Vietnam naik menjadi peringka
t 108 dunia. Utang luar negeri yang ditanggung Indonesia kini mencapai
Rp1.300 triliun lebih yang bila dibagi rata untuk seluruh penduduk Indonesia,
mencapai Rp6,5 juta perorang. Transperancy International yang bermarkas di
Berlin pun mengumumkan peringkat indeks korupsi tahun 2005, dan Indonesia
menempati rangking ke 137 dari 159 negara di dunia. 'Luar biasa'.
Indonesia mungkin dapat menjadi negara yang memalukan dalam berbagai
hal, hingga saat ini. Namun ini tentu tak boleh dibiarkan berlarut. Bagaimana
pun, harga diri bangsa sudah eksis dan didengungkan dari awal. Berkaca pada
pepatah Melayu lama, sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Maka
tentunya perlu dibentuk kesadaran kolektif terhadap bangsa ini mengenai
eksistensi, kemandirian dan harga diri bangsa. Itu sebenarnya harus dimulai
dari generasi muda seperti halnya kemerdekaan bangsa, kebangkitan bangsa sejak
kelahiran Boedi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928 dan proklamasi kemerdekaan yang
semuanya digerakkan oleh motor utama para pemuda. Tentunya diperlukan
pemuda-pemuda yang tangguh, bukan para pemuda yang cengeng atau bermental
hedonis. Maka, 'cita-cita ideal Bung Karno' pemuda tangguh Indonesia akan
benar-benar mampu mengguncang dunia, bukan hanya sekadar orasi dan lips service
semata. Mudah-mudahan.***
Muhammad Amin MAg, wartawan Riau Pos
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Membangun Harga Diri Bangsa