[ppi] [ppiindia] Melacak Jejak Virus Pembunuh
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sun, 31 Jul 2005 16:34:49 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Edisi. 22/XXXIV/25
- 31 Juli 2005
Laporan Utama
Melacak Jejak Virus Pembunuh
Iwan Siswara Rafei dan dua putrinya, Sabrina dan Thalitha, positif meninggal
akibat flu burung. Mereka menjadi kor-ban tewas pertama di Indonesia akibat flu
yang mematikan itu. Dari dua penelitian di laboratorium Departemen Ke-se-hatan
dan Hong Kong, terbukti virus (AI) H5N1 ini virus konvensional. Namun, hingga
kini belum diketahui da-ri mana mereka terinfeksi. Rasa waswas pun melanda.
Pemusnahan unggas mulai dilakukan. Lalu bagaimana menangkalnya?
Tim investigasi penularan dan penyebaran flu burung sedang tancap gas.
Pemicunya adalah hasil uji dari laboratorium rujukan Badan Kesehatan Dunia
(WHO) di Hong Kong yang diumumkan pada Rabu pekan lalu. Dipastikan, Iwan
Siswara Rafei, 37 tahun, warga Tangerang, Banten, dan dua anaknya yang
meninggal secara beruntun terkena virus flu burung. Maklumlah, virus pembunuh
ini jika tak segera dihambat gerakannya akan makin gawat sepak terjangnya.
Mereka tak hanya mengubek-ubek sumber virus flu burung alias avian influenza di
sekitar rumah keluarga Iwan di Villa Melati Mas, Serpong, Tangerang. Dalam
beberapa hari terakhir, tim yang beranggota personel dari Departemen Pertanian,
Departemen Kesehatan, Naval Medical Unit Research dari Angkatan Laut Amerika
Serikat, dan WHO itu telah menebar petugas ke 21 provinsi yang pernah disatroni
sang virus. "Kami mencari sumber virus, lalu mengupayakan pencegahannya," kata
I Nyoman Kandun, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan Departemen Kesehatan yang menjadi komandan tim.
Virus maut yang semula masih misterius itu awalnya menyerang Sabrina Nurul
Aisah, 8 tahun, anak kedua Iwan, pada 24 Juni. Dia dirawat di Rumah Sakit
Siloam Gleneagles sejak 29 Juni. Kemudian, Iwan dan anak ketiganya, Thalita Nur
Azizah, 1 tahun, terkapar sakit. Mereka dirawat di rumah sakit yang sama sejak
7 Juli. Belakangan, Thalita sempat diboyong ke Rumah Sakit Harapan Kita,
Jakarta. Namun, ketiganya tak bisa bertahan. Mereka meninggal secara beruntun
dalam rentang waktu sepekan. Tinggallah istri Iwan, Lin Rosalina, bersama putra
sulungnya, Fariz Rizky, 12 tahun.
Dokter Eddy Soeratman, ahli paru di Rumah Sakit Siloam, menaruh curiga atas
penyakit tiga pasiennya itu. Soalnya, menurut hasil diagnosis awal, pasien
mengalami pneumonia berat. "Tapi penyakitnya agak janggal, sesak, batuk-batuk,
panas tinggi selama dua hari, lalu meninggal. Ini kan aneh," katanya. Karena
itu, Eddy melapor ke Departemen Kesehatan.
Sampel darah Iwan dan dua anaknya kemudian dikirim ke laboratorium rujukan WHO
di Hong Kong. Laboratorium yang terdapat di Jurusan Mikrobiologi, University of
Hong Kong, itu memiliki fasilitas penelitian untuk influenza, termasuk flu
burung. "Seluruh spesimen dari Asia dikirim ke Hong Kong, termasuk Indonesia,"
kata Georg Petersen, perwakilan WHO di Indonesia, kepada Ami Afriatni dari
Tempo.
Sepekan kemudian, jawaban yang ditunggu-tunggu datang. "Mereka positif terkena
flu burung," kata Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari. Namun, dia belum
mengetahui bagaimana virus mematikan yang dalam dunia kesehatan dikenal
berjenis subtipe H5N1 itu menyerang keluarga Iwan. Inilah kejadian pertama flu
burung menyerang manusia di Indonesia. Kenyataan ini tentu saja
mengkhawatirkan, kendati dipastikan virus ini tak menular dari manusia ke
manusia. "Hanya melalui unggas," kata Siti Fadillah.
Sejak ada kepastian itulah pemerintah membentuk tim investigasi untuk
menelusuri aktivitas Iwan dan dua anaknya sebelum meninggal. Sardikin Giri
Putro, Ketua Tim Medis Flu Burung Departemen Kesehatan, ikut mengerahkan
sejumlah pemantau untuk menyisir jejak Iwan dalam 10 hari terakhir. Menurut Lin
Rosalina, suami dan anaknya sebelum meninggal pernah pergi ke Bandung pada 28
Mei. "Itu adalah perjalanan ke luar kota yang terakhir kalinya," kata perempuan
35 tahun ini. Setelah itu, keluarga ini disibukkan dengan kegiatan
masing-masing. Fariz dan Sabrina menjalani ujian sekolah, suaminya sibuk dengan
pekerjaan kantor. Lin kembali beraktivitas sebagai staf Kementerian Lingkungan
Hidup.
Kecurigaan bahwa mereka tertular dari luar kota atau luar negeri terbantahkan
karena masa inkubasi virus tersebut pada manusia sungguh cepat, hanya satu
sampai tiga hari. Kemungkinan berikutnya, mencari jejak Iwan di luar rumah.
Menurut Lin, keluarganya memang senang makan di luar rumah pada hari-hari
libur. "Biasanya makan daging ayam, " katanya kepada Joniansyah dari Tempo.
Namun, jika tertular di restoran, tentu seluruh keluarganya menjadi korban,
juga orang lain yang makan di restoran itu.
Dugaan lain, virus flu burung berasal dari hidangan ayam yang dimasak di rumah.
Lin sendiri mengaku keluarganya memang menyukai daging ayam. Bahkan saking
gemarnya, mereka sampai menyediakan stok daging ayam di lemari pendingin. Ayam
itu dibeli dari penjual sayuran atau pasar swalayan tak jauh dari rumah.
Lagi-lagi, kemungkinan itu pupus karena keluarga Lin tak suka daging setengah
matang. Jadi, ayam selalu dimasak sampai benar-benar matang sebelum disantap.
Pada daging ayam yang sudah dimasak dipastikan virus avian influenza telah
terbasmi. Virus ini tak bisa hidup pada suhu 60 derajat Celsius. Lagi pula,
jika asalnya dari ayam yang dimasak sendiri di rumah, tentu virus akan
menyerang seluruh keluarga, sedangkan Lin dan seorang anaknya sehat-sehat saja.
Masih ada dugaan lain. Penularan mungkin berasal dari unggas di sekitar
kompleks Villa Melati Mas. Sebab, manusia bisa tertular dari percikan lendir
yang keluar dari unggas. Bahkan dalam jarak dekat, penularan bisa terjadi
melalui udara. Ini pun meragukan. "Jika penyebabnya adalah unggas yang ada di
sekitar tempat tinggalnya, harusnya unggas itu mati lebih dulu," kata Sardikin.
Selain itu, tentu bukan hanya Iwan dan keluarganya yang terkena.
Lalu dari mana datangnya virus? Tim investigasi penularan dan penyebaran flu
burung belum menemukan jawabannya hingga kini. Menurut Sardikin, jika kontak
antara Iwan dan unggas tak ditemukan, maka sulit pula untuk mengetahui asal
virus.
Yang pasti, selama ini virus flu burung memang sudah menyerang Tangerang.
Sekitar 15 kilometer dari rumah Iwan terdapat tempat peternakan babi.
Peternakan itu pernah terjangkit flu burung pada April lalu. Itu sebabnya,
untuk mencegah penularan, semua babi di sana akan segera dimusnahkan oleh
pemerintah.
Teknik lain untuk melacak jejak virus yang membunuh Iwan dan anaknya dengan
mengidentifikasi secara genetik. Caranya, unggas yang terkena virus flu burung
diperiksa Deoxyribose Nucleic Acid (DNA)nya. Hasilnya dibandingkan dengan virus
yang menyerang Iwan. "Jika secara genetik virus itu sama, maka sumber virusnya
baru bisa diketahui," ujar Sardikin.
Petugas dari Dinas Peternakan Kabupaten Tangerang ikut membantu menelitinya.
Mereka telah mengambil sampel darah semua ternak unggas dan babi di Tangerang
yang diduga terjangkit virus flu burung sejak Kamis pekan lalu. "Menurut
penelitian, virus flu burung yang menyerang ke unggas bisa menular ke babi,
kemudian ke manusia," kata Menteri Pertanian Anton Apriyantono.
Kendati masih remang-remang, Direktur Pemberantasan Penyakit Menular Bersumber
Binatang, Departemen Kesehatan, Hariadi Wibisana, meyakini virus yang menyerang
keluarga Iwan berasal dari satu sumber. Dia pun terus berupaya mencari jejak
virus itu untuk menemukan modus penularannya-"Sehingga mata rantai penularan
bisa diputus."
Penularan dari manusia ke manusia pun dideteksi walau kemungkinannya kecil. Tim
peneliti dari Departemen Kesehatan telah mengambil 315 sampel darah keluarga,
teman dekat, dan orang yang merawat keluarga Iwan di rumah sakit. "Saya
termasuk yang diambil sampel darahnya karena menangani korban saat dirawat di
Siloam," kata Eddy Soeratman. Pengambilan sampel dilakukan pada 11-13 Juli.
Namun, hingga akhir pekan lalu belum ada yang mengeluh demam atau sesak napas.
"Saya sehat-sehat saja," ujar Eddy.
Selain meneliti sumber virus yang merasuk ke tubuh Iwan dan keluarganya, tim
itu juga menelusuri bagaimana virus avian influenza bisa datang ke Indonesia.
Mula-mula virus ini ditemukan di Hong Kong pada 1997, lalu menyebar ke berbagai
negara di Asia. "Ada kemungkinan penyebarannya melalui migrasi burung," kata
Siti Fadillah. Memang, virus ini bisa datang bersama burung liar, tapi tak
membunuh burung yang menjadi indung, hanya menumpang terbang.
Di Indonesia, avian influenza diduga telah muncul pada 2003, tapi pemerintah
baru mengumumkan secara resmi tahun lalu. Sampai saat ini flu burung telah
menyerang belasan juta unggas di 21 provinsi. Menurut I Nyoman Kandun,
pemerintah sudah berusaha membasminya. Kemungkinan penularannya terhadap
manusia juga dipantau. "Kami telah mengantisipasi sejak wabah flu burung
merebak," kata Kandun. Toh, jatuhnya korban sulit dihindari.
Kini Menteri Siti Fadillah berharap masyarakat tak panik. "Kami segera
melakukan penyuluhan," katanya. Dia juga mengimbau agar masyarakat waspada jika
muncul gejala demam dan batuk, apalagi jika setelah bersentuhan dengan unggas.
Orang juga bisa mencegah penularan flu burung dengan cara sederhana. "Terutama
dengan menjaga kebersihan dan menerapkan pola hidup sehat," ujarnya.
Nurlis E. Meuko, Eni Saeni, Lis Yuliawati, Maria Ulfa
Kepak Maut Flu Burung
2003
29 Agustus: Lima belas ribu ekor ayam mati mendadak di Jawa Tengah.
23 Oktober: Departemen Pertanian menyebutkan penyebab wabah adalah virus tetelo
dengan jenis Vilogenic vicerotropic.
22 Desember: Pusat Informasi Unggas Indonesia menyebut penyakit flu burung ikut
serta dalam wabah tetelo itu.
2004
24 Januari: C.A. Nidom, peneliti biologi molekuler Universitas Airlangga
Surabaya, menyebut penyebab wabah adalah virus flu burung, bukan tetelo.
Kesimpulan diambil dari identifikasi DNA (deoxyribonucleic acid) dengan sampel
seratus ekor ayam dari daerah wabah.
25 Januari: Departemen Pertanian baru mengumumkan secara resmi kasus flu burung
terjadi di Indonesia. Jumlah kematian ayam dilaporkan 4,7 juta ekor. Disebutkan
pula sejak mewabah di Indonesia, pada 2003 hingga pertengahan Maret 2005,
sekitar 16,24 juta ekor unggas telah terjangkit flu burung.
2005
9 April: C.A. Nidom menemukan virus flu burung pada babi di Tangerang.
Mei: Sampel darah 81 peternak dari Sulawesi Selatan dikirim ke laboratorium
referensi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Hong Kong.
Juni: Dari 81 sampel darah itu, ditemukan virus flu burung pada seorang
peternak dari Sinjai, Sulawesi Selatan. Tapi pada orang tersebut tidak ada
gejala klinis seperti demam, sesak napas, dan daya tahan tubuh menurun drastis.
20 Juli: Pemerintah mengumumkan hasil penelitian terhadap kasus Iwan Siswara
Rafei, warga Vila Melati Mas, Tangerang, dan dua anaknya, Sabrina dan Thalita,
yang sepekan sebelumnya meninggal secara beruntun. Dari hasil uji spesimen
mereka di laboratorium di Hong Kong dipastikan kematian Iwan dan dua anaknya
karena virus flu burung.
Cara Pencegahan
Unggas
Memusnahkan dengan membakar unggas yang terinfeksi flu burung
Melakukan vaksinasi pada unggas yang sehat
Mencuci alat yang digunakan dalam peternakan dengan desinfektan
Tak mengeluarkan kandang dan kotoran unggas dari lokasi peternakan
Membersihkan kendaraan yang keluar masuk kandang dengan desinfektan
Pekerja Peternakan
Mencuci tangan dengan desinfektan
Mandi setelah bekerja
Hindari kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung
Menggunakan alat pelindung diri seperti masker, kaca mata renang, pakaian kerja
Tidak membawa peralatan kerja keluar peternakan
Membersihkan kotoran unggas setiap hari
Masyarakat
Menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan istirahat cukup
Menjaga kebersihan diri dan lingkungan
Mengkonsumsi unggas dengan cara yang benar:
Memilih unggas yang tak ada gejala penyakit pada tubuhnya
Memasak daging ayam dengan suhu sekitar 80 derajat Celsius minimal satu menit
Memasak telur dengan suhu sekitar 64 derajat Celsius minimal lima menit
Gejala Unggas
Jengger berwarna biru
Borok di kaki
Kematian mendadak
Masa inkubasi satu minggu
Manusia
Demam, dengan suhu badan di atas 38 derajat Celsius
Batuk dan nyeri tenggorokan
Radang saluran pernapasan atas
Nyeri otot
Masa inkubasi 1-3 hari
Asal-muasal
Flu burung atau Avian influenza merupakan penyakit yang disebabkan virus
influenza A sub tipe H5N1.
Jenis penyakit ini pertama kali dikenal di Italia pada 1878.
Penyakit ini menyerang unggas, seperti burung dan ayam, kemudian dapat menulari
manusia.
Penularannya ke hewan lain melalui air liur, lendir dari hidung, dan udara yang
tercemar virus yang berasal dari kotoran unggas yang terkena flu burung.
Infeksi H5N1 pada manusia pertama kali terjadi di Hong Kong pada 1997.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12ho6amr6/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122827705/A=2896129/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail">DonorsChoose.
A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in
public schools. Fund a student project in NYC/NC today</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Melacak Jejak Virus Pembunuh