[ppi] [ppiindia] McDonald"-isasi Kampus

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/01/0901.htm


"McDonald"-isasi Kampus
Oleh CECEP DARMAWAN  
DUNIA kampus berduka. Di tengah perguruan tinggi di Indonesia sedang 
disibukkan oleh aktifitas penerimaan mahasiswa baru, publik terhentak oleh 
kabar tentang kematian seorang aktivis mahasiswa IKIP Mataram. Tragisnya 
kejadian ini ditengarai dilakukan oleh oknum para "preman" yang sengaja 
didatangkan oleh pihak Yayasan. Alih-alih mendatangkan para guru besar 
(profesor) dan pakar berbagai disiplin ilmu, justru para preman yang 
didatangkan ke kampus.

Kejadian ini merupakan buntut perseteruan antara rektor lama yang didukung 
mahasiswa dan rektor baru yang didukung oleh pihak Yayasan Pembina IKIP 
Mataram. Konflik ini meluas dan memicu konflik-konflik antara dua kubu yang 
bertikai. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meredakan konflik ini, bahkan 
beberapa saat sebelum kejadian ini telah ada upaya mendamaikan kedua belah 
pihak dengan bantuan mediasi Wali Kota Mataram. Tetapi entah kenapa justru 
suasana di lapangan meruncing dan memanas.

Atas kejadian seperti ini sesungguhnya ada apa dengan dunia perguruan tinggi 
kita? Mengapa perguruan tinggi yang seyogianya menjadi benteng dan pilar 
moralitas keteladanan justru terjadi sebaliknya. Apakah memang dunia kampus 
telah berubah orientasi dari kekuatan logika (intellectual power) menjadi 
logika kekuatan (political power).

Problema dasar 

Diakui bahwa kampus bukanlah dunia yang steril dari penyalahgunaan wewenang dan 
berbagai perkeliruan lainnya. Karena memang kampus tidak hidup di ruang yang 
hampa (kosong) melainkan kampus senantiasa berinteraksi secara sosial dengan 
lingkungan masyarakatnya. Bahkan dalam beberapa kasus justru sering terjadi 
anomali di perguruan tinggi. Untuk menyebut beberapa kasus misalnya terjadi 
perebutan jabatan-jabatan strategis di perguruan tinggi seperti rektor, 
pembantu rektor, dekan, dsb, dengan cara yang tidak mencerminkan iklim 
demokrasi kampus.

Pemilihan-pemilihan jabatan strategis itu kental dengan aroma politicking yaitu 
upaya meloloskan dan atau menjegal kelompok-kelompok tertentu demi kepentingan 
kelompok elit di kampus. Akibatnya kampus menjadi arena aktivitas politik 
praktis. Mirip partai politik. Peristiwa seperti ini telah membuat 
pengotak-kotakan (polarisasi politik) civitas akademika dari sisi kepentingan 
kelompok-kelompok tertentu (vested interest). Selain itu perseteruan atau 
konflik elit-elit kampus telah menyeret mahasiswa kedalam medan konflik 
tersebut. Kondisi ini justru menjadi kontraproduktif bagi dunia kampus yang 
semestinya kampus menjadi kekuatan integratif bagi para stakeholder di dalam 
maupun di luar kampus.

Selain hal di atas, masih ditemukan pula di kampus benih-benih feodalisme. 
Bagaimana perlakuan dosen kepada mahasiswa dan bagaimana sikap guru besar di 
kampus yang memosisikan diri sebagai kaum aristokrat akademik serta bagaimana 
perlakuan para pimpinan perguruan tinggi terhadap koleganya, masih menyisakan 
sikap-sikap yang mencerminkan feodalisme. Tidak hanya itu bahkan terjadi pula 
hal-hal yang antagonistis dalam demokrasi kampus. Rekrutmen-rekrutmen pegawai, 
dosen, dan pejabat-pejabat kampus ternyata disinyalir tidak bersih dari unsur 
KKN. Banyak kerabat dari elit perguruan tinggi diangkat menjadi dosen dan 
karyawan di kampusnya. Padahal semestinya kampus mengedepankan nilai-nilai 
objektif, rasional, kritis dan komprehensif bagi rekrutmen dosen maupun 
pegawainya. Barangkali saja memang telah terjadi perubahan orientasi dari dunia 
ideal-intelektual ke dunia pragmatis-materialis. 

Secara kasat mata dapat ditelusuri bagaimana praktik-praktik diskriminatif 
terhadap perlakuan kelas-kelas reguler dengan kelas-kelas nonreguler 
(ekstensi). Hal ini disebabkan oleh; a) proses seleksi yang berbeda, b) 
sumbangan pendidikan (SPP) yang amat fantastis bagi kelas nonreguler dan, c) 
kenyamanan fasilitas dan daya dukung bagi dosen yang mengajar di kelas 
nonreguler. Fenomena ini menandakan bahwa perguruan tinggi kita selama ini 
telah menjadi elitis di tengah kemiskinan rakyatnya. Anak-anak yang berasal 
dari keluarga miskin di negeri ini jangan harap dapat mencicipi perlakuan 
istimewa seperti di atas. 

Pendidikan tinggi kita terkena penyakit "McDonald"-isasi, yakni budaya yang 
serbainstan. Atas dasar itu dibuatlah kelas pemadatan, kelas-kelas jauh, dan 
kelas-kelas eksekutif dengan imbalan yang amat menggiurkan bagi pengelola dan 
staf pengajar. Pendidikan tinggi yang seharusnya menjadikan dan mendidik 
mahasiswa menjadi kaum intelektual yang kritis, dinamis, delegasi dan 
demokratis justru saat ini telah membawa mereka kepada pola hidup yang 
pragmatis-materialis dan bahkan hedonis.

Jika demikian halnya, predikat perguruan tinggi sebagai menara gading semakin 
kuat. Padahal saat ini yang diperlukan adalah suatu perguruan tinggi yang 
menjadi "menara air" dan "menara api". Menara air di artikan bahwa perguruan 
tinggi harus dapat mengairi hikmah-hikmah kehidupan bagi masyarakat. Begitu 
pula perguruan tinggi sebagai menara api, maka perguruan tinggi harus dapat 
menebarkan cahaya-cahaya dan pelita terang bagi kehidupan. Itulah idealisasi 
didirikannya perguruan tinggi di tanah air kita. 

Pada saat mulanya perguruan-perguruan tinggi di tanah air justru menjadi alat 
perjuangan bagi para kaum intelektual dalam mencerdaskan kehidupan dan 
kesadaran kemerdekaan diri dan bangsanya. Kampus ketika itu menjadi dunia 
peradaban. Dari kampus pula terlahir orang-orang besar seperti Soekarno dan 
Hatta. Inilah hakikat sesungguhnya bahwa kampus melahirkan anak-anak bangsa 
bukan anak-anak manis dan manja yang merengek-rengek akan nasib bangsa.

Solusi

Kejadian di IKIP Mataram sungguh mengejutkan dan merisaukan dunia perguruan 
tinggi kita. Meski belum ada angka pasti berapa jumlah korban sampai saat ini 
tapi yang jelas kejadian itu telah menodai dunia kampus kita. Mahasiswa yang 
semestinya jadi "anak kandung" kampus justru telah diposisikan sebagai "musuh". 
Atas peristiwa itu kita semua harus dapat mengambil hikmah dan pelajaran 
berharga bahwa ternyata menegakkan demokratisasi di kampus masih merupakan 
barang yang mahal. Tetapi jika tidak dilakukan kita akan menuai akibat yan 
justru lebih mahal dari itu (high social and economic cost). 

Oleh karenanya, berbagai pihak perlu mencermati kehidupan kampus saat ini. 
Pertama, perlu dikaji berbagai kebijakan yang berkenaan dengan kehidupan kampus 
baik dari segi akademik maupun kemahasiswaan. Kedua, menggairahkan atmosfer dan 
iklim akademik kehidupan kampus yang kondusif seperti menumbuhkan budaya baca, 
budaya meneliti, dan sikap kritis di kalangan civitas akademika. Ketiga, bagi 
Perguruan Tinggi BHMN (Badan Hukum Milik Negara) perlu mencari format dan model 
ideal yang cocok bagi bangsa Indonesia. 

Keempat, penerapan Undang-undang tentang Yayasan dan pembahasan dan pengesahan 
RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP) secara komprehensif harus menjadi agenda 
publik. Kelima, penguatan kontrol publik dari media massa dan LSM serta 
stakeholder lainnya terhadap perguruan tinggi. Keenam, diberdayakan sinergitas 
antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan industri bagi pengembangan 
riset-riset unggulan di perguruan tinggi. Dengan demikian, diharapkan perguruan 
tinggi kita menjadi pusat unggulan bagi penyemaian generasi penerus bangsa.*** 

Penulis, dosen Ilmu Politik Universitas Pendidikan Indonesia, kandidat doktor 
Ilmu Sosial Politik PPS Unpad, mantan aktivis mahasiswa era 80-an


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: