[ppi] [ppiindia] McDonald"-isasi Kampus
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 1 Sep 2006 01:17:15 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/01/0901.htm
"McDonald"-isasi Kampus
Oleh CECEP DARMAWAN
DUNIA kampus berduka. Di tengah perguruan tinggi di Indonesia sedang
disibukkan oleh aktifitas penerimaan mahasiswa baru, publik terhentak oleh
kabar tentang kematian seorang aktivis mahasiswa IKIP Mataram. Tragisnya
kejadian ini ditengarai dilakukan oleh oknum para "preman" yang sengaja
didatangkan oleh pihak Yayasan. Alih-alih mendatangkan para guru besar
(profesor) dan pakar berbagai disiplin ilmu, justru para preman yang
didatangkan ke kampus.
Kejadian ini merupakan buntut perseteruan antara rektor lama yang didukung
mahasiswa dan rektor baru yang didukung oleh pihak Yayasan Pembina IKIP
Mataram. Konflik ini meluas dan memicu konflik-konflik antara dua kubu yang
bertikai. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meredakan konflik ini, bahkan
beberapa saat sebelum kejadian ini telah ada upaya mendamaikan kedua belah
pihak dengan bantuan mediasi Wali Kota Mataram. Tetapi entah kenapa justru
suasana di lapangan meruncing dan memanas.
Atas kejadian seperti ini sesungguhnya ada apa dengan dunia perguruan tinggi
kita? Mengapa perguruan tinggi yang seyogianya menjadi benteng dan pilar
moralitas keteladanan justru terjadi sebaliknya. Apakah memang dunia kampus
telah berubah orientasi dari kekuatan logika (intellectual power) menjadi
logika kekuatan (political power).
Problema dasar
Diakui bahwa kampus bukanlah dunia yang steril dari penyalahgunaan wewenang dan
berbagai perkeliruan lainnya. Karena memang kampus tidak hidup di ruang yang
hampa (kosong) melainkan kampus senantiasa berinteraksi secara sosial dengan
lingkungan masyarakatnya. Bahkan dalam beberapa kasus justru sering terjadi
anomali di perguruan tinggi. Untuk menyebut beberapa kasus misalnya terjadi
perebutan jabatan-jabatan strategis di perguruan tinggi seperti rektor,
pembantu rektor, dekan, dsb, dengan cara yang tidak mencerminkan iklim
demokrasi kampus.
Pemilihan-pemilihan jabatan strategis itu kental dengan aroma politicking yaitu
upaya meloloskan dan atau menjegal kelompok-kelompok tertentu demi kepentingan
kelompok elit di kampus. Akibatnya kampus menjadi arena aktivitas politik
praktis. Mirip partai politik. Peristiwa seperti ini telah membuat
pengotak-kotakan (polarisasi politik) civitas akademika dari sisi kepentingan
kelompok-kelompok tertentu (vested interest). Selain itu perseteruan atau
konflik elit-elit kampus telah menyeret mahasiswa kedalam medan konflik
tersebut. Kondisi ini justru menjadi kontraproduktif bagi dunia kampus yang
semestinya kampus menjadi kekuatan integratif bagi para stakeholder di dalam
maupun di luar kampus.
Selain hal di atas, masih ditemukan pula di kampus benih-benih feodalisme.
Bagaimana perlakuan dosen kepada mahasiswa dan bagaimana sikap guru besar di
kampus yang memosisikan diri sebagai kaum aristokrat akademik serta bagaimana
perlakuan para pimpinan perguruan tinggi terhadap koleganya, masih menyisakan
sikap-sikap yang mencerminkan feodalisme. Tidak hanya itu bahkan terjadi pula
hal-hal yang antagonistis dalam demokrasi kampus. Rekrutmen-rekrutmen pegawai,
dosen, dan pejabat-pejabat kampus ternyata disinyalir tidak bersih dari unsur
KKN. Banyak kerabat dari elit perguruan tinggi diangkat menjadi dosen dan
karyawan di kampusnya. Padahal semestinya kampus mengedepankan nilai-nilai
objektif, rasional, kritis dan komprehensif bagi rekrutmen dosen maupun
pegawainya. Barangkali saja memang telah terjadi perubahan orientasi dari dunia
ideal-intelektual ke dunia pragmatis-materialis.
Secara kasat mata dapat ditelusuri bagaimana praktik-praktik diskriminatif
terhadap perlakuan kelas-kelas reguler dengan kelas-kelas nonreguler
(ekstensi). Hal ini disebabkan oleh; a) proses seleksi yang berbeda, b)
sumbangan pendidikan (SPP) yang amat fantastis bagi kelas nonreguler dan, c)
kenyamanan fasilitas dan daya dukung bagi dosen yang mengajar di kelas
nonreguler. Fenomena ini menandakan bahwa perguruan tinggi kita selama ini
telah menjadi elitis di tengah kemiskinan rakyatnya. Anak-anak yang berasal
dari keluarga miskin di negeri ini jangan harap dapat mencicipi perlakuan
istimewa seperti di atas.
Pendidikan tinggi kita terkena penyakit "McDonald"-isasi, yakni budaya yang
serbainstan. Atas dasar itu dibuatlah kelas pemadatan, kelas-kelas jauh, dan
kelas-kelas eksekutif dengan imbalan yang amat menggiurkan bagi pengelola dan
staf pengajar. Pendidikan tinggi yang seharusnya menjadikan dan mendidik
mahasiswa menjadi kaum intelektual yang kritis, dinamis, delegasi dan
demokratis justru saat ini telah membawa mereka kepada pola hidup yang
pragmatis-materialis dan bahkan hedonis.
Jika demikian halnya, predikat perguruan tinggi sebagai menara gading semakin
kuat. Padahal saat ini yang diperlukan adalah suatu perguruan tinggi yang
menjadi "menara air" dan "menara api". Menara air di artikan bahwa perguruan
tinggi harus dapat mengairi hikmah-hikmah kehidupan bagi masyarakat. Begitu
pula perguruan tinggi sebagai menara api, maka perguruan tinggi harus dapat
menebarkan cahaya-cahaya dan pelita terang bagi kehidupan. Itulah idealisasi
didirikannya perguruan tinggi di tanah air kita.
Pada saat mulanya perguruan-perguruan tinggi di tanah air justru menjadi alat
perjuangan bagi para kaum intelektual dalam mencerdaskan kehidupan dan
kesadaran kemerdekaan diri dan bangsanya. Kampus ketika itu menjadi dunia
peradaban. Dari kampus pula terlahir orang-orang besar seperti Soekarno dan
Hatta. Inilah hakikat sesungguhnya bahwa kampus melahirkan anak-anak bangsa
bukan anak-anak manis dan manja yang merengek-rengek akan nasib bangsa.
Solusi
Kejadian di IKIP Mataram sungguh mengejutkan dan merisaukan dunia perguruan
tinggi kita. Meski belum ada angka pasti berapa jumlah korban sampai saat ini
tapi yang jelas kejadian itu telah menodai dunia kampus kita. Mahasiswa yang
semestinya jadi "anak kandung" kampus justru telah diposisikan sebagai "musuh".
Atas peristiwa itu kita semua harus dapat mengambil hikmah dan pelajaran
berharga bahwa ternyata menegakkan demokratisasi di kampus masih merupakan
barang yang mahal. Tetapi jika tidak dilakukan kita akan menuai akibat yan
justru lebih mahal dari itu (high social and economic cost).
Oleh karenanya, berbagai pihak perlu mencermati kehidupan kampus saat ini.
Pertama, perlu dikaji berbagai kebijakan yang berkenaan dengan kehidupan kampus
baik dari segi akademik maupun kemahasiswaan. Kedua, menggairahkan atmosfer dan
iklim akademik kehidupan kampus yang kondusif seperti menumbuhkan budaya baca,
budaya meneliti, dan sikap kritis di kalangan civitas akademika. Ketiga, bagi
Perguruan Tinggi BHMN (Badan Hukum Milik Negara) perlu mencari format dan model
ideal yang cocok bagi bangsa Indonesia.
Keempat, penerapan Undang-undang tentang Yayasan dan pembahasan dan pengesahan
RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP) secara komprehensif harus menjadi agenda
publik. Kelima, penguatan kontrol publik dari media massa dan LSM serta
stakeholder lainnya terhadap perguruan tinggi. Keenam, diberdayakan sinergitas
antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan industri bagi pengembangan
riset-riset unggulan di perguruan tinggi. Dengan demikian, diharapkan perguruan
tinggi kita menjadi pusat unggulan bagi penyemaian generasi penerus bangsa.***
Penulis, dosen Ilmu Politik Universitas Pendidikan Indonesia, kandidat doktor
Ilmu Sosial Politik PPS Unpad, mantan aktivis mahasiswa era 80-an
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] McDonald"-isasi Kampus