[ppi] [ppiindia] Masih Kayakah Keanekaragaman Hayati Laut Indonesia?

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
http://www.suarapembaruan.com/News/2004/05/30/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY

150 Tahun setelah Penjelajahan Wallace
Masih Kayakah Keanekaragaman Hayati Laut Indonesia?

SUARA sirene kapal membelah udara Makassar yang panas. Sorak-sorai dan
lambaian tangan mengiringi kepergian empat kapal yang membawa 100-an
peneliti kelautan dalam negeri, 10 peneliti asing, 170-an anggota pramuka,
dan sejumlah wartawan. Sejarah baru siap ditoreh dalam Ekspedisi Wallacea
yang dilepas Menteri Kelautan dan Perikanan Prof Dr Rokhmin Dahuri di
Pelabuhan Peti Kemas Makassar 22 Mei 2004. Masih kayakah keanekaragaman
hayati (biodiversity) laut Indonesia?

Pertanyaan ini akan segera terjawab. Bukan apa-apa, selama tiga tahun ke
depan, tim peneliti itu membedah kekayaan keanekaragaman hayati laut,
khususnya di kawasan timur Indonesia. Kawasan inilah yang pada masa 150
tahun silam menjadi objek ekspedisi tersohor bagi dunia ilmu pengetahuan.
Bayangkan, penjelajah kondang asal Inggris Alfred R Wallace (1823-1913) tiba
di Buleleng, Bali, pada 13 Juni 1856. Dari Pulau Dewata, Wallace lalu
menjelajah ke berbagai penjuru daerah seperti Kupang, Ambon, Makassar,
Manado, Ternate, Halmahera, Buru, Banda, sampai ke Aru. "Pencapaian utama
dari penjelajahan Wallace ketika itu adalah memformulasikan teori evolusi
bersama dengan Charles Darwin yang didasarkan atas hasil-hasil penelitian
Wallace di kawasan tengah dan timur Indonesia selama tahun 1854-1862,"
ungkap Rokhmin kepada Pembaruan di Jakarta, Kamis (27/5).
Jadi, lanjut Rokhmin, ekspedisi tersebut punya arti penting bagi dunia dan
Indonesia. Berkat kiprah Wallace mempelajari beragam flora dan fauna di
Nusantara tadi, dapat diterangkan teori evolusi makhluk hidup di bumi.
Ujung-ujungnya, Wallace juga memperkenalkan Garis Wallace (Wallace Line)
yang tersohor itu. Bukan apa-apa, garis imajiner yang memanjang dari
Filipina di utara dan ke Selat Makassar dan Selat Lombok di selatan itu
memisahkan secara zoogeografis pulau-pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan di
sebelah barat dengan pulau-pulau Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua
di sebelah timur. Berdasarkan garis itu, Wallace mengungkapkan bahwa flora
dan fauna di barat cenderung mirip dengan di Benua Australia. Berbagai
temuan itulah yang membuat ilmuwan sempat ragu, siapa sebenarnya penemu
teori evolusi: Wallace ataukah Darwin?
Napak Tilas
Setelah 150 tahun berlalu, kini napak tilas ekspedisi itu mulai digelar.
Bedanya, kalau dulu menginventarisasi flora dan fauna darat, kini tim
Wallacea mengumpulkan flora dan fauna di laut dan perairan umum (seperti
danau dan sungai). Sepuluh peneliti dari lima negara (Australia, Inggris,
Belanda, Jepang, dan Kanada) ikut serta dalam membedah laut Indonesia.
"Mereka (peneliti asing) yakin, Indonesia masih dianggap sebagai pusat
keanekaragaman hayati laut di dunia," kata Rokhmin berdasarkan hasil
wawancaranya dengan para peneliti asing tersebut di Makassar.
Sebagai pusat keanekaragaman hayati, terumbu karang di Indonesia laksana
string of pearl (untaian mutiara). Artinya, keberadaan terumbu karang kita
mempengaruhi ekosistem di perairan Filipina, Korea Selatan, dan Jepang. Oleh
arus air laut, larvae dari perairan Indonesia dibawa ke bagian utara sampai
Jepang. "Hal inilah yang membuat dunia peduli dengan keragaman hayati laut
Indonesia," ujar Rokhmin.
Jelas bahwa ekspedisi semacam ini memiliki nilai strategis bagi Indonesia.
Betapa tidak, upaya tersebut merupakan langkah awal dalam mengelola potensi
laut secara bijaksana. Bagaimana kita bisa mengelola dengan baik kalau kita
sendiri tidak tahu isi sumber daya alam yang sesungguhnya?
Apalagi riset kelautan di Indonesia masih sangat langka. Karena itulah, tim
ini melibatkan anggota Pramuka dalam jumlah yang lumayan banyak. "Melalui
ekspedisi ini, kami ingin menggugah generasi muda untuk mencintai laut dan
isinya," ujarnya.
Akibat langkanya riset kelautan itu, kata Menteri, baru lima persen potensi
kelautan yang berhasil diidentifikasi. Sisanya, 95 persen masih serba
misterius. Jika saja kita mampu menguak potensi itu lebih banyak lagi,
Rokhmin yakin, secara ekonomi lebih banyak yang bisa dimanfaatkan secara
berkelanjutan.
Ia menduga, untuk hewan laut yang menetap (seperti ikan demersal yang hidup
di dasar laut, kerang-kerangan, crustacea atau udang-udangan) memiliki
tipikal yang berbeda sesuai dengan Garis Wallace. "Teori inilah yang harus
dibuktikan dalam ekspedisi sekarang ini," jelasnya.
Penyakit Khas
Sementara itu, Ketua Tim Ekspedisi Wallacea, Dr Safri Burhanuddin,
mengungkapkan, selain menginventarisasi biota laut, tim juga melakukan
pemetaan batuan dan pengukuran sumber daya air bersih dengan menggunakan
metode geolistrik. Di samping itu, tim oseanografi memfokuskan penelitiannya
pada pengukuran parameter oseanografi seperti arus, pasang surut, dan angin.
Kegiatan lainnya, lanjut Direktur Pusat Riset Sumber Daya Nonhayati Laut,
Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP), adalah memetakan tipologi pantai
dan inventarisasi potensi pesisir. "Kami juga mengidentifikasi daerah-daerah
yang memiliki potensi wisata bahari seperti di Takabonerate (Sulsel)," jelas
Safri.
Bekerja sama dengan Departemen Kesehatan, tim juga melakukan bakti sosial
berupa pemeriksaan kesehatan untuk masyarakat di pulau-pulau kecil di jalur
Ekspedisi. "Tim kami juga meneliti penyakit-penyakit khas yang terdapat di
pulau-pulau kecil tersebut," katanya.
Beruntung bagi sejumlah masyarakat yang bermukim di pulau-pulau kecil
seperti di Lumu-lumu (pulau terluar Makassar), Kalaotoa (pulau terluar
Selayar), Sabalana (pulau terluar Pangkep), dan Batuata (pulau terluar
Buton. Sebab, di pulau itulah tim memasang telpon dan radio satelit. Dengan
demikian, mereka bisa lebih mudah berkomunikasi dengan masyarakat lainnya.
"Kalau ditotal, ekspedisi ini menggarap sekitar 67 proposal riset," ungkap
Safri. Bagi masyarakat di Makassar, Bau-bau, Kendari, dan Luwuk Banggai yang
ingin melihat langsung ekspedisi tersebut juga bisa melihat open ship
(pameran di atas kapal) di pelabuhan-pelabuhan tersebut.
Untuk mendukung berbagai kegiatan itu, tim menggunakan empat kapal yang
terdiri dari tiga kapal riset dan satu kapal angkut KRI Tg Dalpele milik TNI
AL. Ketiga kapal riset itu adalah Phinisi Cinta Laut milik Yayasan Lembaga
Perahu (kerja sama Unhas dan Universitas Ehime Jepang), Baruna Jaya III
punya BPPT, serta KRI Arung Samudra milik TNI AL. Hasil ekspedisi tersebut
akan digelar Lokakarya di Unhalu, Kendari pada 1 Juli 2004 dan Seminar di
Jakarta pada 13 Desember 2004 bertepatan dengan peringatan Hari Nusantara.
(B-12)


Last modified: 28/5/04



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts:

  • » [ppi] [ppiindia] Masih Kayakah Keanekaragaman Hayati Laut Indonesia?