[ppi] [ppiindia] Maaf, Pak Harto
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sat, 27 May 2006 00:25:21 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/27/utama/2683569.htm
POLITIKA
Maaf, Pak Harto
Budiarto Shambazy
Perkembangan di seputar sakitnya Pak Harto menjadi, maaf, absurd. Kita
disandera "sirkus politik" yang tak memberikan manfaat apa-apa.
Absurditas pertama, kondisi kesehatan Pak Harto semestinya bersifat rahasia.
Bapak Pembangunan yang sedang sakit memang layak jadi berita, tetapi bukankah
ada "rahasia pasien"?
Banyak warga yang langsung terkenang kepada perlakuan pemerintah terhadap Bung
Karno. Penjenguk Pak Harto berduyun-duyun, sebaliknya keluarga Bung Karno
bahkan tak diizinkan membesuk.
Kejaksaan Agung mencabut status cekal Pak Harto agar bisa berobat ke luar
negeri, sementara Bung Karno menjalani tahanan rumah. Proses pengobatan untuk
Pak Harto di-up-date secara rutin, sebaliknya Bung Karno ditelantarkan.
Absurditas kedua, para pejabat berlomba-lomba berbicara mengenai Pak Harto.
Kalau dilakukan jajak pendapat, pernyataan mereka berkisar pada kalimat "ampuni
dia, maafkan dia, dia sudah berjasa".
Kita yang mengernyitkan dahi. Kok, isu yang cenderung memecah belah bangsa ini
tiba-tiba diangkat ke permukaan sehingga menimbulkan pro-kontra?
Banyak soal lain yang memerlukan perhatian dari pemerintah, salah satunya
ancaman dari mereka yang ingin menafikan Bhinneka Tunggal Ika. Skala prioritas
kerja pemerintah mestinya membenahi kesulitan ekonomi yang berderet-deret
jumlahnya.
Banyak yang bertanya, "Apakah masalah Pak Harto pantas dijadikan prioritas?"
Ternyata banyak yang bilang itu bukan soal terpenting di republik ini.
Kasus Pak Harto sudah kadung menjadi sebuah status quo yang telah berlangsung
tanpa gangguan sejak tahun 1999. Siapa pun yang mau mengutak-atik soal sensitif
ini, itu namanya cari penyakit.
Dalam rentang waktu yang lama itu tidak ada satu pun dari tiga cabang kekuasaan
kita yang, for better for worse, mau menyelesaikan kasus ini. Jangan-jangan
dokumen-dokumen proses penyelidikan dan penyidikan Pak Harto sudah menguning.
Absurditas ketiga, kasus Pak Harto membuat kita, dalam bahasa Inggris, seperti
bersikap "playing God". Kita terseret ke dalam sebuah pusaran teka-teki raksasa
dan mesti menebak, apakah Pak Harto berjasa atau tidak bagi negeri ini?
Lalu, apakah rakyat pantas memaafkan Pak Harto atau tidak perlu? Hidup sudah
semakin susah, kok kita mendadak jadi harus "menjadi Tuhan" untuk memvonis Pak
Harto.
Memang betul Pak Harto sebenarnya masih menyandang status terperiksa karena ia
sedang diselidiki oleh pengadilan berkaitan dengan dugaan korupsi. Itu
merupakan amanat Ketetapan MPR Nomor 11 Tahun 1998.
Di lain pihak banyak yang juga lupa kepada prinsip praduga tak bersalah.
Pengadilan belum berlangsung, Pak Harto belum menjadi terpidana.
Apa pun, ingar-bingar tentang Pak Harto sakit ini seperti déjà vu all over
again. Untuk kesekian kalinya terbukti lagi bahwa kita sebenarnya masih tetap
diganduli oleh berbagai masalah yang diwarisi oleh Orde Baru.
Seperti sebuah mobil, bagasi kita susah ditutup karena penuh barang rongsokan.
Kalau barang itu makanan, kita pasti sudah mati tak lama sesudah mengunyahnya.
Jika tumpukan barang di bagasi itu pakaian, wah baunya lebih sedap dibandingkan
tumpukan-tumpukan sampah di Bandung. Andaikan ia sepatu olahraga, wuih baunya
makin sedap lagi.
Bagaikan anak balita, kita dipaksa berjalan terus ke depan walaupun
bangsa-bangsa lain menyempatkan dulu menoleh ke belakang sebelum melangkah
maju. Makanya kita menjadi anak balita yang sering terpeleset karena tidak
memahami sejarahnya sendiri.
Pergantian rezim dari Orde Baru ke Orde Reformasi tidak berjalan mulus 100
persen. Masih ada "sisa-sisa Orde Baru" yang bertengger di puncak-puncak
kekuasaan politik maupun bisnis.
Kita tidak belajar dari pergantian rezim yang mulus dari Orde Lama ke Orde Baru
pertengahan 1960-an. Pak Harto dan teman-temannya menumpas habis lawan-lawan
politik mereka yang, jika perlu, diuber sampai ke ujung dunia.
Kita menyoraki kemenangan Pak Harto sambil menggilas kekalahan Bung Karno.
Sejak saat itu kita mengenal nasib pemimpin from hero to zero.
Sebagian dari kita juga ngawur dalam memandang pemimpin, seolah-olah mereka
berkualitas "ratu adil" atau "satria piningit". Ternyata mereka tak pernah
bersikap adil dan suka bersikap tidak ksatria.
Maka, lahirlah pemimpin berkelas "patron" yang dikelilingi para "client" yang
setia sampai mati. Dulu ada Barisan Pendukung Soekarno, sekarang tak sedikit
kalangan yang membela Pak Harto.
Hubungan kekuasaan yang tak modern itu membuat kita mudah mendewakan pemimpin.
Bung Karno jadi presiden seumur hidup, Pak Harto yang sudah sepuh bolak-balik
dicalonkan oleh Golkar menjadi presiden lagi.
Penyembahan presiden itulah yang membuat Indonesia sesungguhnya tidak
kompatibel menjadi sebuah demokrasi. Anda kurang percaya?
Buktinya sampai sekarang pun belum ada partai politik yang bersikap profesional
alias tak melulu tergantung dari ketua umumnya. Pemilih kita tak demokratis
karena selalu menyesal dan melepéh presiden yang dipilihnya sendiri.
Saya punya seorang teman yang suka bilang, "Ah, enakan zaman Pak Harto. Dulu
aman, bisnis lancar".
Saya tanya, "Bener lu mau kita balik kayak dulu lagi?"
Setelah berpikir sebentar, ia bilang ogah karena mengaku sakit escapism (lari
dari kenyataan) politik semata-mata.
Dari demokrasi ala Melayu itulah lahir sikap pemimpin dan rakyat yang ragu,
yang tak mau mengambil risiko, yang maunya aman, yang "tengahan". Kita sering
mendengar kalimat "kita memaafkan Pak Harto, tetapi proses hukumnya harus
dilanjutkan".
Jadi, gimana nih?
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Protect your PC from spy ware with award winning anti spy technology. It's free.
http://us.click.yahoo.com/97bhrC/LGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Maaf, Pak Harto