[ppi] [ppiindia] MENINGGALKAN JOGJAKARTA
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>,<wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>,"ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Wed, 31 Mar 2004 15:58:33 +0200
** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Meninggalkan Jogjakarta
Sekitar pertengahan November 1965 itu, suasana Jogjakarta telah makin menekan
yang membuat aku gerah. Sejak Gatot diambil dalam operasi "cidukan" di rumahku,
aku semakin terbatas mempunyai "teman". Teman-teman sealiran mungkin juga sudah
sibuk menyelamatkan diri agar tak diciduk oleh kelompok-kelompok pemuda yang
tak jelas dari mana, yang setiap malam kini bergerak cepat dan aktif melakukan
razia dari kampung ke kampung memburu orang-orang PKI atau yang mereka anggap
anggota beserta organisasi-organisasi yang berhubungan terkait. Aku
membayangkan, teman-temanku dengan upayanya sendiri bersembunyi dan tercerai
berai mencari tempat-tempat yang lebih aman menghindari "cidukan" itu. Aku tak
pernah bertemu dengan mereka lagi. Atau mungkin malah memang sudah diciduk dan
sekarang entah mereka dibawa dan berada di mana. Setiap hari ada saja aku
mendengar kabar, bahwa si Anu dan si B atau C, teman-teman yang aku kenal telah
terciduk. Ceritanya bertambah seram karena dalam razia itu
korban cidukan tak jarang dianiaya dengan kejam dan membabi buta. Ini
membuatku marah tetapi juga takut. Ingat Gatot, aku sering mencoba
merekonstruksi siapa yang dulu merazia ke rumahku itu. Aku merasa kenal
seseorang dari suaranya pada tubuh dan wajah yang sengaja dibalut rapat oleh
jas hujan sehingga tak mudah dikenali dalam remang-remang temaram malam.
"Rasanya aku kenal deh," begitu perasaanku. "Ya..ya aku kenal dia." Tapi siapa
pastinya? Aku hanya bisa diam dan miris oleh kabar-kabar semacam itu. Situasi
tanah air semakin mencekam buat saya. Meskipun aku relatif lebih "aman dan
bebas" berkat senjata "surat sakti" yang aku peroleh dari Polisi ketika aku
"diamankan" menyusul peristiwa SMA Teladan sebulan yang lalu, namun rasa resah
mulai menggangguku dan was-was terhadap keselamatan diriku. Surat Lapor Diri
itu sekarang aku bawa ke mana-mana sebagai "jimat"ku sewaktu-waktu menghadapi
hal-hal tak terduga. Namun kini aku tak banyak lagi pergi ke mana-mana demi
rasa aman,
sejak aku merasa setiap orang memandangku sebagai orang yang perlu diawasi
dan dicurigai.
Aku tak lagi pergi ke sekolah. Kadang kangen juga untuk kembali sekolah
berkumpul dengan teman-teman. Terpikir nasib ujianku tahun ini. Pasti aku tak
mungkin bisa menyelesaikan SMAku. Tapi mengingat situasi seperti itu aku pun
mulai tak peduli dan masa bodo pada nasib pendidikanku. Biar saja! Ada hal
lebih besar yang membebani pikiranku. Maka aku jadi tak ingin datang ke
sekolahku yang aku pikir lebih baik dihindari saja hal-hal tak terduga yang
bisa mengancam keselamatanku. Aku masih belum tahu benar situasi yang terjadi
sesungguhnya. Suasananya masih membingungkan tetapi jelas makin panas dan sesak
buatku. Apalagi di Jogja pun ternyata ada korban Komandan Korem yang dibunuh,
yang konon kabarnya juga dibantai oleh PKI. Kebetulan pula anaknya sekolah di
SMA Teladan. Seperti bensin tersulut oleh api, mereka makin brutal untuk
melakukan balas dendam. Jadi ah..apa perlunya aku datang ke sekolah? Itu kan
seperti ular mendatangi gebugan? Karena situasi yang tak jelas dan makin ha
ri makin terasa meningkat menjadi lebih berbahaya dan itu bisa saja menimpa
diriku di luar dugaan setiap saat, maka pikiranku sekarang sangat ingin segera
pergi ke Jakarta untuk berkumpul kembali dengan keluarga. Saya dengar di
Jakarta tak setegang di Jogjakarta. Aku bersyukur, Ibuku masih tetap mengajar
di SD di dekat rumah di daerah Rawasari. Tetapi Bapak sudah banyak di rumah.
Mungkin di kantornya di Merdeka Timur juga tak kondusif lagi. Aku hanya bisa
berhubungan dengan surat. Syukur, adikku Jelitheng sudah berkumpul kembali di
sana. Jadi aku benar-benar tak punya saudara lagi di Jogjakarta. Tapi di lain
sisi dalam situasi begini aku jadi bisa menyimpan rasa tenang karena tahu
keluargaku dalam keadaan aman. Yang kupikirkan sekarang hanya diriku sendiri.
Menghubungi teman pun sudah tak bisa bebas. Dan lagi siapa teman yang mau
kuhubungi? Sekarang harus diperhitungkan benar-benar agar tak konyol. Menjumpai
pacarku pun, yang tinggal tak jauh dari rumahku, aku harus pikir-pikir dulu.
Jangan sampai kehadiranku malah mengundang bahaya karena bisa menimbulkan
masalah yang lebih besar. Jadi aku menahan diri untuk tahu diri pada posisiku
sekarang, aku tak pergi ke rumahnya dulu. Setiap mata sekarang seolah
mengawasiku di mana pun aku berada. Sama sekali tak nyaman. Aku benar-benar
dalam keadaan sendiri.
Karena situasi itu pula Ketua RT kampungku Joyonegaran diganti, karena Pak RT
lama berindikasikan anggota PKI yang kini telah diciduk pula. Ironisnya ia
masuk ke penjara Wirogunan, tempatnya selama ini bekerja. Kepala RT yang baru
dipegang oleh warga sepuh kampung Joyonegaran yang sesungguhnya saya kenal
dengan baik, karena mereka adalah kolega guru ayah ibuku di Taman Siswa.
Anak-anaknya pun teman sekolah waktu di SD. Keadaan membuatnya berubah total.
Pak Broto, Ketua RT sekarang bukan lagi Pak Broto yang kukenal dulu yang lemah
lembut, kini berbalik 180%. Dia menunjukkan kegarangannya kepadaku. Suatu sore
aku dipanggil ke rumahnya yang tak jauh dari rumahku. Dia pasang muka yang tak
ramah. Aku dibentak-bentak, dibilang aku orang berbahaya, anak PKI yang tak
tahu diri, anaknya pengkhianat, pembunuh, dlsb. yang membuat hatiku sangat
panas, tak mengira ia berbicara seperti itu kepadaku. Dia tahu betul "warna"`
ayahku, sehingga dia tak ragu-ragu mencaci makiku seenak perutnya
. Aku sakit hati betul kepadanya. Tapi apa haknya ia berbicara dengan cara
begitu terhadapku? Aku hanya bisa diam tak melawan. Dia melanjutkan, "Sebagai
Ketua RT di sini, saya sekarang berhak melarang kamu pergi ke luar rumah. Kalau
pergi harus ada izin dan melapor kepada saya," katanya dengan nada tinggi. Saya
menolak, "Tapi saya sudah diperiksa Polisi, dan sekarang setiap hari saya
melapor ke kantor Polisi, Pak," sergah saya sembari menunjukan surat Lapor Diri
yang selalu saya bawa itu. Dia diam saja. "Sudah, pokoknya kamu tidak boleh ke
mana-mana! Kamu akan saya awasi. Awas, jangan berbuat yang macam-macam!"
bentaknya. Aku diam menahan geram tetapi aku tatap wajah keriput Pak Broto
dengan sangat tidak senang. Kutunjukkan rasa marahku. Lalu aku tinggalkan
rumahnya begitu saja.
Sejak itu, keinginanku untuk segera pergi meninggalkan Jogjakarta makin
mengental. Tapi bagaimana caranya? Pasti Polisi - di mana setiap hari aku masih
melapor - tak akan mengizinkanku. Bagiku tak juga mudah meninggalkan rumah
tanpa diketahui oleh Pak RT, karena rumahku berdampingan. Apalagi kalau
membawa barang-barang, termasuk sepedaku. Kepergianku pasti akan mudah
diketahui. Otakku berputar keras mencari jalan.
Sementara itu pacarku memberi kabar bahwa ia dan keluarganya akan segera pindah
ke Bandung dalam waktu dekat. Mereka bukan keluarga yang "sewarna" dengan
keluargaku, tetapi ketika itu banyak masyarakat yang menuduhnya dekat dengan
PKI. Tak heran karena ibunya, yang juga teman akrab ibuku, banyak aktif di
organisasi kewanitaan yang tergolong berpikiran maju dan progresiv. Jadi saya
mengerti betul, apalagi salah satu anak gadisnya telah diketahui banyak orang
berpacaran denganku, menambah yakin atas "cap buruk" tadi. Keadaan ini terasa
mengancam yang membuat gerah semuanya. Kebetulan tempat bekerja ayah pacarku di
Jakarta. Jadi sebenarnya ada alasan kuat memindahkan keluarga untuk berkumpul
bersama. Perasaanku dilematis. Kadang tak dapat saya sembunyikan suasana
batinku yang semakin tawar dan gundah, kami akan berpisah dan itu artinya aku
akan semakin sendiri di Jogja. Tapi di sisi lain, aku bersyukur dan berdoa agar
mereka bisa segera pindah meninggalkan Jogja. Aku juga mulai
kawatir akan keselamatannya dan keluarganya. Aku mulai menghitung hari.
Kepedihan hatiku tak terelakkan. Sementara itu aku berpikir keras tapi masih
belum juga menemukan jalan keluar agar aku pun bisa segera meninggalkan Jogja.
Perasaanku makin meruyak, ketika hari itu di pertengahan Desember 1965, tiba
saat aku mengantarkan pacarku dan keluarganya ke stasiun Tugu untuk berangkat
pindah ke Bandung. Dalam situasi yang menekan begitu, perpisahan yang terpaksa
dan dengan rasa sadar makin terasa getir dan memedihkan hati. Kami merasa makin
saling membutuhkan untuk memperkuat hati masing-masing. Perasaan kesendirian
yang terkucil memberikan siksaan yang luar biasa. Dalam suasana ketidakpastian
itu, aku tak tahu apakah kelak kami masih bisa berjumpa lagi. Aku tak pernah
tahu nasibku besok. Kubayangkan jalan bahaya yang masih akan kutempuh. Apa pun
bisa terjadi. Sementara pacarku tak bisa berkata apa-apa lagi. Kami lebih
banyak diam. Masing-masing menyimpan kata-kata yang tak terucap di ujung mulut.
Sesekali hanya bisa saling memandang pilu. Saya merasakan betapa repot ayah
ibunya untuk pindah secara tergesa-gesa dan rasa was-was dengan membawa semua
anak-anak gadisnya yang lima orang itu bersama bawaan
yang tak terlalu banyak tanpa menyolok. Pada wajah Bapak Ibu tak
tersembunyikan rasa tegang dan letih. Ada rasa kekawatiran dan tak tenteram
saat itu kalau-kalau ada pihak-pihak yang mau mencegah pergi. Aku menyalami
pacarku dan saudara-saudaranya sambil berbisik, semoga selamat sampai tujuan
dan sampai ketemu kembali. Antara kelegaan dan kepedihan bercampur aduk menjadi
satu ketika akhirnya kereta api yang membawanya mulai pelan meninggalkan
stasiun Tugu. Aku menatap kereta api yang berjalan makin cepat. Mataku tak
berkedip dan mengantarnya dengan rembangan air mata di pelupuk hingga kereta
api hilang dari pandangan. Apakah kami masih bisa ketemu lagi? Tapi saat itu
bukan hal yang terpenting untuk dipikirkan. Bagaimana segera bisa pergi
meninggalkan Jogja itu yang paling penting bagiku sekarang. Hatiku
berdebar-debar. Aku sekarang benar-benar sendiri.
Situasi tanah air makin memburuk dan dalam tensi yang memuncak. Kedudukan
Presiden Soekarno semakin pula terancam. Seolah angin berhembus mesra ke arah
militer yang seperti mendapatkan tempat menunjukan kekuatannya untuk semakin
memojokkan Presiden Soekarno. Seperti mendapatkan darah baru, organisasi
politik lawan PKI pun bertambah garang dari hari ke hari dengan lantang
menyerukan pembubaran PKI dan antek-anteknya. Mereka marah kepada PKI atas
pembunuhan kejam yang dilakukannya terhadap para jendral yang konon katanya
disiksa dengan mengiris-iris kelaminnya dan dicongkel matanya. Ya ampun, apa
memang begitu yang sebenarnya terjadi sih, hatiku berontak tak percaya. Terjadi
pembalasan dendam. Di mana-mana kemudian terjadi pembunuhan-pembunuhan kejam
dan makin merebak penumpasan tanpa pandang bulu terhadap anggota PKI dan
keluarganya serta orang-orang yang dikira PKI. Masa paling kelam dalam sejarah
bangsaku. Suasana bertambah kacau dan menakutkan. Ekonomi makin morat-marit. Te
rjadi saneering terhadap nilai uang rupiah. Uang Rp 10.000,- kini dihargai
hanya serupiah saja. Aku semakin tak betah tinggal di Jogja. Ketika di tengah
kerumunan, sekarang aku menjadi tak tenang. Aku harus awas dan bersikap waspada
memperhatikan sekeliling, takut ada orang-orang yang kukenal yang akan
melakukan sesuatu yang buruk terhadapku. Maka kalau tak penting sekali aku
enggan ke luar rumah. Setiap hari acaraku hanya pagi-pagi pergi ke Ngupasan
untuk lapor kepada polisi lalu langsung pulang lagi. Sesekali aku terhibur
tatkala pada waktu yang bersamaan aku bisa ketemu teman-teman SMA Teladan yang
sama-sama mel. Di situ kesempatan berlama-lama untuk bercengkerama dan
menumpahkan perasaan satu sama lain.
Pak Broto bahkan kini memeriksa di rumahku, apakah aku ada atau tidak.
Keterlaluan! Aku sungguh tak suka kepada pak tua itu. Aku benar-benar bagai
orang kriminal yang harus dicurigai terus menerus. Arogan sekali. Semakin
mantap keinginanku untuk segera meninggalkan Jogja. Tak ada lagi alasanku untuk
berlama-lama tinggal. Perasaan sendirian sepeninggal pacarku, hari-hari terasa
kosong kulalui. Tak ada lagi yang bisa kulakukan kecuali berpikir dan melamun.
Hobiku membaca dan menulis kulupakan karena aku tak lagi bisa berpikir tenang.
Juga lantaran tak ada lagi buku bacaan yang bisa kubaca. Aku berpikir keras dan
entah bagaimana tiba-tiba terpikir niatku untuk minta izin saja kepada polisi
agar bisa pergi ke Jakarta. Esok hari niatku itu kusampaikan dengan hati-hati
kepada polisi yang biasanya memeriksaku. Tak kusadari kami menjadi akrab sejak
kami "diamankan" di kantor Polisi selama 2 minggu dulu itu. Aku merasa bebas
saja ngomong. Kusampaikan maksudku dengan terus terang bah
wa aku punya keluarga di Jakarta dan aku ingin pulang mengunjunginya, sembari
aku tekankan bahwa aku pasti akan kembali lagi ke Jogja. Aku berjaga-jaga, tak
ingin mereka tahu. Jangan sampai mereka bisa menangkap gelagat yang tersembunyi
pada diriku bahwa sebenarnya aku mau "melarikan diri" dari Jogja. Lalu dia
menyampaikan keinginanku itu kepada komandannya. Menunggu sebentar kemudian aku
dipanggil ke dalam, ke ruang Komandan. Berdegup hatiku, tak sanggup rasanya
berbicara tak terus terang. Rasanya mau saja menyampaikan keinginanku yang
sesungguhnya. Tapi itu konyol, kan? Sebentar aku ditanya ini itu. Hening
sejenak. Tak kusangka tiba-tiba Komandan mengizinkan kepergianku. Aku sampai
menatap lekat Komandan Polisi itu, tak percaya dengan apa yang kudengar. Sambil
mengucapkan terima kasih saya keluar dari kamar komandan dengan berbagai
perasaan gembira tak karuan. Lalu pada stafnya kuminta surat pengantar izin
perjalanan. Aku masih benar-benar tak percaya. Semudah itu? Tak t
erasa air mataku meleleh, kegiranganku meluap ketika akhirnya melihat nyata
selembar surat jalan dari Polisi yang telah kupegang di tanganku. Hatiku
bersorak.siapa yang mau kembali lagi ke Jogja? Niatku terpendam tentu saja aku
tak ingin dan tak akan balik ke Jogjakarta.
Segera mulai kurencanakan kapan aku akan pergi. Kini yang kukawatirkan adalah
cara pergi agar tak diketahui oleh Pak Broto. Karena aku tahu pasti dia akan
melarangku pergi. Aku sebal bener kepadanya. Aku tak paham kenapa dia jadi
begitu terhadapku. Seolah aku dilihatnya sudah lebih sebagai musuh bebuyutan
yang sangat berbahaya yang harus ditumpas. Kebencian kepadaku tak disembunyikan
lagi. Maka tak ada keinginanku untuk memberi tahu dia apalagi minta izin. Tak
sudi rasanya bila aku dianggap meminta-minta belas kasihan kepadanya. Aku
merasa lebih yakin dengan surat dari Polisi yang telah aku pegang. Itu sudah
cukup, ketimbang surat jalan dari RT, kalau memang itu perlu. Tapi kalau dia
tahu niatku sebenarnya bahwa aku mau "lari", bagaimana? Mereka pasti akan
mencegahku. Hal-hal buruk yang mungkin bisa terjadi menimbulkan masalah besar
bagiku seperti ini yang ingin kuhindari. Pak Broto bisa saja akan bikin ramai
dan cari gara-gara sehingga dapat memancing beberapa pihak untu
k memperpanjang urusan, yang pada akhirnya bisa mengubah keputusan polisi
untuk membatalkan izinku pergi ke Jakarta. Kemungkinan itu yang aku takutkan
dapat terjadi sehingga bisa-bisa aku gagal pergi dan terperangkap tanpa daya di
Jogja. Sedapat mungkin aku bisa pergi lenyap begitu saja tanpa diketahui orang.
Aku ingin meninggalkan Jogja diam-diam. Tapi bagaimana membawa koperku?
Bagaimana membawa sepedaku tanpa diketahui oleh orang-orang bahwa saya akan
pergi jauh? Tidak mudah! Itu yang membuatku makin tertekan saja. Aku sudah
wanti-wanti pada Nenek tapi juga takut jangan-jangan Nenek kelepasan ngomong
pada seseorang sehingga sampai kepada Pak Broto?
Menjelang hari Natal aku sudah mendapatkan karcis kereta api ke Jakarta. Aku
mengatur strategi, aku bicarakan dengan teman pondokan. Aku minta bantuan
kepada mereka. Koper yang kubawa satu saja dan tak terlalu besar, hanya berisi
pakaian. Barang-barangku yang lain sengaja kutinggalkan termasuk buku-buku
pelajaran sekolahku. Pagi-pagi di hari keberangkatanku itu aku sudah
mempersiapkan diri sebaik mungkin. Kujaga agar kesibukanku tak nampak menyolok.
Koper dibawa dulu oleh teman pondokanku dengan naik beca ke stasiun Tugu.
Sepedaku dikendarai oleh temanku yang satu lagi. Aku sendiri akan lenggang
kangkung nampak pergi tak membawa apa-apa sehingga tak ada yang menyangka aku
akan pergi jauh. Sesudah aku pamit kepada Nenek yang sempat kuciumi dengan
wajah tercekat menahan tangis haru, aku meminta maaf kepada beliau yang
terpaksa pamit pergi dengan cara begini. Tak lupa aku juga mengucapkan terima
kasih atas kebaikan beliau selama ini. Hatiku berdegup keras, berdebar-debar
karen
a tegang. Nenek juga hanya bisa menangis karena dia juga akan tinggal
sendirian di rumah itu tanpaku. Hanya 2 orang yang masih tinggal indekos di
rumahnya. Kakek telah lama berpulang mendahuluinya.
Aku ke luar rumah sendirian berjalan kaki. Seolah hanya mau pergi ke mana yang
dekat. Tak kutunjukkan ada upacara berpisah dengan nenek. Nenek kuminta tetap
tinggal dalam rumah tak perlu ke luar. Tapi tak kusangka, ada yang lari
mengejarku. Ternyata suruhan Pak Broto. Katanya aku dipanggil. Aku kaget.
Mendadak badanku lemas, tapi tak lama. Aku cepat bisa menguasai diri. Sudah
kuduga akan terjadi. Tanggung, sudah terlanjur basah, pikirku. Saya bertekad
apapun yang terjadi akan aku hadapi sekarang. Dengan langkah sedikit gontai aku
datangi rumah Pak Broto. Benar saja, dia sudah mendengar bahwa aku akan pergi
ke Jakarta. Dia marah-marah, kenapa tak bilang kepadanya? Dia mengatakan harus
ada izin dari yang berwenang, karena aku termasuk orang yang diawasi
keberadaannya. Dia harus melaporkan kepada Kodim. Aku diam saja, kuakui keder
juga! Gawat nih. Lalu saya bilang bahwa saya sudah dapat izin dari Polisi dan
kutunjukkan surat jalannya. Sejenak dia membaca dengan kacamatanya
yang tebal. Seolah tak ingin kehilangan wibawa, dia bertahan, "Tidak bisa,
kamu tak bisa pergi tanpa seizin saya dan Kodim. Saya akan lapor dulu boleh
atau tidak," ancamnya geram. Saya sangat takut gagal pergi. Tapi saya juga
marah sekali. "Baik," kataku tiba-tiba, "silahkan saja. Saya juga akan laporkan
kepada Polisi, " tantangku. Tak tahu darimana datangnya keberanian saya.
Moga-moga dia tak tahu bahwa pada hari itu juga sebenarnya aku akan
meninggalkan Jogja. Saya berharap dia tak melihat tanda-tanda aku nampak
sebagai orang yang mau pergi jauh. Aku lalu ke luar begitu saja meninggalkan
rumahnya sambil meninggalkan kesan, seolah aku memang mau pergi ke Polisi. Aku
pikir dia mencegahnya. Tapi ternyata tidak. Kupikir untung juga, Pak Broto tak
punya telepon di rumahnya, jadi dia tak bisa segera menghubungi Kodim seperti
ancamannya. Aku sudah nekad, namun sesungguhnya aku sangat takut. Aku tetap
berencana pergi ke stasiun.
Setengah berlari aku pulang ke rumah, namun tak lagi mampir. Dalam gelap
ruangan dalam aku lihat Nenekku duduk dengan wajah kawatir, melihatku terus.
Aku hanya melambai melewati beliau. Di jalan besar aku naik beca buru-buru ke
stasiun Tugu. Mataku nyalang, kawatir kalau tiba-tiba ada orang yang tahu lalu
mengejar dan mencegahku pergi, terutama mungkin suruhan Pak Broto.
Sampai di stasiun Tugu, tak terjadi yang seperti yang kukawatirkan. Dari jauh
kedua teman kosku sudah kelihatan menungguku. Aku bersyukur, barangkali aku
saja yang terlalu berperasaan takut berlebihan. Debaran jantungku masih belum
hilang. Aku tak menjumpai orang yang kukenal. Ketika barangku beres masuk
kereta termasuk sepeda, aku kemudian duduk dengan tetap resah.
Sebentar-sebentar mataku nyalang memandang ke mana-mana dengan hati yang
terpecah-pecah, berdegup penuh rasa kawatir. Tak begitu memperhatikan lagi
omongan teman-temanku kos yang mengantarkanku. Aku tak sabar, ingin kereta yang
akan membawaku ke Jakarta segera berangkat.
Ketika kereta pelan-pelan mulai berangkat meninggalkan stasiun Tugu, hatiku
setengah lega. Temanku segera turun dari kereta, aku hanya bisa bersalaman
sambil berkata pelan, "Terima kasih, hati-hati dan sampai jumpa". Mereka
memelukku hangat sambil juga berkata, "Hati-hati, sampai ketemu lagi!". Aku
lalu mengintip ke luar jendela, kupandang stasiun yang makin lama nampak
mengecil, makin menjauh. Tak kusangka, puluhan tahun kemudian aku baru "berani"
datang kembali ke Jogjakarta, kota sejarahku penuh kenangan yang tak bakal
kulupakan.
Jakarta, April 2004
-------------------
Arjo Pilang
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Send the freshest Spring Flowers with a FREE vase from only $29.99!
Flowers are hand picked and shipped direct from the grower. Freshness
guaranteed for 7 days or your money back!
http://us.click.yahoo.com/YykvkC/sZ2HAA/3jkFAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] MENINGGALKAN JOGJAKARTA