[ppi] [ppiindia] MENINGGALKAN JOGJAKARTA

** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Meninggalkan Jogjakarta

 

Sekitar pertengahan  November 1965 itu, suasana Jogjakarta telah makin menekan 
yang membuat aku gerah. Sejak Gatot diambil dalam operasi "cidukan" di rumahku, 
aku semakin terbatas mempunyai "teman". Teman-teman sealiran mungkin juga sudah 
sibuk menyelamatkan diri agar tak diciduk oleh kelompok-kelompok pemuda yang 
tak jelas dari mana, yang setiap malam kini bergerak cepat dan aktif melakukan 
razia dari  kampung ke kampung memburu orang-orang PKI atau yang mereka anggap 
anggota beserta organisasi-organisasi yang berhubungan terkait. Aku 
membayangkan, teman-temanku dengan upayanya sendiri bersembunyi dan tercerai 
berai mencari tempat-tempat yang lebih aman menghindari "cidukan" itu. Aku tak 
pernah bertemu dengan mereka lagi. Atau mungkin malah memang sudah diciduk dan 
sekarang entah mereka dibawa dan berada di mana. Setiap hari ada saja aku 
mendengar kabar, bahwa si Anu dan si B atau C, teman-teman yang aku kenal telah 
terciduk. Ceritanya bertambah seram karena dalam razia itu 
 korban cidukan tak jarang dianiaya dengan kejam dan membabi buta. Ini 
membuatku marah tetapi juga takut. Ingat Gatot, aku sering mencoba 
merekonstruksi siapa yang dulu merazia ke rumahku itu. Aku merasa kenal 
seseorang dari suaranya pada tubuh dan wajah yang sengaja dibalut rapat oleh 
jas hujan sehingga tak mudah dikenali dalam remang-remang temaram  malam. 
"Rasanya aku kenal deh," begitu perasaanku. "Ya..ya aku kenal dia." Tapi siapa 
pastinya? Aku hanya bisa diam dan miris oleh kabar-kabar semacam itu. Situasi 
tanah air semakin mencekam buat saya. Meskipun aku relatif lebih "aman dan 
bebas" berkat  senjata "surat sakti" yang aku peroleh dari Polisi ketika aku 
"diamankan" menyusul peristiwa SMA Teladan sebulan yang lalu, namun rasa resah 
mulai menggangguku dan was-was terhadap keselamatan diriku. Surat Lapor Diri 
itu sekarang aku bawa ke mana-mana sebagai "jimat"ku sewaktu-waktu menghadapi 
hal-hal tak terduga. Namun kini aku tak banyak lagi pergi ke mana-mana demi 
rasa aman,
  sejak aku merasa setiap orang memandangku sebagai orang yang perlu diawasi 
dan dicurigai.

 

Aku tak lagi pergi ke sekolah. Kadang kangen juga untuk kembali sekolah 
berkumpul dengan teman-teman. Terpikir nasib ujianku tahun ini.  Pasti aku tak 
mungkin bisa menyelesaikan SMAku. Tapi mengingat situasi seperti itu aku pun 
mulai tak peduli dan masa bodo pada nasib pendidikanku. Biar saja! Ada hal 
lebih besar yang membebani pikiranku. Maka aku jadi tak ingin datang ke 
sekolahku yang aku pikir lebih baik dihindari saja hal-hal tak terduga yang 
bisa mengancam keselamatanku. Aku masih belum tahu benar situasi yang terjadi 
sesungguhnya. Suasananya masih membingungkan tetapi jelas makin panas dan sesak 
buatku. Apalagi di Jogja pun ternyata ada korban Komandan Korem yang dibunuh, 
yang konon kabarnya juga dibantai oleh PKI. Kebetulan pula anaknya sekolah di 
SMA Teladan. Seperti bensin tersulut oleh api, mereka makin brutal untuk 
melakukan balas dendam. Jadi ah..apa perlunya aku datang ke sekolah? Itu kan 
seperti ular mendatangi gebugan? Karena situasi yang tak jelas dan makin ha
 ri makin terasa meningkat menjadi lebih berbahaya dan itu bisa saja menimpa 
diriku di luar dugaan setiap saat, maka pikiranku sekarang sangat ingin segera 
pergi ke Jakarta untuk berkumpul kembali dengan keluarga. Saya dengar di 
Jakarta tak setegang di  Jogjakarta. Aku bersyukur, Ibuku masih tetap mengajar 
di SD di dekat rumah di daerah Rawasari. Tetapi Bapak sudah banyak di rumah. 
Mungkin di kantornya di Merdeka Timur juga tak kondusif  lagi. Aku hanya bisa 
berhubungan dengan surat. Syukur, adikku Jelitheng sudah berkumpul kembali di 
sana. Jadi aku benar-benar tak punya saudara lagi di Jogjakarta. Tapi di lain 
sisi dalam situasi begini aku jadi bisa menyimpan rasa tenang karena tahu 
keluargaku dalam keadaan aman. Yang kupikirkan sekarang hanya diriku sendiri. 

 

Menghubungi teman pun sudah tak bisa bebas. Dan lagi siapa teman  yang mau 
kuhubungi? Sekarang harus diperhitungkan benar-benar agar tak konyol. Menjumpai 
pacarku pun, yang tinggal tak jauh dari rumahku, aku harus pikir-pikir dulu. 
Jangan sampai kehadiranku malah mengundang bahaya karena bisa menimbulkan 
masalah yang lebih besar. Jadi aku menahan diri untuk tahu diri pada posisiku 
sekarang, aku tak pergi ke rumahnya dulu. Setiap mata  sekarang seolah 
mengawasiku di mana pun aku berada. Sama sekali tak nyaman. Aku benar-benar 
dalam keadaan sendiri.

 

Karena situasi itu pula Ketua RT kampungku Joyonegaran diganti, karena Pak RT 
lama berindikasikan anggota PKI yang kini telah diciduk pula. Ironisnya ia 
masuk ke penjara Wirogunan, tempatnya selama ini bekerja.  Kepala RT yang baru 
dipegang  oleh warga sepuh kampung Joyonegaran yang sesungguhnya saya kenal 
dengan baik, karena mereka adalah kolega guru ayah ibuku di Taman Siswa. 
Anak-anaknya pun teman sekolah waktu di SD. Keadaan membuatnya berubah total. 
Pak Broto, Ketua RT sekarang bukan lagi Pak Broto yang kukenal dulu yang lemah 
lembut, kini berbalik 180%. Dia menunjukkan kegarangannya kepadaku. Suatu sore 
aku dipanggil ke rumahnya yang tak jauh dari rumahku. Dia pasang muka yang tak 
ramah. Aku dibentak-bentak, dibilang aku orang berbahaya, anak PKI yang tak 
tahu diri, anaknya pengkhianat, pembunuh, dlsb. yang membuat hatiku sangat 
panas, tak mengira ia berbicara seperti itu kepadaku. Dia tahu betul "warna"` 
ayahku, sehingga dia tak ragu-ragu mencaci makiku seenak perutnya
 . Aku sakit hati betul kepadanya. Tapi apa haknya ia berbicara dengan cara 
begitu terhadapku? Aku hanya bisa diam tak melawan. Dia melanjutkan, "Sebagai 
Ketua RT di sini, saya sekarang berhak melarang kamu pergi ke luar rumah. Kalau 
pergi harus ada izin dan melapor kepada saya," katanya dengan nada tinggi. Saya 
menolak, "Tapi saya sudah diperiksa Polisi, dan sekarang setiap hari saya 
melapor ke kantor Polisi, Pak," sergah saya sembari menunjukan surat Lapor Diri 
yang selalu saya bawa itu. Dia diam saja. "Sudah, pokoknya kamu tidak boleh ke 
mana-mana! Kamu akan saya awasi. Awas, jangan berbuat yang macam-macam!" 
bentaknya. Aku diam menahan geram tetapi aku tatap wajah keriput Pak Broto 
dengan sangat tidak senang. Kutunjukkan rasa marahku. Lalu aku  tinggalkan 
rumahnya begitu saja.

 

Sejak itu, keinginanku untuk segera pergi meninggalkan Jogjakarta makin 
mengental. Tapi bagaimana caranya? Pasti Polisi - di mana setiap hari aku masih 
melapor - tak akan mengizinkanku. Bagiku tak juga mudah meninggalkan rumah 
tanpa diketahui oleh Pak RT, karena rumahku berdampingan.  Apalagi kalau 
membawa barang-barang, termasuk sepedaku. Kepergianku pasti akan mudah 
diketahui. Otakku berputar keras mencari jalan.

 

Sementara itu pacarku memberi kabar bahwa ia dan keluarganya akan segera pindah 
ke Bandung dalam waktu dekat. Mereka bukan keluarga yang "sewarna" dengan 
keluargaku, tetapi ketika itu banyak masyarakat yang menuduhnya dekat dengan 
PKI. Tak heran karena ibunya, yang juga teman akrab ibuku, banyak aktif di 
organisasi kewanitaan yang tergolong berpikiran maju dan progresiv. Jadi saya 
mengerti betul, apalagi salah satu anak gadisnya telah diketahui banyak orang 
berpacaran denganku, menambah yakin atas "cap buruk" tadi. Keadaan ini terasa 
mengancam yang membuat gerah semuanya. Kebetulan tempat bekerja ayah pacarku di 
Jakarta. Jadi sebenarnya ada alasan kuat memindahkan keluarga untuk berkumpul 
bersama. Perasaanku dilematis. Kadang tak dapat saya sembunyikan suasana 
batinku yang semakin tawar dan gundah, kami akan berpisah dan itu artinya aku 
akan semakin sendiri di Jogja. Tapi di sisi lain, aku bersyukur dan berdoa agar 
mereka bisa segera pindah meninggalkan Jogja. Aku juga mulai 
 kawatir akan keselamatannya dan keluarganya. Aku mulai menghitung hari. 
Kepedihan hatiku tak terelakkan. Sementara itu aku berpikir keras tapi masih 
belum juga menemukan jalan keluar agar aku pun bisa segera meninggalkan Jogja.

 

Perasaanku makin meruyak, ketika hari itu di pertengahan Desember 1965, tiba 
saat aku mengantarkan pacarku dan keluarganya ke stasiun Tugu untuk berangkat 
pindah ke Bandung. Dalam situasi yang menekan begitu, perpisahan yang terpaksa 
dan dengan rasa sadar makin terasa getir dan memedihkan hati. Kami merasa makin 
saling membutuhkan untuk memperkuat hati masing-masing. Perasaan kesendirian 
yang terkucil memberikan  siksaan yang luar biasa. Dalam suasana ketidakpastian 
itu, aku tak tahu apakah  kelak kami masih bisa berjumpa lagi. Aku tak pernah 
tahu nasibku besok. Kubayangkan jalan bahaya yang masih akan kutempuh. Apa pun 
bisa terjadi. Sementara pacarku tak bisa berkata apa-apa lagi. Kami lebih 
banyak diam. Masing-masing menyimpan kata-kata yang tak terucap di ujung mulut. 
Sesekali hanya bisa saling memandang pilu. Saya merasakan betapa repot ayah 
ibunya untuk pindah secara tergesa-gesa dan rasa was-was dengan membawa semua 
anak-anak gadisnya yang lima orang itu bersama bawaan 
 yang tak terlalu banyak tanpa menyolok. Pada wajah Bapak Ibu tak 
tersembunyikan rasa tegang dan letih. Ada rasa kekawatiran dan tak tenteram 
saat itu kalau-kalau ada pihak-pihak yang mau mencegah pergi. Aku menyalami 
pacarku dan saudara-saudaranya sambil berbisik, semoga selamat sampai tujuan 
dan sampai ketemu kembali. Antara kelegaan dan kepedihan bercampur aduk menjadi 
satu ketika akhirnya kereta api yang membawanya mulai pelan  meninggalkan 
stasiun Tugu. Aku menatap kereta api yang berjalan makin cepat. Mataku tak 
berkedip dan mengantarnya dengan  rembangan air mata di pelupuk hingga kereta 
api hilang dari pandangan. Apakah kami masih bisa ketemu lagi? Tapi saat itu 
bukan hal yang terpenting untuk dipikirkan. Bagaimana segera bisa pergi 
meninggalkan Jogja itu yang paling penting bagiku sekarang. Hatiku 
berdebar-debar. Aku sekarang benar-benar sendiri.

 

Situasi tanah air makin memburuk dan dalam tensi yang memuncak. Kedudukan 
Presiden Soekarno semakin pula terancam. Seolah angin berhembus mesra ke arah 
militer yang seperti mendapatkan tempat menunjukan kekuatannya untuk semakin 
memojokkan Presiden Soekarno. Seperti mendapatkan darah baru, organisasi 
politik lawan PKI pun bertambah garang dari hari ke hari dengan lantang 
menyerukan pembubaran PKI dan antek-anteknya. Mereka marah kepada PKI atas 
pembunuhan kejam yang dilakukannya terhadap para jendral yang konon katanya 
disiksa dengan mengiris-iris kelaminnya dan dicongkel matanya. Ya ampun, apa 
memang begitu yang sebenarnya terjadi sih, hatiku berontak tak percaya. Terjadi 
pembalasan dendam. Di mana-mana kemudian terjadi pembunuhan-pembunuhan kejam 
dan makin merebak penumpasan tanpa pandang bulu terhadap anggota PKI dan 
keluarganya serta orang-orang yang dikira PKI. Masa paling kelam dalam sejarah 
bangsaku. Suasana bertambah kacau dan menakutkan. Ekonomi makin morat-marit. Te
 rjadi saneering terhadap nilai uang rupiah. Uang Rp 10.000,- kini dihargai 
hanya serupiah saja. Aku semakin tak betah tinggal di Jogja. Ketika di tengah 
kerumunan, sekarang aku menjadi tak tenang. Aku harus awas dan bersikap waspada 
memperhatikan sekeliling, takut ada orang-orang yang kukenal yang akan 
melakukan sesuatu yang buruk terhadapku. Maka kalau tak penting sekali aku 
enggan ke luar rumah. Setiap hari acaraku hanya pagi-pagi pergi ke Ngupasan 
untuk lapor kepada polisi lalu langsung pulang lagi. Sesekali aku terhibur 
tatkala pada waktu yang bersamaan aku bisa ketemu teman-teman SMA Teladan yang 
sama-sama mel.  Di situ kesempatan berlama-lama untuk bercengkerama dan 
menumpahkan perasaan satu sama lain.

 

Pak Broto bahkan kini memeriksa di rumahku, apakah aku ada atau tidak. 
Keterlaluan!  Aku sungguh tak suka kepada pak tua itu. Aku benar-benar bagai 
orang kriminal yang harus dicurigai terus menerus. Arogan sekali. Semakin 
mantap keinginanku untuk segera meninggalkan Jogja. Tak ada lagi alasanku untuk 
berlama-lama tinggal. Perasaan sendirian sepeninggal  pacarku, hari-hari terasa 
kosong kulalui. Tak ada lagi yang bisa kulakukan kecuali berpikir dan melamun. 
Hobiku membaca dan menulis kulupakan karena aku tak lagi bisa berpikir tenang. 
Juga lantaran tak ada lagi buku bacaan yang bisa kubaca. Aku berpikir keras dan 
entah bagaimana tiba-tiba terpikir niatku untuk minta izin saja kepada polisi 
agar bisa pergi ke Jakarta. Esok hari niatku itu kusampaikan dengan hati-hati 
kepada polisi yang biasanya memeriksaku. Tak kusadari kami menjadi akrab sejak 
kami "diamankan" di kantor Polisi selama 2 minggu dulu itu. Aku merasa bebas 
saja ngomong. Kusampaikan maksudku dengan terus terang bah
 wa aku punya keluarga di Jakarta dan aku ingin pulang mengunjunginya, sembari 
aku tekankan bahwa aku pasti akan kembali lagi ke Jogja. Aku berjaga-jaga, tak 
ingin mereka tahu. Jangan sampai mereka bisa menangkap gelagat yang tersembunyi 
pada diriku bahwa sebenarnya aku mau "melarikan diri" dari Jogja. Lalu dia  
menyampaikan keinginanku itu kepada komandannya. Menunggu sebentar kemudian aku 
 dipanggil ke dalam, ke ruang Komandan. Berdegup hatiku, tak sanggup rasanya 
berbicara tak terus terang. Rasanya mau saja menyampaikan keinginanku yang 
sesungguhnya. Tapi itu konyol, kan? Sebentar aku ditanya ini itu. Hening 
sejenak. Tak kusangka tiba-tiba Komandan mengizinkan kepergianku. Aku sampai 
menatap lekat Komandan Polisi itu, tak percaya dengan apa yang kudengar. Sambil 
mengucapkan terima kasih saya keluar dari kamar komandan dengan berbagai 
perasaan gembira tak karuan. Lalu pada stafnya kuminta surat pengantar izin 
perjalanan. Aku masih benar-benar tak percaya. Semudah itu? Tak t
 erasa air mataku meleleh, kegiranganku meluap ketika akhirnya melihat nyata 
selembar surat jalan dari Polisi yang telah kupegang di tanganku. Hatiku 
bersorak.siapa yang mau kembali lagi ke Jogja? Niatku terpendam tentu saja aku 
tak ingin dan tak akan balik ke Jogjakarta. 

 

Segera mulai kurencanakan kapan aku akan pergi. Kini yang kukawatirkan adalah 
cara pergi agar tak diketahui oleh Pak  Broto. Karena aku tahu pasti dia akan 
melarangku pergi. Aku sebal bener kepadanya. Aku tak paham kenapa dia jadi 
begitu terhadapku. Seolah aku dilihatnya sudah lebih sebagai musuh bebuyutan 
yang sangat berbahaya yang harus ditumpas. Kebencian kepadaku tak disembunyikan 
lagi. Maka tak ada keinginanku untuk memberi tahu dia apalagi minta izin. Tak 
sudi  rasanya bila aku dianggap meminta-minta belas kasihan kepadanya. Aku 
merasa  lebih yakin dengan surat dari Polisi  yang telah aku pegang. Itu sudah 
cukup, ketimbang surat jalan dari RT, kalau memang itu perlu. Tapi kalau dia 
tahu niatku sebenarnya bahwa aku mau "lari", bagaimana? Mereka pasti akan 
mencegahku. Hal-hal buruk yang mungkin bisa terjadi menimbulkan masalah besar 
bagiku seperti ini yang ingin kuhindari. Pak Broto bisa saja akan bikin ramai 
dan cari gara-gara sehingga dapat memancing beberapa pihak untu
 k memperpanjang urusan, yang pada akhirnya bisa mengubah keputusan polisi 
untuk membatalkan izinku pergi ke Jakarta.  Kemungkinan itu yang aku takutkan 
dapat terjadi sehingga bisa-bisa aku gagal pergi dan terperangkap tanpa daya di 
Jogja. Sedapat mungkin aku bisa pergi lenyap begitu saja tanpa diketahui orang. 
Aku ingin meninggalkan Jogja diam-diam. Tapi bagaimana membawa koperku? 
Bagaimana membawa sepedaku tanpa diketahui oleh orang-orang bahwa saya akan 
pergi jauh?  Tidak mudah! Itu yang membuatku makin tertekan saja. Aku sudah 
wanti-wanti pada Nenek tapi juga takut jangan-jangan Nenek kelepasan ngomong 
pada seseorang sehingga sampai kepada Pak  Broto?

 

Menjelang hari Natal aku sudah mendapatkan karcis kereta api ke Jakarta. Aku 
mengatur strategi, aku bicarakan dengan teman pondokan. Aku minta bantuan 
kepada mereka. Koper yang kubawa satu saja dan tak terlalu besar, hanya berisi 
pakaian. Barang-barangku yang lain sengaja kutinggalkan termasuk buku-buku 
pelajaran sekolahku. Pagi-pagi di hari keberangkatanku itu aku sudah 
mempersiapkan diri sebaik mungkin. Kujaga agar kesibukanku tak nampak menyolok. 
Koper dibawa dulu oleh teman pondokanku dengan naik beca ke stasiun Tugu.  
Sepedaku dikendarai  oleh temanku yang satu lagi. Aku sendiri akan lenggang 
kangkung nampak pergi tak membawa apa-apa sehingga tak ada yang menyangka aku 
akan pergi jauh. Sesudah aku pamit kepada Nenek yang sempat kuciumi dengan 
wajah tercekat menahan tangis haru, aku meminta maaf kepada beliau yang 
terpaksa pamit pergi dengan cara begini. Tak lupa aku juga mengucapkan terima 
kasih atas kebaikan beliau selama ini. Hatiku berdegup keras, berdebar-debar 
karen
 a tegang. Nenek juga hanya bisa menangis karena dia juga akan tinggal 
sendirian di rumah itu tanpaku. Hanya 2 orang yang masih tinggal indekos di 
rumahnya. Kakek telah lama berpulang mendahuluinya. 

 

Aku  ke luar rumah sendirian berjalan kaki. Seolah hanya mau pergi ke mana yang 
dekat. Tak kutunjukkan ada upacara berpisah dengan nenek. Nenek kuminta tetap 
tinggal dalam rumah tak perlu  ke luar. Tapi tak kusangka, ada yang lari 
mengejarku. Ternyata suruhan Pak Broto. Katanya aku dipanggil. Aku kaget. 
Mendadak badanku lemas, tapi tak lama. Aku  cepat bisa menguasai diri. Sudah 
kuduga akan terjadi. Tanggung, sudah terlanjur basah, pikirku. Saya bertekad 
apapun yang terjadi akan aku hadapi sekarang. Dengan langkah sedikit gontai aku 
datangi rumah Pak Broto. Benar saja, dia sudah mendengar bahwa aku akan pergi 
ke Jakarta. Dia marah-marah, kenapa tak bilang kepadanya?  Dia mengatakan harus 
ada izin dari yang berwenang, karena aku termasuk orang yang diawasi 
keberadaannya. Dia harus melaporkan kepada Kodim. Aku diam saja, kuakui keder 
juga! Gawat  nih. Lalu saya bilang bahwa saya sudah dapat izin dari Polisi dan 
kutunjukkan surat jalannya. Sejenak dia membaca dengan kacamatanya 
 yang tebal. Seolah tak ingin kehilangan wibawa, dia bertahan, "Tidak bisa, 
kamu tak bisa pergi  tanpa seizin saya dan Kodim. Saya akan lapor dulu boleh 
atau tidak," ancamnya geram. Saya sangat takut gagal pergi. Tapi saya juga 
marah sekali. "Baik," kataku tiba-tiba, "silahkan saja. Saya juga akan laporkan 
kepada Polisi, " tantangku. Tak tahu darimana datangnya keberanian saya. 
Moga-moga dia tak tahu bahwa pada hari itu juga sebenarnya aku akan 
meninggalkan Jogja. Saya berharap dia tak melihat tanda-tanda aku nampak 
sebagai orang yang mau pergi jauh. Aku lalu ke luar begitu saja meninggalkan 
rumahnya sambil meninggalkan kesan, seolah aku memang mau pergi ke Polisi. Aku 
pikir dia mencegahnya. Tapi ternyata tidak. Kupikir untung juga, Pak Broto tak 
punya telepon di rumahnya, jadi dia tak bisa segera menghubungi Kodim seperti 
ancamannya. Aku sudah nekad, namun sesungguhnya aku sangat takut. Aku tetap 
berencana pergi ke stasiun.

 

Setengah berlari aku pulang ke rumah, namun tak lagi mampir. Dalam gelap 
ruangan dalam aku lihat Nenekku duduk dengan wajah kawatir, melihatku terus. 
Aku hanya melambai melewati beliau. Di jalan besar aku naik beca buru-buru ke 
stasiun Tugu. Mataku nyalang, kawatir kalau tiba-tiba ada orang yang tahu lalu 
mengejar dan mencegahku pergi, terutama mungkin suruhan Pak Broto.

 

Sampai di  stasiun Tugu, tak terjadi yang seperti yang kukawatirkan. Dari jauh 
kedua teman kosku sudah kelihatan menungguku. Aku bersyukur, barangkali aku 
saja yang terlalu berperasaan takut berlebihan. Debaran jantungku masih belum 
hilang. Aku tak menjumpai orang yang kukenal. Ketika barangku beres masuk 
kereta termasuk sepeda, aku kemudian duduk dengan tetap resah. 
Sebentar-sebentar mataku nyalang memandang ke mana-mana dengan hati yang 
terpecah-pecah, berdegup penuh rasa kawatir. Tak begitu memperhatikan lagi 
omongan teman-temanku kos yang mengantarkanku. Aku tak sabar, ingin kereta yang 
akan membawaku ke Jakarta segera berangkat. 

 

Ketika kereta pelan-pelan mulai berangkat meninggalkan stasiun Tugu, hatiku 
setengah lega. Temanku segera turun dari kereta, aku hanya bisa bersalaman 
sambil berkata pelan, "Terima kasih, hati-hati dan sampai jumpa". Mereka 
memelukku hangat sambil juga berkata, "Hati-hati, sampai ketemu lagi!". Aku 
lalu mengintip ke luar jendela, kupandang stasiun yang makin lama nampak 
mengecil, makin menjauh. Tak kusangka, puluhan tahun kemudian aku baru "berani" 
datang kembali ke Jogjakarta, kota sejarahku penuh kenangan yang tak bakal 
kulupakan. 

 

Jakarta, April 2004

-------------------

Arjo Pilang

 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Send the freshest Spring Flowers with a FREE vase from only $29.99!
Flowers are hand picked and shipped direct from the grower.  Freshness
guaranteed for 7 days or your money back!
http://us.click.yahoo.com/YykvkC/sZ2HAA/3jkFAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Other related posts: