[ppi] [ppiindia] Liberalisasi dan Daya Saing

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/042006/18/0902.htm


Liberalisasi dan Daya Saing
Oleh Prof. Dr. MAMAN SURYAMAN 


TELAH cukup lama Indonesia dan negara berkembang lainnya merasakan 
ketidakadilan dan penjajahan terselubung yang dilakukan oleh negara-negara 
maju. Kekuatan ekonomi dan kemajuan teknologi menjadi alat bagi negara-negara 
maju untuk menguasai dunia termasuk untuk menggiring dan membentuk opini dunia 
sesuai dengan kepentingannya. Contoh aktual adalah bagaimana masyarakat dunia 
begitu memercayai propaganda Amerika Serikat (AS) bahwa minyak dari negara 
tropika (kelapa dan sawit) tidak baik bagi kesehatan. Padahal, hal tersebut 
merupakan akal-akalan dari politik dagang AS untuk meraup miliaran dolar 
melalui perluasan pasar komoditas kedelai hingga ke negara-negara tropika. 

Politik dagang AS serta negara maju lainnya tidak hanya terbatas dalam bentuk 
black campaign terhadap produk negara lain, kadang berlindung di balik isu HAM, 
di lain waktu menerapkan jurus embargo pangan bahkan bisa melebar ke embargo 
militer guna menghancurkan perekonomian negara lain yang dianggap tidak sejalan 
dengan garis politiknya. Pada saat yang bersamaan negara-negara makmur sangat 
ketat memproteksi petani domestiknya. Isu lingkungan dan isu kesehatan sering 
dijadikan tameng untuk mencegah masuknya produk-produk pertanian dari negara 
berkembang. Tidak sedikit kerugian yang pernah dialami pengusaha Indonesia yang 
ditolak ekspor hasil perikanannya karena dicurigai tercemar mikroba. Demikian 
pula pengalaman pahit eksportir hasil kayu olahan yang gagal menembus pasar Uni 
Eropa karena dianggap tidak memenuhi prosedur eco labelling.

Walau bukan termasuk negara agraris, negara-negara maju tetap memandang sektor 
pertanian mempunyai peranan sangat vital dan strategis bagi negaranya. AS 
misalnya, walau jumlah petaninya di bawah 5 persen dari populasi penduduk, 
namun memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian negara yakni 
menyumbang 140 miliar dolar AS per tahun dan PDB sebesar 13 persen. Demikian 
juga Korea Selatan, sebagai negara industri terkemuka di Asia dengan konsisten 
tetap memberikan perlindungan ekstra bagi petaninya. Pertanian bagi warga 
negeri ginseng tersebut bukan sekadar menyangkut persoalan ekonomi semata, 
namun lebih merupakan budaya leluhur yang harus dilestarikan. Selain dilindungi 
dari masuknya komoditas impor, para petani di negara-negara makmur juga 
menikmati fasilitas subsidi dengan jumlah besar. Petani AS rata-rata menerima 
subsidi sebesar 21.000 dolar AS tiap tahun, demikian pula petani Uni Eropa 
memperoleh bantuan cuma-cuma sebesar 16.000 dolar AS per tahun, bahkan ti
 ap ekor sapi yang dipelihara pun mendapat subsidi sebesar 2,2 dolar AS per 
hari. Bandingkan dengan biaya hidup penduduk miskin di banyak negara berkembang 
yang harus cukup dengan uang kurang dari 1 dolar AS per hari. Dengan proteksi 
seperti itu produk pertanian negara-negara kaya dengan mudah akan membanjiri 
dan menguasai pasar dunia dengan harga murah. Oleh karenanya komoditas dari 
negara berkembang akan terlindas karena tidak mampu bersaing, apalagi kalau 
tanpa subsidi. Dampaknya, komoditas pertanian sulit menembus pasar global, 
devisa akan terkuras oleh produk impor, petani akan tetap miskin, ketahanan 
pangan jadi rentan serta pengangguran tetap melimpah. Itulah bentuk 
ketidakadilan dari pasar bebas yang dirasakan oleh negara - negara berkembang 

Secercah harapan datang dari sidang WTO akhir tahun lalu. Negara-negara maju 
sepakat untuk mencabut seluruh bentuk subsidi bagi komoditas pertanian mereka 
pada tahun 2013 dan mulai tahun 2006 diterapkan untuk komoditas kapas. Dengan 
demikian akan tercipta pola persaingan global yang sehat dan berkeadilan. Bila 
skenario tersebut berhasil, Bank Dunia memprediksi pendapatan global akan 
meningkat sebanyak 287 miliar dolar AS dan penduduk miskin dengan pendapatan 
kurang dari 1 dolar AS per hari akan berkurang 5 persen tiap tahun. Penghapusan 
subsidi tersebut sangat membantu meningkatkan daya saing komoditas pertanian 
negara berkembang, karena faktor pendistorsi pasar dihilangkan. Namun demikian, 
terbukanya pasar dunia tidak akan serta-merta dapat ditembus dengan mudah 
manakala perangkat domestik di negara berkembang tidak mendukung ke arah 
terbentuknya daya saing global. 

Banyak persoalan domestik di negara berkembang seperti di Indonesia yang 
menghambat daya saing, diantaranya; iklim investasi yang kurang kondusif, 
panjangnya jalur birokrasi yang melahirkan ekonomi biaya tinggi, kondisi 
infrastruktur yang kurang memadai, kondisi ekonomi makro yang belum cerah, 
serta teknologi dan kualitas SDM yang masih rendah. 

Kompleksnya masalah internal tersebut menyebabkan Indonesia masih berkutat di 
urutan ke-74 dalam hal daya saing global, jauh tertinggal dibandingkan dengan 
negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia yang menempati urutan ke-36 dan 
24. Rendahnya peringkat daya saing mencerminkan rendahnya kepercayaan pasar 
global terhadap produk/komoditas yang dihasilkan negara yang bersangkutan. 
Artinya komoditas-komoditas yang dihasilkan oleh negara tetangga akan lebih 
mudah diserap pasar daripada produk-produk yang dihasilkan negara kita. Sebagai 
contoh, komoditas buah-buahan dari Thailand sudah merajai pasar dunia, demikian 
pula komoditas karet dan minyak sawit sudah didominasi oleh Malaysia, bahkan 
pasar Jepang untuk komoditas kayu yang awalnya dikuasai Indonesia, kini sudah 
diambil alih oleh Malaysia.

Dengan persaingan secara terbuka melalui pasar bebas akan menggiring tiap 
negara untuk menggenjot sumber daya yang mempunyai keunggulan komparatif 
tinggi. Selain itu, efisiensi dan peningkatan nilai tambah juga merupakan 
bagian tak terpisahkan dari upaya peningkatan daya saing. Tampaknya 
negara-negara tetangga telah jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk menghadapi 
liberalisasi. Kondisi tersebut kiranya sejalan dengan prediksi Bank Dunia, 
bahwasanya sekarang merupakan periode kebangkitan negara-negara di kawasan Asia 
yang akan tampil sebagai pemenang dalam persaingan global. Setelah Cina sebagai 
raksasa ekonomi dunia, berikutnya disusul oleh Vietnam, Korea Selatan, 
Thailand, dan Taiwan sebagai pemain unggulan baru di kancah global. 

Munculnya dominasi Asia tidak terlepas dari keberhasilan negara-negara tersebut 
dalam meningkatkan daya saing sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi dengan 
pesat. Cina telah mampu mencapai pertumbuhan yang luar biasa sekira10 persen, 
sementara Vietnam telah memimpin di kawasan Asia Tenggara dengan pertumbuhan di 
atas 8 persen, demikian pula Korea Selatan laju perekonomiannya telah melejit 
hingga mencapai pendapatan 14.000 dolar/kapita/tahun. Bagaimana dengan 
Indonesia ?!. Dengan posisi utang yang mencapai lebih dari separuh PDB atau Rp 
1.282 triliun membuat kondisi perekonomian negara kita masih terseok-seok. Guna 
memacu roda perekonomian, ketergantungan terhadap investor terutama investor 
asing menjadi tak terelakkan. Di lain pihak kondisi iklim investasi belum 
kondusif. Tengok saja hasil survei Japan Bank for International Cooperation 
yang berkesimpulan bahwa investasi di Indonesia dianggap kurang nyaman. Menurut 
para pengusaha Jepang itu hambatan utama berinvestasi di Indone
 sia adalah sering terjadinya ketidakstabilan sosial dan keamanan. Selain 
faktor keamanan, hambatan lain adalah rumit dan mahalnya biaya untuk mengurus 
perizinan. Para penanam modal memerlukan waktu 151 hari untuk melewati 12 tahap 
prosedur perizinan serta mengeluarkan biaya (resmi) sebesar 130,7 persen dari 
pendapatan per kapita. Ini adalah waktu terlama kedua di Asia setelah Laos 
serta biaya termahal kedua di bawah Kamboja. Bandingkan dengan Malaysia, cukup 
30 hari untuk mengurus perizinan atau dengan Thailand yang memerlukan biaya 
hanya 6,7 persen dari pendapatan per kapita. Fakta tersebut dapat dijadikan 
indikator bahwa untuk bersaing di tingkat regional dengan sesama negara 
berkembang saja, kita akan mengalami kesulitan, apalagi kalau bersaing dengan 
Singapura yang pengurusan izin investasi hanya 8 hari. 

Peningkatan daya saing merupakan kata kunci agar kita bisa berkiprah di tingkat 
global. Pemangkasan jalur birokrasi merupakan suatu keharusan. Paket kebijakan 
perbaikan iklim investasi melalui Inpres No. 3 Tahun 2006 harus segera 
diimplementasikan oleh seluruh aparat. Demikian pula korupsi dan kembarannya 
pungli yang telah mewabah ke seluruh institusi pelayanan publik harus 
diberantas. Model penegakan hukum secara tebang pilih seyogianya diganti dengan 
penegakan hukum secara tuntas dan menyeluruh guna menciptakan kepastian hukum. 
Sementara itu, penyediaan infrastruktur yang memadai tidak bisa ditunda lagi. 
Hal yang tidak kalah penting adalah peningkatan kualitas SDM. Rendahnya 
penguasaan iptek berkorelasi dengan rendahnya produktivitas dan efisiensi. Sisa 
waktu 7 tahun menjelang diberlakukannya liberalisasi harus dimanfaatkan 
semaksimal mungkin untuk memacu peningkatan daya saing melalui peningkatan 
keahlian dan keterampilan tenaga kerja. Untuk itu anggaran pendidikan harus d
 iperbesar hingga minimal 20 persen dari APBN. Bila hal tersebut dapat 
dilakukan dengan konsisten, bukan mustahil negara kita tercinta akan menjadi 
pemenang dalam persaingan global. ***  

Penulis, Guru Besar di Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi Tasikmalaya.


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: