[ppi] [ppiindia] Liberalisasi dan Daya Saing
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Tue, 18 Apr 2006 06:01:53 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/042006/18/0902.htm
Liberalisasi dan Daya Saing
Oleh Prof. Dr. MAMAN SURYAMAN
TELAH cukup lama Indonesia dan negara berkembang lainnya merasakan
ketidakadilan dan penjajahan terselubung yang dilakukan oleh negara-negara
maju. Kekuatan ekonomi dan kemajuan teknologi menjadi alat bagi negara-negara
maju untuk menguasai dunia termasuk untuk menggiring dan membentuk opini dunia
sesuai dengan kepentingannya. Contoh aktual adalah bagaimana masyarakat dunia
begitu memercayai propaganda Amerika Serikat (AS) bahwa minyak dari negara
tropika (kelapa dan sawit) tidak baik bagi kesehatan. Padahal, hal tersebut
merupakan akal-akalan dari politik dagang AS untuk meraup miliaran dolar
melalui perluasan pasar komoditas kedelai hingga ke negara-negara tropika.
Politik dagang AS serta negara maju lainnya tidak hanya terbatas dalam bentuk
black campaign terhadap produk negara lain, kadang berlindung di balik isu HAM,
di lain waktu menerapkan jurus embargo pangan bahkan bisa melebar ke embargo
militer guna menghancurkan perekonomian negara lain yang dianggap tidak sejalan
dengan garis politiknya. Pada saat yang bersamaan negara-negara makmur sangat
ketat memproteksi petani domestiknya. Isu lingkungan dan isu kesehatan sering
dijadikan tameng untuk mencegah masuknya produk-produk pertanian dari negara
berkembang. Tidak sedikit kerugian yang pernah dialami pengusaha Indonesia yang
ditolak ekspor hasil perikanannya karena dicurigai tercemar mikroba. Demikian
pula pengalaman pahit eksportir hasil kayu olahan yang gagal menembus pasar Uni
Eropa karena dianggap tidak memenuhi prosedur eco labelling.
Walau bukan termasuk negara agraris, negara-negara maju tetap memandang sektor
pertanian mempunyai peranan sangat vital dan strategis bagi negaranya. AS
misalnya, walau jumlah petaninya di bawah 5 persen dari populasi penduduk,
namun memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian negara yakni
menyumbang 140 miliar dolar AS per tahun dan PDB sebesar 13 persen. Demikian
juga Korea Selatan, sebagai negara industri terkemuka di Asia dengan konsisten
tetap memberikan perlindungan ekstra bagi petaninya. Pertanian bagi warga
negeri ginseng tersebut bukan sekadar menyangkut persoalan ekonomi semata,
namun lebih merupakan budaya leluhur yang harus dilestarikan. Selain dilindungi
dari masuknya komoditas impor, para petani di negara-negara makmur juga
menikmati fasilitas subsidi dengan jumlah besar. Petani AS rata-rata menerima
subsidi sebesar 21.000 dolar AS tiap tahun, demikian pula petani Uni Eropa
memperoleh bantuan cuma-cuma sebesar 16.000 dolar AS per tahun, bahkan ti
ap ekor sapi yang dipelihara pun mendapat subsidi sebesar 2,2 dolar AS per
hari. Bandingkan dengan biaya hidup penduduk miskin di banyak negara berkembang
yang harus cukup dengan uang kurang dari 1 dolar AS per hari. Dengan proteksi
seperti itu produk pertanian negara-negara kaya dengan mudah akan membanjiri
dan menguasai pasar dunia dengan harga murah. Oleh karenanya komoditas dari
negara berkembang akan terlindas karena tidak mampu bersaing, apalagi kalau
tanpa subsidi. Dampaknya, komoditas pertanian sulit menembus pasar global,
devisa akan terkuras oleh produk impor, petani akan tetap miskin, ketahanan
pangan jadi rentan serta pengangguran tetap melimpah. Itulah bentuk
ketidakadilan dari pasar bebas yang dirasakan oleh negara - negara berkembang
Secercah harapan datang dari sidang WTO akhir tahun lalu. Negara-negara maju
sepakat untuk mencabut seluruh bentuk subsidi bagi komoditas pertanian mereka
pada tahun 2013 dan mulai tahun 2006 diterapkan untuk komoditas kapas. Dengan
demikian akan tercipta pola persaingan global yang sehat dan berkeadilan. Bila
skenario tersebut berhasil, Bank Dunia memprediksi pendapatan global akan
meningkat sebanyak 287 miliar dolar AS dan penduduk miskin dengan pendapatan
kurang dari 1 dolar AS per hari akan berkurang 5 persen tiap tahun. Penghapusan
subsidi tersebut sangat membantu meningkatkan daya saing komoditas pertanian
negara berkembang, karena faktor pendistorsi pasar dihilangkan. Namun demikian,
terbukanya pasar dunia tidak akan serta-merta dapat ditembus dengan mudah
manakala perangkat domestik di negara berkembang tidak mendukung ke arah
terbentuknya daya saing global.
Banyak persoalan domestik di negara berkembang seperti di Indonesia yang
menghambat daya saing, diantaranya; iklim investasi yang kurang kondusif,
panjangnya jalur birokrasi yang melahirkan ekonomi biaya tinggi, kondisi
infrastruktur yang kurang memadai, kondisi ekonomi makro yang belum cerah,
serta teknologi dan kualitas SDM yang masih rendah.
Kompleksnya masalah internal tersebut menyebabkan Indonesia masih berkutat di
urutan ke-74 dalam hal daya saing global, jauh tertinggal dibandingkan dengan
negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia yang menempati urutan ke-36 dan
24. Rendahnya peringkat daya saing mencerminkan rendahnya kepercayaan pasar
global terhadap produk/komoditas yang dihasilkan negara yang bersangkutan.
Artinya komoditas-komoditas yang dihasilkan oleh negara tetangga akan lebih
mudah diserap pasar daripada produk-produk yang dihasilkan negara kita. Sebagai
contoh, komoditas buah-buahan dari Thailand sudah merajai pasar dunia, demikian
pula komoditas karet dan minyak sawit sudah didominasi oleh Malaysia, bahkan
pasar Jepang untuk komoditas kayu yang awalnya dikuasai Indonesia, kini sudah
diambil alih oleh Malaysia.
Dengan persaingan secara terbuka melalui pasar bebas akan menggiring tiap
negara untuk menggenjot sumber daya yang mempunyai keunggulan komparatif
tinggi. Selain itu, efisiensi dan peningkatan nilai tambah juga merupakan
bagian tak terpisahkan dari upaya peningkatan daya saing. Tampaknya
negara-negara tetangga telah jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk menghadapi
liberalisasi. Kondisi tersebut kiranya sejalan dengan prediksi Bank Dunia,
bahwasanya sekarang merupakan periode kebangkitan negara-negara di kawasan Asia
yang akan tampil sebagai pemenang dalam persaingan global. Setelah Cina sebagai
raksasa ekonomi dunia, berikutnya disusul oleh Vietnam, Korea Selatan,
Thailand, dan Taiwan sebagai pemain unggulan baru di kancah global.
Munculnya dominasi Asia tidak terlepas dari keberhasilan negara-negara tersebut
dalam meningkatkan daya saing sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi dengan
pesat. Cina telah mampu mencapai pertumbuhan yang luar biasa sekira10 persen,
sementara Vietnam telah memimpin di kawasan Asia Tenggara dengan pertumbuhan di
atas 8 persen, demikian pula Korea Selatan laju perekonomiannya telah melejit
hingga mencapai pendapatan 14.000 dolar/kapita/tahun. Bagaimana dengan
Indonesia ?!. Dengan posisi utang yang mencapai lebih dari separuh PDB atau Rp
1.282 triliun membuat kondisi perekonomian negara kita masih terseok-seok. Guna
memacu roda perekonomian, ketergantungan terhadap investor terutama investor
asing menjadi tak terelakkan. Di lain pihak kondisi iklim investasi belum
kondusif. Tengok saja hasil survei Japan Bank for International Cooperation
yang berkesimpulan bahwa investasi di Indonesia dianggap kurang nyaman. Menurut
para pengusaha Jepang itu hambatan utama berinvestasi di Indone
sia adalah sering terjadinya ketidakstabilan sosial dan keamanan. Selain
faktor keamanan, hambatan lain adalah rumit dan mahalnya biaya untuk mengurus
perizinan. Para penanam modal memerlukan waktu 151 hari untuk melewati 12 tahap
prosedur perizinan serta mengeluarkan biaya (resmi) sebesar 130,7 persen dari
pendapatan per kapita. Ini adalah waktu terlama kedua di Asia setelah Laos
serta biaya termahal kedua di bawah Kamboja. Bandingkan dengan Malaysia, cukup
30 hari untuk mengurus perizinan atau dengan Thailand yang memerlukan biaya
hanya 6,7 persen dari pendapatan per kapita. Fakta tersebut dapat dijadikan
indikator bahwa untuk bersaing di tingkat regional dengan sesama negara
berkembang saja, kita akan mengalami kesulitan, apalagi kalau bersaing dengan
Singapura yang pengurusan izin investasi hanya 8 hari.
Peningkatan daya saing merupakan kata kunci agar kita bisa berkiprah di tingkat
global. Pemangkasan jalur birokrasi merupakan suatu keharusan. Paket kebijakan
perbaikan iklim investasi melalui Inpres No. 3 Tahun 2006 harus segera
diimplementasikan oleh seluruh aparat. Demikian pula korupsi dan kembarannya
pungli yang telah mewabah ke seluruh institusi pelayanan publik harus
diberantas. Model penegakan hukum secara tebang pilih seyogianya diganti dengan
penegakan hukum secara tuntas dan menyeluruh guna menciptakan kepastian hukum.
Sementara itu, penyediaan infrastruktur yang memadai tidak bisa ditunda lagi.
Hal yang tidak kalah penting adalah peningkatan kualitas SDM. Rendahnya
penguasaan iptek berkorelasi dengan rendahnya produktivitas dan efisiensi. Sisa
waktu 7 tahun menjelang diberlakukannya liberalisasi harus dimanfaatkan
semaksimal mungkin untuk memacu peningkatan daya saing melalui peningkatan
keahlian dan keterampilan tenaga kerja. Untuk itu anggaran pendidikan harus d
iperbesar hingga minimal 20 persen dari APBN. Bila hal tersebut dapat
dilakukan dengan konsisten, bukan mustahil negara kita tercinta akan menjadi
pemenang dalam persaingan global. ***
Penulis, Guru Besar di Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi Tasikmalaya.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Liberalisasi dan Daya Saing