[ppi] [ppiindia] Layanan Membaik, Citra Masih Buruk
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Tue, 30 Aug 2005 00:13:59 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **MEDIA INDONESIA
Selasa, 30 Agustus 2005
Survei LSI atas Kinerja Polisi
Layanan Membaik, Citra Masih Buruk
SETELAH hampir dua bulan memangku jabatan sebagai Kapolri, Jenderal Sutanto
ternyata masih belum mampu meningkatkan citra kepolisian. Gencarnya langkah dan
tindakan yang diambil Jenderal Tanto, mulai dari pemberantasan perjudian hingga
penertiban premanisme, tidak otomatis mendongkrak citra kepolisian menjadi
lebih baik.
Penilaian publik terhadap kinerja kepolisian ini terangkum dalam survei
nasional yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 28 Juli hingga 2
Agustus 2005. Survei ini mengambil sampel 1.396 responden nasional dengan
metode multistage random sampling dan wawancara tatap muka, dengan margin of
error 2,6 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.
Hasil survei LSI ini memperlihatkan, penilaian responden terhadap kinerja
kepolisian secara umum memang masih baik, yaitu 69 persen menilai baik. Namun,
jika membandingkan dengan survei sebelumnya pada Februari 2005, responden yang
menilai kinerja kepolisian baik menurun menjadi 62 persen. Sedangkan persentase
yang menilai buruk kinerja kepolisian justru meningkat dari 23 persen menjadi
28 persen (Grafik 1).
Pergeseran nilai persentase kinerja kepolisian ini patut dijadikan bahan
introspeksi dan evaluasi diri bagi institusi kepolisian. Mengapa? Karena segala
langkah dan tindakan kepolisian yang diambil dalam membasmi berbagai penyakit
masyarakat, akan kurang bermakna bila kepolisian tidak membersihkan lingkungan
internalnya terlebih dahulu. Bukan menjadi rahasia umum bahwa praktik kotor dan
penyimpangan banyak terjadi justru di lembaga penegak hukum ini. Banyak oknum
kepolisian sering kali 'berdamai' terhadap pengusutan dan penyelesaian kasus
kejahatan dan pelanggaran hukum.
Upaya pemberantasan perjudian contohnya, gebrakan pertama institusi kepolisian
di bawah kepemimpinan Jenderal Tanto ternyata tidak memperoleh apresiasi dan
penilaian positif dari masyarakat. Mayoritas responden sebesar 77 persen
menilai buruk kinerja kepolisian dalam memberantas perjudian, sedangkan yang
menilai baik hanya ada 17 persen, sisanya sebesar 6 persen menyatakan tidak
tahu.
Besarnya persentase yang menilai buruk kinerja kepolisian di bidang ini bisa
jadi tidak terlepas dari kenyataan banyak oknum kepolisian yang sering kali
membiarkan bahkan tidak sedikit yang mengabdikan diri sebagai beking
tempat-tempat perjudian dengan sejumlah imbalan tertentu. Di samping itu, janji
Kapolri untuk menjatuhkan sanksi pencopotan jabatan bagi Kapolda yang gagal
membasmi perjudian dalam waktu seminggu, juga tidak pernah ada tindak
lanjutnya. Padahal kenyataan di lapangan menunjukkan, setelah kurun waktu
seminggu terlampaui masih ada beberapa daerah yang belum bersih dari perjudian.
Faktor lain adalah belum diterimanya laporan dari masing-masing Kapolda atas
daerah tersebut (Grafik 2).
Membasmi perjudian memang bukan perkara mudah. Banyak aspek yang terkait di
dalamnya, mulai dari pemain hingga aparat penegak hukum sendiri. Umum diketahui
bahwa antara kepolisian dan para pelaku perjudian telah terjalin sikap take and
give. Para bandar judi secara ikhlas dan tulus memberikan 'setoran' kepada
aparat kepolisian, dengan kompensasi bisnis haram mereka tetap beroperasi.
Sedangkan aparat pun menerimanya dengan tangan terbuka dengan alasan
kesejahteraan anggota yang minim. Suatu hubungan simbiosis mutualisme.
Berdasarkan data Indonesian Police Watch (IPW), setoran bandar judi terhadap
para kepala kepolisian, besarnya sangat bervariasi. Mulai dari Rp5 juta untuk
seorang kapolsek hingga Rp200 juta per minggu untuk seorang kapolda. Suatu
nilai nominal yang sangat menggiurkan tentunya, maka wajar jika tempat-tempat
perjudian menengah ke atas tetap langgeng beroperasi. Selama mereka mampu
'menggaji' aparat, maka selama itu pula bisnis perjudian mereka terus
beroperasi. Toh secara kalkulasi omzet pemasukan dari bisnis tersebut masih
mampu menutup biaya operasional tersebut.
Namun demikian, tidak selamanya kinerja kepolisian dinilai buruk oleh
masyarakat. Dalam beberapa kasus, kinerja kepolisian tak jarang mendapatkan
apresiasi dan penghargaan. Dalam kasus pengungkapan pelaku ledakan bom di Bali
misalnya, mantan Kapolri Da'i Bachtiar, mantan Ketua Tim Investigasi Kasus Bom
Bali Made Mangku Pastika dan mantan Ketua Tim Penyidik Kasus Bom Bali Gories
Mere pernah menerima penghargaan Honorary Award in Order of Australia (HAOA)
dari pemerintah Australia. Hal ini membuktikan bahwa Polri pun sebenarnya mampu
melaksanakan setiap tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya dengan
sungguh-sungguh.
Publik pun juga berpendapat serupa. Ketika survei LSI menanyakan penilaian
publik terhadap kinerja kepolisian dalam memberantas narkoba dan minuman keras.
Hasilnya ternyata mayoritas responden sebesar 73 persen menilai baik, 20 persen
menilai buruk, dan hanya 7 persen yang menyatakan tidak tahu.
Gencarnya razia narkoba oleh jajaran kepolisian terhadap tempat-tempat hiburan
yang dicurigai sering dijadikan tempat transaksi bisnis barang haram ini,
semakin menambah tingkat keyakinan masyarakat terhadap kinerja kepolisian.
Apalagi hal ini disertai seringnya pemberitaan atas suksesnya aparat kepolisian
menangkap pemakai dan pengedar narkoba. Penggerebekan di sejumlah pabrik
ekstasi besar seperti di Bogor atau di sebuah perumahan di Jakarta Barat
beberapa waktu lalu juga menjadi catatan yang baik bagi keseriusan aparat dalam
menangani persoalan ini (Grafik 3).
Begitu pula penilaian responden ketika ditanyakan tentang kinerja kepolisian
dalam memberantas kejahatan atau kriminalitas di masyarakat. Sebanyak 72 persen
responden menyatakan kepuasannya terhadap kinerja Polisi yang dinilai baik.
Sedangkan 22 persen responden menilai buruk dan hanya 6 persen yang menyatakan
tidak tahu.
Tingginya persentase yang menilai baik kinerja kepolisian di bidang
pemberantasan kriminalitas ini tampaknya dipengaruhi gencarnya operasi
penertiban premanisme di seluruh wilayah Indonesia belakangan ini.
Hasil sementara operasi penertiban premanisme oleh Mabes Polri periode awal 11
Juli hingga 7 Agustus 2005 telah melakukan penanganan terhadap 102 kasus
premanisme dengan menahan 642 tersangka dan menyita 951 botol miras, 51 unit
senjata tajam, 33 sepeda motor, sebuah senjata api rakitan, uang tunai Rp259
ribu sebagai barang bukti. Hasil tersebut masih bisa terus bertambah seiring
masih terus berlangsung operasi penertiban premanisme (Grafik 4).
Seluruh kinerja kepolisian yang secara keseluruhan dinilai baik oleh masyarakat
harus direspons dan ditanggapi dengan bijaksana. Polri tidak boleh terlena
dengan penilaian positif tersebut. Harus diingat pula Polri selama ini pun
masih belum mampu menyelesaikan agenda 100 hari pertama pemerintahan SBY secara
tuntas, khususnya penangan terorisme. Pelaku utama yang diduga otak di balik
sejumlah aksi teror peledakan bom, Nurdin M Top dan Dr Azahari, sejauh ini
masih selalu menang selangkah di depan aparat kepolisian.
Di samping itu temuan terbaru Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
(PPATK) yang menyebutkan adanya dana yang tak wajar di rekening 15 perwira
polisi, yang diduga sebagai hasil pencucian uang, juga belum ditindaklanjuti
secara adil dan transparan oleh pimpinan kepolisian, bahkan ada kesan
ditutup-tutupi dari penglihatan masyarakat luas.
Secara umum, baik buruknya kinerja dan citra kepolisian memang dipengaruhi
kualitas dan kuantitas sumber daya manusianya. Secara kualitas, sistem
perekrutan dan proses pembelajaran para praja kepolisian mempengaruhi watak dan
moral mereka di masa depannya. Buruknya sistem perekrutan, yakni para calon
praja bisa lulus seleksi hanya dengan membayar sejumlah biaya atau dititipkan
oleh 'orang dalam' kepolisian, hanya akan melahirkan aparat kepolisian yang
bermental korup, baik dalam tugas dan pelayanannya kepada masyarakat.
Sementara itu, secara kuantitas, rasio antara jumlah aparat kepolisian dan
jumlah warga masyarakat yang dilayaninya belum mencapai komposisi yang
seimbang. Rasio antara polisi dengan warga masyarakat di Indonesia saat ini
mencapai 1 : 700, padahal standar minimal kuantitas polisi menurut Perserikatan
Bangsa Bangsa (PBB) adalah 1:400.
Beban dan tanggung jawab untuk membentuk dan meningkatkan kinerja dan citra
kepolisian ke depan kini ada di tangan Kapolri. Tidak pernah ada kata
terlambat, hanya diperlukan kemauan dan tekad yang sungguh-sungguh untuk
melaksanakan itu semua. Seperti kata pepatah China jien li she ie ik puu, yang
berarti 'perjalanan seribu mil dimulai dengan langkah pertama+IBk-, demikian
pula diperlukan langkah nyata untuk mewujudkan polisi yang melindungi,
mengayomi, dan melayani. (Fabianus H Wirawan/ Litbang Media Group)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Layanan Membaik, Citra Masih Buruk