[ppi] [ppiindia] Lagu Kebangsaan "1/3 Indonesia Raya"

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.suarapembaruan.com/News/2005/08/16/index.html


SUARA PEMBARUAN DAILY 

Lagu Kebangsaan "1/3 Indonesia Raya"
HAMPIR setiap kali ada upacara resmi, lagu kebangsaan Indonesia Raya 
dinyanyikan. Namun, barangkali tidak banyak yang menyadari, yang dinyanyikan 
hanyalah sepertiga dari seluruh lagu karya WR Soepratman itu. Tidak cukup jelas 
alasannya, tetapi itulah yang terjadi selama ini. Bahkan sebagian besar dari 
kita tidak merisaukan, jarang sekali atau mungkin tidak pernah, menyanyikan 
lagu kebangsaan secara utuh. 

Bisa saja berkilah, kalau lagu kebangsaan dinyanyikan utuh akan terasa panjang, 
karena terdiri atas tiga stanza atau couplet, sehingga cukup stanza pertama 
saja yang dinyanyikan. Padahal, kalau dinyanyikan penuh, lagu ini membutuhkan 
waktu kurang dari sepuluh menit. Atau sekitar tiga menit untuk setiap stanza 
dengan dua kali menyanyikan bagian refrain untuk setiap stanza. 

Jika waktu merupakan alasan, begitu tinggikah bangsa ini menghargai waktu 
sehingga enam atau tujuh menit tak mau dipakai menyanyikan lagu kebangsaan? 
Padahal, kita sehari-hari menyaksikan bagaimana waktu dibuang sia-sia? 
Kekacauan pengaturan lalu lintas menimbulkan kemacetan, acara-acara tak dimulai 
tepat waktu, birokrasi lamban mengerjakan administrasi, proses perizinan yang 
panjang. Dan perlu dicatat Indonesia Raya bukanlah satu-satunya lagu kebangsaan 
yang panjang di antara lagu kebangsaan di dunia. 

Atau sebenarnya kita telah terbiasa hidup dalam iklim yang korup, sehingga 
simbol negara yang penting pun kita "korup"? Tiga simbol penting bagi negara 
adalah bendera, lambang negara, dan lagu kebangsaan. Predikat sebagai salah 
satu negara terkorup di dunia memang makin lengkap, bahkan lagu kebangsaan pun 
dikorup. Abai pada dua stanza lagu kebangsaan mungkin cermin yang lebih nyata 
tentang sikap kita pada kebangsaan, dan cita-cita berdirinya negara ini. 

Barangkali ada pula pihak-pihak yang memandang simbol-simbol seperti itu sudah 
tidak diperlukan lagi dalam zaman modern ini. Namun, justru yang patut 
dicermati, bukan masalah simbol yang tak diperlukan, tetapi kegagalan menangkap 
esensi dan makna simbol tersebut yang sebenarnya terjadi. Dan justru hal ini 
yang berbahaya. 


60 Tahun Diabaikan 

Dalam peringatan 60 tahun kemerdekaan Indonesia kali ini sangat mungkin kita 
juga akan mengabaikan dua stanza terakhir lagu kebangsaan kita. Ada yang 
menyebutkan jangankan dua stanza yang diabaikan, stanza pertama yang 
dinyanyikan setiap upacara resmi saja mungkin tidak dihayati maknanya. Maka 
yang ingin disuguhkan di sini adalah apa isi dua stanza yang berpuluh tahun 
kita abaikan itu. 

Dalam usia 60 tahun kemerdekaan, kita sekarang justru menghadapi 
masalah-masalah yang serius berkaitan dengan kohesi setiap individu dan 
komponen sebagai satu bangsa, satu negara yang mempunyai cita-cita bersama. 
Tidak mengherankan jika diskriminasi masih terjadi di negara yang didirikan 
dengan cita-cita mewujudkan martabat manusia. 

Dalam usia yang sudah cukup matang, bangsa ini justru berkutat dengan masalah 
korupsi yang mencerminkan rapuhnya solidaritas, rasa kebangsaan dan 
kebersamaan. Suatu kondisi yang sangat kontras dengan awal kemerdekaan di mana 
orang mengorbankan kepentingan pribadi untuk kepentingan bersama: sebuah bangsa 
yang merdeka. Kita juga menghadapi masalah demokrasi dan akuntabilitas dalam 
pemerintahan yang juga mencerminkan cita-cita kemerdekaan dan pengorbanannya 
tengah dicampakkan oleh mereka yang rakus kekuasaan. 

Masalah-masalah yang kita hadapi sekarang justru yang ditekankan dua stanza 
lagu kebangsaan yang kita abaikan. 

Inilah yang kita abaikan selama ini: (stansa ke-2): Indonesia tanah yang mulya, 
tanah kita yang kaya. Di sanalah aku berada untuk selama-lamanya. Indonesia 
tanah pusaka, pusaka kita semuanya. Marilah kita berdoa: Indonesia bahagia. 
Suburlah tanahnya, suburlah jiwanya, bangsanya, rakyatnya, semuanya. Sadarlah 
hatinya, sadarlah budinya untuk Indonesia Raya. 

(Stanza ke-3) Indonesia tanah yang suci, tanah kita yang sakti. Di sanalah aku 
berdiri m'jaga Ibu sejati. Indonesia tanah berseri, tanah yang aku sayangi. 
Marilah kita berjanji: Indonesia Abadi. Slamatlah tanahnya, slamatlah 
puteranya, pulaunya, lautnya, semuanya. Majulah negerinya, majulah pandunya 
untuk Indonesia Raya. 

Apa yang terjadi dalam kurun 60 tahun kita abaikan dua stanza ini. Tanah tak 
lagi subur, juga jiwa kita. Hati kita kering dan negeri ini dipenuhi konflik, 
bahkan berkekerasan dan berkepanjangan, karena budinya yang makin rendah. 

Pada stanza kedua kita makin merasa prihatin, karena tak banyak yang mau 
berjanji Indonesia abadi. Akibatnya tak selamat tanah kita, banyak pencemaran, 
makin tak subur dan hutannya dijarah semena-mena. 

Nasib para putra bangsa diabaikan, pulaunya hilang, lautnya dijarah 
nelayan-nelayan asing. Negeri ini tertinggal dari negeri lain, dan kita 
mengalami krisis pandu (pemimpin). 

Sampai kapan kita akan mengabaikan dua stanza itu, yang juga bisa berarti 
mengabaikan cita-cita kemerdekaan? 


Pembaruan/Sabar Subekti 


Last modified: 16/8/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hht1sgv/M=320369.6903865.7846595.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124279678/A=2896112/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com
">Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children¿s Research 
Hospital</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: