[ppi] [ppiindia] LEBIH JAUH DENGAN KOES BERSAUDARA
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>,<wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>,"ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Mon, 31 May 2004 00:30:50 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Sumber: Harian Kompas, Jakarta,30 Mei 2004.
LEBIH JAUH DENGAN=20
Koes Bersaudara
"MERDEKA!" Itulah yang diserukan lelaki yang sudah =
tergolong sepuh, Koesdjono (72) alias John Koeswoyo, didampingi sang adik, =
Nomo Koeswoyo (65), ketika keduanya mewakili Koes Bersaudara menerima pengh=
argaan khusus Life Time Achievement pada acara Penghargaan Musik SCTV di Ja=
karta, tanggal 21 Mei lalu. Khalayak pun tertawa, melihat salam yang dalam =
konteks dunia hiburan sekarang terkesan "kuno" itu. Apalagi, sebelumnya Joh=
n sempat keliru, mengira trofi berbentuk mikrofon yang diterimanya benar-be=
nar mikrofon, sehingga ketika dia diminta bicara, piala itu yang hendak dij=
adikannya mike. John, Nomo, sebagaimana saudara-saudara yang mereka wakili,=
yakni Tony Koeswoyo (1936-1987), Yon Koeswoyo (64), dan Yok Koeswoyo (61),=
memang kini nyaris bisa disebut sebagai "sejarah masa lalu". Dalam lintasa=
n "sejarah masa lalu" dan nama besar mereka waktu itu pula, sebenarnya terc=
ermin sejarah sosial Indonesia.
B>small 2small 0< hal tentang Koes Bersaudara sudah=
diketahui khalayak pencinta musik di Indonesia, termasuk ketika mereka dip=
enjarakan pemerintahan Presiden Soekarno karena musik "ngak-ngik-ngok"-nya.=
Hanya saja, di balik cap "ke-Barat-Barat-an" yang mereka terima ketika pem=
erintahan "Orde Lama", kalau ditelusuri justru pada Koes Bersaudara kita me=
nemukan semacam "otentisitas" ke-Indonesia-an, termasuk dalam sikap-sikap p=
ribadi dan sosial mereka. Dalam beberapa hal pula, pada kisah kehidupan kel=
uarga ini di masa lalu, tergores cerita-cerita mengenai kesederhanaan hidup=
, kerja keras banting tulang-semacam ilusi dari sebuah masyarakat yang ingi=
n mencapai kemuliaan hidup lewat kerja. Bukankah justru ini semacam semanga=
t "sosialisme"?
Sementara wujud musik mereka, yang pada zamannya du=
lu diwarnai pengaruh Everly Brothers, Kalin Twins, The Beatles, sampai The =
Bee Gees, bukankah itu hanya koinsidensi sejarah, yang bisa terjadi pada an=
ak muda di segala zaman? Dalam hal pandangan hidup, Koes Bersaudara sebalik=
nya menggemakan pujian mengenai elok dan permainya tanah air kita, seperti =
lewat Pagi yang Indah, Angin Laut, atau riangnya kehidupan sosial kita lewa=
t Dara Manisku, Bis Sekolah, dan lain-lain.
Menyimak penuturan mereka mengenai riwayat keluarga=
mereka, dari kakek-nenek mereka, ayah-ibu mereka, masa kanak-kanak sampai =
mereka semua menjadi orang dewasa dan orang tua, terlihat sebuah lingkungan=
keluarga dengan nilai-nilai sederhana, memiliki dignity, serta punya keped=
ulian pada lingkungan sosial. Senin (24/5) lalu, Kompas berbincang-bincang =
dengan John, Nomo, dan Yok di "kompleks Koes Bersaudara" di bilangan Jalan =
Haji Nawi, Jakarta Selatan. Dalam perbincangan selama hampir lima jam itu, =
John banyak menceritakan asal-usul keluarga mereka. Nomo, yang kelihatannya=
paling "gendeng" di antara saudara-saudaranya, menimpali dengan kisah-kisa=
h perjuangan hidup mereka. Sedangkan Yok, banyak mengingat perjalanan musik=
al dari zaman Koes Bersaudara sampai Koes Plus.
Dari Tuban
Baiklah, sebaiknya dijelaskan lagi, bahwa riwayat m=
ereka bisa dikatakan dimulai dari Tuban, sebuah kota pesisir di Jawa Timur.=
Di kota itu, pasangan Koeswoyo dan Atmini mempunyai sembilan anak, satu di=
antaranya meninggal dunia ketika masih kecil. Yang tersisa kemudian adalah=
delapan anak, lima lelaki dan tiga perempuan. Sesuai urutannya, mereka ada=
lah Koesdjono (John), Koesdini, Koestono (Tony), Koesnomo (Nomo), Koesyono =
(Yon), Koesroyo (Yok), Koestami, dan Koesmiani. Kini, dari dinasti Koeswoyo=
itu sudah ada 33 cucu dan 28 cicit (dari kalangan cucu, barangkali orang m=
asih ingat nama Chicha Koeswoyo dan Sari Yok Koeswoyo dulu).
Menceritakan asal-usul keluarga Koeswoyo, John mema=
parkan silsilah sampai ke buyut-buyut mereka. Dari situ, dia singgung dari =
pihak kakeknya sebetulnya ada darah Portugis, sementara dari pihak nenek ad=
a darah Belanda. Dari silsilah yang cukup panjang, kemudian lahirlah Koeswo=
yo, ayah mereka, yang pada tahun 1940-an adalah seorang pegawai negeri di T=
uban.
"Bapak saya, Koeswoyo, dulunya pegawai di Kabupaten=
Tuban. Terus karena ngganteng-nya, dia diliatin Bupati. Terus bapak saya d=
ijodohkan dengan keponakannya, yaitu Atmini, yang kemudian menjadi ibu kami=
," kata John. "Sesudah zaman Jepang, Bapak menjadi Asisten Wedana di Desa K=
erek, terus ke Widang. Waktu Clash II, bapak saya digerebek Belanda. Dia di=
ultimatum, mau kooperatif dengan NICA atau langsung masuk penjara Kalisosok=
. Karena anaknya masih kecil-kecil, Bapak memilih bekerja sama dengan Belan=
da. Bapak diserahi tugas di bagian distribusi, tetapi dia malah membantu pe=
juang dan menyalurkan bantuan pangan. Namun lama-lama ketahuan Belanda dan =
diancam akan ditembak," lanjutnya.
Kata John, setelah penyerahan kedaulatan Republik I=
ndonesia, ayahnya dikucilkan oleh teman-temannya, karena dianggap pernah be=
rsikap kooperatif dengan Belanda. "Dia dipencilkan, sampai badannya kurus k=
arena korban perasaan. Lama-lama Bapak berpikir, lebih baik pindah ke pusat=
, ke Jakarta."
Ke Jakarta
Keluarga Koeswoyo pun pindah ke Jakarta. Di Jakarta=
, di Kementerian Dalam Negeri, tempat induk departemen di mana Koeswoyo bek=
erja, lagi-lagi ia merasa dikucilkan. "Departemen itu dikuasai orang Yogya,=
" ucap John. "Maka Bapak minta pensiun, sebelum pensiunnya mateng. Bapak te=
rus bergabung dengan Bank Timur. Dia dipercaya mengelola onderneming (perke=
bunan-Red) di Solo. Saya di rumah dengan empat adik. Hanya dia (menunjuk No=
mo) berpetualang sendiri ke Surabaya, kerja di pabrik genteng. Yang tiga in=
i, Ton, Yon, Yok, saya khawatirkan jadi crossboys...," cerita John.
Karena ingin adik-adiknya memiliki "kegiatan positi=
f", John berinisiatif membelikan alat-alat musik bagi adik-adiknya. Waktu i=
tu John sudah bekerja di Biro Yayasan Tehnik, sebelum kemudian pindah ke pe=
mbangunan Hotel Indonesia (HI). "Saya belikan alat musik itu untuk pemersat=
u adik-adik. Saya belikan bas betot, gitar pengiring dua, dan drum. Belinya=
sama Tony di Jalan Tembaga, Nonongan, Solo. Mengapa di Solo, karena waktu =
itu untuk urusan alat musik yang paling komplet di Solo. Alat-alat itu diba=
wa pakai kereta api ke Jakarta. Terus dari stasiun diangkut dengan truk ke =
HI, saya kan masih kerja di HI...."
John bercerita, bagaimana ayahnya yang bertugas di =
Solo sempat kaget melihat John dan Tony ke Solo. "Saya dimarahi, arep opo r=
ene? (mau apa kemari?). Saya dibilang mau merusak adik-adik saya. Nanti jad=
i apa mereka?" kenang John.
Keberatan Koeswoyo anak-anaknya bermain musik adala=
h khas kecemasan yang dirasakan umumnya orangtua pada masa itu. Sang ayah s=
uka menunjukkan suatu contoh, di mana di Tuban ada tukang biola yang sangat=
pintar bermain, namanya Pak Senen. Cerita John, "Dia itu matinya ngenes, t=
erlunta-lunta. Dia matinya di Kampung Kawatan, di tempat pelacuran dan tida=
k ada yang menengok. Melas sekali. Waktu mau dikubur, yang mengantar cuma t=
ukang cangkul penggali kubur."
Ton Si Jenius
Oleh keluarganya, Tony Koeswoyo dipanggil Ton, atau=
Mas Ton, begitu adik-adiknya memanggil. Boleh dikata, Ton inilah "lokomoti=
f" dan inspirator Koes Bersaudara. Bakat bermusiknya sudah kelihatan sejak =
dia kecil. Hampir semua saudaranya bisa bercerita, bagaimana Ton kecil keti=
ka di Tuban suka memukuli ember, baskom, dan bejana-bejana lain yang diisi =
air dengan lidi yang ujungnya dipasangi biji jambu. Di tangan Ton, katanya =
dari ember, baskom dan lain-lain itu keluar suara yang unik.
"Dasar musik itu kan rhythm. Rasa rhythm dia itu ku=
at sekali," tutur John. "Saya pernah ikut-ikutan memukul ember, tetapi rasa=
nya kok tidak sebagus Ton. Kalau saya ikut-ikutan mukuli ember pakai lidi y=
ang ujungnya ada jeruk pecelnya, dia nangis. Dia tidak mau diganggu dan say=
a dianggap pengacau."
Kecintaan Ton pada musik itu terus berlanjut. Ketik=
a tahun 1952 seluruh keluarga diboyong ke Jakarta (mereka tinggal di bilang=
an Mendawai, Kebayoran Baru), Ton makin menjadi-jadi dengan kegiatan bermus=
ik. John, sang kakak, ingat ketika Ton duduk di bangku SMA, dia membelikan =
adiknya itu sebuah gitar di Pasar Baru. "Gitar itu masih ada, nanti mau say=
a lelang, ha-ha-ha...," katanya.
Dikenangnya, bagaimana Ton terus memainkan gitar it=
u siang- malam. Ton lupa belajar, sampai- sampai katanya Ton menjadi tidak =
naik kelas dan lulus ujian, yang kalau dihitung sampai tiga kali.
Pada waktu sekolah pun, Ton sudah bermain band. Dia=
menjadi bintang, karena pintar memainkan melodi. Cewek-cewek mulai menggan=
drunginya. Dalam perjalanan bermusik di masa remaja itu, mereka juga mulai =
bermain di berbagai tempat di Jakarta, ditanggap orang untuk memeriahkan pe=
sta ataupun di pesta-pesta perkawinan. Mereka menamakan kelompoknya Kus Bro=
thers (semula memang ditulis dengan "u", bukan "oe"). Anggotanya banyak, te=
rmasuk Jan Mintaraga, yang di zaman meledaknya komik Indonesia di tahun 197=
0-an bolehlah disebut sebagai "ikon komik Indonesia". Katanya, Jan yang men=
ulis pada vandel dari kelompok Kus Brothers, semboyan kelompok ini, yakni "=
Missa Solemnis" (sebuah karya Beethoven, yang artinya kurang lebih, "sesuat=
u yang bersumber dari hati akan mendapat tempat di hati juga").
Ketika John membelikan seperangkat alat musik bagi =
adik-adiknya, dibuat semacam perjanjian dengan Tony, bahwa dia hanya bermai=
n dengan saudara-saudaranya, dengan adik-adiknya. Dari situ, solidlah Koes =
Bersaudara.
Dihasut oleh pelat
Musik Koes Bersaudara sejak awal memang sangat dipe=
ngaruhi oleh penyanyi maupun kelompok-kelompok luar negeri seperti Everly B=
rothers, The Ventures, Kalin Twins, dan lain-lain. Soalnya, mereka memang m=
encari referensi bermusik pada piringan-piringan hitam atau pelat. Dengan k=
ata lain, mereka "dihasut" oleh pelat-pelat dari para pemusik Barat.
Mereka masuk studi rekaman pertama kali di Studio I=
rama, milik Yos Suyoso atau biasa dipanggil Mas Yos (kini sudah almarhum). =
Tadinya, mereka sebetulnya hanya ke situ untuk memberikan contoh rekaman la=
gu-lagu mereka. Ternyata, hari itu juga mereka disuruh rekaman. Jadilah alb=
um pertama mereka (tahun 1962), yang pada masa itu di setiap piringan hanya=
terdapat dua lagu. Lagu mereka adalah Bis Sekolah dan Dara Manisku.
Koes Bersaudara berkembang menjadi "nama besar". "N=
amun secara komersial kami tak mendapat hasil. Saya pernah kok di rumah sam=
pai enggak punya duit. Saya sampai harus nyopir bemo untuk mendapat duit. R=
utenya dari Mayestik-Kebayoran Lama-Santa," cerita Nomo Koeswoyo.
Nomo inilah yang dijuluki keluarganya sebagai "pali=
ng pintar berbisnis" selain "tukang berkelahi". Menceritakan tinggal sendir=
i di Jakarta bersama kakak dan adik- adiknya, Nomo berujar, "Kami masih men=
dapat kiriman uang dari Bapak, tetapi belum seminggu uang sudah habis. Suat=
u hari saya beli singkong sepikul. Kalau lapar mereka nggodok singkong. Eh,=
belum tiga hari singkong sudah busuk semua, hua-ha-ha...."
Di Penjara Glodok
Episode ini, sudah banyak diungkap media massa. Tan=
ggal 29 Juni 1965 personel Koes Bersaudara ditangkap dan ditahan di Penjara=
Glodok, yang kini dikenal sebagai kompleks pertokoan itu. Alasannya, merek=
a dijebloskan ke penjara karena menggelar musik yang "ke-Barat-Barat-an", y=
ang dianggap tidak sesuai dengan kebijakan politik pada masa itu. Nomo semp=
at menuturkan, bagaimana kisah hidup mereka di balik terali besi selama tig=
a bulan. Ada tahanan yang iba terhadap mereka, namanya Oom Ging. Si oom ini=
iba melihat jatah makanan anak-anak ini. "Oom Ging lalu memberi sayuran ya=
ng ditanam sendiri. Belakangan saya tahu, tanaman itu diberi pupuk dari kot=
oran Oom Ging sendiri. Waduh...," cerita Nomo sambil tertawa.
Yang tidak banyak diketahui orang, seperti dituturk=
an Yok Koeswoyo, sebenarnya mereka dimasukkan penjara pada masa itu sebagai=
bagian untuk menjadikan Koes Bersaudara sebagai intelijen tandingan (count=
er intelligence) di Malaysia. Saat itu, Indonesia sedang berkonfrontasi den=
gan Malaysia.
"Zaman dulu ada KOTI (Komando Operasi Tertinggi). K=
ami direkrut oleh beliau-beliau, komandannya Kolonel Koesno dari Angkatan L=
aut. Dibikin seolah-olah pemerintah yang ada tidak senang sama kami, lalu k=
ami ditangkap. Dalam rangka ditangkap inilah kami nanti secara diam-diam ke=
luar dan eksodus ke Malaysia. Di sana kami dipakai sebagai counter intellig=
ence. Namun, pas keluar dari penjara pada tanggal 29 November, meletus G30S=
," cerita Yok.
Jadi masuk penjara itu hanya sebuah jalan menuju fa=
se berikutnya?
"Ya, jadi dibentuk opini seolah-olah kami tidak suk=
a pada Soekarno," jawab Yok.
Waktu masuk penjara ada perasaan menyesal atau tida=
k?
"Tidak, kita menyadari itu kok."
Ini tak pernah terungkap ya?
"Ya, selama ini kita selalu rapet. Kami ikut menjag=
a rahasia negara. Di KOTI itu kami masuk D3, kami bisa dibangunkan, tapi bi=
sa juga ditidurkan."
Hal sama, katanya dilakukan kelompok ini di paruh p=
ertama tahun 1970-an (sebelum Timor Timur bergabung menjadi wilayah Indones=
ia, atau ada pula yang menyebut sebagai proses aneksasi), untuk Timor Timur=
. Dalam rangka "proyek politik" ini, katanya lahir lagu semacam Diana (lagu=
itu bercerita mengenai putri petani, bernama Diana. Perhatikan, Diana adal=
ah nama yang tidak umum untuk petani di Jawa.) Ingat juga lagu Da Silva.
Anda masuk ke Timor Timur?
"Kami berangkat ke sana. Kami bikin pertunjukan di =
gedung. Waktu menuju Hotel Turismo, ada orang Timur yang mendekat dan mengg=
edor-gedor mobil kami sambil berteriak-teriak, 'Viva Presidente Soeharto!' =
Waktu kami pulang dari Timor Timur kami disambut sama Adam Malik di Tanah A=
bang," ucap Yok.
Seru ya....
"Setelah mengalami itu semua, nasionalisme kami tam=
bah tebal. Itu makanya ada lagu Nusantara I, II, dan seterusnya."
Tetap sederhana
Waktu terus berlalu. Nama besar Koes Bersaudara ter=
nyata tak terlalu berkolerasi dengan sukses ekonomi mereka. Penghasilan mul=
ai masuk katanya sejak kelompok ini berubah nama menjadi Koes Plus, di akhi=
r tahun 1960-an. Awal tahun 1970-an, nama Koes Plus berkibar-kibar. Penabuh=
drumnya adalah Murry, menggantikan Nomo. Nomo diganti, katanya karena sika=
p keras Ton, mau bermusik atau melakukan kegiatan lain. Saat itu, Nomo meny=
atakan tak bisa sepenuhnya bermain musik, karena dia sudah berkeluarga, pun=
ya anak, dan musik saat itu tidak sepenuhnya bisa dijadikan gantungan hidup=
.
Kini, Koes Plus tetap ada, dengan hanya Yon dari ke=
luarga ini yang masih aktif di panggung. Para putra lelaki Koeswoyo yang la=
in, seperti John, Nomo, dan Yok, tinggal di satu kompleks, dengan gaya hidu=
p sederhana mereka, dengan dignity mereka, sebagai sosok-sosok berkarakter =
kuat, yang pernah memberi warna pada sejarah sosial kita.
Pewawancara:
Frans Sartono
Efix Mulyadi
Bre Redana
Copyright =A9 2002 Harian KOMPAS
=20=20=20=20=20
=20=20=20=20=20
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->=20
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->=20
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] LEBIH JAUH DENGAN KOES BERSAUDARA