[ppi] [ppiindia] Krisis Kearifan Kita
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 19 Oct 2005 22:44:59 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/20/opini/2138595.htm
Krisis Kearifan Kita
Moh Soerjani
Profesor Soedjatmoko adalah tokoh Indonesia yang mendapatkan kepercayaan dan
kehormatan sebagai Rektor Universitas PBB (UN University) di Tokyo yang pertama
sejak didirikan.
Saya mengakui kekaguman saya akan pemikiran beliau, yang ternyata juga diikuti
oleh tamu-tamu ilmuwan, guru besar dan tokoh dari Universitas Toronto,
Universitas Waterloo, dan Universitas York di Kanada.
Di muka para tamu ini beliau mengutarakan keprihatinannya bahwa masyarakat
dunia sedang dilanda oleh intelligibility crisis (baca krisis kearifan). Banyak
di antara kita yang berbeda pendapat yang tidak dicari di mana titik temunya,
tetapi justru diperlebar. Beliau menggunakan istilah kita harus saling
berkompromi untuk mengupayakan kesamaan, atau setidak-tidaknya mencoba
memahaminya. Dengan mendengar argumentasi dari berbagai pendapat yang
berbeda-beda itu sebenarnya menjadi tantangan untuk makin luasnya
pemahaman/wawasan kita tentang makna kehidupan ini
Alam di mana berlangsungnya kehidupan ini sangat sulit diduga (capricious dan
unpredictable) kita hanya mengenalnya relatif secara terbatas. Tetapi sikap dan
tingkah laku kita sering kali kita lakukan secara kurang pertimbangan, kurang
kearifan. Padahal, dalam kehidupan ini ada saling ketergantungan, artinya
saling membutuhkan, hubungan yang mutualistik, walaupun di samping itu juga
terbuka berbagai risiko dalam kehidupan sehingga kita harus bersikap hati-hati.
Dalam penciptaan-Nya, Tuhan juga menghadapkan makhluk hidup termasuk manusia
kepada berbagai risiko. Ada gempa bumi, tsunami, gunung berapi, ombak badai,
dan sebagainya. Adanya gempa dan tsunami baru-baru ini memang menimbulkan
korban jiwa dan harta benda, tetapi kalau dapat dipetik hikmahnya, yang pasti
muncul kesetiakawanan di antara kita, bahkan juga dengan sesama bangsa lain.
Sesuatu yang tidak boleh luput sebagai pelajaran berharga adalah berbagai sikap
preventif dan hati-hati yang belum cukup kita sadari.
Tuhan menciptakan segala sesuatu sebagai tantangan untuk dimanfaatkan. Ombak
yang berdebur di pantai selatan Pulau Bali, justru menarik kedatangan para
turis yang ingin berselancar. Gunung api Bromo juga mempunyai daya tarik
keindahannya untuk ekowisata, walaupun juga dengan disertai risiko yang perlu
diwaspadai dengan hati-hati.
Banyak di antara perbedaan itu yang kita harus mencoba menanggapinya,
terlebih-lebih pada era reformasi ini. Mungkin ada pendapat yang menyebabkan
merahnya telinga kita. Tetapi kita coba menerimanya sebagai bahan pemikiran
untuk lebih mencerdaskan kehidupan ini.
Perlakuan tak adil
Departemen Kesehatan yang berbagai prioritasnya pada pembangunan rumah sakit,
belakangan ini dengan adanya busung lapar, polio, penyakit demam berdarah
hingga flu burung sekiranya di masa depan perlu lebih memprioritaskan pelayanan
kesehatan mulai dari balai kesehatan. Karena itu sebenarnya Badan Pengawasan
Obat dan Makanan sebaiknya lebih memprioritaskan pengawasan makanan atau gizi
rakyat sebelum terjadi wabah busung lapar, polio dan sebagainya itu yang
memerlukan obat-obatan. Pertimbangan inilah yang merupakan alasan pendirian
Fakultas Kesehatan Masyarakat di UI dan berbagai perguruan tinggi lainnya.
Budaya tindakan kita menghadapi musibah ditanggapi dengan berbagai tindakan
represif atau kuratif, misalnya saja masalah banjir, baru kita ribut setelah
banjir melanda (Jakarta). Demikian pula 25.000 meter kubik limbah Kota Jakarta
dihadapi secara represif. Padahal, untuk jangka ke depan misalnya karena 60-70%
limbah tersebut berasal dari hasil pertanian, sayur dan buah, perlu dibudayakan
tindakan untuk memotivasi petani menyortir hasil pertanian yang benar-benar
dapat dikonsumsi untuk dikirim ke kota.
Sebagian perlu diolah para petani agar mendapatkan nilai tambah melalui
industri rumah tangga dengan menghasilkan keripik garut (seperti di Bantul),
sambal giling (seperti sedang dilaksanakan oleh siswa SMA Suluh di Pasar
Minggu), pengolahan hasil laut menjadi sirup, selai dan kerupuk rumput laut
(seperti siswa SMK 36 Perikanan di Cilincing). Jadi, kalau penduduk Jakarta
akan makan pisang sebaiknya pergi ke desa untuk makan di sana agar kulitnya
dapat dimanfaatkan untuk makanan kambing di desa; sehingga di Jakarta tidak
penuh kulit pisang berserakan sebagai limbah.
Kembali kepada pesan Prof Soedjatmoko, seorang biksu Radha dalam bukunya
tentang bagaimana caranya menjadi manajer yang baik mengartikan bahwa
mengetahui segala sesuatu melalui pendidikan sebenarnya relatif mudah, berbagai
cara dapat ditempuh saat ini dengan berbagai informasi yang makin canggih.
Tetapi kalau apa yang kita ketahui itu tidak diaplikasikan dalam kehidupan
tanpa disertai kearifan (to apply the required knowledge without wisdom) sulit
untuk diperoleh hasilnya yang memadai.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) dulu mengukur kesehatan masyarakat di suatu daerah
dengan jumlah kamar tidur di rumah sakit setiap 1.000 orang. Padahal, makin
banyak tempat tidur yang tersedia artinya makin banyak penduduk yang sakit.
Sekarang kriteria sehat itu diganti (sejak lama) dengan berapa dari 1.000 orang
penduduk yang mendapat pelayanan air bersih. Kalau suatu daerah, seperti
Jakarta, baru 35% penduduk mendapat pelayanan air bersih, artinya pada angka
35% itulah taraf kesehatan penduduk kota ini.
Kita terlalu mendahulukan pembangunan di Pulau Jawa lebih dari pulau lain yang
cukup tertinggal, seperti Papua, Kalimantan, dan Maluku. Akibatnya hutan di
wilayah Papua, Kalimantan, dan sebagainya itu kurang dimanfaatkan dan kurang
pengawasan, sehingga terjebak pada kasus pencurian besar-besaran. Kita
buru-buru menyalahkan dalang atau mereka yang mengatur di belakang layar yang
merupakan pencuri yang sebenarnya. Hal ini terjadi karena rakyat setempat tidak
berdaya untuk mengelakkan dorongan penebangan liar itu karena mereka memang
selama ini belum mendapatkan perlakuan yang adil dalam pembangunan.
Moh Soerjani Pemerhati Masalah Lingkungan Hidup dan Pendidikan, Tinggal di Depok
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Krisis Kearifan Kita