[ppi] [ppiindia] Koran Waspada: Islam Liberal, Modernis dan Fundamentalis
- From: "A Fatih Syuhud" <ndfatih@xxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Fri, 30 Apr 2004 17:55:02 -0000
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Islam Liberal, Modernis dan Fundamentalis
WASPADA Online
http://www.waspada.co.id/serba_waspada/mimbar_jumat/artikel.php?
article_id=42957
Oleh A Fatih Syuhud *
Islam sepanjang sejarahnya telah terkarakterisasi dalam sebuah
paradoks. Ini merupakan dampak wajar dari kesatuan simultan dan
sekaligus perbedaan yang mencolok sebagai keyakinan yang hidup dari
komunitas lokal, regional dan nasional. Respons tipikal kalangan
Muslim atas berbagai perbedaan ini dapat dikategorikan dalam dua
poin. Pertama, mengabaikan atau membiarkan paradoks yang ada dan
terus bersikap sesuai dengan prinsip bahwa Islam adalah satu, yang
ditandai dengan pengamalan common platform syariah atau fiqh (hukum
Islam). Kedua, menganggap perbedaan keyakinan dan perilaku itu
sebagai anomali temporer yang akan hilang ketika syariah memegang
kendali.
Ada dua implikasi dari adanya pluralisme agama ini (1) bahwa kesatuan
Islam bukanlah aksioma atau ada begitu saja, tetapi ia dicapai
melalui sebuah proses interpretasi dan konstruksi yang kompleks, dan
(2) sebagai keyakinan praksis Islam bersifat jauh lebih pluralistik
dibanding tingkatan ekstrim dari kesatuan dan reifikasi yang sering
diidentikkan dengannya. Setiap masyarakat Muslim membentuk
definisinya sendiri tentang apa yang fundamental.
Hal ini menjadi mungkin karena adanya ambigu inheren tentang apa yang
benar-benar berada di dalam batas-batas syariah dan yang profan.
Dengan demikian, kontroversi dan diskursus, apakah itu dilakukan oleh
kalangan individual atau atas nama komunitas tertentu, menjadi
fenomena umum dalam masyarakat Muslim di manapun, termasuk di
Indonesia.
Kontroversi dan wacana tidak hanya timbul oleh adanya imbiguitas
dalam persepsi kolektif. Dalam literatur teks itu sendiri, terdapat
beberapa ayat yang memungkinkan terjadinya ambigu yang disebabkan
oleh adanya sejumlah perbedaan pada bagian-bagian tertentu dalam teks
yang tampaknya saling bertentangan. Sebagai contoh, dalam soal sikap
apa yang mesti dilakukan terhadap non-Muslim (kafir) terdapat dua
posisi: (1) bahwa ia harus dikonversikan ke Islam kendatipun mesti
dengan mata pedang (QS 9: 73), dan (2) ia dibiarkan memeluk agamanya
dengan dasar tidak ada paksaan dalam agama (QS 2: 256).
Contoh kecil di atas menggiring kita pada persepsi populer bahwa pada
tahap tertentu doktrin Islam beorientasi pada militansi agama dan
kekerasan. Imej Islam semacam ini telah menjadi artifak akademik
dalam proses historis ekspansi kolonial yang diperkuat dengan
peristiwa-peristiwa politis yang melibatkan terjadinya konfrontasi
dengan hegemoni Barat. Bagi seperlima umat manusia, yang
mendeklarasikan diri sebagai Muslim, kekerasan kolektif menempati
sebuah dimensi baru pada abad kedelapanbelas. Ia dapat digambarkan
dalam tahap-tahap yang berbeda, yang kesemuanya berhubungan dengan
bangkitnya ekonomi Eropa, negara-bangsa yang mayoritas penduduknya
pemeluk Kristen. Dengan demikian, Islam abad keduapuluh sebagaimana
sistem negara-bangsa, direkonstruksi atau lebih tepatnya
diinterpretasi kembali secara de novo (sama sekali baru) sebagai
respons atas kolonialisme.
Islam kontemporer sama sekali berbeda, situasinya juga terlalu
kompleks dan bervariasi untuk dibuat generalisasi. Hampir dua-pertiga
dunia Islam saat ini hidup di bawah panji-panji sekuler. Dalam
masyarakat Muslim semacam inipun, terdapat kelompok-kelompok
fundamentalis aktif, tetapi ketika mereka mulai memperoleh
popularitas politik mereka akan dilumpuhkan oleh tangan-tangan besi
pemerintah. Namun demikian, tendensi dominan adalah kita sering
menilai pesan-pesan retoris kalangan Islam fundamentalis ini seakan-
akan bakal menjadi realitas dalam waktu dekat. Tendensi semacam
inilah yang menggiring spekulasi apakah pergulatan ideologi di dunia
saat ini adalah antara Islam dan Barat.
Di negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim, dapat dilihat
sejumlah respons politik yang bervariasi, mulai dari hadirnya
diskursus Islam, kebangkitan Islam militan, sampai pemberontakan
terbuka. Apabila berbagai kasus yang terjadi kita lihat secara
komparatif, tampak jelas bahwa kolonialisme dan sikap rejim politik
yang berkuasa selalu membangkitkan kesadaran keislaman. Tujuan,
pemahaman atau manifestasi, atas kelompok-kelompok non-muslim dominan
juga krusial dalam menentukan tingkatan dan skala respons Muslim.
Ancaman likuidasi, penaklukan dan dominasi menciptakan pemberontakan.
Dominasi otoritarian mengakibatkan munculnya pergerakan kemerdekaan
dari berbagai varian Muslim. Dominasi kultural dengan struktur
demokratik membangkitkan kesadaran Islam dengan konsen agama sebagai
identitas. Struktur demokratik integratif menimbulkan konsen yang
tidak signifikan pada Islam.
Perbedaan dari respon politik ini sesuai dengan orientasi ideologis
yang bervariasi. Pertama, terdapat kalangan liberal, walaupun
terbatas dalam jumlah dan pengaruhnya, yang hendak membentuk
masyarakat sesuai dengan kerangka sekularisme. Kedua, kalangan
tradisionalis yang telah membekukan risalah Islam dan membiarkan
angin perubahan berlalu begitu saja. Ketiga, kalangan modernis yang
ingin memanfaatkan sumber daya Islam untuk membangun sebuah
masyarakat dan pemerintahan yang bebas dari eksploitasi dan represi.
Keempat, kalangan Islam fundamentalis yang ingin kembali pada tradisi
lama dan pada waktu yang sama kekurangan piranti dan visi dalam
memanfaatkan Islam menuju rekonstruksi masyarakat Muslim yang ideal.
Fundamentalisme Islam esensinya merupakan produk dari perkembangan
historis yang cukup lama dalam masyarakat Muslim dengan hegemoni
Barat selama periode kolonial. Kolonialisme bukan hanya memori masa
lalu. Ia terus berlangsung. Imperialisme politik dan militer jelas
sangat buruk, tetapi yang lebih buruk lagi adalah arogansi etika,
kultural dan intelektual Barat. Apabila pada masa lalu seluruh
peradaban yang sedang bangkit sering merasa paling benar, maka tidak
ada satupun peradaban sebelum Barat modern yang merasa dirinya betul-
betul merasa valid sehingga dengan hanya mempertanyakan validitas
sebagian nilai-nilai yang dianutnya dapat dianggap sebagai sikap
keterbelakangan yang akut. Sementara Barat menggaungkan kebebasan dan
persamaan di negeri sendiri, ia terus melakukan eksploitasi ekonomi
besar-besaran dan menolak nilai-nilai demokrasi di luar.
Oleh karena itu, akar ekpresi kekerasan protes agama sebenarnya
terletak pada eksistensi tatanan kapitalis global yang tidak
demokratik dan adanya pemerintahan demokratik semu di berbagai negara
dunia ketiga, khususnya di negara-negara Muslim. Dukungan membuta
Barat atas rejim-rejim otokratik untuk memerangi Komunisme Soviet
dalam periode Perang Dingin telah membebaskan mereka dari
kewajibannya untuk memperkenalkan langkah-langkah demokratis di
negara sekutu Barat. Saat ini, rejim-rejim ini menimbulkan kemarahan
besar di kalangan rakyat yang tidak dapat mengekspresikan opini
mereka. Perasaan dan emosi yang terkurung akan mengarah pada perilaku
kekerasan. Hanya melalui demokratisasi nyata negara-negara tersebut
diharapkan dapat menghilangkan rejim-rejim otoritarian pro Barat.
Di abad keduapuluhsatu ini, terdapat dua trend yang saling
bertentangan di seluruh dunia Islam -- gelombang dorongan demokrasi
mulai berdenyut dan pada waktu yang sama popularitas fundamentalisme
Islam meningkat. Yakni, sejumlah orang yang percaya bahwa kerangka
referensi dalam mengorganisir urusan politik hendaknya diambil dari
sebuah pemahaman dasar atas teks Islam. Fenomena ini, khususnya pasca
periode Perang Dingin, dikuatirkan akan mengarah pada sistem negara
Islam. Tetapi sementara ini ia masih dalam tahap janji kalangan
fundamentalis; keberuntungan mereka yang nyata sebagai sebuah gerakan
politik masih di bawah standar yang diharapkan.
Selama rejim-rejim otoritarian di negara-negara Muslim menghadapi
tantangan kalangan fundamentalis dengan represi bukan dengan
reformasi, maka akan mudah bagi kalangan fundamentalis untuk
mendapatkan dukungan. Problem rejim-rejim otoritarian adalah mereka
menjanjikan kehormatan dan harga diri nasionalisme serta memberikan
harapan muluk untuk kebaikan dan kemakmuran rakyat tetapi ternyata
gagal memenuhi apa yang dikatakan. Ketika rejim gagal memenuhi janji,
maka adalah natural apabila kalangan Islam fundamentalis menyalahkan
kegagalan itu, kendatipun bukan mustahil mereka juga akan melakukan
hal yang sama apabila berkuasa.
Poin di atas menjelaskan pada kita bahwa manifesto kalangan Islam
fundamentalis juga tidak memiliki solusi bagi permasalahan sosial
ekonomi masyarakat. Karena kurangnya visi inilah sehingga mereka
tidak mampu untuk menembus pintu-pintu kalangan masyarakat akar
rumput secara kolosal.
* Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University
dan Research Associate di Zakir Hussein Institute of Islamic Studies,
New Delhi, India.
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Koran Waspada: Islam Liberal, Modernis dan Fundamentalis