[ppi] [ppiindia] Konferensi Bahasa Inggris ASEAN
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sat, 1 Jan 2005 00:30:11 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Jumat, 31 Desember 2004 23:53
http://www.indomedia.com/bpost/012005/1/opini/opini1.htm
Konferensi Bahasa Inggris ASEAN
Oleh : Drs Midi Sudiyana Dipl TESL MA
Tidak dapat disangkal, di era global Bahasa Inggris menjadi sarana
komunikasi bagi masyarakat berbagai bangsa dan budaya. Di setiap negara,
penggunanya juga tumbuh beragam. Dalam pertumbuhan ini ada yang dianggap
atau menganggapnya sebagai bahasa standar, dalam proses standarisasi, bahkan
ada yang tidak termasuk dalam keduanya.
Bahasa Inggris tumbuh dan berkembang dalam berbagai kontek sosial budaya dan
lingkungan yang berbeda. Pertumbuhan dan perkembangannya cenderung
dipengaruhi dan diarahkan oleh lingkungan tersebut.
ASEAN sendiri memiliki perbedaan antarnegara sesamanya, apalagi jika
dibandingkan dengan kontek Asia dan internasional. Dalam rangka menghimpun
dan mengemas perbedaan itu, Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta
menyelenggarakan Konferensi Bahasa Inggris ASEAN (ESEA) IX selama tiga hari
di pertengahan Desember lalu.
Konferensi bertema 'Texts and Contexts of English Language Studies in
Southeast Asia' itu, dimeriahkan dengan penyampaian 25 makalah. Pemakalahnya
terdiri atas dosen Bahasa Inggris dalam negeri dan pakar studi Bahasa
Inggris mancanegara. Di antaranya dari Malaysia, Singapura, Brunei,
Hongkong, Thailand, Australia dan Selandia Baru.
Konferensi dibagi atas sidang pleno dan kelompok. Sidang pleno menampilkan
tujuh pemakalah utama (key-note speakers) dari pakar yang mewakili Brunei
Darusallam, Malaysia, Hongkong, Singapura, Thailand, Australia dan
Indonesia. Selebihnya disampaikan dalam sidang kelompok.
Key-note speaker dari Indonesia Prof Dr Suwarsih Madya MA yang juga kahumas
BKLN Dep Pendidikan Nasional RI, dalam makalahnya menekankan pentingnya
kompetensi berbahasa Inggris bagi pejabat negara, sebagai antisipasi
menjalankan tugas di luar negeri. Kompetensi dimaksud mencakup kemampuan
berkomunikasi sesuai nilai sosial budaya bangsa sendiri dan bangsa dari
negara tujuan, sehingga dalam berkomunikasi tidak akan terjadi
kesalahpahaman sosial budaya.
Beberapa makalah mengambil tema tentang kecenderungan baru dalam pengajaran
Bahasa Inggris di negara Asia Tenggara khususnya dan dunia secara umum,
dalam usaha menyikapi perkembangan keberagaman Bahasa Inggris yang semakin
marak. Ada juga tema tentang kebahasaan, pengajaran keterampilan berbahasa,
sastra, Bahasa Inggris lewat internet dan komputer, serta tentang teori
pemerolehan bahasa (akuisisi).
Pemakalah dari mancanegara rata-rata mengkhawatirkan kecenderungan semakin
berkembangnya bahasa Inggris lokal (Englishes) di negara yang mereka wakili,
yang dirasa sangat penting dan mendesak untuk disikapi secara arif dan
sangat hati-hati. Ini mengingat, keberagaman Englishes yang memang marak,
keberadaannya harus segera memperoleh legalitas baik formal, sosial budaya
maupun secara linguistik.
Kontek Australia
Salah satu fenomena hangat yang dilontarkan dalam konferensi tersebut adalah
bagaimana menyikapi keberagaman Englishes di negara masing-masing. Di
Australia, misalnya, selain Bahasa Inggris Australia Standar (SAE),
berkembang Bahasa Inggris Aborigin (AAE). Yang menarik adalah, SAE
berkembang dalam berbagai Englishes sesuai letak geografis penuturnya,
begitu juga dengan AAE. Perkembangan ini menciptakan sederet Englishes baru
di benua kanguru tersebut bersama dengan sederetan perbedaannya, baik dari
ucapan, kosa kata, intonasi maupun tata bahasanya.
Keadaan seperti ini menimbulkan sejumlah dampak. Misalnya, dapat terjadi
penutur AAE dari tempat berbeda tidak dapat saling berkomunikasi dan
kesalahpahaman sering terjadi. Kasus yang sama juga dapat terjadi bagi
penutur SAE dari tempat berbeda. Ini hanya merupakan salah satu contoh dari
rumitnya pertumbuhan dan dampak Englishes di Australia, sebuah negara di
mana Bahasa Inggris merupakan bahasa pertama masyarakatnya.
Kontek Singapura
Kasus lebih rumit terjadi di Singapura, di mana rakyatnya menggunakan empat
bahasa sesuai asal etnis mereka, yaitu Melayu, Tamil, Mandarin dan Inggris
Singapura (Singlish). Selain menggunakan bahasa masing-masing dalam
berkomunikasi dengan komunitas etnis yang sama, masyarakat Singapura
menggunakan Bahasa Inggris dalam komunikasi resmi dan Singlish dalam
komunikasi antaretnis mereka (lingua franca). Setiap anggota etnis tertentu
berbahasa Inggris dengan pengaruh bahasa dan budaya masing-masing etnisnya,
sehingga terbentuk Bahasa Inggris Melayu, Inggris Tamil, Inggris Mandarin
dan Singlish, yang semuanya berbeda dengan Bahasa Inggris orang Inggris.
Keadaan ini terus berkembang sesuai kebutuhan etnis masing-masing, sehingga
dapat dibayangkan betapa rumitnya berbahasa Inggris di Singapura dengan
segala keberagamannya. Menjadi pertanyaan kita adalah, Bahasa Inggris
manakah yang harus dikembangkan secara resmi oleh pemerintah melalui
sekolah, perguruan tinggi dan lembaga bahasa di negara tersebut, tentunya
dengan memperoleh legalitas dari pemerintah setempat.
Seorang pemakalah mengetengahkan kebaikan dan kelemahan memperoleh informasi
lewat internet. Pada satu sisi internet merupakan sarana canggih yang dapat
menyajikan informasi mutakhir dari seluruh dunia dengan biaya relatif murah.
Namun di sisi lain, informasi yang diberikan tidak selalu benar. Karenanya
pengguna internet dianjurkan untuk selektif dalam mengonsumsi suguhan
informasi dari internet.
Kontek Indonesia
Kasus yang terjadi di Australia dan Singapura seperti contoh di atas, juga
terjadi di negara lain di dunia termasuk Indonesia. Dalam menyikapi hal ini,
ada pemakalah lokal mengetengahkan sebuah tema yang menurut penulis cukup
'nyleneh'. Ia menganjurkan agar guru Bahasa Inggris tidak perlu mempedulikan
kesalahan dan kesilapan yang dibuat siswanya karena hal itu hanya akan
menambah beban siswa dan guru. Dalam berkomunikasi, yang penting adalah
sampainya pesan si pembicara kepada lawan bicara.
Beberapa pemakalah lain tetap menekankan pentingnya tata bahasa, karena
dengan menggunakan tata bahasa yang baik dan benar dapat menghindarkan
kesalahpahaman dalam berkomunikasi.
Dalam kontek Indonesia di mana sebagian besar penutur Bahasa Inggris
berorientasi ke negara Inggris dan Amerika Serikat, sebenarnya juga
mengalami kasus yang rumit. Masalahnya adalah, di negara Inggris sendiri
terdapat berbagai Englishes dengan segala perbedaannya, seperti Inggris
Skotlandia, Inggris Wales dan Inggris London (Cogney). Sebaliknya di Amerika
juga terdapat sejumlah American Englishes, seperti Northern English, Midland
English, Southern English dan Black English.
Lalu, Bahasa Inggris mana yang harus diajarkan di sekolah dan lembaga
pendidikan lainnya? Dalam menyikapi masalah ini kita masih beruntung, karena
kebijakan untuk itu berada di pemerintah pusat. Perlu diperhatikan adalah
agar kebijakan yang diambil tetap konsisten. Dalam pengertian, bagi yang
berorientasi ke Inggris aturan ketatabahasaan dan ucapannya tidak berubah ke
Amerika, atau sebaliknya. Dengan demikian Bahasa Inggris yang dipakai adalah
bahasa yang 'berterima' (acceptable and intelligible) yang dapat dipahami
tanpa mengabaikan aturan bahasa yang berlaku, dengan memperhatikan 'siapa
yang berbicara, kepada siapa, di mana dan untuk apa'. Secara singkat dapat
dikatakan, Bahasa Inggris berterima ini kira-kira sama dengan Bahasa Inggris
yang dipakai masyarakat terpelajar yang berkomunikasi dalam situasi formal.
Proses akuisisi
Juga penting dan menarik untuk disimak adalah penomena tentang teori
pemerolehan bahasa (akuisisi). Belajar bahasa lewat akuisisi ini cukup lama
dikenal di mancanegara. Sementara di Indonesia hal ini masih merupakan
konsumsi perdebatan antara yang pro dan kontra.
Teori ini berpendapat, selain siswa mempelajari bahasa (Inggris) secara
formal di dalam kelas, mereka dapat memperolehnya secara tidak terasa dari
luar kelas. Misalnya lewat mendengarkan siaran radio berbahasa Inggris,
menyaksikan acara televisi berbahasa Inggris, berkomunikasi dengan orang
asing dalam Bahasa Inggris dan lain-lain. Teori ini juga meyakini, siswa
akan lebih mudah belajar bahasa (lisan) lewat akuisisi, asalkan inputnya
optimal dan menantang.
Ini lebih dimungkinkan karena dalam proses akuisisi situasinya rilek, dapat
dilakukan kapan saja, di mana saja dan bahannya pun apa saja sejauh itu
menggunakan Bahasa Inggris. Berlainan dengan belajar di dalam kelas yang
situasinya tegang, karena siswa merasa dipaksa untuk duduk khusuk dan sangat
terikat pada waktu dan bahan kurikulum. Jika belajar secara akuisisi lebih
berorientasi pada kompetensi berkomunikasi, belajar di dalam kelas masih
lebih berorientasi pada hasil ulangan/ujian yang baik.
Proses akuisisi sebenarnya juga dapat terjadi di dalam kelas, asalkan guru
menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam mengajar, sesuai
batas kemampuan siswanya. Jika hal ini dilakukan terus menerus, dampaknya
akan sangat positif baik bagi siswa maupun guru. Dari bahan yang diajarkan,
siswa akan memperoleh input baru tentang kebahasaan. Sedang dari bahasa
pengantar yang dipakai guru, siswa akan memperoleh kosa kata baru beserta
lafalnya. Rasa percaya diri guru akan semakin besar, karena kemampuannya
dalam berbicara akan semakin hebat. Di saat yang sama, siswa akan terdorong
untuk menggunakan bahasa Inggris dengan gurunya.
Menurut penulis, secara umum pelaksanaan konferensi ESEA IX ini berhasil
dengan baik, walaupun beberapa hal masih dapat dikembangkan lagi di masa
datang. Kualitas makalah sangat memadai, didukung pemakalah mancanegara yang
rata-rata berpredikat profesor doktor, sementara pemakalah domestik minimum
berpredikat pasca sarjana. Jumlah peserta 100 orang lebih juga cukup
memadai, karena mereka berasal dari berbagai perguruan tinggi negeri (PTN)
dan swasta (PTS) yang tersebar dari Sumut sampai Ternate, termasuk Kaltim,
Kalbar dan Kalsel. Kegiatan dilangsungkan dalam ruang cukup luas dan bersih,
yang semuanya dilengkapi AC dan LCD. Konsumsi, refreshment dan pelayanannya
pun sangat memadai.
Ada sejumlah kesimpulan yang disepakati sebagai hasil konperensi. Di
antaranya, pertumbuhan Bahasa Inggris menjadi Englishes harus dipandang
sebagai kenyataan yang tidak dapat dibantah, serta keberadaannya perlu
disikapi secara arif dan hati-hati. Ini sesuai dengan jiwa masyarakat ASEAN,
yang juga beragam namun cinta kebersamaan.
Keberadaan Englishes sebagai variasi atau keberagaman, hendaknya tidak
dipandang sebagai sesuatu yang ekstrim atau discrete (antara bahasa dan
bukan bahasa), namun sebagai kontinuum. Artinya, ada variasi yang
perbedaannya dengan Bahasa Inggris sangat sedikit dan ada variasi Englishes
yang jauh berbeda dengan Bahasa Inggris. Kebijakan tentang Bahasa Inggris
mana yang akan diikuti dan diajarkan di sekolah, diserahkan kepada negara
masing-masing.
Pleno menyadari, tujuan utama belajar bahasa adalah untuk komunikasi. Namun
komunikasi antarbangsa diharapkan dapat menggunakan bahasa yang 'berterima',
atau acceptable bagi semua penggunanya dalam kontek tertentu. Pleno juga
sepakat untuk memilih Brunei Darussalam sebagai tuan rumah bagi ESEA X, Mei
tahun depan.
Sebagai seorang pengajar Bahasa Inggris di PTS di Kota Seribu Sungai ini,
penulis ikut ambil bagian dalam event ilmiah bertaraf ASEAN yang
dilaksanakan USD Jogyakarta tersebut merupakan pengalaman sangat berharga.
Dari event itu banyak juga hal baru yang penulis dapatkan. Namun rasa
prihatin penulis tidak dapat terbendung, demi merasakan betapa jauh
tertinggalnya visi, misi dan persepsi penulis dari perkembangan yang terjadi
di luar sana, apalagi dalam kontek ASEAN.
Dalam pengamatan penulis, kebanyakan dosen PTS di kota ini masih berkutat
pada hal-hal yang rutin, sehingga pengembangan profesional akademik seperti
temu ilmiah, seminar dan semacamnya kurang mendapatkan perhatian. Tampaknya
belum ada wahana dan dana yang mendukung bagi berlangsungnya event tersebut,
dalam rangka menuju peningkatan kualitas SDM PTS khususnya dan kalangan
civitas akademika pada umumnya. Kapan ya datangnya kesempatan itu?
Pengajar di FKIP Uniska Banjarmasin
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Konferensi Bahasa Inggris ASEAN