[ppi] [ppiindia] Kondomisasi Bukan Solusi
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Mon, 30 Jan 2006 00:15:20 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=209335
Senin, 30 Jan 2006,
Kondomisasi Bukan Solusi
Oleh Imam Muhlis
Seiring kemajuan zaman, bukan hanya uang yang bisa disediakan lewat ATM. Kondom
juga tak mau kalah. Meski, ATM kondom tidak sepopuler ATM perbankan.
ATM kondom yang gencar disosialisasikan pemerintah di penghujung 2005 tak ayal
mengundang kontroversi. Di satu sisi banyak yang menolak, namun tak sedikit
pula yang mendukung.
Di beberapa daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Papua, Semarang,
Bandung, Mataram, dan beberapa daerah lain, telah menyediakan mesin vending
kondom.
Penggandaan ATM kondom itu bukan tanpa tujuan. Mesin yang dikelola Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) itu dihadirkan dengan alasan
untuk mengurangi penyebaran HIV/AIDS. Selain itu, ATM kondom dibuat untuk
menekan laju pertumbuhan penduduk, sekaligus mempermudah masyarakat mengonsumsi
alat pengaman berhubungan intim.
Alasan BKKBN tersebut sekilas tampak realistis dengan kondisi saat ini. Namun,
menurut dr Faizatur Rasyidah, dokter yang berkecimpung dalam penanganan
HIV/AIDS, kondom kurang efektif mengurangi angka penderita HIV/AIDS. Langkah
itu juga dianggap menyimpang dari tujuan sebenarnya.
Tujuan kondomisasi adalah mengatur atau mencegah kehamilan bagi pasangan yang
telah menikah. Karena itu, kalau ada kebijakan pemerintah yang mengharuskan
penggunaan kondom bagi pelanggan PSK, itu menyimpang dari tujuan awal
kondomisasi (Jawa Pos, 4/1).
Jadi, alasan BKKBN tersebut patut dipertanyakan. Bukankah langkah itu berarti
melegalisasi free sex yang masih dianggap tabu? Free sex yang seharusnya
diberantas malah dihalalkan. ATM kondom itu juga mengesankan telah
difasilitasinya gejala dekadensi moral.
Dengan demikian, adanya fasilitas ATM kondom tersebut sangat mengkhawatirkan
jika diakses remaja-remaja yang belum berkeluarga. Bahkan, anak di bawah umur
pun bisa dengan mudah mendapatkannya. Sebab, hanya dengan memasukkan tiga koin
Rp 500, ATM kondom akan secara otomatis mengeluarkan tiga kondom. Mulai rasa
stroberi hingga jeruk.
Kemudahan dan kebebasan dalam mendapatkan kondom mencerminkan makin bebasnya
kehidupan seks masyarakat. Padahal, free sex masih dianggap tabu oleh sebagian
besar masyarakat. Betapa tidak, masyarakat Indonesia yang masih menjunjung
tinggi nilai-nilai utama ketimuran yang sangat normatif dan religius harus
berhadapan dengan ATM kondom.
Salah satu tip yang tertera dalam situs BKKBN juga sungguh mengherankan.
Tipnya, antara lain, berbunyi,"Gunakan kondom, terutama jika berhubungan dengan
kelompok berisiko tinggi, misalnya pekerja seks komersial."
Anjuran BKKBN itu justru mirip nasihat guru kepada murid-murid di sekolah
menengah di California, Amerika, sebelum liburan akhir pekan. Dia melepaskan
mereka dengan kata-kata perpisahan, "Selamat menikmati libur akhir pekan. Jaga
kesehatan dan jangan gonta-ganti pasangan. Usahakan tidak hamil dan sebaiknya
pakai kondom saja (have a sex safety or avoiding disease and avoiding
pregnancy)."
Mungkin itulah yang diramal Sammuel P. Huntington dalam The Clash of
Civilization (1999) bahwa akan terjadi benturan antar peradaban Timur dan
Barat. Benturan itu memang telah terjadi, meski bersifat kompromis. Artinya,
budaya Barat yang dianggap berasal dari negara lebih maju dan patut dicontoh
menjadi dominan.
Pada akhirnya, Indonesia, sebagai salah satu representasi budaya Timur, meniru
budaya Barat-lambat laun membuat masyarakat Indonesia semakin permisif dan
kehilangan jati dirinya. Selain itu, masyarakat akan kehilangan daya
sensitivitas terhadap berbagai fenomena pergaulan bebas.
Bila masyarakat semakin permisif dan kehilangan daya sensitivitas, pergaulan
bebas seperti selingkuh dan kumpul kebo bukan lagi menjadi sesuatu yang haram
dan tabu dilakukan, tapi gaya hidup sebagian masyarakat Indonesia.
Fenomena itu akan mirip hasil survei tentang nilai dan kepercayaan orang
Amerika yang berjudul The Day America Told the Truth pada 1990. Survei itu
melaporkan bahwa pergaulan bebas merupakan hal yang lumrah, bahkan dianjurkan
(Kilpatrick: 1992).
Inilah kuman yang sedang menggerogoti nilai-nilai moralitas bangsa. Hal itu
menunjukkan bahwa bangsa Indonesia benar-benar akan mendapat bencana baru.
Memang, persoalan free sex telah menjadi fenomena yang sulit dikendalikan
pemerintah. Kita bisa memahami hal itu.
Namun, tidak bisakah kita mengatasi persoalan tersebut dengan pendekatan yang
luhur dan mulia? Yaitu, dengan terus-menerus menyadarkan mereka tentang
perilaku seks yang bersih, sehat, halal, dan dibarengi dengan berbagai langkah
sigap pemerintah untuk memberantas berbagai bentuk penyimpangan seksual
tersebut.
Langkah pemerintah untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS melalui kampaye
kondomisasi jelas bukan antisipasi produktif, tapi justru menciptakan masalah
baru. Satu hal yang perlu diingat, kondomisasi bukanlah cara yang efektif dan
tepat untuk mencegah epidemi HIV/AIDS. Bila kesadaran individu sudah tertanam
dengan baik, tentu tidak akan ada yang selingkuh atau pergi ke lokalisasi.
Wallahu a'lam bissawab.
* Imam Muhlis, mahasiswa Pidana dan Politik Islam, aktif di LPM Advokasia UIN
Sunan Kalijaga Jogjakarta ( imam785@xxxxxxxxx )
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Kondomisasi Bukan Solusi