[ppi] [ppiindia] Koelkast" Itu Selalu Digembok

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Sisi Gelap 
Perkawinan Timur-Barat (10)
"Koelkast" Itu Selalu Digembok
Oleh
Yuyu A.N. Krisna Mandagie



MARIAHOEVE, DEN HAAG - Acara Dharma Wanita di Kedutaan Besar RI (KBRI) di Den 
Haag setiap Kamis kedua tiap bulan, baru saja bubar. Aku bergegas keluar karena 
masih ada keperluan ke pusat kota Den Haag. Tiba-tiba ibu Sari, yang dikenal 
sebagai aktivis di kalangan perempuan Islam, mendekatiku. "Mbak, mau minta 
tolong nih," kata Sari.

"Memang ada apa?" aku balik bertanya.
Tanpa menjawab pertanyaanku, ibu Sari malah langsung mengajakku ke rumahnya 
yang terletak di Mariahoeve, masih di kota Den Haag, tak jauh dari KBRI. Aku 
ikut saja masuk ke mobilnya. Rencanaku ke pusat kota Den Haag pun terlupakan.

Lalu kami tiba di rumah ibu Sari, di sebuah flat yang terletak di lantai 8. Di 
ruang tamu sudah ada seorang perempuan dan beberapa pemuda. Tamu perempuan itu 
memperkenalkan diri sebagai Sri. Aku belum sempat menyeruput kopi yang 
dihidangkan, Sri sudah terisak. Perempuan muda ini berasal dari gudang beras di 
Jawa Barat, Karawang.

Lalu Sri bercerita tentang kehidupannya. Begini penuturannya: Setamat SMA aku 
dikawinkan orang tuaku dengan pemuda sekampung. Aku tidak mencintai suamiku 
itu, tetapi sebagai gadis desa aku tak berani membantah. Perkawinan itu 
membuahkan seorang putri yang manis. Karena suami tidak mempunyai pekerjaan 
tetap, aku terpaksa harus bekerja. Untung aku pernah les mengetik dan bahasa 
Inggris.

Aku bekerja di perusahaan milik Belanda di Karawang. Itulah sebabnya selain 
bahasa Inggris aku bisa sedikit-sedikit berbahasa Belanda. Aku adalah karyawan 
yang rajin. 

Hasil pekerjaanku disukai atasanku. Di kantor aku adalah perempuan aktif dan 
penggembira. Mungkin ini akibat pergaulanku setiap hari dengan laki-laki yang 
sebagian besar adalah orang asing yang kreatif dan penuh inisiatif.

Ternyata situasi ini memberikan dampak yang negatif terhadap kehidupan 
pribadiku. Karena begitu pulang ke rumah, aku segera akan berhadapan dengan 
situasi yang jauh berbeda. Suami tidak bekerja, kurang inisiatif, mudah 
cemburu. Aku goyah. Aku mulai membuka diri dengan laki-laki asing di kantor. 
Ajakan makan siang berdua mulai aku ladeni. Dari makan siang meningkat ke makan 
malam. Aku mulai pulang ke rumah sedikit terlambat.

Alasan kerja lembur. Suamiku mulai curiga. Pertengkaran tak dapat dihindari. 
Hari demi hari makin menjadi-jadi. Puncaknya aku tidak pulang-pulang ke rumah. 
Aku kos di tempat lain.

Mungkin perbuatan ini akan dikutuk oleh pembaca, karena aku istri yang tidak 
setia. Tetapi aku punya pandangan lain, seorang istri harus berani menjadi 
dirinya sendiri. 

Perkawinan bukan ikatan yang membatasi gerak istri untuk berubah. Mungkin 
karena perubahanku ini dinilai sangat negatif.
Tetapi kalau Anda berada di pihakku, maka penilaian itu akan menjadi lain. 
Apakah Anda sebagai istri akan bisa bertahan hidup bersama suami yang pemalas, 
yang tidak punya usaha dan inisiatif untuk mencari pekerjaan, bahkan selalu 
marah-marah, curiga dan cemburu?

Perbuatanku menjadi buah bibir para tetangga. Aku malu. Kami pun kemudian 
bercerai. Aku pindah ke kantor pusat di Jakarta. Nadia aku bawa.

"Diusir" ke Indonesia
Hubunganku dengan laki-laki asing yang nota bene adalah bosku terputus. Dia 
harus kembali ke tanah airnya. Aku pun mengisi kekosongan itu dengan laki-laki 
asing lainnya, Leo, seorang Belanda. 

Tetapi hubungan yang hanya just for fun ini kemudian berubah serius. Singkat 
ceritera, kami menikah secara Islam di catatan sipil. Kemudian kami sekeluarga 
pindah ke Belanda. 

Karena keadaan perekonomian dunia terpuruk, perusahaan tempat kami bekerja 
bangkrut. Leo dan aku kena pemutusan hubungan kerja (PHK). Kami hidup dari 
jaminan sosial yang diterima Leo. Jumlahnya sedikit sekali. Kami harus membayar 
sewa rumah, listrik, telepon dll. Kemewahan yang kami alami di Jakarta berubah 
menjadi hari-hari penuh perhitungan. Saat itu Leo berubah. Sifat aslinya mulai 
kelihatan. Dia tidak pernah manis lagi pada diriku. Nadia selalu menjadi 
tumpuan kemarahannya. Leo menjadi peminum.

Aku tidak pernah mendapat uang. Belanja sangat dibatasi. Leo mengatur 
segala-galanya. Belanja mingguan kami lakukan bersama tetapi sesuai dengan 
selera Leo. Isi lemari es hanya Leo yang tahu. Setiap hari lemari es digembok 
dan hanya dibuka oleh Leo pada jam-jam tertentu. Pada jam 08.00 pagi lemari es 
dibuka untuk mengambil mentega, selai atau daging asap untuk isi roti, atau 
susu buat sarapan. 

Selesai sarapan, semua bahan dimasukkan lagi lalu lemari es digembok. Lemari es 
dibuka pada jam 12.00 saat makan siang dan jam 18.00 saat makan malam. Nadia 
sering dibentak karena meminta es krim yang ada dalam lemari es.

Adakah istri yang hidup seperti aku? Kehidupan rumah tangga kami bagaikan 
neraka. Aku tidak tahan. Beberapa hari yang lalu aku dan Nadia lari dari rumah. 
Untung ketemu ibu Sari di Den Haag Central Station. 

"Mereka sudah seminggu di sini," ujar ibu Sari yang juga bersuamikan seorang 
Belanda tetapi nasibnya sangat bagus, karena Rob, suaminya, adalah seorang 
suami dan ayah yang baik. Hal itu terlihat dari banyaknya pemuda Indonesia yang 
sering datang di tempat ini.

Mendengar semua ceritera Sri, aku trenyuh. Aku menasihatinya supaya tidak 
kembali ke Indonesia, bertahan sampai mendapat izin tinggal. Sri sampai saat 
itu masih tetap memegang paspor Indonesia.

Aku berpendirian demikian setelah mendengar kehidupan Sri yang serba susah di 
Karawang. Walaupun bagaimana, hidup materi di Belanda jauh lebih baik daripada 
di Indonesia. Tapi menurut ibu Sari, besok Leo akan menjemput Sri dan Nadia.

Beberapa bulan aku tidak mendengar berita tentang Sri, hingga pada perayaan 
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus di Wisma Indonesia, Wassenaar, aku bertemu 
dengan ibu Sari. Dia bergegas menemuiku. "Sri dan Nadia sudah kembali ke 
Indonesia. 

Leo membohongi mereka, diajak jalan-jalan ke Amsterdam tetapi mereka dibawa ke 
Schiphol dan langsung diurus terbang kembali ke Indonesia," kata ibu Sari. Aku 
terpaku. Mungkin ini lebih baik bagi Sri dan Nadia. 

Aku berharap Sri membaca tulisan ini. Itulah permintaan Sri agar pengalamannya 
tidak terulang pada perempuan Indonesia lain. Dan aku sudah memenuhi janjiku 
pada Sri. n

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0507/30/sh08.html
 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hph1vs9/M=320369.6903865.7846595.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122727339/A=2896112/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com
">Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children¿s Research 
Hospital</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: