[ppi] [ppiindia] Kisah Para Perempuan Korban 1965 (1 & 2)
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sat, 30 Jul 2005 12:55:48 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Kisah Para
Perempuan Korban 1965 (1)
"Genjer-genjer" Menyeret Sumilah ke Plantungan
Oleh
Fransisca Ria Susanti
Pengantar Redaksi:
Penjara Plantungan di Kendal, Jawa Tengah, menjadi saksi bisu dari kisah tragis
para perempuan Indonesia yang diisolasi di bekas Rumah Sakit Lepra tersebut.
Peristiwa Gerakan 30 September 1965 telah menjadikan mereka sebagai "tumbal"
hanya karena tudingan terlibat atau dianggap dekat dengan Partai Komunis
Indonesia (PKI).
Minggu (24/7), para eks tahanan politik (tapol) Plantungan menggelar "reuni" di
pendopo Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI) di Bugisan, Yogyakarta. SH
menurunkan kisah mereka dalam dua tulisan yang dimuat Jumat dan Sabtu (30/7).
Yogyakarta - Genjer-genjer mlebu kendil wedange gemulak/Setengah mateng dientas
yong dienggo iwak/ Sego nong piring sambel jeruk ring ngaben/Genjer-genjer
dipangan musuhe sego. (Genjer-genjer dimasukkan dalam kuali panas/ Setelah
setengah matang diangkat untuk lauk/Nasi di piring dan sambel jeruk di atas
cobek/Genjer-genjer dimakan bersama nasi)
Bait di atas adalah penggalan lagu Genjer-genjer karya seniman Banyuwangi,
Muhammad Arif dan dipopulerkan oleh Bing Slamet. Anda pernah mendengarnya atau
barangkali menyenandungkannya pelan-pelan?
Generasi yang hidup di era 1960-an akrab dengan lagu ini. Di film "Gie" yang
kini diputar di bioskop-bioskop Jakarta, dendang Genjer-genjer juga terdengar,
dilantunkan para simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) menjelang peristiwa
Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965.
Jika Anda melantunkan lagu yang bercerita soal kemelaratan warga Banyuwangi di
masa pendudukan Jepang itu sekarang, tak akan ada dampak apa-apa, kecuali
mungkin tatapan aneh lingkungan sekitar yang menduga Anda sebagai anak yang
dilahirkan dari rahim ibu pengikut Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) atau
setidaknya simpatisan dari PKI. Namun jika lagu itu dinyanyikan menjelang
peristiwa G30S, maka petaka menjadi takdir yang menghampiri.
Sumilah, perempuan asal Prambanan, Yogyakarta adalah salah satu contoh dari
takdir itu. Gadis Sumilah yang waktu itu masih berumur 14 tahun sama sekali tak
tahu asal muasal kenapa pagi tanggal 19 November 1965 itu, ia bersama 47 orang
(tujuh perempuan) lainnya diharuskan berkumpul oleh lurah desanya di sebuah
lapangan. Kemudian mereka diangkut oleh truk ke penjara Wirogunan.
Sepanjang jalan, Sumilah mencoba mengingat apa kesalahannya, tapi tak juga
ketemu.
Satu-satunya yang melintas di ingatannya adalah kesukaannya menari bersama
teman-teman sepermainannya dengan iringan Genjer-genjer. "Saya suka. Nada lagu
itu enak sekali," ujarnya mengenang, Minggu (24/7) siang di pendopo Sekolah
Menengah Kesenian Indonesia (SMKI) di Bugisan, Yogyakarta.
Namun justru kesukaan inilah yang menjadi malapetaka baginya. Ia tinggal di
hotel prodeo selama 14 tahun, tanpa ada tuduhan maupun pengadilan. Mula-mula,
ia tinggal di penjara Wirogunan, Yogyakarta. Setiap hari, ia hanya diberi makan
jagung beberapa butir dan kadang-kadang sayur lembayung.
Ia menjalani pemeriksaan di bawah sejumlah tekanan. Saat ditanyakan jenis
tekanan atau siksaan yang ia alami selama pemeriksaan, Sumilah melengos.
Pandangannya menerawang. Kenangan itu terlalu menyakitkan. Enam bulan lamanya,
Sumilah berada di Wirogunan, sebelum kemudian dipindahkan ke penjara Bulu di
Semarang dan terakhir di Plantungan pada tahun 1971.
Di Plantungan inilah, Sumilah yang menjadi tahanan termuda, mengetahui bahwa ia
adalah korban salah tangkap. Sumilah yang seharusnya menjadi target penangkapan
adalah seorang guru SD asal Kulon Progo, Yogyakarta yang menjadi anggota PGRI
Non-Vaksentral. Kedua Sumilah ini sempat berada bersama di penjara Wirogunan.
Meski begitu, Sumilah yang hanya jebolan kelas 4 SD tidak dilepaskan oleh
petugas.
Dan saat Sumilah bocah ini harus berada di bui selama 14 tahun, Sumilah lainnya
yang menjadi target hanya menempati penjara Wirogunan selama tiga tahun. Empat
puluh tahun setelah penangkapan yang ironis itu, keduanya terlihat duduk
bersila, berdampingan di pendopo SMKI, Minggu (24/7) siang itu. Entah apa yang
mereka bicarakan dalam acara reuni eks tapol Plantungan itu.
Seandainya masa lalu begitu menyakitkan untuk diceritakan, barangkali keduanya
tengah berbincang tentang hidup yang harus mereka jalani di usia senja
sekarang.
Sumilah asal Prambanan kini menjalani hidup dengan laki-laki bekas kader Pemuda
Rakyat (PR) yang menikahinya setelah ia keluar dari penjara tahun 1978.
Dikarunia dua putra, laki-laki dan perempuan, Sumilah kini menghabiskan
hidupnya dengan berjualan sate di areal depan Prambanan. "Saya bertemu dengan
suami saya di Muntilan. Saya waktu itu berjualan sate di tempat bulik saya dan
ia merupakan salah satu pembeli," tutur Sumilah mengenang.
Satu-satunya syarat yang diajukan Sumilah saat laki-laki itu melamarnya
hanyalah supaya laki-laki itu bersedia menikahinya secara Katolik. Sementara
kisah pahit masa lalu mencoba mereka lupakan. Di depan kedua anaknya, cerita
tersebut juga tak dikatakan. Sampai kemudian, saat Syarikat (organisasi
nonpemerintah di Yogyakarta yang memiliki kepedulian terhadap para korban
peristiwa 1965) berniat mendokumentasikan kisah Sumilah dalam film dokumenter
"Kado Untuk Ibu", anak perempuannya yang duduk di bangku SMA, baru mengetahui
tragedi yang menimpa ibunya.
Gadis yang besar di era reformasi itu pasti tak menyangka bahwa hanya gara-gara
sebuah lagu, ibunya harus menghabiskan 14 tahun masa hidupnya di balik jeruji
penjara. Sayangnya, 40 tahun setelah kesewenang-wenangan itu berlalu, negara
ini tak juga menemukan aktor yang bertanggung jawab terhadap peristiwa
tersebut. Jalan rehabilitasi terhadap para korban pun tak juga mulus. nn
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0507/29/sh03.html
++++
Kisah Para Perempuan Korban 1965 (2 - Habis)
Sumpah Iman di Tengah Siksaan
Oleh
Fransisca Ria Susanti
YOGYAKARTA - Adegan Getsemani saat Yesus begitu ketakutan dan menginginkan agar
proses penyaliban yang akan menimpanya tak terjadi, seperti diputar ulang di
Plantungan, Kendal sekitar awal 1970-an.
Bedanya, doa ini disampaikan di tengah berlangsungnya siksaan dan diucapkan
oleh Sumarmiyati, perempuan asal Yogyakarta yang dipenjarakan oleh pemerintahan
Soeharto hanya gara-gara ia menjadi anggota Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia
(IPPI), sebuah organisasi yang dicap underbouw Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sumarmiyati bahkan menyatakan sumpah, jika ia diberi kekuatan untuk bisa
mengatasi siksaan dan diberi kesempatan untuk menikah dan punya anak, maka satu
anaknya akan ia persembahkan untuk Tuhan. Sebagai penganut Katolik, sumpah
"persembahan" ini adalah izin untuk membiarkan anaknya menjadi biarawan.
Bersama perempuan lainnya, Sumarmiyati dimasukkan dalam penjara Orde Baru tanpa
pernah diadili pasca Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Desember 1965,
perempuan tersebut dimasukkan ke penjara karena keterlibatannya di IPPI. Tapi
kemudian dilepaskan pada April 1966.
Saat ia dikeluarkan, seorang pastor menampungnya dan menyekolahkannya hingga ia
memperoleh ijazah untuk mengajar di Sekolah Dasar di Janti, Yogyakarta. Namun
pada April 1968, Sumarmiyati kembali ditangkap atas tuduhan melakukan gerilya
politik (gerpol).
Bantahan terhadap tudingan ini sama sekali tak diperhatikan. Tak ada satu pun
pengadilan yang digelar untuk membuktikan tudingan ini. Sumarmiyati dijebloskan
ke penjara, untuk kedua kalinya, hingga tahun 1978. Ia berpindah-pindah dari
penjara Wirogunan, lalu ke Bulu dan terakhir di Plantungan.
Dalam film dokumenter "Kado untuk Ibu" yang digarap oleh Syarikat (organisasi
nonpemerintah yang memperjuangkan nasib para korban peristiwa 1965),
Sumarmiyati bertutur bagaimana ia dan tapol perempuan lainnya ditelanjangi dan
dipaksa untuk menciumi penis para pemeriksanya.
"Kami disuruh melakukan itu karena menurut mereka kami layak diperlakukan
seperti itu," tuturnya getir.
Saskia Eleonora Wierenga dalam studinya tentang "Penghancuran Gerakan Perempuan
Indonesia" menyebutkan bagaimana Orde Baru sengaja menciptakan stigma bagi
perempuan yang terlibat atau diduga simpatisan PKI. Penciptaan stigma tersebut
diperkuat melalui media massa yang ada saat itu, di antaranya harian Angkatan
Bersenjata dan Berita Yudha.
Dalam koran-koran tersebut, aktivis Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani)
-organisasi yang dicap underbouw PKI- digambarkan turut terlibat dalam
pembunuhan para jenderal di Lubang Buaya dengan melakukan tari-tarian saat
pembantaian dilakukan. Mereka bahkan dilukiskan sebagai perempuan jalang yang
menyetubuhi para jenderal tersebut sebelum dibunuh.
Drama Kecengengan
Guna menguatkan image tersebut, rezim Soeharto bahkan meminta para seniman
menggambarkan adegan tarian para aktivis Gerwani ini di relief Monumen
Pancasila Sakti.
Pencitraan ini melahirkan stigmatisasi yang menyakitkan bagi para aktivis
politik perempuan yang dekat dengan PKI, juga para perempuan yang ditangkap
hanya karena diduga simpatisan organisasi tersebut.
Namun bagi Sumarmiyati, stigma ini tak berarti banyak bagi dirinya ketika pada
November 1978, dua bulan setelah ia keluar dari Plantungan, sang pacar yang
juga baru keluar dari penjara datang melamar. Setidaknya, hidup serumah dengan
laki-laki yang memahami pilihan politiknya, membuat Sumarmiyati lebih kuat
dalam menjalani hidup.
Selain itu, lingkungannya pun bisa menerima. Bahkan ia mendapatkan dispensasi
dari kawan-kawan di organisasi gerejanya untuk meminjam uang kas. Padahal salah
satu syarat peminjaman saat itu adalah melampirkan "surat bersih diri" (surat
keterangan tidak terlibat G30S) dari kelurahan.
Dan sesuai dengan sumpah yang ia ucapkan saat berada dalam siksaan, satu dari
dua orang anak Sumarmiyati kini sedang melanjutkan studi di seminari tinggi.
Jika ia berhasil menyelesaikan studi tersebut, maka ia akan ditahbiskan menjadi
pastor.
Sumarmiyati dan juga ratusan perempuan yang hadir di forum reuni eks tapol
Plantungan di pendopo Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI), Bugisan,
Yogyakarta, Minggu (24/7) siang itu, masih merekam kesewenangan rezim Orde Baru
dengan jelas di ingatan. Namun hidup terus berjalan. Persoalan keseharian
membuat bayang-bayang kenangan yang menyiksa itu sedikit kabur.
Sumini Martono, aktivis Gerwani Wonosobo yang jadi tapol selama 10 tahun,
adalah contoh lain dari ketegaran itu. "Saya ditangkap dengan janji akan
dilepaskan setelah suami saya ditangkap. Tapi setelah suami saya ditangkap,
saya tak juga dilepas. Dan saat saya sudah dikeluarkan, suami saya ternyata
sudah hilang," ungkapnya.
Hilang, dalam bahasa para tapol, adalah dibunuh. Suami Sumini memang terbukti
dibunuh oleh para aparat Orde Baru dan mayatnya dihanyutkan di sebuah luweng di
Wonosari. Tempat ini dikenal sebagai tempat pembantaian para aktivis yang
diduga sebagai anggota atau simpatisan PKI pasca perisiwa G30S.
Saat menceritakan kisah tersebut, Sumini menyampaikannya dengan enteng. Tapi
bukan berarti ia tak merasa kehilangan. Hanya saja, ketika sebuah penderitaan
sudah tak tertahankan dan tak ada jawaban yang bisa diberikan atasnya, maka
satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menjalani hidup dengan kekuatan yang
tersisa.
Ketegaran yang ditunjukkan Sumarmiyati dan Sumini serta ribuan eks tapol
Plantungan membuat keluhan anggota DPR dan pejabat negara saat ini tentang gaji
yang minim tampak seperti drama kecengengan.
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0507/30/sh04.html
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h0f3isc/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122728156/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998">1.2
million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Kisah Para Perempuan Korban 1965 (1 & 2)