[ppi] [ppiindia] Kisah Para Perempuan Korban 1965 (1 & 2)

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Kisah Para 
Perempuan Korban 1965 (1)

"Genjer-genjer" Menyeret Sumilah ke Plantungan 
Oleh
Fransisca Ria Susanti

Pengantar Redaksi:
Penjara Plantungan di Kendal, Jawa Tengah, menjadi saksi bisu dari kisah tragis 
para perempuan Indonesia yang diisolasi di bekas Rumah Sakit Lepra tersebut. 
Peristiwa Gerakan 30 September 1965 telah menjadikan mereka sebagai "tumbal" 
hanya karena tudingan terlibat atau dianggap dekat dengan Partai Komunis 
Indonesia (PKI). 

Minggu (24/7), para eks tahanan politik (tapol) Plantungan menggelar "reuni" di 
pendopo Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI) di Bugisan, Yogyakarta. SH 
menurunkan kisah mereka dalam dua tulisan yang dimuat Jumat dan Sabtu (30/7). 

Yogyakarta - Genjer-genjer mlebu kendil wedange gemulak/Setengah mateng dientas 
yong dienggo iwak/ Sego nong piring sambel jeruk ring ngaben/Genjer-genjer 
dipangan musuhe sego. (Genjer-genjer dimasukkan dalam kuali panas/ Setelah 
setengah matang diangkat untuk lauk/Nasi di piring dan sambel jeruk di atas 
cobek/Genjer-genjer dimakan bersama nasi)
Bait di atas adalah penggalan lagu Genjer-genjer karya seniman Banyuwangi, 
Muhammad Arif dan dipopulerkan oleh Bing Slamet. Anda pernah mendengarnya atau 
barangkali menyenandungkannya pelan-pelan? 

Generasi yang hidup di era 1960-an akrab dengan lagu ini. Di film "Gie" yang 
kini diputar di bioskop-bioskop Jakarta, dendang Genjer-genjer juga terdengar, 
dilantunkan para simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) menjelang peristiwa 
Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965. 

Jika Anda melantunkan lagu yang bercerita soal kemelaratan warga Banyuwangi di 
masa pendudukan Jepang itu sekarang, tak akan ada dampak apa-apa, kecuali 
mungkin tatapan aneh lingkungan sekitar yang menduga Anda sebagai anak yang 
dilahirkan dari rahim ibu pengikut Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) atau 
setidaknya simpatisan dari PKI. Namun jika lagu itu dinyanyikan menjelang 
peristiwa G30S, maka petaka menjadi takdir yang menghampiri. 
Sumilah, perempuan asal Prambanan, Yogyakarta adalah salah satu contoh dari 
takdir itu. Gadis Sumilah yang waktu itu masih berumur 14 tahun sama sekali tak 
tahu asal muasal kenapa pagi tanggal 19 November 1965 itu, ia bersama 47 orang 
(tujuh perempuan) lainnya diharuskan berkumpul oleh lurah desanya di sebuah 
lapangan. Kemudian mereka diangkut oleh truk ke penjara Wirogunan. 

Sepanjang jalan, Sumilah mencoba mengingat apa kesalahannya, tapi tak juga 
ketemu. 

Satu-satunya yang melintas di ingatannya adalah kesukaannya menari bersama 
teman-teman sepermainannya dengan iringan Genjer-genjer. "Saya suka. Nada lagu 
itu enak sekali," ujarnya mengenang, Minggu (24/7) siang di pendopo Sekolah 
Menengah Kesenian Indonesia (SMKI) di Bugisan, Yogyakarta.

Namun justru kesukaan inilah yang menjadi malapetaka baginya. Ia tinggal di 
hotel prodeo selama 14 tahun, tanpa ada tuduhan maupun pengadilan. Mula-mula, 
ia tinggal di penjara Wirogunan, Yogyakarta. Setiap hari, ia hanya diberi makan 
jagung beberapa butir dan kadang-kadang sayur lembayung. 

Ia menjalani pemeriksaan di bawah sejumlah tekanan. Saat ditanyakan jenis 
tekanan atau siksaan yang ia alami selama pemeriksaan, Sumilah melengos. 
Pandangannya menerawang. Kenangan itu terlalu menyakitkan. Enam bulan lamanya, 
Sumilah berada di Wirogunan, sebelum kemudian dipindahkan ke penjara Bulu di 
Semarang dan terakhir di Plantungan pada tahun 1971. 

Di Plantungan inilah, Sumilah yang menjadi tahanan termuda, mengetahui bahwa ia 
adalah korban salah tangkap. Sumilah yang seharusnya menjadi target penangkapan 
adalah seorang guru SD asal Kulon Progo, Yogyakarta yang menjadi anggota PGRI 
Non-Vaksentral. Kedua Sumilah ini sempat berada bersama di penjara Wirogunan. 
Meski begitu, Sumilah yang hanya jebolan kelas 4 SD tidak dilepaskan oleh 
petugas. 

Dan saat Sumilah bocah ini harus berada di bui selama 14 tahun, Sumilah lainnya 
yang menjadi target hanya menempati penjara Wirogunan selama tiga tahun. Empat 
puluh tahun setelah penangkapan yang ironis itu, keduanya terlihat duduk 
bersila, berdampingan di pendopo SMKI, Minggu (24/7) siang itu. Entah apa yang 
mereka bicarakan dalam acara reuni eks tapol Plantungan itu. 

Seandainya masa lalu begitu menyakitkan untuk diceritakan, barangkali keduanya 
tengah berbincang tentang hidup yang harus mereka jalani di usia senja 
sekarang. 

Sumilah asal Prambanan kini menjalani hidup dengan laki-laki bekas kader Pemuda 
Rakyat (PR) yang menikahinya setelah ia keluar dari penjara tahun 1978. 
Dikarunia dua putra, laki-laki dan perempuan, Sumilah kini menghabiskan 
hidupnya dengan berjualan sate di areal depan Prambanan. "Saya bertemu dengan 
suami saya di Muntilan. Saya waktu itu berjualan sate di tempat bulik saya dan 
ia merupakan salah satu pembeli," tutur Sumilah mengenang.

Satu-satunya syarat yang diajukan Sumilah saat laki-laki itu melamarnya 
hanyalah supaya laki-laki itu bersedia menikahinya secara Katolik. Sementara 
kisah pahit masa lalu mencoba mereka lupakan. Di depan kedua anaknya, cerita 
tersebut juga tak dikatakan. Sampai kemudian, saat Syarikat (organisasi 
nonpemerintah di Yogyakarta yang memiliki kepedulian terhadap para korban 
peristiwa 1965) berniat mendokumentasikan kisah Sumilah dalam film dokumenter 
"Kado Untuk Ibu", anak perempuannya yang duduk di bangku SMA, baru mengetahui 
tragedi yang menimpa ibunya. 

Gadis yang besar di era reformasi itu pasti tak menyangka bahwa hanya gara-gara 
sebuah lagu, ibunya harus menghabiskan 14 tahun masa hidupnya di balik jeruji 
penjara. Sayangnya, 40 tahun setelah kesewenang-wenangan itu berlalu, negara 
ini tak juga menemukan aktor yang bertanggung jawab terhadap peristiwa 
tersebut. Jalan rehabilitasi terhadap para korban pun tak juga mulus. nn

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0507/29/sh03.html

++++

Kisah Para Perempuan Korban 1965 (2 - Habis)
Sumpah Iman di Tengah Siksaan
Oleh
Fransisca Ria Susanti

YOGYAKARTA - Adegan Getsemani saat Yesus begitu ketakutan dan menginginkan agar 
proses penyaliban yang akan menimpanya tak terjadi, seperti diputar ulang di 
Plantungan, Kendal sekitar awal 1970-an. 
Bedanya, doa ini disampaikan di tengah berlangsungnya siksaan dan diucapkan 
oleh Sumarmiyati, perempuan asal Yogyakarta yang dipenjarakan oleh pemerintahan 
Soeharto hanya gara-gara ia menjadi anggota Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia 
(IPPI), sebuah organisasi yang dicap underbouw Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Sumarmiyati bahkan menyatakan sumpah, jika ia diberi kekuatan untuk bisa 
mengatasi siksaan dan diberi kesempatan untuk menikah dan punya anak, maka satu 
anaknya akan ia persembahkan untuk Tuhan. Sebagai penganut Katolik, sumpah 
"persembahan" ini adalah izin untuk membiarkan anaknya menjadi biarawan. 

Bersama perempuan lainnya, Sumarmiyati dimasukkan dalam penjara Orde Baru tanpa 
pernah diadili pasca Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Desember 1965, 
perempuan tersebut dimasukkan ke penjara karena keterlibatannya di IPPI. Tapi 
kemudian dilepaskan pada April 1966. 
Saat ia dikeluarkan, seorang pastor menampungnya dan menyekolahkannya hingga ia 
memperoleh ijazah untuk mengajar di Sekolah Dasar di Janti, Yogyakarta. Namun 
pada April 1968, Sumarmiyati kembali ditangkap atas tuduhan melakukan gerilya 
politik (gerpol). 
Bantahan terhadap tudingan ini sama sekali tak diperhatikan. Tak ada satu pun 
pengadilan yang digelar untuk membuktikan tudingan ini. Sumarmiyati dijebloskan 
ke penjara, untuk kedua kalinya, hingga tahun 1978. Ia berpindah-pindah dari 
penjara Wirogunan, lalu ke Bulu dan terakhir di Plantungan. 

Dalam film dokumenter "Kado untuk Ibu" yang digarap oleh Syarikat (organisasi 
nonpemerintah yang memperjuangkan nasib para korban peristiwa 1965), 

Sumarmiyati bertutur bagaimana ia dan tapol perempuan lainnya ditelanjangi dan 
dipaksa untuk menciumi penis para pemeriksanya. 
"Kami disuruh melakukan itu karena menurut mereka kami layak diperlakukan 
seperti itu," tuturnya getir. 

Saskia Eleonora Wierenga dalam studinya tentang "Penghancuran Gerakan Perempuan 
Indonesia" menyebutkan bagaimana Orde Baru sengaja menciptakan stigma bagi 
perempuan yang terlibat atau diduga simpatisan PKI. Penciptaan stigma tersebut 
diperkuat melalui media massa yang ada saat itu, di antaranya harian Angkatan 
Bersenjata dan Berita Yudha. 
Dalam koran-koran tersebut, aktivis Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) 
-organisasi yang dicap underbouw PKI- digambarkan turut terlibat dalam 
pembunuhan para jenderal di Lubang Buaya dengan melakukan tari-tarian saat 
pembantaian dilakukan. Mereka bahkan dilukiskan sebagai perempuan jalang yang 
menyetubuhi para jenderal tersebut sebelum dibunuh. 

Drama Kecengengan
Guna menguatkan image tersebut, rezim Soeharto bahkan meminta para seniman 
menggambarkan adegan tarian para aktivis Gerwani ini di relief Monumen 
Pancasila Sakti. 

Pencitraan ini melahirkan stigmatisasi yang menyakitkan bagi para aktivis 
politik perempuan yang dekat dengan PKI, juga para perempuan yang ditangkap 
hanya karena diduga simpatisan organisasi tersebut. 
Namun bagi Sumarmiyati, stigma ini tak berarti banyak bagi dirinya ketika pada 
November 1978, dua bulan setelah ia keluar dari Plantungan, sang pacar yang 
juga baru keluar dari penjara datang melamar. Setidaknya, hidup serumah dengan 
laki-laki yang memahami pilihan politiknya, membuat Sumarmiyati lebih kuat 
dalam menjalani hidup.

Selain itu, lingkungannya pun bisa menerima. Bahkan ia mendapatkan dispensasi 
dari kawan-kawan di organisasi gerejanya untuk meminjam uang kas. Padahal salah 
satu syarat peminjaman saat itu adalah melampirkan "surat bersih diri" (surat 
keterangan tidak terlibat G30S) dari kelurahan. 

Dan sesuai dengan sumpah yang ia ucapkan saat berada dalam siksaan, satu dari 
dua orang anak Sumarmiyati kini sedang melanjutkan studi di seminari tinggi. 
Jika ia berhasil menyelesaikan studi tersebut, maka ia akan ditahbiskan menjadi 
pastor. 

Sumarmiyati dan juga ratusan perempuan yang hadir di forum reuni eks tapol 
Plantungan di pendopo Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI), Bugisan, 
Yogyakarta, Minggu (24/7) siang itu, masih merekam kesewenangan rezim Orde Baru 
dengan jelas di ingatan. Namun hidup terus berjalan. Persoalan keseharian 
membuat bayang-bayang kenangan yang menyiksa itu sedikit kabur.

Sumini Martono, aktivis Gerwani Wonosobo yang jadi tapol selama 10 tahun, 
adalah contoh lain dari ketegaran itu. "Saya ditangkap dengan janji akan 
dilepaskan setelah suami saya ditangkap. Tapi setelah suami saya ditangkap, 
saya tak juga dilepas. Dan saat saya sudah dikeluarkan, suami saya ternyata 
sudah hilang," ungkapnya.

Hilang, dalam bahasa para tapol, adalah dibunuh. Suami Sumini memang terbukti 
dibunuh oleh para aparat Orde Baru dan mayatnya dihanyutkan di sebuah luweng di 
Wonosari. Tempat ini dikenal sebagai tempat pembantaian para aktivis yang 
diduga sebagai anggota atau simpatisan PKI pasca perisiwa G30S. 

Saat menceritakan kisah tersebut, Sumini menyampaikannya dengan enteng. Tapi 
bukan berarti ia tak merasa kehilangan. Hanya saja, ketika sebuah penderitaan 
sudah tak tertahankan dan tak ada jawaban yang bisa diberikan atasnya, maka 
satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menjalani hidup dengan kekuatan yang 
tersisa. 

Ketegaran yang ditunjukkan Sumarmiyati dan Sumini serta ribuan eks tapol 
Plantungan membuat keluhan anggota DPR dan pejabat negara saat ini tentang gaji 
yang minim tampak seperti drama kecengengan. 

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0507/30/sh04.html
 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h0f3isc/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122728156/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998";>1.2
 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: