[ppi] [ppiindia] Kilas Balik Presiden Soeharto

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/27/opini/2660404.htm

 
Kilas Balik Presiden Soeharto 


H Rosihan Anwar 

Sekitar 15 tahun lalu, wartawan ABC (Australia) mewawancarai saya, "Apakah 
perbedaan antara Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto." Karena bicara di 
depan kamera televisi, saya jawab dengan soundbites, agar jangan bertele-tele: 
"President Soekarno is the great Nation-builder, President Soeharto is the 
great Economic-builder". 

Suatu pagi Januari 2006, pengusaha kayu Bob Hasan menelepon saya memberitahukan 
dia baru saja bercakap-cakap dengan Pak Harto. Tiba-tiba Pak Harto mengenang 
masa lampau, lalu bicara tentang peristiwa menjemput Panglima Besar Sudirman di 
daerah gerilya, saat aksi militer Belanda II, supaya kembali ke Yogyakarta 
bergabung dengan Soekarno-Hatta. Pak Harto bilang dia pergi bersama wartawan 
Rosihan Anwar. "Bagaimana keadaan ekonominya?" tanyanya. 

Bob Hasan berkata, jika saya mau mengunjungi Pak Harto di Jalan Cendana, dia 
bisa atur. Tapi, saat itu saya sakit vertigo. 

Pertama kali kenal 

Dalam peristiwa menjemput Jenderal Sudirman itulah, pertama kali saya kenal 
Letkol Soeharto, Komandan Wehrkreise III, 8 Juli 1949 pukul 07.00 pagi di ujung 
Jalan Malioboro dekat Kantor PTT. Atas permintaan Sultan Hamengku Buwono IX 
(almarhum), saya beserta wartawan foto Frans Mendur dari Ipphos menjemput 
Jenderal Sudirman agar dunia internasional diberi tahu tidak ada perbedaan 
antara Soekarno-Hatta dan Sudirman (tentara) dalam pelaksanaan persetujuan 
Roem-Royen mengenai penyerahan kedaulatan melalui Konferensi Meja Bundar di Den 
Haag. 

Dari Yogya ke Wonosari kami naik jip milik UNCI (United Nations Commission on 
Indonesia) yang disetir Letkol Soeharto, berusia 28 tahun, berpakaian seragam 
putih dengan syal leher serta peci bivak warna hitam. Dari Wonosari naik sepeda 
menyisir Gunung Kendeng, lalu berjalan kaki hingga tiba pukul 20.00 di Desa 
Ponjong, markas Sudirman. 

Selama perjalanan, Soeharto tidak banyak omong, kecuali saat mempersilakan saya 
minum air kelapa muda yang baru dipetik oleh seorang penduduk desa setempat. 
Mengapa Soeharto meneng (diam) saja? Apakah karena tidak mengenal saya 
sebelumnya? Atau sikapnya mengikuti ungkapan bahasa Jawa kulina meneng 
(pendiam)? 

Pada tahun 1956, tentara di beberapa daerah mendirikan dewan-dewan. Dewan 
Banteng, Dewan Garuda, Dewan Gajah di Sumatera yang akhirnya bermuara pada 
gerakan PRRI-Permesta. Timbul upaya mendamaikan dwitunggal Soekarno-Hatta yang 
dalam masalah daerah berseberangan sikap. Maka, musyawarah nasional 
diselenggarakan di Jakarta, dihadiri pemimpin partai dan panglima dari daerah. 

Kesepakatan yang dicapai diumumkan di rumah proklamasi, Jalan Pegangsaan Timur 
No 56 (kini Jalan Proklamasi), dalam sebuah tenda besar yang spesial didirikan. 
Hujan turun. Di situ saya lihat untuk kedua kali Kolonel Soeharto, Panglima 
Divisi Diponegoro Jawa Tengah. Dia berdiri bersama panglima-panglima lain, 
menyimak pidato yang diucapkan. Soeharto juga melihat saya, eye-to-eye contact, 
tetapi dari pihaknya tiada tanda pengenalan, tiada senyuman, tiada anggukan, 
dingin. Saya pikir Soeharto penganut aliran kulina meneng. 

Tahun 1970, saat Presiden Soeharto mengunjungi Amerika Serikat atas undangan 
Presiden Nixon, saya sebagai Pemimpin Redaksi Pedoman ikut rombongannya, begitu 
juga Pemred Kompas Jakob Oetama. Begitu naik pesawat di Bandara Kemayoran, 
anggota pers ditemui Soeharto yang didampingi Letkol Sudarmono dan Kapten 
Murdiono. Itu pertemuan saya ketiga dengan Soeharto. Dia masih tidak banyak 
bicara. 

Saat terbang di atas Pasifik di waktu malam, Ny Tien Soeharto datang duduk di 
samping saya. Dia bertanya, "Mengapa kok tidak membantu pemerintah dan Pak 
Harto?" Saya jawab sambil berfilsafat seperti orang Jawa, "Begini Bu, kita di 
dunia ini punya lakon masing-masing yang mesti dijalani. Lakon saya di dunia 
pers, Pak Harto di dunia pemerintah. Jadi melu lakone wae (mengikuti perannya 
saja), Bu." 

Di New York, saat mengunjungi Roeslan Abdulgani, Wakil RI di PBB, suatu saat 
Soeharto berjalan di samping saya, lalu berucap, "Saudara Anwar". Di antero 
Indonesia saya dikenal "Rosihan". Tetapi, kok Mister kulina meneng memakai 
sebutan "Anwar". 

Pertemuan fisik berikut terjadi di Istana Merdeka, Mei 1973, saat Presiden 
menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama (III) kepada tiga 
wartawan, yaitu BM Diah, Jakob Oetama, dan saya. Ny Tien Soeharto setelah 
suaminya mengucapkan selamat kepada saya, lalu berhenti di depan istri saya dan 
bertanya, "Kenapa tidak mengizinkan Pak Rosihan menjadi Dubes di Vietnam?" 
Istri saya menjawab, "Nanti kalau Bu Tien ada waktu, kita bertemu, saya akan 
jelaskan alasannya." Mister kulina meneng menoleh kepada istrinya, lalu 
melanjutkan menyalami para penerima Bintang Mahaputra. 

Pertemuan penghabisan di Bina Graha setelah demo mahasiswa pada Peristiwa 
Malari 1974, menentang kedatangan PM Jepang Tanaka. Rakyat yang dikerahkan 
intel membakar Pasar Senen. Presiden memanggil pengurus PWI Pusat dan beberapa 
konglomerat. Dia membantah berita yang dimuat Pedoman tentang isi selebaran 
mahasiswa IKIP. Isinya, Ny Tien Soeharto punya saham, antara lain di Astra. 
Akhir cerita, Pedoman dilarang terbit. Beberapa tahun kemudian Mashuri SH, 
Menteri Penerangan, menceritakan, dia telah menemui Soeharto untuk menanyakan, 
apakah Pedoman boleh terbit kembali? Soeharto menjawab dalam bahasa Jawa, 
pateni wae (matikan saja). Sejak itu riwayat Pedoman tamat. 

Adegan-adegan itu terbayang lagi hari-hari belakangan saat Soeharto dalam 
sorotan berita: sakit, dioperasi, dihentikan penuntutan secara hukum terhadap 
dirinya, reaksi masyarakat. 

Saya ingat Soeharto suka mengutip peribahasa Jawa: mikul dhuwur, mendem jero 
(mendukung setinggi-tingginya, membenamkan sedalam-dalamnya) yang dalam 
pelaksanaannya berarti hormati pemimpin-pemimpin, kenang yang baik-baik saja 
dari mereka, lupakan hal-hal yang buruk. 

Jujur saja, saya tidak mau termasuk golongan mikul dhuwur itu. Demi kebenaran 
sejarah, demi keadilan, kita perlu membeberkan hal-hal yang buruk meski 
mengenai seorang pemimpin. Sebagai bahan pelajaran bagi anak- cucu. Meminjam 
istilah seorang ahli ilmu politik Australia, "Indonesia adalah suatu 
kleptokrasi (pencuri uang) dengan suatu keluarga besar sebagai 
kleptocrats-inchief. 

Mengingat latar belakang politik zaman Orde Baru, saya dapat menerima adagium 
yang dirumuskan mantan Presiden AS John F Kennedy dalam buku Profiles of 
Courage, "In politics forgive, but never forget" . 

Maka, meski saya dapat menerima putusan pemerintah mengenai Soeharto, dalam 
batin terasa ada sesuatu yang mengganjal: bidang moral dan etika tidak cukup 
disentuh sehingga Soeharto got away with it so easily, lolos dengan mudah. Saya 
tidak akan merentang panjang soal ini. Kali ini biarlah saya jadi kayak 
Presiden Soeharto, sebagai Mister kulina meneng. 

H Rosihan Anwar Wartawan Senior 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Everything you need is one click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/AHchtC/4FxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: