[ppi] [ppiindia] Ketika Kiai Kehilangan Daya Humor
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 30 Sep 2005 22:39:52 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=191341
Jumat, 30 Sept 2005,
Ketika Kiai Kehilangan Daya Humor
Oleh Jabir Alfaruqi *
Muktamar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kubu Alwi Shihab-Saifullah Yusuf, 1-2
Oktober, merupakan serentetan ontran-ontran dan pertanda bahwa geger di
republik partai para kiai itu masih berlanjut.
Berbicara tentang PKB hakikatnya berbicara tentang para kiai. Sebab, partai
tersebut lahir, dibesarkan, dan dikomandoi para kiai. Saat partai itu dilanda
konflik berkepanjangan seperti sekarang, juga kiai yang menjadi sorotan publik.
Salah satu keunikan dan daya tarik para kiai di mata orang luar komunitas itu
adalah daya humornya yang cukup tinggi. Baik humor politik, sosial, maupun
budaya. Jangan terburu salah sangka. Humor di sini bukan berarti tukang guyon
atau ngelawak layaknya tukang lawak. Karena bukan pelawak, tingkah lakunya juga
tidak mengesankan lucu atau suka membikin-bikin tentang sesuatu, sehingga
pendengarnya terpingkal-pingkal.
Daya humor dipahami dalam konteks bahwa kiai selalu memiliki keunikan dalam
mencari solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah pelik yang dihadapi umat
manusia. Masalah-masalah besar yang muncul bisa diselesaikan dan dijelaskan
dengan bahasa yang sederhana, mudah dicerna, serta simpel.
Penyelesaian masalah pun disampaikan dengan penuh kelakar, sederhana, atau
bersahaja, jauh dari sifat-sifat formal, penuh kekeluargaan, dan menyejukkan.
Pembicaraannya tidak hanya mencari kambing hitam siapa yang salah dan benar,
siapa yang kalah dan menang, melainkan dikemas dalam bingkai kemaslahatan
bersama.
Daya humor tersebut menjadikan orang di luar komunitas kiai menjadi enjoy dan
senang bergumul setiap ada kesempatan. Gus Dur adalah figur yang paling
produktif memoles daya humor di samping beberapa kiai lainnya.
Bahkan, Jaya Suprana (bos Jamu Jago) terpaksa setiap hari harus sowan ke tempat
Gus Dur karena ingin mendengarkan humor-humor kelas tinggi yang diciptakannya.
"Begitu saja kok repot" merupakan salah satu hak patennya saat menjadi orang
nomor satu di negeri ini.
Hilangnya Daya Humor
Daya humor yang begitu membantu menghidupkan suasana dalam setiap mendialogkan
berbagai permasalahan pelik itu akhir-akhir ini mulai sirna atau hilang di
kalangan para kiai. Gus Dur sebagai agen besar daya humor kini terkesan
emosional dan kurang sabar.
Secara umum, para kiai kini terlihat cenderung latah, kering, dan kurang arif.
Hilangnya daya humor tersebut disebabkan banyak hal.
Pertama, mayoritas kiai telanjur terlibat di panggung politik praktis. Asumsi
awalnya, para kiai terlibat di dunia politik praktis untuk memberikan warna
Islami dalam perumusan kebijakan pemerintah.
Namun, kenyataannya, kultur politik sulit diubah oleh para kiai, sebaliknya
kultur para kiai diubah oleh politik praktis. Karena itu, yang sering muncul
adalah urusan politik, bukan urusan agama atau lainnya. Ketika para kiai sudah
masuk dalam pusaran konflik itu, lalu siapa yang bisa mengingatkan?
Kedua, dominasi politisi muda di PKB. Dalam berpolitik, mereka menggunakan
pendekatan human inters. Para politisi muda yang ingin mencapai karir politik
yang baik di kalangan PKB akan sulit meraihnya bila tidak bisa memperalat kiai.
Dalam dunia politik ada makhluk yang bernama kue. Yang bisa memberikan gumpalan
kue lebih besar akan bisa mendapatkan dukungan dan legitimasi.
Ketiga, terjebak pada kepentingan sesaat. Para kiai terlibat dalam dunia
politik sebenarnya untuk melahirkan konsep-konsep politik religius yang
memiliki jangkauan ke depan bagi kepentingan umat.
Cita-cita tersebut ternyata tidak bisa diwujudkan karena banyak yang tergoda
untuk memenuhi hajat hidup sesaat. Cita-cita besar politik yang tentu
membutuhkan kesabaran dan pengorbanan yang lebih besar menjadi proyek yang
sia-sia.
Keempat, kurang mampu mengendalikan syahwat politik. Ketika era reformasi
datang yang merupakan pertanda demokratisasi politik dibuka lebar-lebar,
terlihat banyak kiai yang tidak mampu beristikamah pada maqam-nya (penuntun
umat), tetapi mulai merambah dunia baru yang penuh rekayasa, manipulasi, dan
kebohongan publik. Para kiai mulai lupa diri dan lupa pada tugas asasinya. Para
kiai terkesan ribut berebut kursi jabatan.
Perang Urat Saraf
Hilangnya daya humor di kalangan para kiai ternyata menimbulkan banyak masalah
dalam proses politik, kehidupan keagamaan, dan sosial sehari-hari.
Dampak-dampak tersebut, antara lain, pertama, seni mengelola konflik rendah dan
cenderung destruktif. Komunikasi yang dibangun bersifat kaku dan kering dari
makna religius. Ide-ide, wawasan, dan solusi-solusi yang muncul selalu jauh
dari sikap tasamuh, tawasut, dan ta'dil.
Kedua, sikap rendah hati, mau mendengarkan pihak lain, dan saling menasihati
serta saling memahami semakin luntur. Dari dua kubu yang berseberangan, mulai
jarang kita dengar ucapan bahwa benar itu dari Allah dan salah dari saya yang
menjadi ciri khas para kiai. Sebaliknya, yang sering kita dengar adalah yang
benar itu kubu saya dan yang lain salah.
Ketiga, dalam menyelesaikan masalah dan mencari solusi, selalu digunakan
pendekatan legal formal, didukung atau tidak didukung, suka atau tidak suka
bukan lagi dijiwai ukhuwah, baik Islamiah, watoniah, maupun basyariah. Tradisi
penuh canda dan tawa serta kelakar dan saling menyindir kian langka.
Pernyataan-pernyataan, komentar, atau pendapat yang muncul layaknya perang urat
saraf antardua kubu secara telanjang di depan publik.
Keempat, perilaku para kiai menjadi lelucon dan guyonan. Para kiai yang dulu
suka membikin humor untuk menyindir dan mengkritik suasana yang terjadi di
masyarakat yang tidak pas dengan harapan kini berbalik.
Semua itu terjadi karena hilangnya daya humor para kiai ketika menghadapi
masalah-masalah duniawi. Jika demikian adanya, mengapa kiai tidak kembali lagi
ke format semula yang penuh daya humor, sederhana, penuh kekeluargaan,
menyejukkan, dan mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan kelompok
ketika format baru yang ditampilkan justru merugikan kepentingan yang lebih
besar. Mengapa hanya masalah duniawi yang bisa merusak korps kiai yang begitu
mulia dan agung?
* Jabir Alfaruqi, wakil ketua PW GP Ansor Jawa Tengah
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Ketika Kiai Kehilangan Daya Humor