[ppi] [ppiindia] Ketidakpastian Dalam Perekonomian 2006
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Thu, 29 Dec 2005 01:19:52 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=228078&kat_id=15
Senin, 26 Desember 2005
Ketidakpastian Dalam Perekonomian 2006
Oleh : Umar Juoro
Menjelang berakhirnya tahun 2005 dan segera kita memasuki tahun 2006,
perekonomian nasional dihadapkan pada ketidakpastian yang menyulitkan bagi
penentu kebijaksanaan di pemerintahan, dunia usaha, maupun di tingkat rumah
tangga. Pada akhir tahun 2005 ini perekonomian diperkirakan hanya akan tumbuh
5,3 persen sampai 5,5 persen yang jauh dari target pertumbuhan dari pemerintah
dan perkiraan banyak pihak pada awal tahun.
Dapat dipastikan inflasi akan berkisar pada angka 18 persen, tingkat inflasi
tertinggi sejak masa krisis. Sedangkan suku bunga masih ada kemungkinan untuk
sedikit meningkat dari keadaan sekarang dengan tingkat SBI sebesar 12,75
persen. Memasuki tahun 2006, pertanyaan besar adalah apakah inflasi akan tetap
tinggi sepanjang tahun ataukah menurun secara berarti pada triwulan III
sebagaimana yang diperkirakan oleh Bank Indonesia dan banyak analis finansial
sehingga inflasi bisa menjadi satu angka saja (single digit).
Hampir dapat dipastikan bahwa inflasi pada awal tahun 2006 masih akan tetap
tinggi sekitar 15 persen sampai 17 persen, karena dunia usaha masih akan
menyesuaikan harga-harga produk mereka sebagai konsekuensi dari meningkatnya
biaya produksi yang dipicu oleh kenaikan harga BBM yang sangat tinggi pada
bulan Oktober yang lalu. Perkiraan yang optimis adalah inflasi akan menurun
tajam pada bulan Oktober 2006 karena sudah terjadi peningkatan inflasi yang
tinggi pada bulan Oktober 2005 pada saat harga BBM dinaikkan. Hal ini yang
menjadi dasar perkiraan BI bahwa inflasi pada tahun 2006 akan berkisar pada
angka sekitar 8 persen.
Namun perkiraan ini bisa meleset jika penyesuaian harga terjadi berkepanjangan,
karena berbagai kenaikan biaya, tidak saja tramsportasi dan energi, tetapi juga
upah di sector swasta dan kemungkinan kenaikan gaji pegawai negeri, ditambah
dengan kemungkinan kenaikan Tarif Dasar Listrik, telepon, dan lain-lain.
Perkembangan ini yang memberikan ketidakpastian paling serius bagi perekonomian
tahun 2006.
Tingginya inflasi tidak saja memukul dunia usaha, karena meningkatnya biaya
produksi, tetapi juga bagi rumah tangga dengan menurunnya daya beli yang
selanjutnya juga menekan perkembangan penjualan produk perusahaan, terutama
untuk produk konsumsi. Tingginya inflasi juga mendorong otoritas moneter yang
kemudian diikuti oleh perbankan untuk meningkatkan suku bunga. Kaitan antara
inflasi dengan suku bunga ini yang menambah ketidakpastian dalam perekonomian
tahun 2006.
Sejauh ini sektor finansial mempunyai perkiraan yang serupa dengan otoritas
moneter mengenai inflasi yang akan menurun tajam pada Triwulan III 2006 yang
menjadikan inflasi relatif rendah. Karena itu kita melihat penguatan nilai
rupiah, meningkatnya indeks pasar modal, dan meningkatnya pembelian obligasi
rupiah oleh investor asing belakangan ini. Mereka seperti otoritas moneter juga
melihat sekalipun inflasi berdasarkan indeks harga konsumen tinggi, namun
inflasi inti (core inflation) yaitu inflasi dikurangi kenaikan harga-harga
bahan makanan dan energi yang berfluktuasi tinggi masih sekitar 9 persen,
sehingga suku bunga riil masih dianggap positif. Namun jika perkiraan ini tidak
sejalan lagi maka akan terjadi tekanan besar pada nilai rupiah, dan investor
finansial akan meninggalkan Indonesia lagi.
Pelaku di sektor riil melihat kecenderungan inflasi ini berbeda. Mereka
terutama memperhatikan kenaikan harga-harga yang mempengaruhi biaya produksi
mereka sehingga cepat atau lambat mereka harus menyesuaikan harga jual
produknya. Mereka tidak berpedoman pada perkiraan inflasi ke depan seperti pada
umumnya pelaku di sektor keuangan. Karena itu kita melihat kecenderungan
peningkatan harga yang terus berlanjut yang berbeda dari perkiraan sebelumnya
bahwa kenaikan harga BBM hanya akan meningkatkan inflasi sekitar 2 persen
sampai 3 persen saja. Karena itu kecenderungan meningkatnya inflasi menjadi
permanen sifatnya, karena mempengaruhi struktur harga, tidak bersifat
sementara. Hal ini yang dapat menyebabkan perkiraan inflasi akan turun drastis
pada akhir tahun 2006 bisa meleset.
Janji pemerintah untuk mengurangi biaya tinggi, terutama di sektor
transportasi, tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga biaya transportasi
masih sangat tinggi bagi pelaku usaha maupun masyarakat pada umumnya. Begitu
pula usaha pemerintah untuk mengendalikan harga-harga tidaklah begitu efektif
karena pada umumnya pemerintah tidak lagi mempunyai kendali terhadap
harga-harga, pemerintah hanya melakukan persuasi yang sering tidak diikuti oleh
pelaklu usaha.
Menghadapi ketidakpastian seperti ini, maka perkiraan pertumbuhan ekonomi pada
tahun 2006 diperkirakan hanya akan berkisar antara 5 persen sampai 5,5 persen
atau bahkan dapat lebih rendah. Investasi yang diharapkan menjadi penggerak
pertumbuhan ekonomi seperti pada akhir tahun 2004 dan awal 2005, kemungkinan
tidak dapat tumbuh tinggi jika hambatan investasi tidak dikurangi secara
serius. Kesepakatan investasi sebagaimana dicatat BKPM bisa saja mengalami
pertumbuhan relatif tinggi, namun tidak demikian realisasinya, apalagi dalam
hal aliran dana yang masuk. Pada tahun 2005, BKPM mencatat sekitar 9 miliar
dolar AS PMA, tetapi BI hanya memperkriakan sekitar 2,4 miliar dolar AS dana
yang masuk sebagaimana tercatat dalam neraca pembayaran.
Pengeluaran pemerintah diharapkan menjadi alternatif penggerak pertumbuhan
ekonomi. Namun dari pengalaman tahun 2005, pengeluaran pemerintah menghadapi
kendala peraturan dan pengawasan yang demikian ketat yang menghambat pencairan
dana anggaran sekalipun dananya tersedia. Tantangan pemerintah adalah
memperbaiki efektifitas penggunaan anggaran, mulai dari peraturannya sampai
kepada pemanfaatannya. Jika tidak maka pertumbuhan ekonomi dan permasalahan
pengangguran akan menjadi lebih buruk. Begitu pula cerita lama mengenai upaya
untuk mengurangi hambatan investasi harus dilakukan lebih baik lagi, terutama
pada kegiatan dimana kita mempunyai keunggulan komparatif, seperti migas,
pertambangan, dan perkebunan.
Bagi pelaku usaha tantangan sangat berat karena harus menyesuaikan diri dengan
kecenderungan peningkatan biaya produksi yang tinggi dan menurunnya daya beli
masyarakat. Jika iklim investasi membaik maka investor asing mempunyai
kesempatan lebih baik dari pada pelaku usaha domestk yang harus melakukan
banyak penyesuaian dalam waktu singkat. Bagi masyarakat pada umumnya, dengan
menurunnya daya beli, karena inflasi yang tinggi, dan kesempatan kerja yang
lebih sempit, kehidupan menjadi lebih berat. Tantangan tersebut yang harus kita
hadapi meninggalkan tahun 2005 dan memasuki tahun 2006. Keadaan yang semestinya
lebih baik dengan pemerintahan baru, tetapi pada kenyataannya harus menghadapi
tahun yang akan datang dengan tantangan yang lebih berat.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help the victims of the Pakistan/India earthquake rebuild their lives.
http://us.click.yahoo.com/it0YpD/leGMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts: