[ppi] [ppiindia] Kesulitan Ekonomi Bisa Berlanjut
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sun, 28 Aug 2005 22:25:07 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/29/opini/2005510.htm
Kesulitan Ekonomi Bisa Berlanjut
Oleh: M SADLI
Kestabilan ekonomi makro dewasa ini terancam. Kurs rupiah terus melemah dan
melewati ambang psikologis Rp 10.000 per dollar AS. Sejak tahun ini rupiah
sudah kehilangan nilai sekitar 10 persen. Yang menjadi pertanyaan sekarang,
apakah angka ini sudah cukup tinggi dan segera akan ditemukan keseimbangan baru
dan rupiah stabil kembali? Apakah dalam enam bulan mendatang masih bisa
diharapkan Bank Indonesia dan pemerintah berhasil membuat rupiah lebih kuat
lagi? Di lain pihak, kemungkinan berlanjutnya pelemahan rupiah harus diwaspadai.
Penyebab keguncangan neraca pembayaran dan melemahnya kurs mata uang nasional
bisa bermacam-macam. Pada saat ini, hal itu jelas karena faktor kepercayaan
pasar yang merosot. Tetapi, sentimen pasar yang negatif itu mungkin juga
memiliki sebab-sebab yang lebih fundamental. Mungkin ada kelemahan pada dua
kebijakan, yakni kebijakan fiskal (APBN) dan kebijakan moneter yang menjadi
tanggung jawab utama Bank Indonesia. Di luar sebab-sebab kebijakan ini masih
ada dampak ekstern, yakni harga minyak bumi yang meroket di atas 60 dollar AS
per barrel.
Krisis kedua?
Semua kemungkinan itu sekarang memang menjadi kenyataan. Akibatnya, neraca
pembayaran dan APBN keluar dari rel keseimbangan.
Pada tahun 1997-1998 ekonomi kita juga tertimpa krisis berat. Apakah ekonomi
Indonesia sedang terancam krisis serupa kedua? Pertanyaan demikian tidak boleh
dikesampingkan.
Secara realistik harus disadari, dalam waktu mendatang, masih pada tahun ini,
tahun 2006, tahun 2007, atau tahun 2008, ekonomi kita masih bisa ditimpa
"krisis" lagi.
Mudah-mudahan, dan kiranya, tidak separah krisis 1997-1998 ketika PDB menciut
hampir 14 persen dan inflasi meningkat sampai puluhan persen. Sesudah krisis,
laju pertumbuhan PDB mulai pulih kembali dan pelan-pelan menuju ke enam persen
setahun.
Maka, jika laju pertumbuhan PDB ini di masa mendatang "jatuh" di bawah lima
persen setahun, itu mungkin harus dipandang sebagai gejala suatu krisis.
Indikator lainnya adalah jatuhnya kurs rupiah. Jika kurs rupiah jatuh sekitar
10 persen, ini belum ukuran krisis karena hanya mencerminkan inflasi dalam
negeri yang diperkirakan juga sekitar 10 persen setahun. Akan tetapi, jika kurs
rupiah jatuh hingga 20 persen, maka kita harus betul-betul cemas karena bisa
memicu krisis atau pertanda proses krisis sedang terjadi.
Kelemahan fundamental
Di mana kelemahan fundamental ekonomi kita dewasa ini?
Ekonomi, artinya neraca pembayaran dan APBN, harus menampung tiga tantangan
besar. Pertama, karena harga minyak bumi melangit yang menekan neraca
pembayaran dan APBN.
Kedua-faktor ini sering agak dilupakan-neraca pembayaran masih harus menanggung
tekanan besar karena sektor perusahaan dan sektor pemerintah (termasuk BUMN)
masih memerlukan sejumlah devisa besar untuk pelunasan utang termasuk membayar
bunga.
Ketiga, tekanan dari sektor dalam negeri, yakni ada arus investasi yang
meningkat yang memerlukan pembiayaan dalam bentuk devisa.
Syukur otoritas moneter sudah menyadari ketiga sumber yang mengancam
keseimbangan ekonomi. Miranda Goeltom, Deputi Senior Gubernur BI, dan Jusuf
Anwar, Menteri Keuangan, menyebutnya pada rapat kerja dengan Panitia Anggaran
DPR, Kamis 25 Agustus. Tetapi, apakah Menteri Keuangan dan Gubernur BI mampu
memberi obat mujarab segera?
Ada kemungkinan ketidakseimbangan neraca pembayaran dan APBN masih akan
berjalan agak lama. Jika harga minyak bumi tahun ini dan tahun depan tetap di
atas 60 dollar AS per dolar AS (sedangkan APBN hanya mengasumsikan 45 dollar
AS); jika jumlah utang sektor swasta sampai 80 miliar dollar AS (perkiraan
resmi paling sedikit 50 miliar dollar AS, tetapi tidak ada pencatatan lengkap);
jika arus investasi yang meningkat (yang sebetulnya welcome!) berjalan lebih
lama, apakah suplai dollar bisa mengimbanginya?
Peran ekspor
Suplai dollar ini pertama-tama datang dari (peningkatan) ekspor. Ekspor
nonmigas meningkat cukup baik, tetapi belum sampai dengan laju pertumbuhan
double digit secara langgeng. Peningkatan ekspor nonmigas yang dinamis
datangnya dari sektor hasil manufaktur, bukan lagi dari komoditas primer.
Maka, kinerjanya tergantung dari arus masuk investasi, terutama PMA yang punya
teknologi dan know-how yang mampu meningkatkan daya saing internasional produk
Indonesia.
Sebenarnya PMA sudah datang, tetapi Indonesia senantiasa harus bersaing dengan
China dan Vietnam. Maka, iklim investasi di Indonesia harus dibuat lebih baik
daripada iklim bisnis di Vietnam.
Hal ini bisa terjadi, tetapi memerlukan ketegasan dari pemerintah. Kalau ada
kepentingan (dalam negeri) yang berbenturan, pemerintah pusat harus berani
menegakkan prioritas. Soal yang pelik, misalnya, adalah memutuskan apa yang
sekarang lebih penting, investasi baru di bidang pertambangan atau penjagaan
lingkungan hidup pada proyek-proyek pertambangan demikian? Keputusan amat sulit.
Sikap masyarakat, termasuk industri dalam negeri, terhadap PMA sering juga
ambivalen. Sebagian dari kita sudah berteriak-teriak bahwa perbankan nasional
sudah dikuasai asing. Padahal, asing ini adalah asing tetangga, yakni Singapura
dan Malaysia, dan tidak terlalu lama lagi kita hidup dalam pasar bersama ASEAN.
Harga BBM
Harga minyak bumi yang di atas 60 dollar AS per barrel harus diteruskan ke
harga dalam negeri untuk BBM. Jika ancaman defisit APBN yang menganga tidak
cepat ditanggapi, pasar akan gusar dan kurang percaya pada ketegasan
pemerintah. Sentimen pasar yang negatif akan memperkuat arus keluar devisa.
Sebenarnya keperluan yang tidak kalah penting adalah bagaimana mengurangi
tekanan kepada APBN dan neraca pembayaran oleh karena pengangsuran utang luar
negeri dari pemerintah dan swasta.
Teman muda penulis, Dr Iwan Jaya Azis, yang kini mengajar di Cornell University
dan sering ada di Jakarta untuk keperluan Bank Indonesia, suka menyoroti segi
ini.
Utang pemerintah sedikit sudah di-reschedule karena alasan tsunami di Aceh,
tetapi puncak arus pembayaran akan menimpa neraca pembayaran pada tahun
2007-2008. Ditambah keperluan angsuran utang swasta yang bisa berjumlah 80
miliar dollar AS, dan masih akan memberatkan neraca pembayaran tahun-tahun
mendatang.
Dari segi suplai devisa, pertanyaan adalah kapan bisa diharapkan tambahan
devisa dari hasil investasi di bidang migas? Investasi baru di bidang ini
berkurang sejak krisis tahun 1998. Akibatnya, kita kini menjadi net-importer
minyak bumi. Menurut perkiraan kalangan yang lebih mengetahui, diperlukan tiga
sampai empat tahun setelah iklim investasi di bidang migas diperbaiki. Yang
sekarang sudah menjadi prospek yang bagus adalah blok Cepu dan Tangguh di Papua.
Namun, kontraktor Pertamina, perusahaan asing, kini masih mengeluh bahwa
beberapa masalah perpajakan belum diselesaikan secara tuntas oleh pemerintah.
Di sini pimpinan pemerintah (Presiden, Wakil Presiden, atau Menko Perekonomian)
harus tegas menentukan siapa harus "mengalah", menteri pertambangan atau dirjen
pajak?
"Reshuffle" kabinet
Arus modal asing dalam bentuk modal portofolio juga harus dijaga jangan keluar
karena mereka terkena persepsi dan sentimen negatif. Hanya sikap tegas dari
pemerintah yang bisa menjamin hal ini. Dalam hal ini harus dimanfaatkan
kepercayaan besar kalangan (investor) luar negeri terhadap pribadi Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono. Ini harus diperkuat kinerja kabinet yang sepadan.
Dalam rangka ini Presiden memang wajar mempertimbangkan reshuffle kabinetnya
untuk meningkatkan kinerjanya karena masa sulit ekonomi masih akan berjalan
cukup lama (sampai 2008) sehingga ia betul memerlukan kabinet ekonomi yang
kapabel, tegas, dan kompak.
Bank Indonesia sudah berusaha banyak untuk menunaikan tugas utamanya, yakni
membendung inflasi. Tingkat suku bunga SBI sudah dinaikkan, sebagian cadangan
devisa sudah dikorbankan. Tetapi, kedua tindakan ini rupanya belum cukup.
Dari masyarakat ada saran untuk memaksa para eksportir merepatriasi penerimaan
devisanya dan menempatkannya di bank dalam negeri. Kebutuhan Pertamina juga
dilayani sehingga Pertamina tidak perlu "menubruk dollar di pasar bebas". Ada
juga saran untuk mengurangi kemungkinan spekulasi valas.
Adalah sikap bijaksana dari Bank Indonesia untuk tidak segera melakukan semua
ini. Rezim devisa kita berdasarkan prinsip devisa bebas dan kurs mengambang.
Apakah dalam waktu yang penuh kesulitan ini prinsip-prinsip (pasar bebas) harus
dipertahankan ataukah rezim devisa harus diubah menjadi ketat?
Lebih baik opsi-opsi ini dipertimbangkan masak-masak dan jangan terlalu cepat
mengubah rules-of-the-game di pasar. Kalau sentimen pasar semakin negatif
terhadap pemerintah, segala usaha akan menemukan kegagalan.
Mungkin pada saat ini lebih penting memberi isyarat kepada pasar bahwa
pemerintah mengutamakan pengetatan kebijakan fiskal, bukan mengubah
aturan-aturan rezim devisa. Pengurangan subsidi BBM, lebih cepat lebih baik,
menjadi prioritas pertama.
Akan tetapi (menurut Dr Iwan Jaya Azis), pemerintah masih bisa mengusahakan
agar tekanan dari pembayaran utang dan bunga (dalam negeri) bisa dikurangi.
Rescheduling dari angsuran (pokok dan bunga) utang dalam negeri, yang sebagian
besar dipegang oleh sejumlah kecil bank nasional dan BUMN?
Para pejabat moneter masih alergi terhadap segala tindakan yang berbau default.
Takut konsekuensinya. Tetapi, konsekuensi bahwa ekonomi Indonesia bisa "masuk
krisis" lagi (laju pertumbuhan PDB berkurang, kurs rupiah jatuh) juga harus
dipertimbangkan.
M SADLI Ekonom Senior dan Mantan Menteri
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Kesulitan Ekonomi Bisa Berlanjut