[ppi] [ppiindia] Kenaikan BBM dalam Perspektif Perekonomian Nasional
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 28 Sep 2005 23:25:06 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
SUARA KARYA
Kenaikan BBM dalam Perspektif Perekonomian Nasional
Oleh Ricky Rachmadi
Kamis, 29 September 2005
Sejak awal 2005 rupiah terus mengalami depresiasi terhadap dolar AS
dan berlanjut secara signifikan dalam dua bulan terakhir. Akhir Agustus lalu,
nilai tukar rupiah anjlok hingga menyentuh level Rp 12.000 per dolar AS.
Keadaan ini hampir mendekati krisis ekonomi yang terjadi pada 1997.
Kondisi semakin memrihatinkan karena diperparah dengan kenaikan harga minyak
dunia yang menyentuh angka 67 dolar AS per barel. Bila kondisi ini ditangani
secara serampangan (tidak terkoordinasi) dapat menjadi titik balik dari situasi
stabil menjadi tidak stabil. Bagaimana pun krisis ekonomi memberikan dampak
yang sangat buruk terhadap perekonomian nasional secara umum. Maka, dapat
dipahami bila pemerintah perlu segera mengambil langkah-langkah antisipasi
untuk menanggulanginya, salah satunya dengan menaikkan harga BBM pada awal
Oktober 2005.
Harga minyak dunia (crude oil) pada awal September 2005 telah
menyentuh angka 67 dolar AS per barel dari 24 dolar AS per barel pada tahun
sebelumnya. Keadaan ini diperparah dengan kondisi eksternal manakala pusat
kilang AS (Texas & Lousiana) luluh lantak akibat dilanda badai Katrina dan
Rita, baru-baru ini. Di samping itu kondisi perminyakan internal kita pun
selama dipimpin Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral, Dr Purnomo Yusgiantoro
tidak menampakkan prestasi yang gemilang. Bahkan minyak kita yang terkenal
memiliki kandungan sulfur yang tinggi, produksinya tidak lebih dari 1,1 juta
barel per hari. Ini disebabkan tidak adanya upaya pembukaan lapangan minyak
baru yang potensial untuk dieksploitasi.
Mencermati dua hal di atas, hampir bisa diprediksi harga minyak
dunia semakin sulit untuk turun. Apalagi, cadangan minyak AS akan diarahkan
untuk mengantisipasi kondisi dalam negerinya yang baru terkena bencana
tersebut.
Perlu kita ketahui bahwa kebutuhan BBM dalam negeri saat ini
tercatat sebesar 60 juta kiloliter, bahkan bisa menjadi 64 juta kilo liter.
Sementara impor per hari crude oil sekitar 500.000 barel ditambah 200.000 barel
untuk premium dan solar. Jadi, kebutuhan total nilai impor minyak sekitar 1,4
miliar dolar AS.
Di lain pihak, produksi minyak kita yang hanya 1,1 juta barel per
hari hanya dapat diekspor 500.000 barel per hari dengan kondisi harga BBM dalam
negeri yang tetap. Sementara harga minyak dunia terus membumbung tinggi diduga
bisa mencapai sekitar 70 dolar AS per barel. Dengan volume dan kurs yang
trend-nya menaik, subsidi akumulatif tahun 2005 bisa mencapai Rp 130 triliun
hingga Rp 150 triliun, karena sudah net import. Pendapatan tambahan karena
kenaikan harga minyak dunia sudah tidak seimbang dengan pengeluaran untuk
mengimpor minyak. Akibat lainnya, impor yang besar serta faktor psikologis
masyarakat yang terdorong untuk memborong dolar menyebabkan cadangan devisa
negara pada akhir 2005 bisa menyusut hanya tersisa 28 miliar dolar AS. Ini
sebuah angka yang kritis karena dana tersebut hanya cukup untuk memenuhi
kebutuhan BBM sekitar 3,5 bulan impor BBM. Karena, dengan subsidi BBM yang
besar akan terjadi defisit yang besar pula dalam APBN kita. Dari sisi moneter, p
ermintaan dolar AS yang besar dan defisit menyebabkan kurs bergerak sekitar Rp
10.000,- hingga Rp 11.000,-
Sesuai APBN 2005, subsidi awal BBM membutuhkan anggaran biaya
sebesar Rp 19 triliun dengan asumsi harga minyak dunia berkisar sebesar 24
dolar AS per barel. Tetapi setelah kenaikan harga BBM bulan Maret 2005 lalu dan
terus naiknya harga minyak dunia hingga menyentuh level 50 dolar AS per barel,
subsidi BBM yang dibutuhkan sebesar Rp 76 triliun. Usulan APBN-P sangatlah
logis, tetapi dengan semakin menggilanya harga minyak dunia yang terus naik,
maka realisasi subsidi kita kini mencapai Rp 130 triliun - Rp 150 triliun.
Dengan kondisi demikian, pemerintah dihadapkan pada dua pilihan: menaikkan
harga BBM atau meningkatkan subsidi harga BBM?
Dua persoalan utama ini cukup dilematis bagi pemerintah. Ibarat
buah simalakama, dua-duanya mengandung risiko. Solusi pemerintah menaikkan
harga BBM, dibarengi pemberian subsidi langsung sebesar Rp 100.000 per bulan
untuk 15,5 juta KK miskin atau sebesar Rp 15,5 triliun; di samping pemberian
kompensasi di bidang pendidikan, kesehatan dan pembangunan infrastruktur. Upaya
ini dimaksudkan untuk mengurangi beban penderitaan rakyat miskin. Pilihan
kebijakan ini dimaksudkan demi efisiensi penggunaan BBM, dan sebagai obat
penawar bagi keseimbangan baru tata perekonomian nasional.
Masalahnya, hal ini tidaklah mendapat respon positif dari kalangan
masyarakat luas, entah karena pemahaman yang kurang atau memang upaya
pemerintah yang lemah dalam menyosialisasikan kebijakan ini. Karena itu, ukuran
keberhasilan kebijakan ini harus memerhatikan kondisi saat ini, apakah tepat
merealisasikan kenaikan BBM tersebut.
Apalagi melihat respons masyarakat yang saat ini dalam keadaan
marah, melakukan demonstrasi menolak kenaikan harga BBM. Ini merupakan
prototipe adanya kegagalan dalam komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.
Namun apabila wujud kemarahan masyarakat tersebut diarahkan pada upaya
menggoyang pemerintahan yang sah, sungguhlah sangat kita sesali karena
pemerintah ini dipilih secara demokratis oleh rakyat pada pilpres lalu.
Satu hal yang perlu diperhatikan pemerintah untuk mengobati dan
menumbuhkan kepercayaan masyarakat, Presiden SBY harus "berani" melakukan
evaluasi dan mengganti menteri-menteri kabinetnya yang tidak mampu bekerja. Ini
penting sebelum keadaan bertambah runyam. ***
Penulis Wakil Sekjen DPP Ormas MKGR,
Wakil Sekjen DPP AMPI,
Kalitbang HU Suara Karya.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/V8WM1C/EbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts: